Fatawa Umum

Kalau maksiat terjadi dengan kehendak Allah, mengapa pelakunya tetap diazab?

Pertanyaan

Minta izin untuk bertanya:

 Setiap yang kita lakukan sudah dikehendaki oleh Allah, tapi disisi lain manusia diberi pilihan, tapi pilihan itu tidak lepas dari kehendak Allah, pertanyaannya: Jika manusia memilih tidak taat, otomatis dia akan diadzab, sedangkan ketika dia memilih untuk tidak taat itu juga kehendak dari Allah, bagaimana mungkin Allah yang berkehendak hamba itu tidak taat tapi kemudian Allah juga yang mengadzab ?

Jawaban

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata Dalam Syarah Kitab At-Tauhid —

Topik: Pembagian Kehendak Allah, Perbedaannya dengan Masyi’ah, dan Kaitannya dengan Cinta dan Hikmah Allah (Syarah Shahih Bukhari — Sesi 16b)

1. Pembagian Kehendak (Irādah) Allah

Syaikh berkata:

Adapun kehendak (الإرادة), maka kehendak Allah terbagi menjadi dua jenis:

1. Kehendak kauniyyah (إرادة كونية) — berkaitan dengan penciptaan dan ketetapan Allah terhadap makhluk.

2. Kehendak syar‘iyyah (إرادة شرعية) — berkaitan dengan hukum syariat dan ketetapan Allah terhadap manusia dalam bentuk perintah dan larangan.

2. Kehendak Kauniyyah dan Hubungannya dengan Masyi’ah

Jenis pertama, yaitu kehendak kauniyyah, memiliki makna yang sama persis dengan masyi’ah (kehendak Allah secara takdir).

Allah berfirman:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

“Kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak akan saling berperang. Akan tetapi Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 253)

Makna firman Allah “tetapi Allah melakukan apa yang Dia kehendaki” di sini adalah apa yang Allah kehendaki secara kauniyyah. Maka kehendak kauniyyah identik dengan masyi’ah:

→ “Allah menghendaki sesuatu” = “Allah menakdirkan sesuatu.”

3. Cakupan Kehendak Kauniyyah

Kehendak kauniyyah mencakup semua yang Allah kehendaki terjadi, baik yang Allah cintai maupun yang Allah benci, dan baik yang sesuai dengan tabiat manusia maupun tidak.

Jika seseorang bertanya:

“Apakah Allah menghendaki maksiat dengan kehendak kauniyyah?”

Jawabannya: “Ya.”

Sebagaimana jika ditanya, “Apakah Allah menakdirkan maksiat?”

Jawabannya juga: “Ya.”

Karena kehendak kauniyyah sama persis dengan masyi’ah.

4. Kehendak Syar‘iyyah dan Maknanya

Adapun kehendak syar‘iyyah adalah kehendak yang berkaitan dengan apa yang Allah syariatkan. Maknanya adalah cinta.

Ia berkaitan dengan segala sesuatu yang Allah cintai dan perintahkan, baik terjadi maupun tidak.

Contohnya:

Iman dan amal saleh termasuk dalam kehendak syar‘iyyah Allah, karena Allah mencintainya.

Kekufuran dan perbuatan dosa tidak termasuk dalam kehendak syar‘iyyah Allah, karena Allah membencinya.

Maka jelaslah perbedaan antara kehendak kauniyyah dan kehendak syar‘iyyah.

5. Apakah Maksiat Dikehendaki Allah?

Jika seseorang bertanya:

“Apakah kemaksiatan dikehendaki Allah?”

Jawabannya:

Dari sisi takdir (qadaran): iya.

Dari sisi syariat: tidak.

Jika ditanya lagi:

“Kalau kemaksiatan tidak Allah kehendaki secara syar‘i, lalu bagaimana Allah menghendakinya secara takdir? Apakah ada yang memaksa Allah untuk menghendaki sesuatu yang Dia benci dan tidak Dia ridhai?”

Jawabannya:

Apa yang Allah benci, jika Dia menghendakinya secara kauniyyah, maka itu dikehendaki bukan karena zatnya, tapi karena ada hikmah dan tujuan lain di baliknya.

Perbuatan dosa dan kekufuran Allah kehendaki karena hikmah tertentu, bukan karena Dia mencintainya. Maka sesuatu itu bisa dibenci dari satu sisi dan dicintai dari sisi lain.

Contoh:

Kalau tidak ada kekufuran, maka tidak akan ada jihad. Bagaimana mungkin berjihad jika semua orang muslim?

Kalau tidak ada maksiat, tidak akan ada amar ma‘ruf nahi munkar.

Kalau semua orang berada dalam kebaikan, maka akan hilang banyak maslahat besar seperti adanya dakwah, ujian keimanan, dan pembedaan antara orang beriman dan kafir.

