Tatsqif

Kota Jeddah: Gerbang Dua Tanah Suci

Kota Jeddah: Gerbang Dua Tanah Suci

Jeddah adalah kota terbesar kedua di Arab Saudi dan pintu gerbang utama bagi jamaah haji dan umrah menuju Makkah. Kota ini merupakan metropolitan modern yang menjadi pusat perdagangan, bisnis, dan pariwisata di pesisir Laut Merah.

Beberapa tempat yang sering dikunjungi jamaah antara lain Museum Al Amoudi, yang menyimpan berbagai koleksi sejarah dan budaya Hijaz; Jeddah Corniche, kawasan tepi Laut Merah yang terkenal dengan pemandangan indah dan Air Mancur Raja Fahd; kawasan belanja Ali Murah yang populer karena harga oleh-oleh yang terjangkau; serta Toko Dhiya dan Toko Sultan, pusat perbelanjaan dengan pilihan barang yang lebih beragam dan berkualitas, restoran Garuda dan Bakso Mang Oedin dan lainnya.

Perpaduan antara sejarah, budaya, pusat perbelanjaan, dan keindahan pantai menjadikan Jeddah bukan hanya sebagai kota transit menuju Tanah Suci, tetapi juga salah satu destinasi wisata yang menarik bagi jamaah haji dan umrah.

Kota Jeddah merupakan ibu kota Kegubernuran Jeddah, salah satu kegubernuran yang secara administratif berada di bawah Provinsi Makkah di Kerajaan Arab Saudi. Jeddah adalah kota terbesar kedua di Arab Saudi berdasarkan jumlah penduduk, sekaligus kota terbesar di Provinsi Makkah.

Jumlah penduduk Kota Jeddah mencapai 3.751.722 jiwa. Kota ini terletak di bagian tengah barat Arab Saudi di pesisir Laut Merah, sekitar 947 km di sebelah barat Riyadh (ibu kota negara) dan sekitar 89 km di sebelah barat laut Makkah Al-Mukarramah, yang merupakan ibu kota provinsi.

Pentingnya Kota Jeddah

Sejak dahulu hingga sekarang, Jeddah menjadi pusat logistik utama di Arab Saudi sekaligus pusat transportasi darat, laut, dan udara. Kota ini merupakan gerbang udara utama menuju Masjidil Haram di Makkah, yang menjadi tujuan hidup lebih dari 1,5 miliar umat Islam di seluruh dunia.

Jeddah juga merupakan titik sentral dari salah satu sistem kereta api tercepat dan terbesar di Timur Tengah. Kota ini memiliki dua stasiun Kereta Cepat Haramain, yang menghubungkan Makkah, Jeddah, dan Madinah.

Di pesisir Laut Merah berdiri Pelabuhan Islam Jeddah, pelabuhan terbesar Arab Saudi di Laut Merah.

Selain itu, Jeddah menjadi pusat kunjungan harian. Sekitar 55,62% penduduk Provinsi Makkah dapat mencapai Jeddah melalui jalur darat dalam waktu maksimal satu setengah jam. Sedangkan sekitar 9,17% penduduk Arab Saudi dapat menjangkaunya dalam waktu antara 20 menit hingga satu jam melalui Kereta Cepat Haramain.

Di sisi lain, Jeddah juga merupakan pusat kebudayaan dan destinasi wisata, karena di dalamnya terdapat kawasan Jeddah Bersejarah (Al-Balad) yang telah terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Kawasan ini masih mempertahankan bangunan-bangunan bersejarah yang menjadi kawasan perkotaan tertua yang terus dihuni sejak awal era Islam hingga sekarang.

Sejarah Kota Jeddah

Terdapat berbagai riwayat mengenai awal mula permukiman manusia di Jeddah.

Sebagian sejarawan, berdasarkan penelitian arkeologi, berpendapat bahwa manusia telah menghuni wilayah Jeddah sejak zaman batu, sebagaimana dibuktikan oleh berbagai peninggalan arkeologi yang ditemukan di Wadi Buwaib, di timur laut kota.

Dokumen sejarah tertua menunjukkan bahwa Jeddah telah menjadi sebuah permukiman sejak masa prasejarah. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya prasasti dan peninggalan suku Tsamud di Wadi Buraiman, sebelah timur Jeddah.

Letaknya yang strategis menjadikan kota ini mendapat perhatian sejak dahulu kala. Bahkan disebutkan bahwa Alexander Agung pernah mengunjunginya sekitar tahun 356–323 SM.

Pendapat lain menyebutkan bahwa Jeddah mulai berkembang sekitar 3.000 tahun yang lalu, ketika para nelayan menjadikannya tempat singgah setelah menyelesaikan perjalanan melaut.

Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, Kabilah Qudha’ah datang dan menetap di Jeddah setelah runtuhnya Bendungan Ma’rib sekitar tahun 115 SM.

Sebagian ahli sejarah lainnya bahkan berpendapat bahwa sejarah Jeddah telah dimulai jauh sebelum masa Alexander Agung.

Jeddah pada Masa Islam

Pada masa Islam, Jeddah dikenal sebagai gerbang dua tanah suci dari arah laut.

Ketenarannya semakin meningkat ketika Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pada tahun 26 H/647 M menetapkannya sebagai pelabuhan utama menuju Makkah bagi para jamaah yang datang melalui jalur laut.

Pada masa itu, Jeddah juga dikenal dengan sebutan “Negeri Para Konsul” (Balad al-Qanashil) karena banyaknya kantor perwakilan dagang asing yang berada di sana.

Jeddah pada Era Kerajaan Arab Saudi

Pada masa kini, Jeddah merupakan salah satu kota terpenting di Arab Saudi.

Kota ini menjadi:

Gerbang utama menuju Masjidil Haram.

Pusat logistik terbesar di kerajaan.

Pusat transportasi darat, laut, dan udara.

Pintu masuk internasional utama Arab Saudi sejak dahulu.

Pusat keuangan dan penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

Pusat politik dan keagamaan.

Di kota ini juga berkedudukan berbagai lembaga internasional, antara lain:

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI/OIC).

