Menjaga Jiwa Dan Raga Dari Wabah Yang Melanda

242

       Wabah penyakit hakikatnya sama dengan berbagai musibah besar yang menimpa manusia. Ia menjadi ujian bagi orang beriman dan menjadi azab bagi mereka yang kufur.  Jika wabah menimpa, maka mereka hanya dihadapkan pada dua pilihan; mengambil ibrah dari musibah yang sedang melanda, segera bertobat dan kembali kepada Allah, atau menentang takdir dengan kesombogan, mencari berbagai dalih dan argumentasi material, bahkan tak jarang terjebak dalam isu konspirasi 

      Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang tha’un (wabah penyakit), maka Rasulullah menjawab, Sesungguhnya ia dahulu merupakan azab yang dikirimkan Allah kepada siapa yang Dia kehendaki, kemudian Allah menjadikannya rahmat bagi kaum mukminin. Maka tidaklah seorang hamba berada di suatu negeri yang terdampak wabah, kemudian ia menetap dengan sabar dan keyakinan penuh bahwa tiada yang menimpanya kecuali apa yang telah ditetapkan Allah, melainkan ia memperoleh pahala seperti orang mati syahid.” (HR. Bukhari, no. 5734).  

      Sebagai agama yang sempurna, Islam selalu hadir dengan solusi jitu untuk semua problem, sebab ia senatiasa mengajukan solusi berdasarkan wahyu (Al-Quran dan Sunnah Nabi), serta menyerahkan penanganan semua perkara kepada ahlinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl: 43).  

      Dalam menghadapi pandemik covid-19, kita tidak cukup menjaga raga agar terhindar dari virus, tapi yang lebih penting adalah menjaga stabilitas kejiwaan dan ketenteraman hati. Berikut ini beberapa tuntunan Islam demi melindungi jiwa dan raga dari dampak penyebaran virus corona. 

1. Bertakwa dan bertawakal penuh kepada Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman, “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Thalaq: 2-3).  

Seorang muslim harus meyakini kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Ketahuilah bahwa apa yang tidak ditakdirkan atasmu tidak akan menimpamu dan apa yang menimpamu itulah yang ditakdirkan atasmu. (HR. Al-Baihaqiy, dalam Syu’ab al-Iman, no. 9529).   

Dengan demikian, hatinya tetap tenang, ia lebih maksimal lagi menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhi segala larangan, jika ia terkena wabah, maka ia rida, tidak merasa rugi karena tetap konsisten dalam ketaatan, jika ditakdirkan wafat maka ia mendapat pahala seperti orang yang mati syahid. 

2. Menjaga kesalehan pribadi dan keluarga. 

Kesalehan pribadi dapat menjadi pelindung keluarga dengan izin Allah Ta’ala. Allah Azza wa Jalla berfirman, “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al-Kahfi: 82). 

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, Mereka berdua dilindungi karena kesalehan kedua orang tuanya, dan tidak disebutkan kesalehan kedua anak itu.” (Tafsir Ath-Thabariy, jilid XV, hal. 36). 

 3. Menjaga kesalehan sosial. 

Adapun menjaga kesalehan sosial adalah dengan cara menegakkan amar makruf nahi mungkar. Dalam kondisi wabah melanda, manusia harus diingatkan tentang Allah Ta’ala, dicegah dari melakukan perkara-perkara mungkar, termasuk sikap dan perbuatan yang dapat menambah penyebaran wabah. 

Allah Ta’ala berfirman, “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya mushlihun (orang-orang yang berbuat kebaikan).” (QS. Hud: 117).  

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perbuatan-perbuatan makruf  kepada manusia dapat menghindarkan pelakunya dari kematian yang buruk, berbagai penyakit dan bencana. (HR. Hakim, no. 429. Syekh Al-Albani menyatakan hadis ini sahih dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shagir, no. 3795).  

 4. Senantiasa melaksanakan salat malam dan salat subuh pada waktunya. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kerjakanlah olehmu salat malam, karena sesungguhnya ia adalah kebiasaan orang-orang saleh. Dan sesungguhnya salat malam mendekatkan diri pada Allah, mencegah dari perbuatan dosa, menggugurkan keburukan-keburukan dan dapat mengusir penyakit dari tubuh.” (HR. Tirmizi, no. 3549).  

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,Barang siapa yang melaksanakan salat Subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. (HR. Muslim, no. 657). 

Maksud jaminan Allah disini adalah perlindungan dan rasa aman. (Syarh Shahih Muslim, karya Imam Nawawi, jilid V, hal.158). 

5. Membaca zikir dan doa yang berkhasiat melindungi diri dari wabah penyakit. Di antara zikir dan doa yang dianjurkan: 

  • Memperbanyak Istigfar. 

Allah Azza wa Jalla berfirman, Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfal: 33). 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata, “Pada awalnya kalian memiliki dua (sumber) keselamatan/keamanan (yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan istigfar), yang pertama telah tiada, kini tinggal yang kedua.” (HR. Hakim, no. 1988). 

  • Membaca doa keluar rumah:  

«بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ» 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersaba, “Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu mengucapkan: Bismillaah, Tawakkaltu ‘Alallaah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah (dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah semata), maka dikatakan kepadanya saat itu: engkau telah mendapatkan petunjuk, kecukupan dan penjagaan. Maka setan-setan pun menjauhinya. Setan yang lain berkata: bagaimana kau bisa (mengganggu) orang yang telah memperoleh petunjuk, kecukupan dan penjagaan?!. (HR. Abu Daud, no. 5095). 

