Ucapan para ulama tentang pentingnya Sirah Nabawiyah

Ucapan para ulama tentang pentingnya Sirah Nabawiyah
Zainul ‘Abidin ‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib رضي الله عنهم أجمعين berkata:
“Kami dahulu mempelajari peperangan-peperangan Rasulullah ﷺ dan ekspedisi-ekspedisinya, sebagaimana kami mempelajari satu surah dari Al-Qur’an.”
Imam az-Zuhri رحمه الله تعالى berkata:
“Dalam ilmu tentang peperangan Nabi terdapat ilmu dunia dan akhirat.”
Ismail bin Muhammad bin Sa‘d bin Abi Waqqash رضي الله عنهم أجمعين berkata:
“Ayahku dahulu mengajarkan kepada kami peperangan-peperangan Rasulullah ﷺ dan beliau berkata: ‘Wahai anakku, ini adalah kemuliaan dan kebanggaan leluhur kalian, maka jangan kalian sia-siakan penyebutannya.’”
Al-Khathib al-Baghdadi رحمه الله berkata:
“Berkaitan dengan peperangan Rasulullah ﷺ terdapat banyak hukum, maka wajib untuk menuliskannya dan menjaganya (menghafalnya).”
Imam Ibnul Jauzi رحمه الله تعالى berkata:
“Pokok dari segala pokok adalah ilmu, dan ilmu yang paling bermanfaat adalah menelaah sirah Rasul ﷺ dan para sahabatnya. Allah Ta‘ala berfirman: ‘Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.’”
Syaikh ‘Ali ath-Thanthawi رحمه الله تعالى berkata:
“Wajib bagi setiap kepala keluarga untuk memiliki di rumahnya sebuah kitab komprehensif tentang sirah Nabawiyah, membacanya secara rutin, membacakannya kepada keluarga dan anak-anaknya, serta menyediakan waktu khusus setiap hari untuk itu, agar mereka tumbuh dengan mengenal sirah Rasul yang agung ﷺ. Karena sirah beliau adalah mata air yang jernih bagi pencari fikih, petunjuk yang membimbing bagi pencari kebaikan, teladan tertinggi dalam gaya bahasa yang indah, dan pedoman menyeluruh bagi setiap cabang kebaikan.”
Beliau juga berkata:
“Sesungguhnya dalam sirah terdapat kisah-kisah yang sempurna, yang mengandung seluruh unsur seni cerita yang disyaratkan oleh para ahli sastra; bahkan lebih dari itu, di dalamnya terdapat kejujuran dan pelajaran.”
Syaikh Abul Hasan an-Nadwi رحمه الله تعالى berkata:
“Sesungguhnya sirah Nabawiyah, sirah para sahabat dan sejarah mereka رضي الله عنهم termasuk sumber terkuat bagi kekuatan iman dan semangat keagamaan. Dari sanalah umat ini dan gerakan-gerakan dakwah senantiasa mengambil nyala iman yang dengannya hati-hati menjadi hidup. Jika nyala itu padam, maka umat ini kehilangan kekuatan, keistimewaan, dan pengaruhnya, lalu menjadi jasad tak bernyawa yang diseret oleh kehidupan.”
Dr. Muhammad Abu Syahbah رحمه الله تعالى berkata:
“Sebagus-bagus bahan kajian yang dipelajari kaum muslimin—terutama para pemuda dan penuntut ilmu—adalah kajian tentang sirah Muhammadiyah. Karena ia adalah guru terbaik, pendidik, pembina adab, dan sekolah pertama tempat lahirnya generasi awal kaum muslimin. Di dalamnya terdapat seluruh aspek kesempurnaan: agama dan dunia, iman dan akidah, ilmu dan amal, adab dan akhlak, kecerdikan dan kepemimpinan, keadilan dan rahmat, kepahlawanan dan perjuangan, jihad dan pengorbanan di jalan akidah dan syariat, serta nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.”
“Sirah Nabawiyah telah melahirkan teladan manusia terbaik, yaitu para sahabat Rasulullah ﷺ. Di antara mereka ada khalifah yang adil, panglima yang cakap, pahlawan pemberani, politikus cerdas, ulama yang mengamalkan ilmunya, fakih yang mahir, orang bijak yang tegas, pedagang yang amanah, pekerja keras yang memandang kerja sebagai ibadah, orang kaya yang bersyukur, dan orang miskin yang sabar. Semua itu adalah buah dari iman kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ.”
Dengan itulah mereka menjadi umat pertengahan dan sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia.
Syaikh Muhammad al-Ghazali رحمه الله تعالى berkata:
“Kehidupan Nabi ﷺ bagi seorang muslim bukanlah hiburan kosong atau kajian netral semata. Ia adalah sumber teladan dan mata air syariat. Setiap penyimpangan dalam menyajikan sirah ini adalah pelecehan terhadap hakikat iman. Aku menulis sirah sebagaimana seorang prajurit menulis tentang komandannya. Seorang muslim yang tidak menghadirkan Rasul ﷺ dalam nuraninya dan amalnya, tidak akan berguna baginya seribu shalawat yang hanya di lisan.”
Referensi:
Al-Lu’lu’ al-Maknūn fī Sīrat an-Nabī al-Ma’mūn karya Mūsā bin Rāsyid al-‘Āzimī