Bank Pembangunan Islam (IsDB).

Akademi Fikih Islam Internasional.

Forum Ekonomi Jeddah.

Letak Geografis Kota Jeddah

Jeddah terletak di wilayah barat Arab Saudi, tepat di pesisir timur Laut Merah.

Kota ini merupakan kota terbesar yang berada di tepi Laut Merah, sehingga mendapat julukan:

“Pengantin Laut Merah” (عروس البحر الأحمر).

Batas-batas wilayahnya adalah:

Utara: Kegubernuran Rabigh.

Barat: Kegubernuran Khulais dan Al-Jumum.

Selatan: Kota Makkah dan Kegubernuran Bahrah.

Jeddah berada di kawasan dataran rendah Pegunungan Hijaz.

Di sebelah timur terbentang Dataran Tihamah, sedangkan di sepanjang pantainya di sebelah barat terdapat deretan terumbu karang yang sejajar dengan garis pantai.

Demografi Kota Jeddah

Secara administratif, Jeddah berada di bawah Provinsi Makkah.

Kota ini dikenal sebagai masyarakat yang sangat beragam secara budaya.

Penduduk Jeddah mencakup sekitar 46,8% dari total penduduk Provinsi Makkah, yang berjumlah sekitar 8.021.463 jiwa.

Jumlah penduduk Jeddah sendiri mencapai sekitar 3.751.722 jiwa, atau sekitar 11,6% dari seluruh penduduk Arab Saudi, berdasarkan sensus tahun 2022.

Asal Penamaan Jeddah

Terdapat beberapa pendapat mengenai asal nama Jeddah.

1. Ada yang membacanya Juddah (جُدّة) dengan dhammah pada huruf jim atau Jiddah (جِدّة) dengan kasrah. Dalam bahasa Arab, kata tersebut berarti pantai laut.
2. Pendapat lain yang lebih populer membaca Jaddah (جَدّة) dengan fathah pada huruf jim, yang berarti nenek. Penamaan ini dikaitkan dengan keyakinan bahwa Sayyidah Hawa, ibu umat manusia, dimakamkan di kota tersebut.
3. Ada pula yang berpendapat bahwa nama Jeddah diambil dari salah seorang tokoh Kabilah Qudha’ah, yang merupakan keturunan dari leluhur kesembilan Rasulullah ﷺ. Kabilah ini menetap di Jeddah lebih dari 2.500 tahun yang lalu.

Iklim Kota Jeddah

Jeddah memiliki iklim yang panas dan lembap, terutama pada musim panas.

Suhu udara pada musim panas dapat mencapai lebih dari 40°C. Hal ini disebabkan oleh pengaruh tekanan rendah musiman yang membawa massa udara panas.

Tingkat kelembapan juga meningkat pada musim panas akibat suhu air Laut Merah yang tinggi.

Sebaliknya, pada musim dingin kelembapan menurun karena wilayah ini dipengaruhi massa udara yang lebih sejuk dari sistem tekanan tinggi.

Curah hujan di Jeddah umumnya ringan dan sering disertai badai petir.

Hujan biasanya turun pada:

musim dingin,

musim semi,

musim gugur.

Hal ini terjadi karena pertemuan sistem tekanan rendah yang bergerak dari barat ke timur dengan tekanan rendah termal Sudan.

Karena letaknya di tepi Laut Merah, angin yang paling dominan adalah angin barat laut, yang umumnya bertiup dengan kecepatan ringan hingga sedang sepanjang tahun.

Namun pada musim dingin, semi, dan gugur, terkadang bertiup angin selatan yang menyebabkan suhu meningkat.

Pada waktu-waktu tertentu angin dapat bertiup sangat kencang sehingga memicu badai pasir dan debu, yang terkadang juga disertai hujan dan badai petir.

Transportasi Kota Jeddah, Bandara Internasional King Abdulaziz, Kereta Cepat Haramain, dan Pelabuhan Islam Jeddah

Transportasi di Kota Jeddah

Jeddah memiliki sistem transportasi yang sangat maju dan menjadi salah satu simpul transportasi terpenting di Arab Saudi.

Kota ini memiliki dua stasiun Kereta Cepat Haramain yang menghubungkan Makkah, Jeddah, dan Madinah, yaitu:

1. Stasiun Bandara Internasional King Abdulaziz.
2. Stasiun As-Sulaimaniyah.

Kereta Cepat Haramain merupakan salah satu jaringan kereta api tercepat dan terbesar di Timur Tengah.

Selain itu, Kementerian Transportasi dan Layanan Logistik Arab Saudi juga merencanakan pembangunan jalur kereta api Jeddah–Riyadh sepanjang sekitar 950 km, yang akan digunakan untuk mengangkut penumpang maupun barang.

Jeddah juga memiliki Bandara Internasional King Abdulaziz, bandara terbesar di Arab Saudi dan menjadi kantor pusat maskapai nasional Saudi Arabian Airlines (Saudia).

Bandara ini memiliki terminal penumpang terbesar keempat di dunia, yaitu Terminal Haji, yang dirancang khusus untuk melayani jamaah haji.

Di pesisir Laut Merah juga terdapat Pelabuhan Islam Jeddah, pelabuhan terbesar Arab Saudi di Laut Merah.

Pelabuhan ini merupakan jalur pelayaran utama yang menghubungkan Asia dan Eropa, serta menangani sekitar 31% dari seluruh aktivitas pengiriman barang di Arab Saudi dan sekitar 24% dari total penumpang yang menggunakan pelabuhan-pelabuhan di Arab Saudi.

Sementara itu, Jalan Haramain yang menghubungkan Makkah dan Jeddah merupakan jalan dengan kepadatan lalu lintas tertinggi di Arab Saudi, dengan rata-rata sekitar 2,7 juta perjalanan setiap bulan.

Bandara Internasional King Abdulaziz

Bandara Internasional King Abdulaziz mulai beroperasi pada tahun 1401 H/1981 M.

