Puasa & Ramadhan

Hikmah Puasa

Tidaklah suatu ibadah yang Allah syariatkan melainkan memiliki hikmah di dalamnya, baik itu hikmah yang mampu dicerna oleh akal (ta’aqquli) atapun  hikmah yang tidak mampu dicerna oleh akal (ta’abbudi) yang kita dituntut untuk taat dan menerima atas penetapannya. Hikmah yang Allah tetapkan di dalam syariat tersebut sebagai bentuk relevansi dari salah satu nama dari nama-nama Allah yaitu al-Hakiim yaitu Zat yang Maha Bijaksana.

Di antara ibadah yang memiliki banyak hikmah adalah ibadah puasa. Para ulama menyebutkan bahwa di dalamnya terkumpul antara hikmah yang berkaitan denga hubungan seorang hamba kepada Rabbnya,  hikmah sosial, serta hikmah yang berkaitan dengan kesehatan.

Syekh Utsaimin rahimahullah dalam salah satu risalahnya yang berjudul fushuul fii ash shiyaam wa at taraawiih wa az zakaah  menyebutkan secara ringkas 5 di antara hikmah disyariatkannya ibadah puasa:

  1. Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah yang dengannya seseorang mampu mendekatkan diri kepada Allah; yaitu dengan meninggalkan segala hal yang disukainya berupa makanan, minuman, jima’ (hubungan suami istri) demi meraih keridoanNya dan kemenangan untuk memasuki surgaNya. Dengan demikian, ia mendahulukan kecintaan Allah atas kecintaan dirinya.
  2. Ibadah puasa merupakan sebab seseorang dapat meraih ketakwaan di sisi Allah; tentu jika ia berpuasa dengan sebenar-benarnya puasa yaitu dengan menjalankan wajib-wajib puasa.

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)

Orang yang berpuasa tidak hanya sekedar diperintahkan untuk menahan lapar dan haus, melainkan ia pula diperintahkan untuk bertakwa di dalam puasanya dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya dan inilah tujuan utama dari ibadah puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan keji dan berbuat keji, serta masa bodoh, Allah tidak butuh orang itu meninggalkan makan dan minumnya.” (HR.Bukhari: 1903)

Baca Juga  Sejarah Kewajiban Puasa

Ucapan keji yang dimaksudkan dalam penggalan hadis di atas adalah segala bentuk ucapan haram seperti dusta, gibah, mencela dan sejenisnya. Adapun perbuatan keji maka yang dimaksudkan adalah segala bentuk perbuatan haram seperti memusuhi orang lain dan atau mengkhianatinya, berbuat curang, melukai badan, mengambil harta yang bukan miliknya dan termasuk di dalam perbuatan keji adalah mendengarkan hal-hal yang diharamkan seperti musik dan nyanyian.

  1. Dengan berpuasa menjadikan hati seseorang menjadi lembut; ia mengingat saudara-saudaranya yang fakir atas nikmat kecukupan yang Allah karuniakan kepadanya, berupa makanan dan minuman yang ia inginkan, menikah dengan wanita yang ia sukai dan seterusnya.
  2. Dengan berpuasa mampu melatih seseorang untuk menahan diri dari sifat tamak dan gejolak syahwat terhadap segala sesuatu yang ia lihat, sebab kedua sifat tersebut satu dari antara sifat yang dimiliki oleh hewan yang tak mampu menahan keduanya.
  3. Melalui ibadah puasa seseorang mendapatkan manfaat kesehatan dengan meminimalisir beberapa jenis makanan yang mungkin dapat memudaratkan dirinya jika dikonsumsi secara berlebihan. Pada saat berpuasa lambung menjadi kosong dalam beberapa saat, dengannya mampu membersihkan zat-zat yang bisa menjadi racun bagi tubuh.

Darul Idam, Lc., M.A.

Alumni Majister Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?