Fatawa Umum

Bolehkah Shalat Tahiyatul Masjid Di Waktu Terlarang?

Pertanyaan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,,
Semoga ustadz dan keluarga selalu diberkahi dimanapun berada,,
Ijin bertanya apakah shalat tahiyatul masjid di waktu yang terlarang, contohnya diantara ashar menjelang maghrib dibolehkan?🙏🏻

Jawaban

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, dan setelah itu:

Hukum Shalat Tahiyyatul Masjid pada Waktu Terlarang

Barang siapa memasuki masjid sebelum matahari terbenam (sebelum Maghrib), tidak disunnahkan baginya shalat Tahiyyatul Masjid menurut pendapat mayoritas fuqaha, karena ini termasuk waktu terlarang (waktu nahi). Pendapat ini berbeda dengan Imam Syafi‘i rahimahullah, yang membolehkan melakukan shalat yang memiliki sebab pada waktu terlarang. Pendapat Syafi‘i ini lebih kuat (dzahir).

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

“فأما قضاء السنن في سائر أوقات النهي، وفعل غيرها من الصلوات التي لها سبب، كتحية المسجد، وصلاة الكسوف، وسجود التلاوة، فالمشهور في المذهب أنه لا يجوز. ذكره الخرقي في سجود التلاوة، وصلاة الكسوف.

وقال القاضي: في ذلك روايتان؛ أصحهما أنه لا يجوز. وهو قول أصحاب الرأي؛ لعموم النهي.

والثانية: يجوز. وهو قول الشافعي؛ لأن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يركع ركعتين . متفق عليه. وقال في الكسوف: فإذا رأيتموهما فصلوا؛ وهذا خاص في هذه الصلاة، فيقدم على النهي العام في الصلاة كلها. ولأنها صلاة ذات سبب، فأشبهت ما ثبت جوازه.

ولنا: أن النهي للتحريم، والأمر للندب، وترك المحرم أولى من فعل المندوب.

وقولهم: إن الأمر خاص في الصلاة. قلنا: ولكنه عام في الوقت، والنهي خاص فيه، فيقدم.

ولا يصح القياس على القضاء بعد العصر؛ لأن حكم النهي فيه أخف، لما ذكرنا، ولا على قضاء الوتر بعد طلوع الفجر لذلك، ولأنه وقت له، بدليل حديث أبي بصرة، ولا على صلاة الجنازة لأنها فرض كفاية، ويُخاف على الميت، ولا على ركعتي الطواف، لأنهما تابعتان لما لا يمنع منه النهي.

مع أننا قد ذكرنا أن الصحيح أنه لا يصلى على الجنازة في الأوقات الثلاثة التي في حديث عقبة بن عامر. وكذلك لا ينبغي أن يركع للطواف فيها، ولا يعيد فيها جماعة.

وإذا منعت هذه الصلوات المتأكدة فيها؛ فغيرها أولى بالمنع، والله أعلم” انتهى.

“Adapun pelaksanaan sunah pada waktu-waktu terlarang, dan shalat lain yang memiliki sebab, seperti Tahiyyatul Masjid, shalat gerhana, dan sujud tilawah, maka yang terkenal di madzhab kami adalah tidak diperbolehkan. Hal ini disebutkan oleh al-Khirqi mengenai sujud tilawah dan shalat gerhana.”

Dan al-Qadhi berkata: dalam hal ini ada dua riwayat; yang paling kuat adalah tidak diperbolehkan, sebagaimana pendapat para ahli pendapat (ashhab ar-ra’yu), karena adanya larangan umum.

Riwayat kedua: diperbolehkan, yang merupakan pendapat Syafi‘i, karena Nabi ﷺ bersabda:
“Apabila salah seorang di antara kalian memasuki masjid, jangan ia duduk hingga ia shalat dua rakaat.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Dan beliau bersabda mengenai gerhana:
“Apabila kalian melihat gerhana, maka shalatlah.”
Ini khusus untuk shalat tersebut, yang didahulukan daripada larangan umum karena shalat tersebut memiliki sebab, sehingga mirip dengan yang dibolehkan.

