Selayang Pandang Fikih Ibadah (4)

67

(Pembatal-pembatal Ibadah) 

Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallah ‘anhu pernah menyampaikan nasihat yang sangat menyentuh, beliau berkata,  

«ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ اليَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلٌ» (صحيح البخاري: 8/ 89) 

Dunia pasti pergi, akhirat pasti datang, keduanya mempunyai anak-anak, maka jadilah anak akhirat dan jangan menjadi anak dunia, sesungguhnya hari ini (di dunia) hanya ada amal tanpa hisab, sedangkan esok (di akhirat) hanya ada hisab tanpa amal. (Shahih Bukhari, jilid VIII, hal. 89 ) 

Benar sekali, dunia ini adalah ladang tempat kita menabur dan menanam segala benih kebaikan, melaksanakan ibadah yang diwajibkan, menjauhi segala larangan dan berusaha semaksimal mungkin mewariskan amal-amal jariyah yang pahalanya terus mengalir walau kita sudah tiada.  

Hasil dari semua jerih payah kita dalam beribadah dan beramal saleh baru bisa dipanen kelak di negeri akhirat. Di sana, hanya ada dua golongan; golongan penghuni surga yang bahagia dan golongan penghuni nereka yang akan sengsara selamanya.  

Di antara dua golongan ini, ada sekelompok muslim yang sewaktu di dunia bersusah payah melakukan amal ibadah, tetapi di akhirat malah masuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi. Kenapa bisa demikian? Salah satu penyebabnya adalah karena amal ibadah yang ia lakukan tidak sah, amal ibadah yang ia lakukan batal dan rusak dan barangkali ia baru sadar setelah penyesalan tidak berguna lagi. 

Karena itu, kita harus mengetahui pembatal-pembatal ibadah, pembatal amal kebaikan atau penggugur pahala. Allah Ta’ala sudah memberi peringatan dalam firman-Nya: 

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ} [محمد: 33] 

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (QS. Muhammad: 33) 

 

Apa saja pembatal-pembatal ibadah itu? 

Pembatal-pembatal ibadah dapat diklasifikasi pada dua bagian: 

Pertama: Yang membatalkan seluruh ibadah dan amalan. 

Kedua: Yang membatalkan sebagian amalan atau ibadah tertentu. 

 

PERTAMA: PEMBATAL SELURUH IBADAH DAN AMALAN 

Di antara pembatal seluruh amalan ialah: 

  1. Syirik Akbar 

Allah Ta’ala berfirman:, 

{وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [الزمر: 65] 

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar: 65). 

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:  

{إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا } [النساء: 116] 

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’: 116) 

Syirik adalah kezaliman terbesar, sebaliknya tauhid adalah keadilan tertinggi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

{إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ} [لقمان: 13] 

“Sesunngguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13) 

Syirik besar ini ada beberapa bentuk, di antaranya:  

  1. Menyembah selain Allah, seperti menyembah matahari, patung, pohon, dsb.
  2. Menyembah dan beribadah kepada Allah, tetapi ia juga beribadah kepada selain Allah.
  3. Mempersembahkan ibadah yang seharusnya hanya kepada Allah kepada selain Allah Ta’ala, seperti mempersembahkan makanan atau hewan sembelihan ke laut, kuburan, tempat keramat, dll.
  4. Menaati atasan atau panutan yang mengubah hukum dan syariat Allah. Mereka menghalalkan perkara yang diharamkan Allah, atau mengharamkan perkara yang dihalalkan Allah. ‘Adiy bin Hatim radhiyallahu ‘anhu bercerita,  

أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وفي عنقي صليب من ذهب، فقال: ” يا عدي اِطرَح هذا الوثنَ من عنقك، فطرحته فانتهيت إليه وهو يقرأ سورة براءة، فقرأ هذه الآية {اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله} حتى فرغ منها، فقلت: إنا لسنا نعبدهم، فقال: «أليس يحرمون ما أحل الله فتحرمونه، ويحلون ما حرم الله فتستحلونه؟» قلت: بلى، قال: «فتلك عبادتهم» (المعجم الكبير للطبراني: 17/ 92، رقم: 218، السنن الكبرى للبيهقي: 20/241، رقم: 20377) 

Aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang di leherku ada salib terbuat dari emas, maka beliau bersabda, “Wahai Adiy, buanglah berhala ini dari lehermu.” Aku pun membuangnya, lalu aku mendekati Rasulullah sedang beliau membaca surah Bara’ah (At-Taubah), dan beliau membaca firman Allah, 

Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (QS. At-Taubah: 31) 

Setelah selesai membaca ayat ini, aku berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, kami tidaklah beribadah kepada mereka.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah mereka menghalalkan untuk kalian apa yang Allah haramkan sehingga kalian pun menghalalkannya, dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan sehingga kalian mengharamkannya?” Aku  berkata, “Benar.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah (yang dimaksud) beribadah kepada mereka. (HR. Ath-Thabaraniy dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, no. 218, dan Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubra, no. 20377).  

Dari penjelasan ulama tentang hadis ini, dapat diambil kesimpulan bahwa: 

  • Jika seorang muslim menaati orang lain dalam mengubah hukum dan syariat Allah dengan sukarela, sadar dan ia meyakini perbuatan tersebut sah-sah saja, maka ia terjatuh ke dalam syirik akbar yang dapat menghapus semua amalannya jika ia tidak bertobat. 
  • Jika ia yakin bahwa perbuatan itu tidak boleh, namun ia menaati pimpinan atau panutan karena hawa nafsu, karena kepentingan dan maslahat duniawi tertentu, maka ia telah melakukan dosa besar. Semoga Allah menjauhkan kita dari syirik.  

