Akidah

Pernyataan Sejumlah Orientalis tentang Nabi Muhammad ﷺ

Pernyataan Sejumlah Orientalis tentang Nabi Muhammad ﷺ

Kaum muslimin tidak membutuhkan pengakuan orang-orang Barat terhadap Nabi ﷺ. Namun, hal ini disebutkan dalam rangka membenarkan ungkapan:

“Kebenaran itu terkadang justru dipersaksikan oleh pihak lawan.”

Di hadapan Anda terdapat sejumlah pernyataan dari beberapa orientalis yang mengagumi kepribadian Rasulullah yang agung ﷺ. Meskipun mereka tidak mengenakan jubah Islam—yakni tidak memeluk agama Islam—mereka tetap mengucapkan kata-kata kebenaran yang kemudian dicatat oleh sejarah melalui lisan mereka serta dalam buku dan karya-karya mereka.

Kekaguman mereka kepada beliau tidak lain karena sosok beliau ﷺ telah mencapai puncak yang sangat tinggi dalam keluhuran pribadi, kemuliaan akhlak, dan peradaban. Hal itu membuat mereka begitu mengagumi beliau hingga menulis berbagai buku tentang beliau dan berulang kali menyebut sosok beliau dalam karya-karya mereka.

Apa yang disebutkan berikut ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak pernyataan mereka tentang keagungan pribadi Rasulullah ﷺ dan sifat-sifat beliau yang mulia.

Berikut sebagian dari apa yang dinukil dari mereka mengenai keagungan pribadi dan sifat-sifat mulia Rasulullah ﷺ.

1. Mahatma Gandhi

“Aku ingin mengetahui sifat-sifat lelaki yang tanpa perselisihan telah menguasai hati jutaan manusia. Aku menjadi benar-benar yakin bahwa bukan pedang yang menjadi sarana bagi Islam untuk memperoleh kedudukannya. Akan tetapi, hal itu terjadi melalui kesederhanaan Rasul, ketelitian dan kejujurannya dalam menepati janji, pengorbanan dan ketulusannya kepada para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, serta kepercayaannya secara mutlak kepada Tuhan dan risalahnya.

Sifat-sifat inilah yang membuka jalan dan mengatasi berbagai kesulitan, bukan pedang. Setelah selesai membaca jilid kedua tentang kehidupan Rasul, aku merasa menyesal karena tidak ada lagi bagian selanjutnya yang dapat kubaca untuk mengenal lebih jauh kehidupannya yang agung.”

Sumber: Mahatma Gandhi, sebagaimana dinukil dari wawancaranya dengan surat kabar Young India mengenai sifat-sifat Nabi Muhammad ﷺ.

2. Rama Krishna Rao

“Tidak mungkin mengenal kepribadian Muhammad dari seluruh sisinya. Namun, yang dapat aku sajikan hanyalah sekilas kehidupannya melalui rangkaian gambaran yang indah.

Ada Muhammad sang Nabi, Muhammad sang pejuang, Muhammad sang pengusaha, Muhammad sang negarawan, Muhammad sang orator, Muhammad sang pembaharu, Muhammad tempat berlindung anak-anak yatim, pelindung para budak, Muhammad pembebas kaum perempuan, dan Muhammad sang hakim.

Seluruh peran luar biasa dalam berbagai bidang kehidupan manusia tersebut menjadikannya layak disebut sebagai seorang pahlawan.”

Sumber: Prof. Rama Krishna Rao, Muhammad the Prophet.

3. Sarojini Naidu

“Islam dapat dianggap sebagai agama pertama yang menyerukan sekaligus menerapkan demokrasi. Demokrasi ini dimulai di masjid lima kali dalam sehari ketika azan dikumandangkan untuk salat, lalu orang desa dan raja bersujud berdampingan sebagai pengakuan bahwa Allah Mahabesar.

Hal yang sangat mengagumkanku adalah persatuan yang tidak dapat dipecah-belah ini, yang secara spontan menjadikan setiap orang sebagai saudara bagi yang lainnya.”