Bandara ini merupakan:

gerbang udara utama menuju Dua Tanah Suci dan kawasan Masyair (Arafah, Muzdalifah, dan Mina);

pintu masuk udara utama Arab Saudi dari wilayah barat;

proyek bandara internasional pertama di Kerajaan Arab Saudi;

pusat operasi utama maskapai Saudi Arabian Airlines (Saudia).

Salah satu ciri khasnya adalah Terminal Haji, yang merupakan terminal penumpang terbesar keempat di dunia.

Berkat luasnya fasilitas dan kapasitas yang dimiliki, bandara ini berfungsi sebagai pusat ekonomi modern sekaligus salah satu ikon pembangunan Arab Saudi.

Bandara ini juga mendukung rencana pembangunan nasional dan visi Otoritas Umum Penerbangan Sipil (GACA) dalam menjadikan Jeddah sebagai pusat transportasi udara berskala global.

Bandara Internasional King Abdulaziz kini menjadi salah satu bandara tersibuk di kawasan Timur Tengah dan Teluk, baik untuk penerbangan domestik maupun internasional.

Pada tahun 2018, bandara ini menjadi bandara tersibuk di Arab Saudi dengan jumlah penumpang mencapai sekitar 35,8 juta orang.

Fasilitas Bandara

Bandara memiliki luas sekitar 105 km².

Di dalamnya terdapat:

6 terminal penumpang utama.

220 konter pelayanan penumpang.

80 mesin layanan mandiri (self-service).

63 konter pemeriksaan paspor.

Bandara mampu melayani 98 pesawat secara bersamaan.

Area parkirnya mampu menampung sekitar 21.665 kendaraan.

Kereta Cepat Haramain

Kereta Cepat Haramain merupakan salah satu proyek transportasi paling penting di Arab Saudi.

Pembangunannya bertujuan untuk melayani para tamu Allah—jamaah haji dan umrah—serta memudahkan perjalanan antara Makkah dan Madinah.

Peresmian resmi dilakukan pada tahun 1440 H/2018 M oleh Penjaga Dua Tanah Suci, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, ketika beliau menaiki perjalanan perdana dari Stasiun As-Sulaimaniyah di Jeddah menuju Madinah.

Kereta ini menghubungkan:

Makkah Al-Mukarramah,

Jeddah,

Kota Ekonomi Raja Abdullah (King Abdullah Economic City) di Rabigh,

Madinah Al-Munawwarah.

Kereta Haramain merupakan kereta listrik dengan panjang jalur sekitar 450 km.

Kecepatan operasionalnya mencapai 300 km/jam.

Pembangunannya dimulai pada tahun 1430 H/2009 M, didanai oleh Public Investment Fund (PIF) bersama sektor swasta.

Total biaya proyek mencapai sekitar 60 miliar riyal Saudi.

Perjalanan komersial pertama dimulai pada tahun 1440 H/2018 M, sedangkan layanan reguler bagi penumpang dimulai pada tahun 1440 H/2019 M.

Spesifikasi Kereta Haramain

Kereta Cepat Haramain terdiri atas:

35 rangkaian kereta.

Setiap rangkaian memiliki 13 gerbong.

Kapasitas setiap rangkaian mencapai 417 penumpang.

Kemampuan angkutnya mencapai:

sekitar 160.000 penumpang per hari, dan sekitar 60 juta penumpang per tahun.

Pelabuhan Islam Jeddah

Pelabuhan Islam Jeddah merupakan pelabuhan utama ekspor dan impor Arab Saudi.

Pelabuhan ini adalah pelabuhan terbesar di Laut Merah dan memiliki posisi strategis sebagai salah satu gerbang utama masuknya jamaah haji dan umrah dari berbagai negara.

Selain itu, pelabuhan ini juga menjadi pusat re-ekspor di kawasan Laut Merah.

Sekitar 75% perdagangan laut dan kegiatan transshipment yang masuk melalui pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi melewati Pelabuhan Islam Jeddah.

Nilai Historis Pelabuhan

Pelabuhan ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.

Pelabuhan pertama kali dijadikan pelabuhan resmi oleh Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pada tahun 26 H/647 M.

Pada masa modern, Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud, pendiri Kerajaan Arab Saudi, memberikan perhatian besar terhadap pembangunan dan pengembangannya, yang kemudian dilanjutkan oleh para raja setelah beliau.

Luas dan Kapasitas Pelabuhan

Pelabuhan memiliki luas sekitar 12,5 km², sehingga menjadi:

pelabuhan terbesar di pesisir Laut Merah di Arab Saudi berdasarkan luas wilayah;

pelabuhan terbesar ketiga di Arab Saudi berdasarkan kapasitas.

Setiap tahun pelabuhan ini menerima lebih dari 5.000 kapal kargo yang berlayar antara Asia dan Eropa.

Karena letaknya yang strategis, pelabuhan ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan yang menghubungkan kedua benua tersebut.

Menara Pengawas Pelabuhan

Salah satu ikon Kota Jeddah adalah Menara Pengawas Pelabuhan Islam Jeddah.

Menara ini dilengkapi dengan sistem manajemen lalu lintas kapal (Vessel Traffic Management System/VTMIS) yang modern.

Sistem tersebut digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan pergerakan kapal, baik di jalur pelayaran maupun di dalam kolam pelabuhan.

Bagian 3: Pendidikan di Kota Jeddah, Pusat Penelitian, Perpustakaan, dan Proyek-Proyek Pembangunan

Pendidikan di Kota Jeddah

Jeddah merupakan salah satu kota terdepan dalam bidang pendidikan di Arab Saudi.

Jumlah keseluruhan siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, baik di sekolah negeri maupun swasta, mencapai sekitar 696.878 siswa dan siswi, yang belajar di 2.717 sekolah.

Berdasarkan statistik terbaru Dinas Pendidikan Jeddah tahun 1444 H/2022 M, Jeddah termasuk kota paling maju dalam bidang pendidikan akademik di Arab Saudi serta memiliki tiga universitas negeri.

