Ramadan 1447

Puasa & Menjaga Anggota Badan

Puasa & Menjaga Anggota Badan

Puasa memiliki banyak manfaat ruhiyah dan jasadiyah yang juga menjadi sebab tertanamnya ketakwaan di dalam jiwa.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menjadi pondasi dalam memahami hakikat ibadah puasa. Allah tidak mengatakan “agar kamu lapar” atau “agar kamu haus,” tetapi “agar kamu bertakwa.” Takwa inilah esensi sebenarnya dari puasa, yang terwujud melalui pengendalian dan penjagaan seluruh anggota badan dari segala yang dilarang oleh-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dengan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhari).[1]

Ini adalah peringatan tegas bahwa nilai puasa tidak terletak pada lapar dan haus semata, melainkan pada kemampuan menahan seluruh anggota tubuh dari pebuatan maksiat. Puasa adalah sebuah ibadah yang melatih manusia dan anggota tubuhnya untuk menjadi hamba yang bertakwa.

Setidaknya ada beberapa anggota tubuh yang perlu kita perhatikan yang memiliki peran penting dalam menentukan kualitas puasa:

1. Menjaga Lisan

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)

Muadz bin Jabal Radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ… ثُمَّ قَالَ: أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا

“Beritahukan kepadaku suatu amalan yang memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka… Kemudian beliau bersabda: ‘Maukah kamu aku beritahukan tentang kunci semua itu?’ Aku menjawab: ‘Tentu.’ Lalu beliau memegang lidahnya dan bersabda: ‘Jagalah ini.'” (HR. At-Tirmidzi).[2]

Lisan merupakan anggota tubuh yang kecil secara fisik, namun memiliki dampak yang sangat besar. Melalui lidah, seseorang bisa masuk surga dengan kalimat tauhid, atau terjerumus ke neraka karena perkataan dusta dan ghibah. Dalam konteks puasa, menjaga lidah menjadi ujian karena godaan untuk menggunjing, berbohong, atau berkata kotor sering muncul saat tubuh dalam keadaan lapar.

2. Menundukkan Pandangan

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.'” (QS. An-Nur: 30)

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَى أَعْيُنُهُمُ النَّارَ: عَيْنٌ حَرَسَتْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ غَضَّتْ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ

“Tiga golongan yang matanya tidak akan melihat neraka: mata yang berjaga di jalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang menundukkan pandangan dari apa yang diharamkan Allah.” (HR. Ath-Thabarani).[3]

Mata adalah pintu masuk informasi ke dalam hati. Apa yang dilihat mata akan mempengaruhi kondisi batin seseorang. Dalam puasa, godaan untuk memandang yang haram bisa meningkat karena waktu luang yang lebih banyak. Mari alihkan pandangan dari hal-hal yang dilarang dan mengisinya dengan tilawah Al-Qur’an, membaca buku agama, atau menikmati keindahan ciptaan Allah yang halal.

3. Menyucikan pendengaran dari perkataan sia-sia

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Telinga adalah indra pertama yang berfungsi sejak manusia lahir. Seperti mata ia menjadi pintu masuk ke dalam hati, apa yang kita dengar akan mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku kita.

4. Menahan tangan dan kaki dari perbuatan haram

Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ. قَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُقْعَدُ فَيَقْتَصُّ هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَ مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki barang.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat, namun dia pernah mencaci ini, menuduh (berzina) itu, memakan harta ini, menumpahkan darah itu, dan memukul ini. Maka diberikanlah pahalanya kepada yang ini dan itu. Jika pahalanya telah habis sebelum kesalahan-kesalahannya terlunasi, maka diambillah dosa-dosa mereka lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim).[4]

Tangan dan kaki adalah alat untuk memberikan manfaat atau melakukan kezaliman. Jangan sampai pahala puasa kita “bocor” karena kezaliman tangan dan kaki.

5. Menjaga kemaluan

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

“Dan mereka yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (QS. Al-Mu’minun: 5-6)

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka menikahlah. Dan barangsiapa belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa itu perisai baginya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).[5]

Kemaluan adalah anggota badan yang paling terkait dengan harga diri dan kemuliaan seseorang. Puasa, adalah sarana efektif untuk menekan syahwat dan menjaga kesucian diri. Rasulullah ﷺ menyebut puasa sebagai “wijaa”, karena puasa dapat menekan syahwat yang berlebihan.

6. Membersihkan hati

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).[6]

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)

Hati adalah pusat kendali semua anggota badan. Mari kita jadika puasa sebagai momentum untuk membersihkan hati kita dari penyakit riya’, ujub, hasad, dendam dan cinta dunia berlebihan.

Maka dalam puasa, wajib menahan lisan dari dusta, ghibah, namimah (adu domba), perkataan keji, dan omongan sia-sia; menahan pendengaran dari menyimak segala yang dibenci (agama); menahan pandangan dari melihat segala yang dilarang Allah; dan menahan seluruh anggota badan lainnya dari perbuatan-perbuatan haram.

Inilah tujuan utama puasa, ‘agar kamu bertakwa’. Seorang yang berpuasa senantiasa merasa diawasi oleh Allah dalam segala perbuatannya, sehingga keagungan Allah tergambar dalam hatinya. Hal itu membuatnya menahan diri dari perbuatan buruk dan jiwanya tertahan dari menuruti syahwat.

  1. Shahih Al-Bukhari: 1903
  2. Jami’ At-Tirmidzi: 2616
  3. Al-Mu’jam Al-Kabir: 19/416
  4. Shahih Muslim: 2581
  5. Shahih Al-Bukhari: 5066 dan Shahih Muslim: 1400
  6. Shahih Al-Bukhari: 52, Shahih Muslim: 1599

Faisal Reza Saputra, B.A.

Program Magister Manajemen Pendidikan King Saud University, Arab Saudi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button