Sumber: Sarojini Naidu, penyair India. Dalam naskah yang dinukil, tidak dicantumkan keterangan bibliografis lebih lanjut.

4. Lamartine

“Jika ukuran yang kita gunakan untuk menilai kejeniusan manusia adalah keluhuran tujuan dan menakjubkannya hasil yang dicapai meskipun dengan sarana yang sedikit, siapakah yang berani membandingkan salah seorang tokoh besar sejarah modern dengan Nabi Muhammad ﷺ dalam kejeniusannya?

Tokoh-tokoh terkenal itu membuat senjata, menetapkan undang-undang, dan mendirikan kekaisaran. Namun, yang mereka peroleh hanyalah kejayaan fana yang tidak lama kemudian hancur di hadapan mereka.

Adapun lelaki ini, Muhammad ﷺ, bukan hanya memimpin pasukan, menetapkan syariat, mendirikan pemerintahan, memimpin bangsa-bangsa, dan menundukkan para penguasa, tetapi juga memimpin jutaan manusia yang ketika itu berjumlah sekitar sepertiga dunia. Bukan hanya itu, ia juga melenyapkan berhala, praktik pengundian nasib, agama-agama, pemikiran, dan keyakinan-keyakinan yang batil.

Nabi bersabar dan tetap teguh hingga memperoleh kemenangan dari Allah. Ambisi Nabi ﷺ sepenuhnya diarahkan kepada satu tujuan. Ia tidak berambisi membangun sebuah kekaisaran ataupun yang semisalnya.

Salat Nabi yang terus-menerus, munajatnya kepada Tuhannya, wafatnya ﷺ, serta kemenangan ajarannya bahkan setelah kematiannya, semuanya tidak menunjukkan penipuan ataupun kepalsuan. Sebaliknya, semua itu menunjukkan keyakinan tulus yang memberinya energi dan kekuatan untuk menegakkan sebuah akidah yang terdiri dari dua bagian: keimanan kepada keesaan Allah dan keimanan bahwa Dia berbeda dari segala sesuatu yang baru dan diciptakan.

Inilah Muhammad ﷺ: sang filsuf, orator, nabi, pembuat hukum, pejuang, penakluk hawa nafsu, dan pendiri mazhab-mazhab pemikiran yang menyerukan ibadah yang benar tanpa berhala maupun praktik pengundian nasib.

Dengan mempertimbangkan seluruh ukuran keagungan manusia, aku ingin bertanya: adakah orang yang lebih agung daripada Nabi Muhammad ﷺ?”

Sumber: Alphonse de Lamartine, Histoire de la Turquie (Sejarah Turki), Paris, 1854, jilid II, hlm. 276–277.

5. Montgomery Watt

“Kesediaan lelaki ini menanggung penganiayaan demi keyakinannya, tingginya moral orang-orang yang beriman kepadanya, mengikutinya, serta menganggapnya sebagai pemimpin mereka, ditambah dengan keagungan pencapaiannya yang luar biasa, semuanya menunjukkan keadilan dan integritas yang tertanam dalam dirinya.

Anggapan bahwa Muhammad adalah seorang penipu justru menimbulkan lebih banyak persoalan daripada menyelesaikannya. Bahkan, tidak ada satu pun tokoh besar dalam sejarah yang diperlakukan dengan penghargaan yang tidak semestinya sebagaimana yang terjadi terhadap Muhammad.”

Sumber: W. Montgomery Watt, Muhammad at Mecca, 1953, hlm. 52.

6. Bosworth Smith

“Muhammad adalah pemimpin politik sekaligus pemimpin agama. Namun, ia tidak memiliki kesombongan kaum agamawan, dan tidak pula mempunyai legiun sebagaimana para kaisar.

Ia tidak memiliki pasukan besar, pengawal pribadi, istana megah, ataupun pendapatan tetap. Jika ada seseorang yang dapat dikatakan memerintah dengan kekuasaan yang diberikan Tuhan, maka orang itu adalah Muhammad, karena ia mampu memegang kendali kekuasaan tanpa memiliki perangkat-perangkat kekuasaan tersebut dan tanpa dukungan dari orang-orang yang biasanya menopangnya.”