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita doa yang dapat menghindarkan dari syirik akbar dan sekaligus syirik asgar (riya). Doa tersebut adalah 

« اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ »  

Ya Allah lindungilah aku dari perbuatan syirik yang aku sadari, dan ampunilah aku dari syirik yang tidak kusadari. (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 816) 

  

  1. Kufur 

Kufur merupakan lawan dari iman. Kafir adalah orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, atau mengingkari salah satu dari rukun iman. Allah Azza wa Jalla berfirman,  

{ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [المائدة: 5] 

Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka terhapuslah amalannya dan ia di hari Kiamat termasuk orang-orang merugi. (QS. Al-Maidah: 5) 

Apa balasan bagi orang kafir yang berbuat baik di dunia? 

Terkadang kita mendapati ada orang kafir yang suka berbuat kebaikan, apakah dia akan mendapat balasan dari perbuatan tersebut? Allah Subhanahu wa Ta’ala Mahaadil, memberikan seseorang balasan setimpal dengan perbuatan baiknya meski ia kafir, akan tetapi balasan tersebut hanya di dunia. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, 

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Hud: 15-16) 

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  

 

«إِنَّ اللهَ لَا يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً، يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِي الْآخِرَةِ، وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى الْآخِرَةِ، لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا» (رواه مسلم: 2808). 

“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi kebaikan orang mukmin, ia akan diberikan balasan di dunia dan akan dibalas pula di akhirat, sedangkan orang kafir, maka diberi makan karena kebaikan-kebaikan yang dikerjakan karena Allah di dunia, hingga ketika  menuju akhirat ia tidak memiliki suatu kebaikan pun yang bisa dibalas.” (HR. Muslim, no. 2808) 

1. Riddah (Kemurtadan) 

Riddah adalah keluar dari agama Islam secara sukarela baik dengan perkataan maupun perbuatan, pelakunya disebut murtad. Riddah ini bisa juga dengan mengatakan atau melakukan perbuatan yang dengannya dia dihukumi murtad; seperti tidak mau membayar zakat. Setelah Rasulullah wafat, ada sekelompok kaum muslimin enggan membayar zakat, karenanya Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq memerangi mereka, walaupun mereka melaksanakan salat. Sebab, salat dan zakat sama-sama rukun Islam yang wajib diimani dan dilaksanakan. Allah Ta’ala berfirman: 

{وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ} [البقرة: 217] 

Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 217). 

2. Nifak Akbar atau Nifak I’tiqadiy 

Yaitu: menampakkan iman dalam ucapan dan prilaku namun menyembunyikan kekufuran dalam hati. Golongan inilah yang dimaksud dalam firman Allah: 

{إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا } [النساء: 145] 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (QS. An-Nisa’: 145) 

Dalam kesehariannya, seorang munafik menampakkan keimanan dan menjalankan syariat Islam yang lahir, maka ia diperlakukan sama seperti muslim lainnya. Jika ia melakukan kesalahan atau pelanggaran syariat, maka ia juga dihukum sesuai dengan kesalahannya.  

Contoh-contoh nifak akbar: 

  1. Mendustakan Rasulullah atau mengingkari sebagain syariat yang dibawa Rasulullah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (QS. Al-Munafiqun: 1).
  2. Membenci Rasulullah atau membenci sebagian syariat yang dibawa Rasulullah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. (QS. Muhammad: 8-9) 

Sejatinya seorang muslim tidak akan membenci Rasulullah maupun  ajaran yang beliau bawa, maka jika ada muslim yang melakukan hal itu ia telah mengikuti perbuatan orang kafir. Allah menjelaskan tentang hakikat kaum munafik dalam firman-Nya:  

{وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ} [التوبة: 54] 

Mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. (QS. At-Taubah: 54) 

  1. Senang dengan kekalahan/kemunduran agama Islam dan benci dengan kejayaan Islam.
  2. Menentang Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perkataan dan perbuatan. Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya: Dan barangsiapa yang menentang Rasul, sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia dalam kesesatannya dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa’: 115) 

Allah juga berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. (QS. Al-Hujurat: 2) 

  1. Menista atau mengolok-olok agama Islam. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. (QS. At-Taubah: 65-66).  

Di zaman Rasulullah, terkenal seorang gembong munafik yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul, kemunafikannya terlihat begitu jelas, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Orang-orang seperti Abdullah bin Ubay bin Salul hampir bisa ditemukan di setiap masa. Umumnya mereka mempunyai jabatan atau kedudukan istimewa di tengah masyarakat. Dia muslim, tapi kebijaksanaan, keputusan dan hampir dalam segala tindak-tanduknya ia berusaha memerangi Islam atau ajaran-ajaran Islam yang tidak di sukai. 

Orang seperti ini tetap dihukumi sebagai muslim, kita juga bergaul dan menyikapinya selayaknya muslim lainnya, tetapi kaum muslimin harus ekstra hati-hati dari aksinya, jika benar-benar membahayakan Islam dan merugikan kaum muslimin, maka amar makruf dan nahi mungkar harus ditegakkan kepadanya.  

Kita juga harus tetap menghormati keluarga dan anak-anaknya, sebab boleh jadi seseorang menjadi gembong munafik, tetapi istri dan anak-anaknya mungkin orang baik dan saleh. Sebagaimana Abdullah bin Ubay bin Salul adalah rajanya kaum munafikin, tetapi putranya Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul adalah seorang sahabat saleh yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya. 

Karenanya, hendaklah kita sering-sering berdoa dengan doa yang sering dibacakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar tetap istikamah dalam agama ini:  

« اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ »  

“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 683). 

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita dari kesyirikan dan kemunafikan, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Semoga Allah Ta’ala menetapkan kita dalam iman dan Islam, sampai ajal menjemput. Amin. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.