Oleh karena itu, kemaksiatan yang Allah benci secara syar‘i tetap Allah kehendaki secara kauniyyah, karena di baliknya terdapat banyak hikmah.

6. Hadis Qudsi tentang Kematian Orang Mukmin

Allah berfirman dalam hadis Qudsi:

> “Tidak ada sesuatu pun yang Aku tunda pelaksanaannya seperti penundaan-Ku dalam mencabut nyawa hamba-Ku yang beriman. Ia membenci kematian, dan Aku membenci menyakitinya. Namun tidak ada jalan lain selain kematian itu.” (HR. Al-Bukhari)

Dalam hadis ini, Allah “menunjukkan bentuk keraguan” bukan karena ketidaktahuan — karena Allah Maha Mengetahui — tetapi karena kasih sayang-Nya kepada hamba mukmin tersebut. Hamba mukmin membenci kematian, dan Allah membenci menyakitinya, tetapi hikmah menuntut ia harus mati agar berpindah kepada kenikmatan akhirat yang jauh lebih besar daripada dunia.

7. Maksiat: Dibenci dari Satu Sisi, Dikehendaki dari Sisi Lain

Maka kesimpulannya: kemaksiatan dibenci oleh Allah dari satu sisi, tetapi dikehendaki-Nya dari sisi lain, yaitu sisi hikmah besar yang terkandung di dalamnya.

8. Contoh: Musibah dan Hikmahnya

Contoh lain: kekeringan (tanah tidak menumbuhkan tanaman), kemarau (langit tidak menurunkan hujan), ketakutan, dan sejenisnya.

Apakah Allah mencintai semua itu bagi hamba-hamba-Nya?

→ Tidak.

Tetapi Allah menghendakinya secara kauniyyah karena maslahat besar di baliknya. Ia bisa menjadi sesuatu yang dibenci dari satu sisi dan dicintai dari sisi lain.

Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rūm: 41)

 وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Kerusakan di bumi terkadang merupakan hukuman agar manusia kembali kepada Allah, dan terkadang berupa ujian bagi orang beriman untuk mengangkat derajat kesabaran mereka, meski mereka tidak berbuat dosa.

🧠 Contoh-contoh praktis: Iman Abu Bakar, kufur Abu Thalib, Abu Lahab, dll

📌 Perbedaan antara Kehendak Kauniyyah dan Kehendak Syar‘iyyah

Syaikh رحمه الله berkata:

Perbedaan antara dua jenis kehendak ini (kauniyyah dan syar‘iyyah) dapat dijelaskan dari dua sisi utama:

1️⃣ Dari sisi kepastian terjadinya

Kehendak kauniyyah:

✅ Pasti terjadi.

Apabila Allah menghendaki sesuatu secara kauniyyah, maka hal itu pasti terjadi, tidak mungkin tidak.

Karena kehendak kauniyyah ini setara dengan masyi’ah (kehendak takdir), dan Allah berfirman:

> “Apa saja yang Allah kehendaki pasti terjadi.”

Kehendak syar‘iyyah:

❌ Tidak harus terjadi.

Bisa jadi sesuatu yang Allah kehendaki secara syar‘i terjadi, dan bisa jadi tidak terjadi.

📌 Contoh:

Iman adalah sesuatu yang Allah kehendaki secara syar‘i.

Tapi apakah semua manusia pasti beriman?

Tentu tidak. Ada orang beriman dan ada yang kafir.

Maka iman adalah kehendak Allah secara syar‘i, tetapi tidak semua manusia melakukannya.

2️⃣ Dari sisi objek kehendak

Kehendak syar‘iyyah:

🌿 Hanya mencakup hal-hal yang Allah cintai.

Allah hanya menghendaki secara syar‘i sesuatu yang Dia sukai, seperti keimanan, ketaatan, dan amal saleh.

Kehendak kauniyyah:

🌀 Mencakup hal-hal yang Allah cintai maupun yang Allah benci.

Termasuk di dalamnya hal-hal yang buruk dan maksiat, sebab Allah menakdirkannya untuk hikmah besar, bukan karena mencintainya.

📌 Maka maksiat dan kekufuran yang terjadi pada manusia:

Termasuk kehendak Allah kauniyyah karena memang terjadi.

❌ Tetapi tidak termasuk kehendak syar‘iyyah karena Allah tidak mencintainya.

📌 Contoh Ayat

Allah berfirman:

وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Tetapi Allah hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya atas kalian agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Mā’idah: 6)

➡ Ini adalah kehendak syar‘iyyah, sebab tidak semua orang benar-benar bersuci dan bersyukur.

Allah juga berfirman:

 يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 185)

➡ Ini juga kehendak syar‘iyyah.

