Tatsqif

Peristiwa-Peristiwa Penting Bulan Safar dalam Sirah Nabawiyah

Peristiwa-Peristiwa Penting Bulan Safar dalam Sirah Nabawiyah

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa bulan Safar bukanlah bulan sial, sebagaimana diyakini oleh sebagian orang. Seorang mukmin yang memahami bahwa segala peristiwa berada di tangan Allah, dan bahwa hari maupun bulan tidak memiliki kekuasaan mengatur apa pun, tidak akan menganggap Safar sebagai bulan pembawa kesialan. Hari dan bulan hanyalah makhluk Allah yang diatur oleh-Nya.

Karena itu, seorang mukmin tidak merasa takut, resah, atau menunda urusan-urusan pribadinya hanya karena memasuki bulan Safar. Bulan ini sama seperti bulan-bulan lainnya.

Jika kita menelusuri sejarah Islam, justru kita akan menemukan bahwa pada bulan Safar terjadi banyak kabar gembira, kemenangan, dan peristiwa besar yang mengangkat kemuliaan umat Islam. Seandainya keyakinan bahwa Safar adalah bulan sial benar adanya, tentu para penakluk Islam tidak akan melakukan berbagai ekspedisi dan penaklukan pada bulan tersebut.

Berikut ini beberapa peristiwa penting yang terjadi pada bulan Safar, sebagai contoh, bukan pembatasan.

1. Pernikahan Nabi ﷺ dengan Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha

Terjadi pada tahun ke-26 dari usia Nabi ﷺ.

Ibnu Ishaq berkata:
«في شهر صفر كان زواج السيدة خديجة بنت خويلد رضي الله عنها من النبي محمد صلى الله عليه وسلم عقب خمسة وعشرين يوماً من صفر سنة ستة وعشرين»
> “Pada bulan Safar, Sayyidah Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha menikah dengan Nabi Muhammad ﷺ, tepat dua puluh lima hari setelah masuknya bulan Safar pada tahun ke-26 dari kelahiran beliau.”

2. Hijrah Nabi ﷺ dari Makkah menuju Madinah

Yazid bin Abi Habib berkata:
«خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم من مكة في صفر، وقدم المدينة في ربيع الأول».
> “Rasulullah ﷺ keluar dari Makkah pada bulan Safar, lalu tiba di Madinah pada bulan Rabiul Awwal.”

3. Perang Al-Abwa’ (Waddan)

Terjadi pada tahun pertama Hijriah.

Rasulullah ﷺ berangkat pada bulan Safar untuk menghadapi Quraisy dan Bani Dhamrah. Beliau sampai di daerah Waddan, kemudian kembali ke Madinah tanpa terjadi peperangan. Saat itu beliau menunjuk Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin Madinah.

Inilah peperangan pertama yang dipimpin langsung oleh Rasulullah ﷺ.

4. Pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan Fathimah radhiyallahu ‘anhuma

Terjadi pada tahun kedua Hijriah.

Ibnu Katsir berkata:
«وأما فاطمة رضي الله عنها فتزوجها ابن عمها علي بن أبي طالب رضي الله عنه في صفر سنة اثنتين، فولدت له الحسن والحسين، ويقال: ومحسن، وولدت له أم كلثوم وزينب».
> “Fatimah radhiyallahu ‘anha dinikahkan dengan sepupunya, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, pada bulan Safar tahun kedua Hijriah. Dari pernikahan itu lahirlah Hasan, Husain, menurut sebagian riwayat juga Muhsin, serta Ummu Kultsum dan Zainab.”

5. Perang Dzu Amr

Terjadi pada tahun ketiga Hijriah.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa setelah Perang As-Sawiq, Rasulullah ﷺ menetap di Madinah hingga hampir selesai bulan Muharram, kemudian berangkat menuju Najd untuk menghadapi Ghathafan.

Beliau tinggal di Najd hampir sepanjang bulan Safar, lalu kembali ke Madinah tanpa terjadi pertempuran.

6. Penaklukan Khaibar

Terjadi menjelang akhir tahun keenam Hijriah.

Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Fathu Khaibar terjadi pada bulan Safar.

