Tarbawi

Larangan Menjadi Golongan Kelima

JANGAN JADI YANG KELIMA

Diriwayatkan oleh Al-Fasawī dalam Al-Ma‘rifah wa at-Tārīkh (3/398) — dan melalui jalurnya juga diriwayatkan oleh Ibn ‘Abd al-Barr dalam Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm (1/141–142/142) — serta oleh Al-Baihaqī dalam Al-Madkhal (hal. 381).

Dari Hajjāj bin Minhāl, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ḥammād bin Salamah, dari Ḥumayd, dari Al-Ḥasan, bahwa Abud Dardā’ berkata:

كُنْ عَالِمًا، أَوْ مُتَعَلِّمًا، أَوْ مُحِبًّا، أَوْ مُتَّبِعًا، وَلَا تَكُنِ الْخَامِسَ فَتَهْلِكَ. قَالَ: قُلْتُ لِلْحَسَنِ: مَنْ الْخَامِسُ؟ قَالَ: الْمُبْتَدِعُ.

“Jadilah engkau seorang yang berilmu (‘ālim), atau penuntut ilmu (muta‘allim), atau pecinta ilmu (muḥibb), atau pengikut ilmu (muttabi‘), dan janganlah engkau menjadi yang kelima, maka engkau akan binasa.”

Aku (perawi) bertanya kepada Al-Ḥasan: “Siapakah yang kelima itu?”

Beliau menjawab:

“Orang yang berbuat bid‘ah (al-mubtadi‘).”

Status sanad:

Sanadnya lemah, karena Al-Ḥasan (Al-Bashrī) tidak mendengar langsung dari Abud Dardā’.

Kesimpulan derajat atsar:

Hadis ini lemah apabila diriwayatkan secara marfū‘ (sampai kepada Nabi ﷺ), namun shahih apabila diriwayatkan secara mauqūf (berhenti sanadnya pada sahabat), yaitu dari Ibnu Mas‘ūd dan Abud Dardā’.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button