JANGAN MEMAKAI PAKAIAN KEBOHONGAN

JANGAN MEMAKAI PAKAIAN KEBOHONGAN
Ada orang yang tidak puas dengan apa yang dimilikinya. Ia ingin terlihat lebih kaya daripada keadaan sebenarnya, ingin dianggap lebih berilmu daripada yang ia ketahui, ingin dipandang memiliki kedudukan yang tinggi, atau ingin mendapatkan pujian atas sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah ia kerjakan. Di hadapan manusia, ia berusaha membangun sebuah citra. Ia memakai “pakaian” yang bukan miliknya agar terlihat memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak ia miliki.
Fenomena seperti ini bukanlah persoalan baru. Sejak zaman Rasulullah ﷺ, manusia sudah mengenal perilaku menampilkan sesuatu yang tidak dimiliki. Karena itu, Nabi ﷺ memberikan sebuah perumpamaan yang sangat kuat: orang yang mengaku mendapatkan sesuatu padahal tidak mendapatkannya diibaratkan seperti orang yang memakai dua pakaian kebohongan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ
“Orang yang menampilkan diri dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya adalah seperti orang yang memakai dua pakaian kebohongan.” HR.Bukhari: 5219 dan Muslim: 2130.
Hadis ini diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha. Dalam riwayat tersebut, seorang perempuan bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang seseorang yang berpura-pura mendapatkan sesuatu dari suaminya, padahal sebenarnya ia tidak mendapatkannya. Rasulullah ﷺ kemudian memberikan perumpamaan tersebut.
Namun, pesan hadis ini tidak berhenti pada persoalan tersebut. Para ulama menjelaskan bahwa maknanya mencakup perilaku seseorang yang menampakkan kepada manusia bahwa dirinya memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak ia miliki, baik berupa harta, keutamaan, kedudukan, ilmu, penghargaan, hubungan, maupun pencapaian.
Apa yang dimaksud dengan “Dua Pakaian Kebohongan”?
Ungkapan “dua pakaian kebohongan” merupakan perumpamaan yang sangat dalam. Pakaian pada dasarnya berfungsi menutupi tubuh dan sekaligus memberikan penampilan tertentu kepada orang yang memakainya. Ketika seseorang mengenakan pakaian yang indah, orang lain dapat melihatnya dan mengira bahwa ia memiliki keadaan tertentu.
Begitu pula kebohongan dalam bentuk pencitraan. Seseorang mengenakan “pakaian” berupa cerita, pengakuan, gaya hidup, atau penampilan tertentu agar manusia melihat dirinya sebagaimana yang ia inginkan, bukan sebagaimana keadaan sebenarnya. Ia bukan hanya berbohong melalui ucapan, tetapi juga membangun sebuah penampilan palsu.
Karena itulah Nabi ﷺ menggunakan istilah ثَوْبَيْ زُورٍ (tsaubay zur), yaitu dua pakaian kebohongan. Hadis ini tercantum dalam bab al-mutasyabbi‘u bimā lam yanal dalam Shahih al-Bukhari, yang berkaitan dengan orang yang menampilkan atau mengklaim sesuatu yang sebenarnya tidak diperolehnya.
Tidak Semua Kebohongan Berbentuk Ucapan
Ketika mendengar kata “bohong”, kebanyakan orang membayangkan seseorang mengatakan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan. Padahal, kebohongan dapat mengambil bentuk yang lebih luas.
Seseorang dapat berkata, “Saya mendapatkan penghargaan itu,” padahal tidak pernah mendapatkannya. Ada pula yang mengaku mempunyai jabatan tertentu, padahal tidak. Seseorang mungkin menampilkan dirinya seolah-olah sangat kaya, padahal kondisi sebenarnya berbeda. Ada yang membanggakan ilmu yang tidak dimilikinya, menceritakan pengalaman yang tidak pernah dialaminya, atau menghubungkan dirinya dengan orang-orang penting agar mendapatkan penghormatan. Semua itu berangkat dari keinginan untuk terlihat memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak dimiliki.