Ibnu Ishaq رحمه الله berkata:

«وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما بلغني قد أعطى ابن لقيم العبسي حين افتتح خيبر ما بها من دجاجة أو داجن، وكان فتح خيبر في صفر».

Ibnu Ishaq berkata:

“Menurut berita yang sampai kepadaku, ketika Rasulullah ﷺ berhasil menaklukkan Khaibar, beliau memberikan kepada Ibnu Luqaim Al-‘Absi segala sesuatu yang ada di sana berupa ayam atau hewan ternak peliharaan. Penaklukan Khaibar itu terjadi pada bulan Safar.”

Keterangan:

Ungkapan «ما بها من دجاجة أو داجن» berarti segala hewan peliharaan yang terdapat di Khaibar, seperti ayam atau hewan ternak yang telah dijinakkan. Penyebutan ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memberikan sebagian harta rampasan perang kepada Ibnu Luqaim Al-‘Absi sebagai bentuk penghargaan atau pemberian.

Sedangkan penutup riwayat:

> «وكان فتح خيبر في صفر»
berarti:

“Penaklukan Khaibar terjadi pada bulan Safar.”

Riwayat ini menjadi salah satu bukti sejarah bahwa bulan Safar bukanlah bulan yang membawa kesialan. Justru pada bulan inilah Allah menganugerahkan kepada kaum muslimin salah satu kemenangan terbesar dalam sejarah Islam, yaitu penaklukan Khaibar.

7. Masuk Islamnya Amr bin Al-Ash, Khalid bin Al-Walid, dan Utsman bin Thalhah radhiyallahu ‘anhum

Terjadi pada tahun kedelapan Hijriah.

Ibnu Ishaq berkata:
«كان إسلام عمرو بن العاص، وخالد ابن الوليد، وعثمان بن طلحة رضي الله عنهم؛ عند النجاشي فقدموا إلى المدينة في صفر سنة ثمان من الهجرة».
> “Amr bin Al-Ash, Khalid bin Al-Walid, dan Utsman bin Thalhah radhiyallahu ‘anhum masuk Islam di hadapan Raja Najasyi, kemudian datang ke Madinah pada bulan Safar tahun kedelapan Hijriah.”

Masuk Islamnya tiga tokoh besar ini menjadi kekuatan besar bagi kaum muslimin.

8. Sariyah Quthbah bin Amir bin Hadidah

Terjadi pada tahun kesembilan Hijriah.

Rasulullah ﷺ mengutus Quthbah bin Amir bersama dua puluh orang menuju Khas’am di sekitar Bisyah.

Mereka berhasil mengalahkan musuh, memperoleh harta rampasan, ternak, dan tawanan, kemudian kembali ke Madinah.
Ibnu Sa’ad berkata:
قالوا: بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم قطبه في عشرين رجلاً إلى حي من خثعم بناحية تبالة، وأمره أن يشن الغارة، فخرجوا على عشرة أبعرة يعتقبونها، فأخذوا رجلاً فسألوه فاستعجم عليهم، فجعل يصيح بالحاضرة، ويحذرهم؛ فضربوا عنقه، ثم أقاموا حتى نام الحاضر فشنوا عليهم الغارة فاقتتلوا قتالاً شديداً حتى كثر الجرحى في الفريقين جميعاً، وقتل قطبة بن عامر من قتل، وساقوا النعم، والشاء، والنساء إلى المدينة، وجاء سيل أتى فحال بينهم وبينه فما يجدون إليه سبيلاً، وكانت سهمانهم أربعة أبعرة، والبعير يعدل بعشر من الغنم بعد أن أفرد الخمس.

Mereka berkata:

> Rasulullah ﷺ mengutus Qutbah bin ‘Amir bersama dua puluh orang menuju sebuah perkampungan dari kabilah Khats’am di daerah Tabālah. Beliau memerintahkannya agar melancarkan serangan mendadak. Mereka pun berangkat dengan menunggangi sepuluh ekor unta yang digunakan secara bergantian.

> Di tengah perjalanan, mereka berhasil menangkap seorang laki-laki. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya, tetapi ia berpura-pura tidak mengerti apa yang mereka katakan. Lalu ia berteriak memanggil penduduk kampung dan memperingatkan mereka akan kedatangan kaum Muslimin. Maka para sahabat pun memenggal lehernya.

