Akidah

Apakah Benar Nabi Ibrahim Mencari Tuhan?

Sebagai seorang manusia yang diberikan kelebihan untuk berfikir atas kejadian-kejadian yang terjadi di alam semesta. Yang dengannya akan membawa nalar pada satu titik, yakni adanya anggapan akan keberadaan energi atau zat yang luar biasa di balik semua ini. Yang kita sebut dengan Tuhan, dimana Ia-lah  yang mengawali dan menciptakan semua yang kita rasa dan tidak pernah kita rasa, semua yang kita lihat dan tidak pernah kita lihat, semua yang kita pikirkan dan yang tidak pernah terlintas dalam pikiran. Namun itu akan menjadi hal yang abstrak atau dinamis apabila tidak ada yang menjelaskan. Oleh karenanya Allah subhanahu wata’ala mengutus Nabi dan Rasul sebagai pembawa risalah tauhid untuk menerangkan ke-esa-an Allah ta’ala.

Ajaran tauhid ini pun juga yang dibawa oleh Nabi yang bergelar kholilullah (kekasih Allah), ialah Nabiyullah  Ibrahim -alaihi salam-. Yang di mana melakukan gebrakan purifikasi sebagaimana tercatat dalam Al-Qur’an.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ (75) فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (76) فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77) فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (78) إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS.Al-An’am: 75-79)

Ayat di atas nampak menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim mencari Tuhan atau dalam proses menimbang mengenai siapa Tuhan alam semesta. Namun, sebenarnya ini bukanlah proses Nabiyullah Ibrahim mencari Tuhannya. Tapi ayat di atas mengisahkan salah satu metode yang digunakan oleh Nabi Ibrahim untuk membungkam para kaum musyrikin. Dengan beberapa alasan di bawah ini:

  1. Ciptaan Allah ﷻ yang disebutkan oleh Nabi Ibrahim -alaihi sallam- dalam ayat di atas adalah makhluk yang diagungkan oleh orang-orang yang hidup di peradaban mesopotamia, oleh karenanya Nabiyullah Ibrahim menyebutkan benda-benda langit tersebut.
  2. Ketika Nabi Ibrahim mengatakan هَذَا رَبِّي (Ini Tuhanku), bisa jadi ini menunjukkan istifham(pertanyaan) dengan maksud pengingkaran yang berisi celaan. Sebagaimana Firman Allah ﷻ: (أفإن مت فهم الخالدون) bermakna (أفهم الخالدون؟). Teks dalam ayat tidak mengandung kata tanya. Namun, Ketika ditafsiran dan diterjemahkan, akan ditemukan kata tanya, “maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?”. Dalam konteks potongan ayat yang dibahas di poin ini adalah bermakna “Apakah seperti ini Tuhan ku? Tentu ini bukan Tuhanku”
  3. Jika ini dikatakan proses pencarian Tuhan; adalah sebuah hal rancu ketika seseorang menentukan Tuhannya hanya dengan menggunakan indikator suka atau tidak suka
  4. Jika dilihat lagi runtutan ayat di atas, menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim -alaihi salam- menyusun argumen logis untuk menjelaskan kesesatan mereka dengan pendekatan deduktif. Seperti, melihat Matahari yang terlihat lebih besar dari bintang dan bulan, namun ternyata ia pun tetap terbenam
  5. Potongan ayat “قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي” (Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberikan hidayah-Nya kepadaku…). Ini bukan bermakna bahwa Nabi Ibrahim tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapat hidayah. Karena para Nabi dan Rasul semua diberi hidayah. Namun mereka tetap meminta hidayah dan ketetapan hati kepada Allah ﷻ. Hal ini pun tersirat dalam QS. Ibrahim: 35

” وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ

“Jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”

Dan dalam QS. Al-Anbiya: 51, disebutkan

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ

“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya”

  1. Ayat ke 79 menyebutkan bahwa Bahwa Nabi Ibrahim berlepas diri dari perbuatan kaum musyrikin setelah ia mendatangkan hujah kepada kaumnya
  2. Metode Reductio ad absurdum adalah metode yang digunakan Nabi Ibrahim -alaihi salam- untuk membantah suatu pernyataan dengan menunjukkan bahwa jika pernyataan tersebut dianggap benar, maka akan menghasilkan kesimpulan yang tidak masuk akal atau kontradiktif.
  3. Disebutkan dalam shohihain, dari Abu Hurairoh -radiallahu ‘anhu- bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah”

Nabi Ibrahim pun demikian ketika lahir; lahir dalam keadaan tidak memeluk agama yang dipegang oleh Bapaknya atau keyakinan yang disebtukan dalam surah Al-An’am di atas. Hal ini juga ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim -alaihi salam- adalah sosok yang hanif(lurus), diantara makna hanif adalah lurus dalam Akidah. Allah ﷺ berfirman:

وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(-Nya).” (QS. an-Nisa [4]: 125).

  1. Dikisahkan pula dalam Al-Qur’an bahwa Nabiyullah Ibrahim begitu tegas menentang kesyirikan dalam bentuk penyembahan terhadap berhala.

Ulasan di atas menerangkan bahwa ayat 75-79 surah al-an’am bercerita mengenai munazara atau semacam metode debat Nabi Ibrahim dengan orang-orang yang saat itu tidak mentauhidkan Allah ta’ala.

Muhammad Iqbal Zhuhri Tulutugon

Mahasiswa S1, Jurusan Syariah, Islamic University of Madinah, KSA

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button