Sumber: R. Bosworth Smith, Mohammed and Mohammedanism, London, 1874, hlm. 92.

7. Edward Gibbon dan Simon Ockley

“Bukan penyebaran dakwah Islam yang paling layak dikagumi, melainkan keberlangsungan dan keteguhannya sepanjang zaman. Kesan luar biasa yang ditanamkan Muhammad di Makkah dan Madinah masih memiliki keagungan dan kekuatan yang sama dalam jiwa orang-orang India, Afrika, dan Turki yang baru mengenal Al-Qur’an, meskipun telah berlalu dua belas abad.

Kaum Muslimin mampu bertahan dalam satu kesatuan dalam keimanan kepada Allah. Ucapan, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah,’ secara sederhana merupakan kesaksian Islam.

Kesadaran mereka tentang ketuhanan Allah azza wajalla tidak terpengaruh oleh keberadaan benda-benda yang terlihat yang sebelumnya dijadikan sebagai tuhan selain Allah. Kehormatan dan keutamaan Nabi juga tidak melampaui batas keutamaan yang dikenal pada manusia.”

Sumber: Edward Gibbon dan Simon Ockley, sebagaimana dinukil dalam History of the Saracen Empire, London, 1870, hlm. 54.

8. Dr. Zwemer

“Tidak diragukan lagi bahwa Muhammad merupakan salah seorang pemimpin agama terbesar kaum Muslimin. Tepat pula jika dikatakan bahwa ia adalah seorang pembaharu yang sangat cakap, seorang orator yang fasih, seorang pemberani, dan pemikir besar.

Tidak boleh kita menisbatkan kepadanya sesuatu yang bertentangan dengan sifat-sifat tersebut. Al-Qur’an yang dibawanya dan sejarahnya sendiri menjadi saksi atas kebenaran pernyataan ini.”

Sumber: Dr. Zwemer, sebagaimana dinukil dalam buku The East and Its Customs (Timur dan Adat Istiadatnya).

9. Saint-Hilaire

“Muhammad adalah kepala negara yang senantiasa memperhatikan kehidupan dan kebebasan rakyat. Ia menghukum orang-orang yang melakukan tindak kejahatan sesuai dengan keadaan zamannya dan keadaan masyarakat keras tempat Nabi hidup di tengah-tengah mereka.

Nabi menyerukan agama Tuhan Yang Esa. Dalam dakwahnya, ia bersikap lembut dan penuh kasih bahkan terhadap musuh-musuhnya. Dalam kepribadiannya terdapat dua sifat yang termasuk sifat paling luhur yang dapat dimiliki jiwa manusia, yaitu keadilan dan kasih sayang.”

Sumber: Barthélemy Saint-Hilaire, sebagaimana dinukil dalam bukunya mengenai bangsa-bangsa Timur dan keyakinan mereka.

10. Édouard Montet

“Muhammad dikenal karena ketulusan niatnya, kelembutannya, keadilannya dalam memutuskan perkara, serta kejujurannya dalam mengungkapkan pemikiran dan melakukan penelitian.

Secara keseluruhan, Muhammad adalah orang Arab pada zamannya yang paling suci, paling religius, paling penyayang, dan paling teguh memegang kendali. Ia mengarahkan mereka menuju suatu kehidupan yang sebelumnya tidak pernah mereka impikan dan mendirikan bagi mereka sebuah negara yang bersifat duniawi sekaligus keagamaan yang pengaruhnya masih berlangsung hingga hari ini.”

Sumber: Édouard Montet, sebagaimana dinukil pada bagian akhir bukunya Les Arabes (Bangsa Arab).

11. Bernard Shaw

“Dunia sangat membutuhkan seorang lelaki yang memiliki cara berpikir seperti Muhammad. Nabi ini telah menempatkan agamanya pada kedudukan yang senantiasa dihormati dan dimuliakan. Agama tersebut merupakan agama yang paling mampu menyerap berbagai peradaban dan tetap abadi sepanjang masa.

