Keutamaan Waktu Mustajab pada Hari Jumat

Keutamaan Waktu Mustajab pada Hari Jumat
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Amma ba’du.
Keutamaan Waktu Mustajab pada Hari Jumat
Sunnah Nabi ﷺ yang sahih menunjukkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu yang sangat istimewa (ساعة الإجابة). Siapa saja dari kaum muslimin yang berdoa kepada Allah pada saat itu dengan memohon kebaikan, niscaya Allah akan mengabulkan doanya.
Dalil
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
> «فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةٌ، لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي، فَسَأَلَ اللَّهَ خَيْرًا، إِلَّا أَعْطَاهُ»
“Pada hari Jumat terdapat suatu waktu, tidaklah seorang hamba muslim yang sedang berdiri mengerjakan shalat kemudian memohon suatu kebaikan kepada Allah bertepatan dengan waktu itu, melainkan Allah pasti akan memberikannya.”
(HR. al-Bukhari no. 5295 dan Muslim no. 852)
Pendapat Para Ulama tentang Penentuan Waktu Mustajab
Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kapan waktu mustajab tersebut. Ada banyak pendapat, namun yang paling kuat hanyalah dua pendapat.
Perkataan Ibnul Qayyim رحمه الله
Beliau berkata:
> “وأرجح هذه الأقوال قولان تضمنتهما الأحاديث الثابتة، وأحدهما أرجح من الآخر.”
“Pendapat yang paling kuat di antara seluruh pendapat tersebut hanyalah dua, yang keduanya didukung oleh hadis-hadis yang sahih, dan salah satunya lebih kuat daripada yang lain.”
(Zādul Ma’ād, 1/376)
Pendapat Pertama
Sejak Imam Duduk di Mimbar Hingga Shalat Jumat Selesai
Dalilnya adalah hadis riwayat Muslim.
Dalil
> عَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ… قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ:
«هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ»
“Waktu itu adalah sejak imam duduk (di atas mimbar) sampai shalat selesai.”
(HR. Muslim no. 853)
Ada pula hadis dari at-Tirmidzi dan Ibnu Majah yang menyebutkan:
> «حِينَ تُقَامُ الصَّلَاةُ إِلَى الِانْصِرَافِ مِنْهَا»
“Sejak shalat didirikan sampai selesai.”
Namun hadis ini dinilai sangat lemah (ضعيف جدًا) oleh Syaikh al-Albani, sehingga tidak dapat dijadikan hujjah secara mandiri.
Pendapat Kedua (Yang Lebih Kuat)
Setelah Shalat Ashar hingga Terbenam Matahari
Inilah pendapat yang dipilih oleh:
Abdullah bin Salam radhiyallāhu ‘anhu
Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu
Imam Ahmad رحمه الله
dan banyak ulama lainnya.
Dalil Pertama
Rasulullah ﷺ bersabda:
> «إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيهَا خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَهِيَ بَعْدَ الْعَصْرِ»
“Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat satu waktu, tidaklah seorang muslim memohon suatu kebaikan kepada Allah pada waktu itu melainkan Allah akan memberikannya, yaitu setelah shalat Ashar.”
(Musnad Ahmad no. 7631. Para pentahqiq Musnad Ahmad menyatakan: sanadnya lemah, tetapi hadis ini sahih karena memiliki banyak syahid/penguat.)
Dalil Kedua
Rasulullah ﷺ bersabda:
> «يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً، لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ، فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ»
“Hari Jumat terdiri dari dua belas bagian waktu. Tidaklah seorang muslim memohon sesuatu kepada Allah pada salah satunya melainkan Allah akan mengabulkannya. Maka carilah waktu tersebut pada saat terakhir setelah Ashar.”
(HR. Abu Dawud no. 1048 dan an-Nasa’i no. 1389. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani.)
Dalil Ketiga
Diriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman:
> أن ناسًا من أصحاب رسول الله ﷺ اجتمعوا، فتذاكروا الساعة التي في يوم الجمعة، فتفرقوا ولم يختلفوا أنها آخر ساعة من يوم الجمعة.
“Sekelompok sahabat Rasulullah ﷺ berkumpul membahas waktu mustajab pada hari Jumat. Ketika mereka berpisah, mereka sepakat tanpa ada perselisihan bahwa waktu tersebut adalah saat terakhir pada hari Jumat.”
(Sunan Sa’id bin Manshur. Al-Hafizh Ibnu Hajar mensahihkan sanadnya dalam Fathul Bari 2/489.)
Dalil Keempat
Abdullah bin Salam radhiyallāhu ‘anhu berkata kepada Nabi ﷺ:
> «إِنَّا لَنَجِدُ فِي كِتَابِ اللَّهِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُؤْمِنٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا شَيْئًا إِلَّا قَضَى لَهُ حَاجَتَهُ»
Beliau kemudian bertanya:
> «أَيُّ سَاعَةٍ هِيَ؟»
Nabi ﷺ menjawab:
> «هِيَ آخِرُ سَاعَاتِ النَّهَارِ»
“Itulah waktu terakhir pada siang hari.”
Ketika Abdullah bin Salam bertanya bahwa saat itu bukan waktu shalat, Nabi ﷺ menjelaskan:
> «إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لَا يَحْبِسُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ، فَهُوَ فِي الصَّلَاةِ»
“Sesungguhnya apabila seorang mukmin telah menunaikan shalat lalu ia tetap duduk menunggu shalat berikutnya, maka ia tetap dihitung berada dalam keadaan shalat.”
(HR. Ibnu Majah no. 1139. Dishahihkan oleh al-Albani.)
Dalil Kelima
Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
> «خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ…»
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat…”
Dalam hadis panjang tersebut disebutkan:
> «وَفِيهِ سَاعَةٌ لَا يُصَادِفُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ حَاجَةً إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهَا»
Kemudian Abdullah bin Salam menjelaskan kepada Abu Hurairah bahwa waktu tersebut adalah:
> «هِيَ آخِرُ سَاعَةٍ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ»
“Yaitu satu jam terakhir pada hari Jumat.”
Beliau menjelaskan bahwa orang yang menunggu shalat tetap dihitung sedang shalat, sehingga tidak bertentangan dengan lafaz hadis.
(HR. Abu Dawud no. 1046, at-Tirmidzi no. 491, an-Nasa’i no. 1430. At-Tirmidzi berkata: Hadis hasan sahih. Sebagian riwayatnya terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim. Dishahihkan oleh al-Albani.)
Apakah Makmum Boleh Sibuk Berdoa Saat Khatib Berkhutbah?
Berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa waktu mustajab berada sejak imam duduk hingga shalat selesai, tidak berarti makmum boleh meninggalkan kewajiban mendengarkan khutbah demi berdoa sendiri.
Yang disyariatkan adalah:
Mendengarkan khutbah dengan penuh perhatian.
Mengaminkan doa yang dibaca khatib.
Memperbanyak doa ketika shalat Jumat, terutama saat sujud.
Berdoa sebelum salam.
Dengan demikian, seseorang tetap memperoleh keutamaan berdoa pada waktu mustajab tersebut tanpa mengabaikan adab mendengarkan khutbah.
Lebih utama lagi apabila ia juga memperbanyak doa pada satu jam terakhir setelah shalat Ashar, karena inilah pendapat yang dinilai paling kuat oleh banyak ulama, di antaranya Abdullah bin Salam, Abu Hurairah, Imam Ahmad, dan dipilih oleh Ibnul Qayyim رحمه الله dalam Zādul Ma’ād.
Wallāhu a’lam.