> Setelah itu mereka menunggu hingga penduduk kampung tertidur, kemudian mereka melancarkan serangan secara tiba-tiba. Terjadilah pertempuran yang sangat sengit hingga banyak orang terluka dari kedua belah pihak.

> Dalam pertempuran tersebut, Qutbah bin ‘Amir berhasil membunuh beberapa orang. Kaum Muslimin kemudian menggiring harta ternak berupa unta, kambing, serta para wanita tawanan menuju Madinah.

> Namun kemudian datang banjir besar yang menghalangi jalan antara mereka dan pihak musuh, sehingga musuh tidak dapat mencapai mereka.

> Bagian ghanimah (rampasan perang) yang diterima setiap peserta adalah empat ekor unta. Sedangkan satu ekor unta dinilai setara dengan sepuluh ekor kambing, setelah terlebih dahulu dikeluarkan seperlima (khumus) dari seluruh harta rampasan sesuai ketentuan syariat.

9. Kedatangan Delegasi Bani Udzrah

Terjadi pada tahun kesembilan Hijriah.

Sebanyak dua belas orang datang menemui Rasulullah ﷺ.

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,

> «مَنِ الْقَوْمُ؟»

“Kalian ini dari kabilah mana?”

Juru bicara mereka menjawab,

> «مِنْ لَا تُنْكِرُ، نَحْنُ بَنُو عُذْرَةَ، إِخْوَةُ قُصَيٍّ لِأُمِّهِ، نَحْنُ الَّذِينَ عَضَدُوا قُصَيًّا، وَأَزَاحُوا مِنْ بَطْنِ مَكَّةَ خُزَاعَةَ وَبَنِي بَكْرٍ، وَلَنَا قَرَابَاتٌ وَأَرْحَامٌ.»

“Kami adalah orang-orang yang tidak asing bagimu. Kami adalah Bani ‘Udzrah, saudara-saudara Qushay dari pihak ibu. Kami adalah orang-orang yang dahulu membantu Qushay dan mengusir Khuza’ah serta Bani Bakr dari wilayah Makkah. Kami juga memiliki hubungan kekerabatan dan pertalian keluarga denganmu.”

Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,

> «مَرْحَبًا بِكُمْ وَأَهْلًا، مَا أَعْرَفَنِي بِكُمْ.»

“Selamat datang. Kalian adalah tamu yang kami sambut dengan penuh hormat. Sungguh aku mengenal baik siapa kalian.”

Setelah itu mereka pun memeluk Islam. Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira kepada mereka bahwa negeri Syam kelak akan ditaklukkan, dan Heraklius akan melarikan diri ke wilayah negerinya yang paling kuat pertahanannya.

Beliau juga melarang mereka meminta petunjuk kepada dukun (kāhin) serta melarang penyembelihan-penyembelihan yang biasa mereka lakukan pada masa jahiliah. Beliau menjelaskan bahwa yang diwajibkan atas mereka hanyalah ibadah kurban (udhiyah).

Mereka tinggal selama beberapa hari di rumah Ramlah, kemudian berpamitan pulang setelah Rasulullah ﷺ memberikan bekal dan hadiah kepada mereka.

10. Persiapan Ekspedisi ke Romawi

Terjadi pada tahun kesebelas Hijriah.

Empat hari sebelum berakhirnya bulan Safar, Rasulullah ﷺ memerintahkan kaum muslimin mempersiapkan ekspedisi menuju wilayah Romawi.

> «وَبَعَثَهُ النَّبِيُّ ﷺ لِأَرْبَعٍ بَقِينَ مِنْ صَفَرَ، وَأَمَرَهُ مِنْ غَزْوِ الرُّومِ وَالإِغَارَةِ عَلَيْهِمْ بِمَا أَمَرَ، وَعَقَدَ لَهُ لِوَاءً بِيَدِهِ الْمُبَارَكَةِ، وَجَهَّزَهُ فِي الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ أَرْبَابِ الصَّوَارِمِ الْفَاتِكَةِ.»