Karena dalam kenyataan, kadang manusia mengalami kesulitan secara kauniyyah, tetapi Allah tidak menghendaki mereka sulit secara syar‘i.

Allah juga berfirman:

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ

“Allah tidak menghendaki untuk menjadikan kesempitan atas kalian.” (QS. Al-Mā’idah: 6)

➡ Ini pun kehendak syar‘iyyah, karena dalam takdir (kauniyyah) kadang manusia memang mengalami kesempitan dan ujian.

❓ Contoh Ayat yang Menunjukkan Kehendak Kauniyyah

Allah berfirman:

إِن كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَن يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ

“Jika Allah menghendaki untuk menyesatkan kalian, maka Dialah Tuhan kalian.” (QS. Hūd: 34)

➡ Ini adalah kehendak kauniyyah.

Allah tidak mencintai kesesatan, tetapi jika Dia menakdirkan seseorang sesat, maka itu terjadi sesuai kehendak-Nya (kauniyyah), bukan karena Dia mencintai kesesatan.

Seandainya Allah mencintai kesesatan, tentu Dia tidak akan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab.

🧠 Contoh Kasus Nyata untuk Membedakan Dua Kehendak

Syaikh lalu memberikan contoh-contoh dari tokoh-tokoh sejarah untuk memperjelas:

✅ 1. Iman Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه

Pertanyaan: Apakah iman Abu Bakar kehendak Allah kauniyyah atau syar‘iyyah?

Jawaban:

Kauniyyah ✅ — karena memang terjadi dalam kenyataan.

Syar‘iyyah ✅ — karena Allah mencintainya.

📌 Maka iman Abu Bakar termasuk dalam dua kehendak Allah sekaligus.

❌ 2. Kekufuran Abu Thalib

Pertanyaan: Apakah kekufuran Abu Thalib kehendak Allah kauniyyah atau syar‘iyyah?

Jawaban:

Kauniyyah ✅ — karena memang terjadi.

Syar‘iyyah ❌ — karena Allah tidak mencintai kekufuran.

❌ 3. Iman Abu Lahab

Pertanyaan: Apakah iman Abu Lahab kehendak Allah kauniyyah atau syar‘iyyah?

Jawaban:

Syar‘iyyah ✅ — karena Allah mencintai keimanan bagi semua hamba.

Kauniyyah ❌ — karena kenyataannya Abu Lahab tidak beriman.

❌ 4. Kekufuran Abu Lahab

Pertanyaan: Apakah kekufuran Abu Lahab kehendak Allah kauniyyah atau syar‘iyyah?

Jawaban:

Kauniyyah ✅ — karena kenyataannya Abu Lahab kafir.

Syar‘iyyah ❌ — karena Allah tidak mencintai kekufuran.

❌ 5. Iman Seorang Kafir (di masa ia masih kafir)

Pertanyaan: Bagaimana dengan iman seseorang yang saat ini masih kafir?

Jawaban:

Syar‘iyyah ✅ — karena Allah mencintai jika ia beriman.

Kauniyyah ❌ — karena pada saat ini ia belum beriman.

❌ 6. Kufur Seorang Mukmin (andaikan terjadi)

Jika seseorang saat ini mukmin, lalu kita andaikan ia kufur — apakah itu kehendak Allah?

Jawaban:

❌ Tidak kauniyyah, ❌ Tidak syar‘iyyah.

Karena tidak terjadi (tidak kauniyyah) dan Allah tidak mencintainya (tidak syar‘iyyah).

📌 Dari sini dapat disimpulkan empat kemungkinan:

1. Terkadang dua kehendak Allah berkumpul pada satu hal (contoh: iman Abu Bakar).

2. Terkadang dua-duanya tidak ada (contoh: kufur mukmin yang diandaikan).

3. Terkadang hanya kehendak syar‘iyyah saja yang ada (contoh: iman Abu Lahab).

4. Terkadang hanya kehendak kauniyyah saja yang ada (contoh: kufur Abu Thalib).

🧠 Hikmah yang Menyertai Masī’ah (Kehendak Allah)

Syaikh رحمه الله menjelaskan:

Ketika Allah berfirman:

تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ

“Engkau (wahai Allah) memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau menghinakan siapa yang Engkau kehendaki.” (QS. Āli ‘Imrān: 26)

👉 Ayat ini menunjukkan kehendak (masyi’ah) Allah dalam pemberian dan pencabutan kekuasaan, kemuliaan, dan kehinaan.

Pertanyaannya:

> Apakah Allah melakukan semua ini hanya sekadar kehendak semata, tanpa alasan atau tujuan tertentu?

Sebagian ulama pernah berpendapat:

> “Allah melakukan sesuatu hanya dengan masyi’ah semata; Dia berkehendak untuk mewujudkan atau meniadakan sesuatu tanpa alasan (tanpa murajjiḥ). Karena Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, sedangkan manusia yang akan ditanya.”