Pendidikan Dasar dan Menengah

Sekolah pertama di wilayah Hijaz sebelum berdirinya Kerajaan Arab Saudi adalah Madrasah Al-Falah, yang didirikan di Jeddah pada tahun 1323 H/1905 M.

Sekolah ini memiliki peranan besar dalam:

menyebarkan ilmu pengetahuan,

meningkatkan taraf pendidikan masyarakat,

mengajarkan bahasa Arab,

mengajarkan ilmu-ilmu keislaman,

serta berbagai disiplin ilmu lainnya.

Sejak saat itu pendidikan di Jeddah berkembang sangat pesat.

Saat ini terdapat sekitar:

1.342 sekolah negeri, yang menampung sekitar 528.548 siswa dan siswi.

Selain itu terdapat sekitar:

974 sekolah swasta dan internasional, dengan jumlah siswa sekitar 112.599 orang di seluruh jenjang pendidikan.

Data tersebut berdasarkan statistik resmi Dinas Pendidikan Jeddah tahun 1444 H/2022 M.

Pendidikan Tinggi

Jeddah memiliki tiga universitas negeri utama, yaitu:

1. Universitas Raja Abdulaziz (King Abdulaziz University)

Didirikan pada tahun 1387 H/1967 M.

Menurut pemeringkatan U.S. News, universitas ini:

menempati peringkat pertama di dunia Arab,

berada pada peringkat ke-51 dunia, dalam daftar 1.500 universitas terbaik dunia.

2. Universitas Sains dan Teknologi Raja Abdullah (KAUST)

Didirikan pada tahun 1430 H/2009 M.

Universitas ini terkenal sebagai salah satu pusat penelitian ilmiah paling maju di dunia, khususnya dalam bidang:

sains,

teknologi,

energi,

kelautan,

kecerdasan buatan,

dan bioteknologi.

3. Universitas Jeddah

Merupakan salah satu universitas negeri yang relatif baru.

Didirikan pada tahun 1435 H/2014 M.

Universitas ini berkembang pesat dalam berbagai disiplin ilmu dan menjadi salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di Arab Saudi.

Jumlah Mahasiswa

Jumlah mahasiswa di perguruan tinggi negeri di Jeddah mencapai sekitar 103.000 orang.

Selain itu terdapat pula sejumlah universitas dan perguruan tinggi swasta yang bergerak di berbagai bidang, seperti:

bisnis,

teknologi,

ilmu kesehatan,

administrasi,

dan bidang-bidang profesional lainnya.

Pusat-Pusat Penelitian

Jeddah memiliki banyak lembaga penelitian yang berperan besar dalam memajukan riset ilmiah di Arab Saudi, antara lain:

Pusat Penelitian dan Pengembangan Produk Universitas Jeddah.

Pusat Penelitian Medis Raja Fahd.

Pusat Membran dan Material Berpori Tingkat Lanjut.

Pusat Penelitian Pembakaran Bersih.

Pusat Ilmu Biologi Komputasi.

Pusat Komputasi Super (Supercomputing Center).

Pusat Katalisis Kimia.

Pusat Rekayasa Energi Surya dan Sel Fotovoltaik.

Pusat Penelitian Laut Merah.

Pusat Pertanian Gurun.

Pusat Komputasi Visual.

Pusat Desalinasi dan Daur Ulang Air.

Institut Penelitian dan Konsultasi Universitas Raja Abdulaziz.

Lembaga-lembaga tersebut berkontribusi dalam pengembangan penelitian di bidang:

kedokteran,

teknologi,

teknik,

ilmu sosial,

ilmu humaniora,

energi,

lingkungan,

dan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Perpustakaan

Jeddah memiliki banyak perpustakaan umum maupun khusus yang mendukung kegiatan pendidikan dan penelitian.

Di antaranya:

Perpustakaan Pusat Universitas Raja Abdulaziz

Merupakan salah satu perpustakaan akademik terbesar di Arab Saudi dengan koleksi yang sangat lengkap.

Perpustakaan Umum Raja Fahd di Jeddah

Perpustakaan ini memiliki berbagai bagian, antara lain:

Perpustakaan utama.

Bagian referensi.

Perpustakaan remaja.

Perpustakaan anak.

Perpustakaan perempuan.

Perpustakaan bagi penyandang tunanetra.

Perpustakaan multimedia.

Proyek-Proyek Pembangunan Kota Jeddah

Jeddah memiliki berbagai proyek strategis yang bertujuan menjadikan kota ini sebagai salah satu destinasi wisata dan pusat ekonomi terbaik di dunia.

Di antara proyek-proyek tersebut adalah sebagai berikut.

Proyek Pengembangan Pusat Kota Jeddah (Jeddah Central)

Proyek ini merupakan salah satu proyek raksasa yang diumumkan pada tahun 1439 H/2017 M sebagai bagian dari proyek-proyek Public Investment Fund (PIF).

Tujuan proyek ini adalah:

membangun kembali kawasan tepi laut di pusat Kota Jeddah;

menjadikannya kawasan wisata, perdagangan, dan permukiman modern;

serta menempatkan Jeddah sebagai salah satu dari 100 kota terbaik di dunia.

Masterplan Baru

Pada tahun 1443 H/2021 M, Yang Mulia Pangeran Muhammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, Putra Mahkota sekaligus Ketua Dewan Direksi Public Investment Fund dan Ketua Perusahaan Pengembangan Jeddah Central, meluncurkan masterplan proyek “Jeddah Central” (yang sebelumnya dikenal sebagai New Jeddah Downtown).

Nilai investasi proyek mencapai sekitar 75 miliar riyal Saudi.

Proyek ini akan mengembangkan kawasan seluas sekitar 5,7 juta meter persegi.

Komposisi kawasan meliputi:

42% untuk kawasan hunian.

35% untuk kawasan hiburan.

Sisanya untuk fasilitas publik, komersial, dan infrastruktur.

Ikon Utama Proyek

Proyek ini memiliki empat ikon bertaraf internasional, yaitu:

Gedung Opera.

Museum.

Stadion olahraga.

Akuarium dan taman terumbu karang.