Di zaman sekarang, bentuknya bahkan dapat menjadi semakin halus. Seseorang dapat memilih hanya menampilkan sisi tertentu dari kehidupannya agar orang lain memiliki kesan tertentu tentang dirinya. Foto, cerita, status, dan berbagai bentuk penampilan dapat digunakan untuk membangun citra.
Tentu, menampilkan sesuatu yang baik tidak otomatis menjadi dosa. Seseorang boleh menceritakan nikmat Allah, membagikan pengalaman, menggunakan pakaian yang bagus, atau menunjukkan keberhasilannya. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang sengaja menciptakan kesan yang tidak benar, mengaku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki, atau membuat orang lain percaya kepada sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Al Qur’an Mengajarkan Kejujuran
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat kuat agar manusia tidak berbicara dan bertindak berdasarkan sesuatu yang tidak diketahuinya. Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” QS. Al-Isra: 36
Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak berbicara atau mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan. Dalam penjelasan ulama tafsir yang dikutip pada sumber tafsir tersebut, ayat ini antara lain dipahami sebagai larangan mengatakan “aku melihat” padahal tidak melihat, “aku mendengar” padahal tidak mendengar, atau “aku mengetahui” padahal tidak mengetahui. Prinsip ini sangat dekat dengan kandungan hadis tentang “dua pakaian kebohongan”. Seorang Muslim tidak seharusnya mengklaim sesuatu yang tidak dimilikinya dan tidak diketahuinya.
Mengapa Manusia Suka Menampilkan Sesuatu Yang Tidak Dimiliki?
Salah satu sebabnya adalah keinginan mendapatkan pengakuan.
Manusia senang dihargai. Ia senang dianggap berhasil, berilmu, kaya, berpengaruh, atau memiliki kedudukan. Keinginan tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari sifat manusia. Namun, keinginan untuk dihargai dapat menjadi berbahaya apabila seseorang mulai membangun penghargaan itu di atas kebohongan.
Di sinilah seseorang mulai mengenakan “pakaian kebohongan”.
Ia merasa bahwa dirinya yang sebenarnya belum cukup untuk mendapatkan penghormatan. Maka ia menambahkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat membuat seseorang hidup dalam bayang-bayang citra yang ia ciptakan sendiri. Ia tidak lagi berusaha menjadi baik, tetapi sibuk terlihat baik. Ia tidak lagi berusaha menjadi berilmu, tetapi sibuk terlihat berilmu. Ia tidak lagi berusaha meningkatkan kualitas diri, tetapi sibuk meyakinkan orang lain bahwa dirinya sudah memiliki kualitas tersebut.
Padahal, Allah mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Kejujuran Lebih Mulia daripada Pencitraan
Seorang Muslim tidak harus terlihat sempurna di hadapan manusia.
Jika belum memiliki sesuatu, katakan bahwa belum memilikinya. Jika belum mengetahui sesuatu, katakan bahwa tidak tahu. Jika belum berhasil, tidak perlu mengaku sudah berhasil. Jika pernah melakukan kesalahan, tidak perlu menutupinya dengan cerita palsu.
Kejujuran seperti itu justru dapat menjadi awal dari perbaikan.
Orang yang berkata, “Saya belum tahu,” mempunyai kesempatan untuk belajar. Orang yang berkata, “Saya belum mampu,” mempunyai kesempatan untuk berlatih. Orang yang berkata, “Saya salah,” mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri.
Sebaliknya, orang yang terus mempertahankan citra palsu akan kesulitan berkembang karena ia harus mempertahankan kebohongan yang telah dibuatnya.
Bahaya Pakaian Kebohongan
Ada beberapa bahaya dari perilaku menampilkan sesuatu yang tidak dimiliki.
Pertama, merusak kejujuran. Seseorang terbiasa menyampaikan sesuatu bukan berdasarkan kenyataan, tetapi berdasarkan keinginan agar dirinya dipandang tertentu.
