Tatsqif

Doa ketika singgah dan ketika memasuki suatu negeri atau kota

Doa ketika singgah dan ketika memasuki suatu negeri atau kota

Islam mengajarkan seorang Muslim agar senantiasa menggantungkan hati kepada Allah dalam setiap perjalanan. Di antara doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah doa ketika singgah di suatu tempat dan doa ketika hendak memasuki suatu negeri, kota, atau perkampungan. Keduanya mengandung permohonan perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan yang mungkin dijumpai selama perjalanan.

Doa ketika singgah di suatu tempat

Imam Muslim meriwayatkan dari Khaulah binti Hakim as-Sulamiyyah رضي الله عنها, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِذَا نَزَلَ أَحَدُكُمْ مَنْزِلًا، فَلْيَقُلْ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْهُ»

“Apabila salah seorang di antara kalian singgah di suatu tempat, hendaklah ia mengucapkan:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala sesuatu yang Dia ciptakan.

Maka tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya sampai ia meninggalkan tempat tersebut.”
(HR. Muslim)

Yang dimaksud dengan مَنْزِلًا adalah tempat seseorang singgah atau menetap sementara. أَعُوذُ berarti aku berlindung dan memohon penjagaan. كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ berarti kalimat-kalimat Allah yang sempurna, yang tidak memiliki kekurangan sedikit pun.

Hadis ini menunjukkan betapa Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan keselamatan umatnya. Ketika seseorang berada di tempat baru—baik dalam perjalanan maupun selain perjalanan—ia dianjurkan membaca doa tersebut dan menyerahkan perlindungan dirinya sepenuhnya kepada Allah.

Di antara pelajarannya adalah bahwa hati seorang mukmin hendaknya selalu bergantung kepada Allah. Hadis ini juga menunjukkan agungnya kedudukan isti‘adzah atau memohon perlindungan kepada Allah, serta menetapkan sifat kalam bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya. Para ulama juga berdalil dengannya bahwa kalam Allah bukan makhluk, karena memohon perlindungan dengan makhluk dalam perkara yang hanya mampu dilakukan Allah tidak diperbolehkan.

Doa ketika memasuki suatu negeri, kota, atau perkampungan

Diriwayatkan dari Shuhaib رضي الله عنه, bahwa apabila Nabi ﷺ melihat suatu perkampungan atau negeri yang hendak beliau masuki, beliau membaca:

«اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَرَبَّ الأَرَضِينَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّيَاطِينِ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ، فَإِنَّا نَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا»

“Ya Allah, Rabb tujuh lapis langit dan segala sesuatu yang dinaunginya; Rabb tujuh lapis bumi dan segala sesuatu yang dikandungnya; Rabb setan-setan dan siapa saja yang mereka sesatkan; serta Rabb angin dan segala sesuatu yang diterbangkannya. Sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan negeri ini dan kebaikan penduduknya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan negeri ini, keburukan penduduknya, serta keburukan segala sesuatu yang ada di dalamnya.”

Dalam doa tersebut, رَبَّ bermakna Rabb, Pencipta, Pemilik, dan Pengatur. مَا أَظْلَلْنَ bermakna segala sesuatu yang berada di bawah naungan langit. مَا أَقْلَلْنَ bermakna segala sesuatu yang dipikul atau dikandung bumi. أَضْلَلْنَ berkaitan dengan penyesatan yang dilakukan setan, sedangkan ذَرَيْنَ bermakna segala sesuatu yang diterbangkan dan disebarkan oleh angin.

Doa ini merupakan bentuk penghambaan yang sangat indah. Sebelum memasuki sebuah tempat, seorang Muslim mengingat bahwa langit, bumi, setan, angin, manusia, dan seluruh yang ada di alam semesta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Allah. Karena itu, kebaikan tempat yang akan dimasukinya dimohon hanya kepada Allah, dan perlindungan dari keburukannya pun diminta hanya kepada-Nya.

Di antara pelajaran penting dari doa ini adalah bolehnya bertawassul kepada Allah dengan perbuatan dan sifat rububiyyah-Nya. Doa ini juga menanamkan tauhid rububiyyah, yaitu keyakinan bahwa seluruh alam berada dalam penciptaan, kekuasaan, pengaturan, dan ketetapan Allah. Ia juga mengingatkan seorang Muslim tentang adanya setan dan upaya mereka menyesatkan manusia sehingga ia senantiasa memohon perlindungan kepada Allah.

Menggabungkan keduanya dalam perjalanan

Kedua doa tersebut memiliki waktu pengamalan yang berbeda tetapi saling melengkapi. Ketika melihat dan hendak memasuki sebuah negeri, kota, atau perkampungan, seorang Muslim membaca:

«اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَرَبَّ الأَرَضِينَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّيَاطِينِ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ، فَإِنَّا نَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا»

Kemudian, ketika telah sampai dan singgah di hotel, rumah, penginapan, tempat peristirahatan, atau tempat lainnya, ia membaca:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Dengan demikian, sejak hendak memasuki suatu daerah hingga singgah di dalamnya, seorang Muslim senantiasa memohon kebaikan, penjagaan, dan perlindungan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى.

Catatan sumber: Doa ketika singgah diriwayatkan secara sahih oleh Imam Muslim. Adapun doa ketika memasuki suatu negeri diriwayatkan antara lain oleh al-Hakim dari Shuhaib رضي الله عنه dan dinilai hasan oleh sejumlah ahli hadis.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button