Selain itu proyek ini juga mencakup:

10 proyek hiburan dan wisata unggulan.

sekitar 17.000 unit hunian.

marina (pelabuhan kapal pesiar) bertaraf internasional.

resor-resor pantai.

hotel-hotel mewah.

restoran dan kafe lokal maupun internasional.

pusat-pusat perbelanjaan modern.

Proyek Revitalisasi Jeddah Bersejarah

Proyek ini bertujuan merehabilitasi dan mengembangkan kawasan Jeddah Bersejarah (Al-Balad).

Proyek tersebut diluncurkan oleh Pangeran Muhammad bin Salman pada tahun 1443 H/2021 M.

Tujuannya adalah menjadikan Al-Balad sebagai:

pusat kegiatan budaya,

pusat bisnis,

tujuan utama para investor dan wirausahawan,

kawasan ekonomi terpadu,

sekaligus pendorong pertumbuhan produk domestik nasional.

Ruang Lingkup Pengembangan

Pekerjaan revitalisasi mencakup berbagai aspek, di antaranya:

pengembangan infrastruktur,

peningkatan pelayanan publik,

pelestarian kawasan perkotaan bersejarah,

peningkatan kualitas hidup,

penataan lingkungan alam.

Proyek ini merupakan bagian penting dari program pengembangan Jeddah Bersejarah dalam rangka mewujudkan target Visi Arab Saudi 2030.

Warisan yang Dilestarikan

Program revitalisasi mencakup pelestarian:

36 masjid bersejarah.

lebih dari 600 bangunan warisan budaya.

5 pasar tradisional utama.

berbagai alun-alun, lorong, dan situs bersejarah lainnya.

Seluruhnya dipersiapkan agar menjadi destinasi budaya dan sejarah bertaraf dunia.

Pengembangan Kawasan Pesisir, Jeddah Bersejarah (Al-Balad), Istana-Istana Bersejarah, Masjid-Masjid Bersejarah, dan Warisan Arsitektur Kota Jeddah

Pengembangan Kawasan Pesisir (Jeddah Waterfront)

Salah satu proyek pembangunan terbesar di Jeddah adalah pengembangan kawasan pesisir (Jeddah Waterfront).

Kawasan ini membentang dari Bundaran Burung Camar (Dawwar an-Nawras) di bagian utara kota hingga Jalan Jabir bin Al-Harits, dengan panjang sekitar 4.500 meter.

Luas total kawasan mencapai sekitar 730.000 meter persegi dan mampu menampung hingga 120.000 pengunjung secara bersamaan.

Fasilitas yang tersedia antara lain:

ruang terbuka hijau seluas lebih dari 275.000 meter persegi;

pantai khusus untuk berenang yang mampu menampung sekitar 10.000 orang;

pemecah ombak;

lima menara pengawas pantai.

Pemerintah Kota Jeddah terus mengembangkan kawasan ini. Pengerjaan tahap keempat dan kelima dimulai pada tahun 1439 H/2017 M dengan biaya sekitar 800 juta riyal Saudi.

Untuk pertama kalinya di Jeddah, kawasan ini menghadirkan jalur pejalan kaki gantung (suspended walkway) serta dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern bagi para pengunjung.

Kawasan Wisata Tepi Laut

Jeddah Waterfront merupakan salah satu destinasi wisata dan rekreasi paling populer di kota ini.

Kawasan tersebut berada di sepanjang Corniche Jeddah dan menggunakan burung camar sebagai logo resminya, karena burung ini banyak dijumpai di pesisir Jeddah.

Di dalamnya terdapat Pulau Burung Camar (Nawras Island) yang berada di Corniche Utara.

Pulau ini memiliki:

panjang sekitar 1.000 meter;

lebar antara 30–70 meter;

luas sekitar 52.240 meter persegi.

Fasilitas yang tersedia meliputi:

restoran dan kafe;

marina (dermaga kapal);

bioskop;

pantai khusus wanita;

klub kesehatan;

jalur pejalan kaki selebar 25 meter sepanjang 1.000 meter.

Warisan Arsitektur Kota Jeddah

Jeddah memiliki banyak bangunan bersejarah yang menjadi simbol identitas kota.

Yang paling terkenal adalah Jeddah Bersejarah (Al-Balad).

Jeddah Bersejarah (Al-Balad)

Jeddah Bersejarah merupakan kawasan pusat kota lama yang memiliki nilai sejarah, perdagangan, dan pariwisata yang sangat tinggi.

Kawasan ini meliputi:

sisa-sisa tembok kota lama;

gerbang-gerbang kota;

kampung-kampung tradisional;

pasar-pasar lama;

rumah-rumah bersejarah;

berbagai bangunan bersejarah;

alun-alun;

museum pribadi;

masjid-masjid kuno.

Karena nilai sejarahnya yang luar biasa, kawasan ini telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Sejarah Al-Balad

Pada mulanya, kawasan ini merupakan tempat tinggal para nelayan yang kembali dari Laut Merah.

Seiring waktu, daerah tersebut berkembang menjadi permukiman yang dihuni berbagai kelompok etnis.

Masyarakatnya hidup dari:

perdagangan,

perikanan,

pembangunan,

serta berbagai kerajinan tangan.

Bangunan Bersejarah

Di Al-Balad terdapat sekitar 400 bangunan bersejarah.

Bangunan tertuanya berasal dari abad ke-10 Masehi, sedangkan yang termuda berasal dari abad ke-20.

Sebagian besar bangunan dibangun mengikuti arsitektur khas kawasan Laut Merah, menggunakan:

tanah liat laut;

batu karang;

kayu untuk pintu dan jendela.

Ciri paling khas rumah-rumah tersebut adalah rawasyin, yaitu balkon atau jendela kayu yang dicat dengan warna:

cokelat,

hijau,

biru.

Warna dan bentuk rawasyin dahulu menunjukkan tingkat ekonomi pemilik rumah, dan hingga kini tetap menjadi ikon khas arsitektur Jeddah.

Tembok Kota dan Gerbang-Gerbangnya

Jeddah Bersejarah dahulu dikelilingi oleh tembok kota yang pertama kali dibangun pada abad ke-10 Hijriah.