“Nabi ﷺ mengutusnya ketika masih tersisa empat hari lagi dari bulan Safar. Beliau memerintahkannya untuk memerangi bangsa Romawi dan melancarkan serangan terhadap mereka sesuai dengan instruksi yang telah beliau berikan. Rasulullah ﷺ sendiri mengikatkan panji kepadanya dengan tangan beliau yang mulia, lalu mempersiapkannya bersama pasukan yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, yaitu para kesatria yang memiliki pedang-pedang tajam dan mematikan.”

Kemudian disebutkan pula:

> «وَقَدْ حَثَّ النَّبِيُّ ﷺ بِبَعْثِ هَذَا الْجَيْشِ.»

“Rasulullah ﷺ sangat mendorong dan memberikan perhatian besar terhadap keberangkatan pasukan ini.”

Pelajaran dari Peristiwa-Peristiwa Ini

Peristiwa-peristiwa di atas menunjukkan dengan sangat jelas bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah menganggap bulan Safar sebagai bulan sial.

Pada bulan ini beliau:

Menikah dengan Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Menikahkan putrinya Fatimah dengan Ali radhiyallahu ‘anhuma.

Berangkat dalam berbagai ekspedisi.

Melakukan penaklukan.

Menerima delegasi kabilah-kabilah Arab.

Semua ini membatalkan anggapan bahwa Safar adalah bulan yang membawa kesialan.

Karena itu, kepada orang yang masih meyakini kesialan bulan Safar, patut ditanyakan:

> Di manakah kalian dari petunjuk Rasulullah ﷺ? Bagaimana kalian menyikapi seluruh peristiwa ini?

Musibah-Musibah yang Terjadi pada Bulan Safar

Sebagaimana pada bulan Safar terjadi banyak kemenangan dan kabar gembira, pada bulan ini juga terjadi beberapa musibah. Namun hal itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa Safar adalah bulan sial, karena musibah terjadi berdasarkan takdir Allah, bukan karena pengaruh waktu.

Di antaranya:

1. Tragedi Ar-Raji’

Terjadi pada tahun keempat Hijriah.

Enam orang sahabat, di antaranya:

Ashim bin Tsabit,

Khubaib bin Adi,

Zaid bin Ad-Datsinnah,

Abdullah bin Thariq,

Khalid bin Al-Bukair,

Martsad bin Abi Martsad radhiyallahu ‘anhum, diutus Rasulullah ﷺ untuk mengajarkan Islam kepada suatu kaum.

Namun mereka dikhianati. Tiga sahabat gugur dalam pertempuran, sedangkan tiga lainnya ditawan. Abdullah bin Thariq kemudian dibunuh di tengah perjalanan. Khubaib dan Zaid dibawa ke Makkah lalu dibunuh oleh kaum musyrikin.