Aku melihat banyak orang dari bangsaku telah memeluk agama ini berdasarkan pemahaman yang jelas, dan agama ini akan menemukan ruang yang luas di benua ini,” yakni Eropa.

“Para pemuka agama pada Abad Pertengahan, akibat kebodohan atau fanatisme, telah menggambarkan agama Muhammad dengan gambaran yang kelam. Mereka menganggapnya sebagai musuh agama Kristen.

Namun, aku telah mempelajari lelaki ini dan mendapati bahwa ia merupakan sosok yang luar biasa. Aku sampai pada kesimpulan bahwa ia bukanlah musuh agama Kristen. Bahkan, ia patut disebut sebagai penyelamat umat manusia.

Menurut pendapatku, seandainya ia memegang kendali dunia pada masa sekarang, niscaya ia akan berhasil menyelesaikan berbagai persoalan kita dengan cara yang dapat menjamin perdamaian dan kebahagiaan yang didambakan umat manusia.”

Sumber: Dalam naskah asal, perkataan ini dinisbatkan kepada George Bernard Shaw dan sebuah karya berjudul Muhammad.

12. Sir William Muir

“Muhammad, Nabi kaum Muslimin, telah dijuluki Al-Amin sejak kecil berdasarkan kesepakatan penduduk negerinya karena kemuliaan akhlak dan baiknya perilakunya.

Apa pun yang dikatakan tentangnya, Muhammad terlalu luhur untuk dapat dijangkau sepenuhnya oleh gambaran seorang penulis. Orang yang tidak mengenalnya tidak akan memahami dirinya, sedangkan orang yang menelaah sejarahnya yang gemilang secara mendalam akan mengenalnya.

Sejarah itulah yang menempatkan Muhammad di barisan terdepan para rasul dan pemikir dunia.”

Sumber: Sir William Muir, sebagaimana dinukil dari bukunya mengenai sejarah Muhammad.

13. Snersten, orientalis Swedia

“Kita tidak berlaku adil kepada Muhammad apabila mengingkari sifat-sifat agung dan keutamaan-keutamaan terpuji yang dimilikinya.

Muhammad telah menjalani perjuangan hidup yang sesungguhnya menghadapi kebodohan dan kebiadaban dengan tetap teguh pada prinsipnya. Ia terus melawan para tiran hingga akhirnya mencapai kemenangan yang nyata.

Syariatnya kemudian menjadi syariat yang paling sempurna, dan ia berada di atas tokoh-tokoh besar sejarah.”

Sumber: Dalam naskah asal dinisbatkan kepada “Snersten”, seorang orientalis Swedia, profesor bahasa-bahasa Semitik dan penulis sejumlah karya mengenai Al-Qur’an dan kehidupan Muhammad ﷺ.

14. Mr. Snicks

“Muhammad muncul lima ratus tujuh puluh tahun setelah Al-Masih. Tugasnya adalah meningkatkan taraf pemikiran manusia dengan menanamkan prinsip-prinsip dasar akhlak mulia dan mengembalikan mereka kepada keyakinan kepada Tuhan Yang Esa serta kehidupan setelah kehidupan dunia ini.

Gagasan keagamaan Islam telah menghasilkan kemajuan yang sangat besar di dunia dan membebaskan akal manusia dari belenggu berat yang menawannya di sekitar tempat-tempat pemujaan di hadapan para pendeta.

Dengan menghapus seluruh gambar di tempat-tempat ibadah dan meniadakan segala bentuk representasi terhadap Zat Sang Pencipta Yang Mutlak, Muhammad berhasil membebaskan pemikiran manusia dari keyakinan kasar tentang penjelmaan Tuhan dalam bentuk jasmani.”

Sumber: Dinisbatkan kepada Mr. Snicks, orientalis Amerika, dalam buku The Religion of the Arabs (Agama Bangsa Arab).

15. Annie Besant

“Mustahil bagi siapa pun yang mempelajari kehidupan dan kepribadian Nabi besar bangsa Arab, mengetahui bagaimana Nabi itu menjalani kehidupannya dan bagaimana ia mengajarkan manusia, kecuali ia akan merasakan penghormatan terhadap Nabi yang agung ini, salah seorang utusan Tuhan yang besar.