  • Setiap singgah atau mendatangi suatu tempat, hendaklah membaca,  

«أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ» 

Dari Khaulah binti Hakim As-Sulamiyyah ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Barang siapa yang singgah di suatu tempat, kemudian mengucapkan: A’uudzu bikalimaatillaahit-taammaati min syarri maa khalaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan (makhluk) ciptaan-Nya), tidak akan ada yang dapat membahayakannya sampai ia meninggalkan tempat tersebut. (HR. Muslim, no. 2708) 

  • Membaca zikir berikut tiga kali saat pagi dan petang:  

«بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ» 

Dari Usman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Barang siapa setiap pagi dan petang membaca tiga kali: Bismillaahil-ladzii laa yadhurru ma’as-mihii syaiun fil-ardhi walaa fis-samaa’i wahuwas-samii’ul-aliim (Dengan menyebut nama Allah yang dengan menyebut nama-Nya segala sesuatu di langit dan di bumi tidak akan dapat membahayakan, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui), tiada sesuatu pun yang dapat membahayakannya.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 660). 

  • Berdoa memohon kesehatan dan keselamatan tiap pagi dan petang:  

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَأَهْلِي، وَاسْتُرْ عَوْرَتِي، وَآمِنْ رَوْعَتِي، وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنَ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ يَسَارِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي» 

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan pada agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutuplah auratku dan hilangkanlah rasa takutku. Ya Allah, jagalah aku dari arah depanku, belakangku, kananku, kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar terhindar dari bahaya yang datang tiba-tiba dari arah bawahku.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 1200).  

6. Mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menghindari wabah, di antaranya:  

          a. Tidak memasuki wilayah atau tempat yang terpapar wabah dan jangan berinteraksi langsung dengan penderita penyakit menular tersebut. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kalian mendengar wabah itu di suatu negeri, maka janganlah kalian mendatanginya, dan jika wabah tersebut berada di suatu negeri sedang kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya.” (HR. Bukhari, no. 3473, Muslim, no. 2218). 

Instruksi Rasulullah inilah yang kita kenal sekarang dengan sitilah karantina atau isolasi. Rasulullah juga mencegah interaksi langsung dengan penderita penyakit menular yang membahayakan. 

Dari Amr bin Syarid dari ayahnya, ia berkata,Salah seorang dari utusan Bani Tsaqif menderita kusta, maka Rasulullah mengirim utusan untuk menyampaikan pesan beliau bahwa: Kami telah terima baiatmu, maka kembalilah (ke tempat asalmu)”. (HR. Muslim: 2231). 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Janganlah kalian menggabungkan unta yang sakit dengan unta yang sehat.” (HR. Bukhari, no. 5774, Muslim, no. 2221). 

Yahya bin Yahya Al-Andalusiy menyampaikan makna lain dari hadis ini, ia berkata, “Janganlah penderita kusta memasuki tempat orang-orang sehat karena ia akan menyakiti mereka dengan baunya, meski ia yakin bahwa penyakitnya tidak menjangkiti, tetapi orang-orang tidak menyukainya.” (Syarh Shahih al-Bukhariy, karya Ibnu Batthal, jilid IX, hal. 450). 

          b. Menutup rapat wadah makanan dan minuman di malam hari.  

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Tutup rapatlah wadah makanan dan minuman, karena sesungguhnya dalam setahun ada satu malam yang wabah turun padanya, tidaklah wabah itu melewati wadah makanan dan minuman yang tidak tertutup rapat, melainkan wabah tersebut akun masuk ke dalamnya.” (HR. Muslim, no. 2014)  

          c. Senantiasa menjaga wudu dan kebersihan tubuh. 

Yakni senantiasa berwudu, baik ketika hendak salat atau setiap wudunya batal. Begitu pula saat sebelum tidur.  

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, Barang siapa tidur dalam keadaan pada tangannya terdapat gamr (bau daging dan lemak), lalu sesuatu menimpanya, maka janganlah dia menyalahkan melainkan dirinya sendiri. (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad : 1220). 

Meskipun hadis ini tidak secara eksplisit memerintahkan kita berwudu sebelum tidur, tetapi dengan berwudu maka tangan dan anggota tubuh lainnya menjadi bersih dan suci. Ilmu kedokteran modern juga telah menyatakan bahwa dengan berwudu secara sempurna, seseorang akan terhindar dari berbagai macam penyakit. 

7. Mengikuti instruksi dan arahan pemerintah serta para ahli. 

Pemerintah sebagai pihak pertama yang paling bertanggung jawab atas keselamatan rakyatnya, pastilah berusaha semaksimal mungkin menjaga mereka dari segala macam bahaya, termasuk wabah penyakit yang menyerang. Pemerintah yang dibantu tenaga-tenaga ahli dari kedokteran dan lainnya, akan memberikan instruksi dan arahan-arahan yang berguna bagi masyarakat, maka hendaklah instruksi dan arahan tersebut ditaati dan tidak dilanggar. 

Marilah meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Azza wa Jalla, meningkatkan kewaspadaan dan usaha menjaga diri dan keluarga dari ancaman wabah yang sedang melanda, namun tetap menyerahkan semua urusan kita kepada-Nya .Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita dari segala wabah, musibah dan fitnah, menganugerahi kita kesabaran dan istikamah di jalan-Nya, serta menutup hidup kita dengan husnul khatimah. Amin.    

Leave A Reply

Your email address will not be published.