> «وَكَانَ أَصْحَابُ الرَّجِيعِ سِتَّةَ نَفَرٍ، مِنْهُمْ: عَاصِمُ بْنُ ثَابِتِ بْنِ أَبِي الْأَقْلَحِ، وَخُبَيْبُ بْنُ عَدِيٍّ، وَزَيْدُ بْنُ الدَّثِنَةِ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ طَارِقٍ حَلِيفٌ لِبَنِي ظَفَرٍ، وَخَالِدُ بْنُ الْبُكَيْرِ اللَّيْثِيُّ، وَمَرْثَدُ بْنُ أَبِي مَرْثَدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ. وَكَانَ مِنْ شَأْنِهِمْ أَنَّ نَفَرًا مِنْ عَضَلٍ وَالْقَارَةِ قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالُوا: إِنَّ فِينَا مُسْلِمِينَ، فَابْعَثْ مَعَنَا نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِكَ يُفَقِّهُونَنَا. فَبَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَعَهُمْ، حَتَّى نَزَلُوا بِالرَّجِيعِ؛ فَاسْتَصْرَخُوا عَلَيْهِمْ هُذَيْلًا، فَلَمْ يَرُعِ الْقَوْمَ إِلَّا وَالْقَوْمُ مُصْلِتُونَ عَلَيْهِمْ بِالسُّيُوفِ، وَهُمْ فِي رِحَالِهِمْ. فَلَمَّا رَأَوْهُمْ أَخَذُوا سُيُوفَهُمْ، فَقَالَتْ هُذَيْلٌ: إِنَّا لَا نُرِيدُ قِتَالَكُمْ، فَأَعْطَوْهُمْ عَهْدًا وَمِيثَاقًا لَا يَرِيبُونَهُمْ. فَاسْتَسْلَمَ لَهُمْ خُبَيْبُ بْنُ عَدِيٍّ، وَزَيْدُ بْنُ الدَّثِنَةِ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ طَارِقٍ، وَلَمْ يَسْتَسْلِمْ عَاصِمُ بْنُ ثَابِتٍ، وَلَا خَالِدُ بْنُ الْبُكَيْرِ، وَلَا مَرْثَدُ بْنُ أَبِي مَرْثَدٍ، وَلَكِنْ قَاتَلُوهُمْ حَتَّى قُتِلُوا. وَخَرَجَتْ هُذَيْلٌ بِالثَّلَاثَةِ الَّذِينَ اسْتَسْلَمُوا لَهُمْ، حَتَّى إِذَا كَانُوا بِمَرِّ الظَّهْرَانِ نَزَعَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ طَارِقٍ يَدَهُ مِنْ قِرَانِهِ، ثُمَّ أَخَذَ سَيْفًا؛ فَرَمَوْهُ بِالْحِجَارَةِ حَتَّى قَتَلُوهُ، وَقَدِمُوا بِخُبَيْبِ بْنِ عَدِيٍّ، وَزَيْدِ بْنِ الدَّثِنَةِ مَكَّةَ، فَأَمَّا خُبَيْبٌ فَابْتَاعَهُ آلُ حُجَيْرِ بْنِ أَبِي إِهَابٍ فَقَتَلُوهُ بِالْحَارِثِ بْنِ عَامِرٍ، وَابْتَاعَ صَفْوَانُ بْنُ أُمَيَّةَ زَيْدَ بْنَ الدَّثِنَةِ فَقَتَلَهُ بِأَبِيهِ».

Peristiwa Ar-Raji’ melibatkan enam orang sahabat, yaitu:

‘Ashim bin Tsabit bin Abi Al-Aqlah

Khubaib bin ‘Adi

Zaid bin Ad-Datsinah

‘Abdullah bin Thariq, sekutu Bani Zhafar

Khalid bin Al-Bukair Al-Laitsi

Martsad bin Abi Martsad radhiyallahu ‘anhum.

Kisah mereka bermula ketika sekelompok orang dari kabilah ‘Adhal dan Al-Qarah datang menemui Rasulullah ﷺ. Mereka berkata:

> «إِنَّ فِينَا مُسْلِمِينَ، فَابْعَثْ مَعَنَا نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِكَ يُفَقِّهُونَنَا.»

“Di tengah kami telah ada orang-orang yang masuk Islam. Karena itu, utuslah bersama kami beberapa sahabatmu untuk mengajarkan agama kepada kami.”

Maka Rasulullah ﷺ mengutus beberapa sahabat bersama mereka. Ketika rombongan itu tiba di daerah Ar-Raji’, orang-orang tersebut memanggil bantuan dari kabilah Hudzail untuk mengepung para sahabat.

Tiba-tiba para sahabat dikejutkan oleh pasukan yang telah menghunus pedang, sementara mereka masih berada di tempat peristirahatan. Ketika para sahabat mengambil pedang mereka untuk bersiap membela diri, orang-orang Hudzail berkata:

> «إِنَّا لَا نُرِيدُ قِتَالَكُمْ.»

“Kami tidak ingin memerangi kalian.”

Mereka kemudian memberikan janji dan sumpah bahwa mereka tidak akan mengkhianati para sahabat.

Karena mempercayai janji tersebut, Khubaib bin ‘Adi, Zaid bin Ad-Datsinah, dan ‘Abdullah bin Thariq menyerahkan diri. Adapun ‘Ashim bin Tsabit, Khalid bin Al-Bukair, dan Martsad bin Abi Martsad menolak menyerah. Mereka memilih bertempur hingga gugur sebagai syahid.

Orang-orang Hudzail kemudian membawa tiga sahabat yang menjadi tawanan. Ketika mereka sampai di Marr Azh-Zhahran, ‘Abdullah bin Thariq berhasil melepaskan tangannya dari ikatan, lalu mengambil sebilah pedang. Namun mereka melemparinya dengan batu hingga beliau gugur.