Meskipun dalam apa yang akan kusampaikan kepada kalian terdapat hal-hal yang mungkin telah dikenal banyak orang, setiap kali aku membaca kembali kisah-kisah tersebut, aku selalu merasakan kekaguman dan penghormatan yang kembali tumbuh terhadap guru besar bangsa Arab ini.

Apakah kalian hendak mengatakan kepadaku bahwa seorang lelaki yang berada pada puncak masa mudanya, belum melampaui usia dua puluh empat tahun, setelah menikahi seorang perempuan yang jauh lebih tua darinya dan tetap setia kepadanya selama dua puluh enam tahun, kemudian ketika mencapai usia lima puluh tahun—usia ketika dorongan jasmani mulai mereda—ia menikah semata-mata untuk memenuhi keinginan dan syahwatnya?! Bukan demikian cara menilai kehidupan seseorang.

Jika kalian memperhatikan perempuan-perempuan yang dinikahinya, kalian akan menemukan bahwa setiap pernikahan tersebut memiliki sebab: adakalanya untuk membangun persekutuan yang bermanfaat bagi para pengikut dan agamanya, memperoleh sesuatu yang membawa maslahat bagi para sahabatnya, atau karena perempuan yang dinikahinya sangat membutuhkan perlindungan.”

Sumber: Annie Besant, The Life and Teachings of Muhammad, Madras, 1932.

16. Michael H. Hart

“Pilihanku terhadap Muhammad sebagai tokoh pertama di antara orang-orang paling penting dan paling besar dalam sejarah mungkin mengejutkan para pembaca. Namun, ia adalah satu-satunya manusia dalam seluruh sejarah yang mencapai keberhasilan tertinggi dalam dua bidang sekaligus: agama dan dunia.

Ada para rasul, nabi, dan orang bijak yang memulai risalah-risalah besar, tetapi mereka meninggal sebelum menyempurnakannya, seperti Al-Masih dalam agama Kristen; atau orang lain turut berperan bersama mereka, atau ada orang yang mendahului mereka, seperti Musa dalam agama Yahudi.

Namun Muhammad adalah satu-satunya yang menyempurnakan risalah agamanya, hukum-hukumnya menjadi jelas dan terstruktur, serta seluruh bangsa telah mengimaninya semasa hidupnya.

Karena di samping agama ia juga mendirikan sebuah negara baru, maka dalam bidang duniawi pun ia menyatukan berbagai kabilah menjadi satu bangsa dan berbagai kelompok menjadi satu umat. Ia meletakkan dasar-dasar kehidupan mereka, mengatur urusan dunia mereka, serta menempatkan mereka pada posisi untuk bergerak menuju dunia yang lebih luas.

Semua itu juga terjadi semasa hidupnya. Dialah yang memulai risalah keagamaan dan duniawi tersebut sekaligus menyempurnakannya.”

Sumber: Michael H. Hart, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History.

17. Leo Tolstoy

“Cukuplah menjadi kebanggaan bagi Muhammad bahwa ia telah membebaskan suatu bangsa yang hina dan gemar menumpahkan darah dari cengkeraman setan kebiasaan-kebiasaan buruk, kemudian membuka bagi mereka jalan menuju kemajuan dan perkembangan.

Syariat Muhammad akan menguasai dunia karena kesesuaiannya dengan akal dan kebijaksanaan.”

Sumber: Dinisbatkan kepada Leo Tolstoy (1828–1910).

18. Dr. Schabrak, orientalis Austria

“Umat manusia patut berbangga karena seorang lelaki seperti Muhammad merupakan bagian darinya. Meskipun ia seorang yang ummi, beberapa belas abad yang lalu ia mampu membawa suatu perundang-undangan yang apabila kami bangsa Eropa dapat mencapai tingkatnya, niscaya kami akan menjadi manusia yang paling berbahagia.”
Sumber: Perkataan ini dinisbatkan kepada Dr. Schabrak, seorang orientalis Austria.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button