Pendapat kami: larangan menunjukkan haram, perintah menunjukkan sunnah, dan meninggalkan yang haram lebih utama daripada melakukan yang sunnah.

Mereka mengatakan: “Perintah khusus untuk shalat.” Kami jawab: waktu itu umum, larangan khusus di dalamnya, sehingga larangan lebih utama.

Tidak bisa diqiyaskan dengan qadha’ setelah Asar atau qadha’ Witir setelah fajar karena waktunya berbeda, dan tidak pada shalat jenazah karena itu fardhu kifayah dan dikhawatirkan terhadap jenazah, juga tidak pada dua rakaat tawaf karena merupakan bagian dari ibadah yang tidak dilarang pada waktu larangan.

Meskipun demikian, yang benar adalah tidak shalat jenazah pada tiga waktu yang disebutkan dalam hadits ‘Uqbah bin ‘Amir, dan tidak ruku’ untuk tawaf pada waktu tersebut, maupun mengulang jamaahnya.

Jika shalat-shalat yang ditekankan saja dilarang pada waktu itu, maka yang lain lebih utama untuk dilarang. Wallahu A‘lam.

*Hukum bagi yang Memasuki Masjid pada Waktu Terlarang tanpa Shalat atau Duduk*

Jika seseorang memasuki masjid, tidak duduk, dan tidak shalat untuk menghindari perbedaan pendapat, tidak mengapa baginya, terutama jika hanya tersisa sedikit waktu sebelum matahari terbenam. Waktu ini sangat makruh, sebagaimana diriwayatkan Muslim (831) dari ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhani, ia berkata:

“ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ، أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ، وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ.

“Ada tiga waktu yang Rasulullah ﷺ melarang kami shalat di dalamnya atau mengubur mayat: ketika matahari baru terbit sampai meninggi, ketika matahari tepat di tengah siang sampai miring, dan ketika matahari mendekati terbenam sampai tenggelam.”

Tidak mengapa jika seseorang shalat menurut Imam Syafi‘i atau duduk menurut pendapat mayoritas, atau berdiri sebagai langkah kehati-hatian.

Pendapat ini—berdiri sebagai kehati-hatian untuk menghindari perbedaan—disebutkan oleh Syaikh ‘Abd al-Karim al-Khudhair rahimahullah dari sebagian ulama, tidak spesifik.

Ia berkata:

” وما زالت المسألة من عُضل المسائل، حتى قال جمع من أهل العلم: لا تدخل المسجد في أوقات النهي؛ لئلا تقع في الحرج؛ لأنك إن صليت عارضت حديث النهي، وحديث النهي صحيح، وإن جلست عارضت الأمر .. ، أو النهي عن الجلوس حتى تصلي ركعتين. قال بعضهم: لا تدخل في أوقات النهي؛ دفعاً لهذا الحرج.

وبعضهم قال: ادخل؛ لكن لا تجلس.

المسألة من عُضَل المسائل فيما قرره أهل العلم، ليست من السهولة بمكان؛ بحيث يدخل الإنسان قبل غروب الشمس بخمس دقائق، ويتنفل، ونفسه تطيب بهذا، ومرتاح وما كأنه خالف شيئاً!!

بعض أهل العلم يقول: لا تدخل في هذا الوقت؛ منعاً للحرج.

وبعضهم يقول: إذا دخلت لا تجلس” انتهى، من “شرح الورقات” – الشاملة – .

“Masalah ini termasuk masalah sulit (‘udhal al-masa’il*), sehingga sebagian ulama mengatakan: jangan masuk masjid pada waktu larangan agar terhindar dari kesulitan; karena jika shalat, bertentangan dengan hadits larangan, dan hadits itu sahih; jika duduk, bertentangan dengan perintah, atau larangan duduk sebelum shalat dua rakaat. Sebagian ulama menyarankan: jangan masuk pada waktu larangan untuk menghindari kesulitan. Sebagian lain berkata: boleh masuk, tapi jangan duduk.”*

*Kesimpulan:*
Perselisihan masalah ini sudah lama, diketahui, dan sah, tanpa masalah. Dalil-dalilnya memungkinkan, tidak pasti mendukung salah satu pendapat. Beberapa waktu larangan lebih berat daripada yang lain, yaitu tiga waktu yang disebutkan dalam satu hadits; pada waktu ini disarankan berhati-hati dan meninggalkan shalat sunnah sama sekali.