Selanjutnya mereka membawa Khubaib bin ‘Adi dan Zaid bin Ad-Datsinah ke Makkah. Khubaib dibeli oleh keluarga Hujair bin Abi Ihab, lalu mereka membunuhnya sebagai balas dendam atas terbunuhnya Al-Harits bin ‘Amir. Sedangkan Zaid bin Ad-Datsinah dibeli oleh Shafwan bin Umayyah, kemudian ia membunuh Zaid sebagai balasan atas kematian ayahnya.

2. Tragedi Bi’r Ma’unah (Sariyah Al-Qurra’)

Terjadi pada tahun keempat Hijriah.

Abu Bara’ Amir bin Malik meminta Rasulullah ﷺ mengirim para sahabat untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Najd.

Beliau pun mengirim 70 sahabat pilihan yang dikenal sebagai Al-Qurra’ karena banyak menghafal Al-Qur’an.

Namun mereka dikhianati oleh Amir bin Ath-Thufail yang menghasut beberapa kabilah untuk menyerang mereka.

Hampir seluruh sahabat tersebut gugur sebagai syuhada.

Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau sangat bersedih. Selama satu bulan penuh beliau mendoakan kebinasaan bagi kabilah-kabilah pengkhianat tersebut dalam qunut.

Pada bulan Safar, datang ke Madinah Abu Bara’ ‘Amir bin Malik, yang dikenal dengan julukan Mulā’ib al-Asinnah (Si Pemain Tombak). Ia adalah salah seorang pemimpin Arab yang sangat terkenal.

Rasulullah ﷺ menawarkan Islam kepadanya, namun ia belum masuk Islam, meskipun ia juga tidak menunjukkan sikap penolakan yang keras terhadapnya.

Ia berkata kepada Rasulullah ﷺ,

> «لَوْ بَعَثْتَ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِكَ إِلَى أَهْلِ نَجْدٍ فَدَعَوْهُمْ إِلَى أَمْرِكَ رَجَوْتُ أَنْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ.»

“Seandainya engkau mengutus beberapa orang sahabatmu kepada penduduk Najd untuk mengajak mereka kepada agamamu, aku berharap mereka akan memenuhi seruanmu.”

Rasulullah ﷺ bersabda,

> «أَخْشَى عَلَيْهِمْ أَهْلَ نَجْدٍ.»

“Aku khawatir terhadap keselamatan mereka dari gangguan penduduk Najd.”

‘Amir menjawab,

> «أَنَا لَهُمْ جَارٌ، فَابْعَثْهُمْ فَلْيَدْعُوا إِلَى أَمْرِكَ.»

“Aku akan memberikan perlindungan kepada mereka. Maka utuslah mereka agar mengajak manusia kepada agamamu.”

Sebenarnya, ‘Amir bin Malik menginginkan agar kaumnya terlebih dahulu masuk Islam, sehingga ia dapat masuk Islam bersama mereka.

Maka Rasulullah ﷺ mengutus Al-Mundzir bin ‘Amr bersama tujuh puluh orang dari sahabat-sahabat terbaik beliau. Mereka dikenal dengan sebutan Al-Qurrā’ (para ahli Al-Qur’an) karena banyaknya hafalan Al-Qur’an yang mereka miliki.

Mereka berangkat hingga tiba di Bi’r Ma’unah. Dari sana mereka mengutus Haram bin Milhan membawa surat Rasulullah ﷺ kepada ‘Amir bin Ath-Thufail, pemimpin Bani ‘Amir, yang wilayahnya berada di sekitar Bi’r Ma’unah.

Namun, ketika membaca surat Nabi ﷺ, ‘Amir bin Ath-Thufail sangat murka. Ia kemudian membunuh pembawa surat tersebut, yaitu Haram bin Milhan.

Setelah itu ia mengajak Bani ‘Amir untuk menyerang rombongan kaum Muslimin. Akan tetapi mereka menolak, karena tidak ingin melanggar jaminan keamanan yang telah diberikan oleh Abu Bara’ ‘Amir bin Malik.

Lalu ‘Amir bin Ath-Thufail meminta bantuan beberapa kabilah lainnya. Mereka pun memenuhi seruannya dan berangkat bersama-sama mengepung rombongan kaum Muslimin.