Tembok tersebut memiliki delapan gerbang, yaitu:

Bab al-Madinah.

Bab Makkah.

Bab Syarif.

Bab al-Magharibah.

Bab Jadid.

Bab an-Nafi’ah.

Bab Sharif (Ṣarīf).

Bab as-Sabbah.

Di dalam tembok kota, Jeddah dibagi menjadi empat kampung utama, yaitu:

1. Harat asy-Syam.
2. Harat al-Yaman.
3. Harat al-Mazhlum.
4. Harat al-Bahr.

Istana-Istana Bersejarah di Jeddah

Jeddah memiliki sejumlah bangunan yang berperan penting dalam sejarah modern Arab Saudi.

1. Rumah Nasseef (Bayt Nasseef)

Rumah ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena menjadi tempat tinggal Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud ketika beliau memasuki Jeddah pada tahun 1344 H/1925 M.

Beliau menetap di rumah tersebut selama sekitar sepuluh tahun.

Kini bangunan tersebut menjadi salah satu ikon sejarah Kota Jeddah.

2. Istana Khuzam

Istana Khuzam merupakan salah satu istana kerajaan paling bersejarah di Arab Saudi.

Istana ini dibangun atas perintah Raja Abdulaziz sebagai:

kediaman resmi kerajaan;

pusat pemerintahan;

tempat menerima masyarakat.

Istana ini terletak di pusat Kota Jeddah dan termasuk salah satu bangunan pertama di Arab Saudi yang menggunakan beton dan baja sebagai material utama.

Saat ini, Istana Khuzam menjadi salah satu objek wisata sejarah yang paling terkenal di Jeddah.

Masjid-Masjid Bersejarah di Jeddah

Jeddah memiliki banyak masjid tua yang mencerminkan keindahan arsitektur Hijaz dan peradaban Islam.

Masjid Asy-Syafi’i

Masjid ini termasuk masjid tertua di Jeddah.

Menurut riwayat, masjid ini dibangun sejak masa Khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Ciri khasnya antara lain:

arsitektur Islam klasik;

halaman terbuka yang berfungsi sebagai ventilasi alami;

bentuk bangunan yang menyerupai persegi.

Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi sepanjang sejarahnya.

Pada tahun 1435 H/2014 M, ketika masih menjabat sebagai Putra Mahkota, Raja Salman bin Abdulaziz meninjau langsung proses restorasi masjid tersebut saat mengunjungi Jeddah Bersejarah.

Renovasi terakhir selesai dan masjid kembali dibuka pada Sya’ban 1436 H/Juni 2015 M.

Masjid Al-Mi’mar

Masjid Al-Mi’mar merupakan salah satu masjid tertua di Jeddah.

Masjid ini dibangun sekitar 340 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1263 H/1847 M.

Kemudian direnovasi kembali pada tahun 1284 H/1867 M.

Masjid-Masjid Bersejarah Lainnya

Di kawasan Al-Balad juga terdapat sejumlah masjid bersejarah lainnya, antara lain:

Masjid Utsman bin Affan, yang dibangun antara abad ke-9 dan ke-10 Hijriah. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Al-Abnus, karena memiliki dua tiang dari kayu eboni (abnus).

Masjid Al-Basha.

Masjid ‘Ukasy, yang dibangun pada tahun 1200 H/1786 M.

Masjid Al-Hanafi, yang dibangun pada tahun 1320 H/1902 M.

Masjid-masjid tersebut merupakan bagian penting dari warisan sejarah dan arsitektur Islam di Kota Jeddah.

Pariwisata Kota Jeddah, Musim Jeddah, Festival, Landmark Wisata, Kehidupan Budaya, Museum, dan Olahraga

Pariwisata di Kota Jeddah

Jeddah merupakan salah satu pusat kebudayaan dan destinasi wisata terpenting di Arab Saudi.

Kota ini memiliki kawasan Jeddah Bersejarah (Al-Balad) yang masih mempertahankan bangunan-bangunan kuno, situs sejarah, dan lingkungan tradisional yang mencerminkan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Hijaz sejak berabad-abad lalu.

Sebagian besar taman dan tempat rekreasi di Jeddah berada di sepanjang pesisir Laut Merah. Karena itu, Jeddah dikenal sebagai pusat pengembangan kawasan pantai dan aktivitas bahari di Arab Saudi.

Kota ini memiliki lima kawasan tepi laut (waterfront) yang menjadi destinasi wisata paling ramai dikunjungi.

Musim Jeddah (Jeddah Season)

Sejak tahun 1440 H/2019 M, Jeddah menyelenggarakan Musim Jeddah (Jeddah Season) sebagai bagian dari program nasional Saudi Seasons.

Musim Jeddah menghadirkan berbagai kegiatan, antara lain:

pertunjukan seni;

konser musik;

kegiatan budaya;

hiburan;

festival keluarga;

berbagai ajang olahraga.

Seluruh kegiatan tersebut diselenggarakan di berbagai lokasi di dalam maupun sekitar Kota Jeddah.

Musim Jeddah 2019

Penyelenggaraan pertama berlangsung dari 8 Juni hingga 29 Juli 2019.

Kegiatan dipusatkan di lima kawasan utama, yaitu:

Jeddah Bersejarah (Al-Balad).

Corniche Al-Hamra.

Jeddah Waterfront.

Kota Olahraga Raja Abdullah.

Obhur.

Selain itu, berbagai kegiatan juga diselenggarakan di sekitar Kota Jeddah dan di King Abdullah Economic City (KAEC).

Musim Jeddah 2022

Edisi kedua dimulai pada bulan Syawal 1443 H/Mei 2022.

Selain lima kawasan sebelumnya, dibangun sembilan kawasan baru khusus untuk penyelenggaraan festival.

Yang paling terkenal adalah City Walk, yang menjadi kawasan terbesar dengan luas sekitar 282.000 meter persegi.

Di dalamnya terdapat sembilan zona tematik, di antaranya:

Kampung Anime.