Syaikh رحمه الله menjelaskan bahwa pendapat ini lemah bahkan batil, karena mengandung kesimpulan yang keliru:

Jika kehendak Allah terjadi tanpa alasan atau hikmah, maka ini berarti perbuatan Allah tidak memiliki tujuan — padahal ini mustahil bagi Allah Yang Maha Bijaksana.

📖 Dalil Akal dan Dalil Naqli

1️⃣ Dalil Akal

Jika seseorang melakukan sesuatu tanpa alasan atau pertimbangan yang jelas, maka perbuatannya disebut sia-sia atau bodoh.

Bagaimana mungkin perbuatan Allah Yang Mahabijaksana dan Mahasempurna disamakan dengan perbuatan tanpa alasan?

Setiap perbuatan Allah memiliki hikmah yang sangat dalam, meskipun tidak selalu dipahami manusia.

2️⃣ Dalil Naqli

Allah berfirman:

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan kamu tidak dapat berkehendak kecuali apabila Allah menghendaki. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insān: 30)

👉 Ayat ini ditutup dengan dua nama Allah: Al-‘Alīm (Maha Mengetahui) dan Al-Ḥakīm (Maha Bijaksana).

Ini menunjukkan bahwa kehendak Allah selalu terikat dengan ilmu dan hikmah-Nya.

📌 Maka, setiap ayat yang berbicara tentang masyi’ah Allah harus dipahami dengan disertai hikmah.

Ketika Allah memberikan kerajaan kepada seseorang atau mencabutnya dari seseorang, itu bukan tindakan acak, melainkan karena hikmah Allah yang mendalam.

📌 Penjelasan Tambahan tentang Hikmah dalam Tindakan Allah

Ketika Allah mencabut kekuasaan dari seseorang, hal itu bisa terjadi karena:

Orang itu wafat.

Ia dikalahkan oleh musuhnya.

Ia rusak dan tidak mampu lagi mengelola kekuasaan.

Atau sebab lain yang menjadi bagian dari ketetapan dan hikmah Allah.

📌 Intinya: semua terjadi karena hikmah, bukan sekadar kehendak tanpa sebab.

📝 Makna Firman Allah: “لا يُسأل عما يفعل وهم يُسألون”

Allah berfirman:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, dan merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiyā’: 23)

👉 Ayat ini tidak berarti Allah berbuat tanpa hikmah.

Maksudnya adalah:

Allah memiliki kerajaan yang sempurna, dan perbuatan-Nya sempurna, sehingga tidak pantas dipertanyakan dalam bentuk keberatan atau protes.

Adapun manusia, karena perbuatannya terbatas, maka merekalah yang akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban.

👉 Namun, boleh bertanya tentang perbuatan Allah dalam rangka mencari penjelasan dan hikmah, bukan untuk menggugat.

Seperti pertanyaan malaikat:

> “Apakah Engkau akan menjadikan di bumi makhluk yang akan membuat kerusakan di dalamnya?” (QS. Al-Baqarah: 30)

Itu adalah pertanyaan istifhām ta‘allum (permintaan penjelasan), bukan penentangan.

📝 Penutup: Ayat “ولا تقولن لشيء إني فاعل ذلك غدا إلا أن يشاء الله”

Allah berfirman:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا • إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok,’ kecuali (dengan menyebut): ‘Insya Allah.’” (QS. Al-Kahf: 23–24)

📌 Ayat ini menegaskan bahwa segala rencana manusia tetap bergantung kepada masyi’ah Allah.

Kita tidak dapat memastikan sesuatu akan terjadi, kecuali bila Allah menghendakinya.

👉 Ini juga menunjukkan bahwa masyi’ah Allah mencakup semua makhluk dan perbuatan mereka, tetapi selalu berada dalam bingkai hikmah dan ilmu Allah.

📚 Kesimpulan Besar

1️⃣ Kehendak Allah (الإرادة) terbagi menjadi dua:

1. Kauniyyah (universal/takdir): pasti terjadi, mencakup yang dicintai dan dibenci Allah.

2. Syar‘iyyah (syariat): hanya mencakup yang dicintai Allah, belum tentu terjadi.

2️⃣ Maksiat bisa menjadi kehendak Allah kauniyyah (karena terjadi), tetapi bukan syar‘iyyah (karena tidak dicintai Allah).

Allah menakdirkannya karena ada hikmah besar di baliknya.

3️⃣ Setiap perbuatan Allah terjadi dengan ilmu dan hikmah, bukan sekadar kehendak kosong.

4️⃣ Masī’ah Allah menguasai semua makhluk, tetapi manusia tetap diperintahkan untuk mengikuti kehendak syar‘i Allah dan tidak boleh berdalih dengan takdir.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button