Kaum Muslimin tidak mempunyai pilihan selain bertempur, meskipun jumlah mereka sedikit dan persenjataannya sangat terbatas. Padahal mereka tidak datang untuk berperang, melainkan sebagai para da’i yang bertugas menyampaikan risalah Allah.

Mereka terus berjuang hingga seluruhnya gugur sebagai syuhada. Hanya Ka’b bin Zaid yang masih hidup karena mengalami luka parah. Musuh mengira ia telah meninggal, sehingga mereka meninggalkannya. Adapun ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamri ketika itu sedang pergi untuk suatu keperluan rombongan, sehingga ia selamat dari pembantaian tersebut.

Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau sangat berduka atas gugurnya para syuhada Ar-Raji’ dan Bi’r Ma’unah. Selama satu bulan penuh, beliau berdoa dalam shalatnya memohon kebinasaan atas kelompok pengkhianat dari kabilah ‘Adhal dan Al-Qarah.

3. Mulainya Sakit Rasulullah ﷺ

Terjadi pada tahun kesebelas Hijriah.

Rasulullah ﷺ mulai jatuh sakit pada tanggal 22 Safar.

Penyakit beliau berlangsung hingga wafat pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awwal, setelah sepuluh tahun menetap di Madinah.

> «مَرِضَ النَّبِيُّ ﷺ لِاثْنَتَيْنِ وَعِشْرِينَ لَيْلَةً مِنْ صَفَرٍ، وَبَدَأَ وَجَعُهُ عِنْدَ وَلِيدَةٍ لَهُ يُقَالُ لَهَا رَيْحَانَةُ، كَانَتْ مِنْ سَبْيِ الْيَهُودِ، وَكَانَ أَوَّلُ يَوْمِ مَرَضِهِ يَوْمَ السَّبْتِ، وَكَانَتْ وَفَاتُهُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْ شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ، لِتَمَامِ عَشْرِ سِنِينَ مِنْ مَقْدَمِهِ الْمَدِينَةَ.»

Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mengalami sakit selama dua puluh dua malam, yang dimulai pada bulan Safar. Sakit beliau bermula ketika beliau berada di tempat seorang budak perempuan miliknya yang bernama Raihanah, yang berasal dari tawanan Yahudi.

Hari pertama beliau mulai sakit adalah hari Sabtu, sedangkan beliau wafat pada hari Senin, setelah berlalu dua malam dari bulan Rabiul Awal, tepat sepuluh tahun sejak kedatangan beliau ke Madinah.

Catatan: Riwayat ini tidak sesuai dengan kronologi yang masyhur dalam kitab-kitab sirah. Pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun 11 H, setelah menetap di Madinah sekitar 10 tahun lebih beberapa bulan, bukan tepat sepuluh tahun. Oleh karena itu, riwayat di atas dipandang sebagai salah satu riwayat sejarah yang tidak sejalan dengan pendapat mayoritas ahli sirah.

Penutup

Bulan Safar pada hakikatnya sama seperti bulan-bulan lainnya. Di dalamnya terdapat berbagai peristiwa yang baik maupun yang menyedihkan. Semua itu terjadi sesuai dengan ketetapan Allah Ta’ala.

Karena itu, jadikanlah bulan Safar sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, bukan untuk mempercayai mitos atau merasa takut.

Perbanyaklah membaca doa:

اللَّهُمَّ لَا يَأْتِي بِالْحَسَنَاتِ إِلَّا أَنْتَ، وَلَا يَذْهَبُ بِالسَّيِّئَاتِ إِلَّا أَنْتَ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

> “Ya Allah, tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan selain Engkau, tidak ada yang dapat menghilangkan keburukan selain Engkau, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Juga doa yang dibaca Rasulullah ﷺ ketika melihat hilal:

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هِلَالَ يُمْنٍ وَرُشْدٍ، وَآمَنْتُ بِاللَّهِ الَّذِي خَلَقَكَ فَعَدَلَكَ، فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

> “Ya Allah, jadikanlah hilal ini sebagai pertanda keberkahan dan petunjuk. Aku beriman kepada Allah yang telah menciptakanmu dan menyempurnakan bentukmu. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta.”

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat beliau, serta segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button