Kampung Petualangan.

Kampung Mode.

Zona Barbeku.

Zona Studio Arab dan Internasional.

Selain City Walk, terdapat pula:

Jeddah Art Promenade.

Taman Pangeran Majid.

Jeddah Pier, taman hiburan keliling dengan 39 wahana permainan.

Color Garden.

Adrenaland.

Jeddah Jungle, yang memiliki kebun binatang dengan lebih dari 1.000 ekor satwa, lengkap dengan pengalaman safari dan jalur hutan.

Yacht Club dan Jeddah Superdome

Salah satu kawasan baru lainnya adalah Jeddah Yacht Club, yang menawarkan berbagai aktivitas rekreasi seperti:

menyelam;

memancing;

parasailing;

kendaraan amfibi.

Jeddah juga memiliki Jeddah Superdome, kubah tanpa tiang terbesar di dunia yang digunakan untuk konser dan berbagai festival berskala internasional.

Rekor Pengunjung

Musim Jeddah 2022 mencatat angka yang sangat tinggi.

Jumlah pengunjung mencapai sekitar 6 juta orang, termasuk lebih dari 1 juta wisatawan yang berasal dari 129 negara.

Festival ini juga memberikan dampak ekonomi yang besar dengan:

membuka peluang investasi baru;

memperluas kerja sama sektor swasta;

menciptakan sekitar 76.000 lapangan pekerjaan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Lebih dari 80% tenaga kerja yang terlibat merupakan warga negara Arab Saudi.

Festival Jeddah Bersejarah

Kawasan Al-Balad setiap tahun menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai festival budaya dan warisan sejarah.

Festival terbesar adalah Festival Jeddah Bersejarah, yang pertama kali diadakan pada 15 Rabiul Awwal 1435 H / 16 Januari 2014 M.

Festival ini menjadi ajang pelestarian:

budaya;

sejarah;

sastra;

tradisi masyarakat Hijaz.

Tujuan utamanya adalah:

memperkenalkan sejarah Jeddah kepada generasi muda;

melestarikan adat istiadat masyarakat setempat;

menghubungkan warisan masa lalu dengan kehidupan masa kini;

mengenalkan sejarah kawasan yang telah berusia lebih dari 3.000 tahun.

Festival ini biasanya dikunjungi lebih dari setengah juta pengunjung setiap tahun.

Landmark Wisata Kota Jeddah

Jeddah memiliki banyak ikon wisata terkenal.

Di antaranya adalah lima kawasan pesisir utama:

Roshn Waterfront.

Corniche Utara.

Corniche Tengah.

Taman Dzhahban.

Pantai As-Saif.

Kawasan-kawasan tersebut menjadi tempat favorit masyarakat untuk berjalan-jalan, berolahraga, menikmati pantai, dan menghadiri berbagai acara hiburan.

Landmark Kota

Beberapa ikon paling terkenal di Jeddah antara lain:

Menara Pengawas Pelabuhan Islam Jeddah

Menara ini merupakan salah satu simbol Kota Jeddah.

Bangunan tersebut menggunakan teknologi tinggi dan dilengkapi sistem VTMIS (Vessel Traffic Management Information System) untuk mengatur lalu lintas kapal.

Air Mancur Raja Fahd

Air Mancur Raja Fahd merupakan air mancur tertinggi di dunia.

Airnya menyembur langsung dari Laut Merah hingga mencapai ketinggian lebih dari 300 meter, sehingga menjadi salah satu ikon paling terkenal di Jeddah.

Menara Air Khuzam

Menara Air Khuzam dahulu menjadi pusat distribusi air Kota Jeddah selama sekitar empat dekade.

Kini bangunan tersebut menjadi salah satu monumen bersejarah kota.

Tiang Bendera Arab Saudi

Jeddah juga pernah memiliki tiang bendera tertinggi di dunia dengan tinggi sekitar 171 meter, yang menjadi salah satu landmark kota.

Kehidupan Budaya di Kota Jeddah

Jeddah dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Arab Saudi.

Keistimewaan tersebut terlihat dari:

arsitektur tradisionalnya;

warisan sejarahnya;

perannya dalam perkembangan sastra dan budaya.

Jeddah juga menjadi tempat berdirinya klub sastra pertama di Arab Saudi dan menjadi tuan rumah pameran buku internasional terbesar kedua di negara tersebut.

Klub Sastra dan Budaya Jeddah

Klub Sastra dan Budaya Jeddah didirikan pada tahun 1395 H/1975 M.

Klub ini merupakan klub sastra pertama di Arab Saudi.

Sejak berdiri, klub ini menjadi tempat berkumpulnya:

para sastrawan;

penulis;

pemikir;

akademisi.

Berbagai kegiatan yang diselenggarakan meliputi:

diskusi sastra;

kajian pemikiran;

seminar kritik sastra;

forum pembacaan karya.

Klub ini juga telah menerbitkan puluhan buku dalam bidang:

puisi;

cerpen;

novel;

serta berbagai jurnal budaya.

Pameran Buku Internasional Jeddah

Pameran Buku Internasional Jeddah merupakan pameran buku terbesar kedua di Arab Saudi, setelah Pameran Buku Internasional Riyadh.

Penyelenggaraan pertamanya dimulai pada tahun 1437 H/2015 M.

Jumlah pengunjungnya mencapai sekitar 500.000 orang.

Biasanya pameran ini menghadirkan sekitar 100 kegiatan budaya, antara lain:

lomba penerjemahan kreatif;

forum budaya;

diskusi bersama penulis dan sastrawan Arab;

pameran seni rupa.

Pameran ini juga menyediakan:

paviliun khusus bagi penulis Arab Saudi;

area khusus anak-anak;

sekitar 60 lokakarya;

panggung penandatanganan buku yang diikuti sekitar 200 penulis.

Museum, Kehidupan Olahraga, Formula 1, Klub Sepak Bola, dan Lembaga-Lembaga Penting di Kota Jeddah

Museum-Museum di Kota Jeddah

Jeddah memiliki sejumlah museum yang merekam perjalanan sejarah kota sekaligus melestarikan warisan budaya Arab Saudi.