Kedua, menghilangkan kepercayaan. Ketika kebohongan terbongkar, orang lain tidak hanya meragukan satu perkataan, tetapi dapat mulai meragukan perkataan-perkataannya yang lain.
Ketiga, menumbuhkan kesombongan dan ujub. Seseorang dapat merasa bangga dengan sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya.
Keempat, mendorong kebohongan berikutnya. Satu pengakuan palsu sering membutuhkan pengakuan palsu lainnya agar cerita tetap terlihat benar.
Kelima, membuat manusia mengejar penilaian manusia. Ia lebih sibuk memikirkan bagaimana dirinya terlihat daripada bagaimana keadaan dirinya di hadapan Allah.
Padahal, ukuran kemuliaan manusia bukanlah apa yang berhasil ia tampilkan di hadapan manusia.
Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” QS. Al-Hujurat: 13
Ayat ini mengingatkan bahwa kemuliaan yang hakiki berada pada ketakwaan, bukan pada citra yang dibangun di hadapan manusia.
Belajar Merasa Cukup dengan Apa yang Allah berikan.
Hadis tentang dua pakaian kebohongan juga mengajarkan kita untuk menerima keadaan diri dengan lapang.
Bukan berarti kita dilarang memiliki cita-cita. Bukan pula berarti kita tidak boleh berusaha menjadi lebih baik. Islam justru mendorong manusia untuk berkembang dan memperbaiki diri.
Namun, proses menuju sesuatu harus ditempuh dengan kejujuran.
Jika hari ini kita belum kaya, tidak perlu berpura-pura kaya. Jika belum berilmu, jangan mengaku sebagai orang yang paling tahu. Jika belum memiliki kedudukan, tidak perlu menciptakan kesan seolah-olah memiliki kedudukan. Jika belum berhasil, tidak perlu membuat cerita keberhasilan palsu.
Lebih baik berjalan perlahan dengan keadaan yang sebenarnya daripada berlari dengan memakai pakaian kebohongan.
Sebab, manusia mungkin tertipu oleh penampilan, tetapi Allah tidak pernah tertipu oleh penampilan.
Jangan Memakai Pakaian Kebohongan
Hadis Rasulullah ﷺ ini pada akhirnya mengajak kita untuk melakukan introspeksi.
Apa yang selama ini kita tampilkan kepada manusia?
Apakah kita menunjukkan diri kita apa adanya, ataukah kita membangun citra yang jauh berbeda dari kenyataan?
Apakah kita pernah mengaku memiliki sesuatu yang tidak kita miliki? Apakah kita pernah menceritakan keberhasilan yang sebenarnya bukan milik kita? Apakah kita pernah mengaku mengetahui sesuatu yang sebenarnya tidak kita ketahui? Apakah kita pernah menampilkan kehidupan yang seolah-olah sempurna hanya agar mendapatkan pujian?
Jika pernah, maka saatnya melepaskan pakaian itu.
Tidak ada kehinaan dalam menjadi diri sendiri selama kita terus berusaha memperbaiki diri. Tidak ada kehinaan dalam mengakui kekurangan. Tidak ada kehinaan dalam mengatakan “saya belum tahu”, “saya belum mampu”, atau “saya belum mendapatkannya”.
Yang perlu kita takutkan justru ketika kita begitu sibuk mendapatkan pengakuan manusia hingga rela memakai pakaian kebohongan.
Maka, janganlah kita mengenakan pakaian yang bukan milik kita hanya demi terlihat hebat di mata manusia. Jadilah pribadi yang jujur, sederhana, dan apa adanya. Jika memiliki kelebihan, syukurilah tanpa kesombongan. Jika memiliki kekurangan, perbaikilah tanpa kepura-puraan.
Sebab, lebih baik hidup sederhana tetapi jujur daripada terlihat hebat tetapi dibangun di atas kebohongan.
Dan lebih baik dikenal manusia sebagai orang biasa yang jujur, daripada dikenal sebagai orang hebat yang ternyata hanya mengenakan pakaian kebohongan.