Syaikh ‘Abd al-Karim al-Khudhair rahimahullah menambahkan:

” والذي أرجحه: أن أوقات النهي الموسعة الأمر فيه سعة، يعني إذا دخلت بعد صلاة الصبح تنفل، دخلت بعد صلاة العصر تنفل؛ لأنك مأمور بأن تتنفل، صحيح أنك منهي، لكن ليس مثل النهي عن الصلاة في الأوقات المضيقة؛ لأن النهي عن الصلاة في الأوقات الموسعة: قرر أهل العلم كابن عبد البر وابن رجب وغيرهم، أن النهي عن الصلاة في الوقتين الموسعين .. لئلا يسترسل الإنسان فيصلي في الأوقات المضيقة، فالنهي عن الصلاة فيها من باب منع الوسائل، والنهي عن الصلاة في الأوقات المضيقة الثلاثة، وهي أشد، النهي فيها أشد؛ لأن النهي فيها عن الصلاة وعن الدفن -دفن الأموات- بينما الوقتين الموسعين الأمر فيهما أوسع؛ وقد أقر النبي -عليه الصلاة والسلام- من قضى راتبة الصبح بعد صلاة الصبح، مع أنه وقت نهي.

وقضى النبي -عليه الصلاة والسلام- راتبة الظهر بعد صلاة العصر، فدل على أن الأمر فيه أوسع.

بينما إذا طلعت الشمس بازغة حتى ترتفع: هذا وقت ذروة بالنسبة للنهي، حين يقوم قائم الظهيرة حتى تزول أيضاً وقت ذروة، ومثله حين تتضيف الشمس للغروب، وهي أوقات قصيرة، يعني لا تزيد على ربع ساعة في المواطن الثلاثة، يعني الإنسان يتحرى في هذه الأوقات ولا يصلي.” انتهى، من “شرح الوقات” – الشاملة -.

*”Dan yang lebih kuat (pendapat saya): pada waktu-waktu larangan yang luas (awqat an-nahy al-muwassa‘a), masalahnya longgar. Artinya, jika seseorang masuk masjid setelah shalat Subuh, ia boleh menunaikan shalat sunnah; jika masuk setelah shalat Ashar, juga boleh menunaikan shalat sunnah. Karena ia diperintahkan untuk menunaikan shalat sunnah. Memang waktu itu termasuk waktu larangan, tapi tidak seperti larangan shalat pada waktu-waktu sempit.

Para ulama seperti Ibnu ‘Abd al-Barr, Ibnu Rajab, dan lainnya menjelaskan bahwa larangan shalat pada waktu-waktu yang luas bertujuan untuk mencegah seseorang melanjutkan shalat pada waktu-waktu sempit. Jadi larangan pada waktu luas termasuk pencegahan (man‘ al-wasa’il), sedangkan larangan pada tiga waktu sempit (matahari baru terbit hingga meninggi, tengah siang hingga miring, dan mendekati terbenam hingga terbenam) lebih berat. Larangan pada waktu sempit lebih berat karena mencakup shalat dan penguburan mayat, sedangkan pada waktu luas perintahnya lebih longgar.

Nabi ﷺ membolehkan qadha’ shalat sunnah Subuh setelah shalat Subuh, meski itu termasuk waktu larangan. Nabi ﷺ juga membolehkan qadha’ shalat sunnah Dzuhur setelah shalat Ashar, ini menunjukkan bahwa pada waktu luas perintah lebih longgar.

Adapun ketika matahari baru terbit hingga meninggi: ini merupakan waktu puncak larangan. Begitu pula ketika tengah siang hingga matahari miring, dan ketika mendekati terbenam hingga tenggelam, ini juga waktu puncak larangan. Waktu-waktu ini sangat singkat, tidak lebih dari sekitar seperempat jam pada masing-masing tempat. Maka seseorang harus berhati-hati pada waktu-waktu tersebut dan tidak menunaikan shalat.”*

Wallahu A‘lam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button