1. Museum Jeddah (Museum Istana Khuzam)

Museum ini berada di Istana Khuzam, bekas kediaman Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud.

Museum ini menampilkan sejarah berdirinya Kerajaan Arab Saudi, perkembangan Kota Jeddah, serta berbagai peninggalan arkeologi dan budaya yang mencerminkan peradaban Semenanjung Arab.

2. Museum At-Tayyibat

Museum At-Tayyibat merupakan salah satu museum swasta terbesar dan paling terkenal di Jeddah.

Museum ini terdiri atas beberapa bangunan bergaya arsitektur Hijaz tradisional dan menyimpan ribuan koleksi, antara lain:

manuskrip kuno;

benda-benda arkeologi;

pakaian tradisional;

senjata kuno;

peralatan rumah tangga;

kerajinan tangan;

koleksi sejarah Islam dan Jazirah Arab.

3. Museum Terbuka Jeddah

Jeddah juga memiliki Museum Terbuka (Open Museum) yang menampilkan koleksi patung dan karya seni di ruang terbuka.

Museum ini disebut sebagai salah satu museum terbuka terbesar di dunia.

Di dalamnya terdapat sekitar 20 karya seni monumental hasil karya seniman internasional terkenal, di antaranya:

Henry Moore (Inggris),

Victor Vasarely (Prancis-Hongaria),

César Baldaccini (Prancis).

Biennale Seni Islam

Pada tahun 2023, Jeddah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Biennale Seni Islam yang pertama, bertempat di Terminal Haji Bandara Internasional King Abdulaziz.

Pameran ini mengangkat tema “Awwal Bait (Rumah Pertama)”, yang menggambarkan hubungan erat antara seni dan keimanan, dengan dua tema utama yaitu kiblat dan hijrah. Biennale ini menghadirkan ratusan artefak Islam bersejarah serta karya seni kontemporer dari berbagai negara, sekaligus menampilkan benda-benda bersejarah dari Makkah dan Madinah.

Olahraga di Kota Jeddah

Jeddah merupakan salah satu pusat olahraga terbesar di Arab Saudi.

Kota ini memiliki berbagai stadion dan fasilitas olahraga bertaraf internasional.

Selain itu, Jeddah dikenal sebagai tuan rumah Grand Prix Formula 1 Arab Saudi, serta menjadi markas dua klub sepak bola paling populer di negara tersebut, yaitu Al-Ittihad dan Al-Ahli.

Fasilitas Olahraga

Kota Olahraga Raja Abdullah

Salah satu fasilitas olahraga terbesar di Jeddah adalah Kota Olahraga Raja Abdullah (King Abdullah Sports City).

Kompleks ini termasuk dalam 50 kompleks olahraga terbesar di dunia.

Di dalamnya terdapat Stadion Raja Abdullah atau yang lebih dikenal sebagai Al-Jawharah Al-Mudhi’ah (Permata yang Bersinar).

Stadion ini:

dibangun sesuai standar FIFA;

berkapasitas sekitar 60.000 penonton;

termasuk salah satu stadion terbesar di dunia Arab.

Pada tahun 2019, stadion ini menjadi tuan rumah Piala Super Italia, yang dihadiri lebih dari 61.000 penonton.

Pada tahun 2020, stadion ini juga menjadi lokasi penyelenggaraan Piala Super Spanyol.

Stadion Pangeran Abdullah Al-Faisal

Jeddah juga memiliki Stadion Pangeran Abdullah Al-Faisal yang dibangun pada dekade 1970-an.

Stadion ini digunakan untuk pertandingan domestik maupun internasional.

Luas kompleksnya sekitar 84.000 meter persegi dengan kapasitas sekitar 23.000 penonton.

Royal Greens Golf Club

Di King Abdullah Economic City (KAEC) terdapat Royal Greens Golf Club, salah satu lapangan golf terbaik di Arab Saudi.

Klub ini memiliki akademi pelatihan golf dan secara rutin menjadi tuan rumah Saudi International Golf Championship.

Formula 1 di Kota Jeddah

Sejak tahun 2021, Jeddah menjadi tuan rumah Grand Prix Arab Saudi Formula 1.

Balapan diselenggarakan di Sirkuit Corniche Jeddah, yang dikenal sebagai salah satu sirkuit jalan raya tercepat di dunia.

Lintasan ini memiliki:

27 tikungan, terdiri dari:

16 tikungan ke kiri;

11 tikungan ke kanan.

Kecepatan mobil dapat mencapai sekitar 250 km/jam.

Sirkuit sepanjang 6,174 km ini dirancang oleh arsitek sirkuit terkenal asal Jerman, Hermann Tilke, bekerja sama dengan tim Formula 1. Lintasan ini termasuk salah satu sirkuit jalan raya terpanjang dan tercepat dalam kalender Formula 1.

Klub-Klub Sepak Bola

Jeddah merupakan markas dua klub paling bersejarah dan paling populer di Arab Saudi, yaitu:

Al-Ittihad Club

Al-Ahli Saudi FC

Kedua klub tersebut berkompetisi di Liga Pro Saudi (Saudi Pro League/Roshn Saudi League) dan memiliki basis pendukung yang sangat besar di dalam maupun luar negeri.

Lembaga-Lembaga yang Berkedudukan di Jeddah

Sebagai pusat politik, ekonomi, dan keagamaan, Jeddah menjadi lokasi kantor pusat berbagai lembaga nasional dan internasional, antara lain:

Organisation of Islamic Cooperation (OKI/OIC).

Islamic Development Bank.

International Islamic Fiqh Academy.

Forum Ekonomi Jeddah.

Federasi Kantor Berita Negara-Negara Anggota OKI.

Otoritas Survei Geologi Arab Saudi.

Kantor pusat Saudia.

Kantor pusat Saudi National Bank.

Pangkalan Udara Raja Abdullah.

Kota Olahraga Raja Abdullah.

Kota Ekonomi Raja Abdullah (King Abdullah Economic City).

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button