Tatsqif

SEORANG MUKMIN MEMBERI NASIHAT DARI MIMBAR KEMATIAN

SEORANG MUKMIN MEMBERI NASIHAT DARI MIMBAR KEMATIAN

‘Amr bin al-‘Ash di Saat Menjelang Kematian

Dari ‘Abdurrahman bin Syamasah al-Mahri رحمه الله, ia berkata:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِمَاسَةَ الْمَهْرِيِّ قَالَ: حَضَرْنَا عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ وَهُوَ فِي سِيَاقَةِ الْمَوْتِ، فَبَكَى طَوِيلًا، وَحَوَّلَ وَجْهَهُ إِلَى الْجِدَارِ…

“Kami hadir di sisi ‘Amr bin al-‘Ash ketika beliau sedang menghadapi sakaratul maut. Beliau menangis lama dan memalingkan wajahnya ke arah dinding.”

Putranya kemudian berkata:

يَا أَبَتَاهُ، أَمَا بَشَّرَكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِكَذَا؟ أَمَا بَشَّرَكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِكَذَا؟

“Wahai ayahku, bukankah Rasulullah ﷺ pernah memberikan kabar gembira kepadamu dengan ini? Bukankah Rasulullah ﷺ pernah memberikan kabar gembira kepadamu dengan itu?”

Kemudian ‘Amr menghadapkan wajahnya seraya berkata:

إِنَّ أَفْضَلَ مَا نُعِدُّ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ.

“Sesungguhnya perkara terbaik yang kami persiapkan adalah persaksian bahwa tidak ada sembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Kemudian beliau mengenang perjalanan panjang hidupnya:

إِنِّي قَدْ كُنْتُ عَلَى أَطْبَاقٍ ثَلَاثٍ.

“Sesungguhnya aku telah melalui tiga fase kehidupan.”

Fase pertama: sangat membenci Rasulullah ﷺ

‘Amr berkata:

لَقَدْ رَأَيْتُنِي وَمَا أَحَدٌ أَشَدَّ بُغْضًا لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنِّي، وَلَا أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَكُونَ قَدِ اسْتَمْكَنْتُ مِنْهُ فَقَتَلْتُهُ، فَلَوْ مُتُّ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ لَكُنْتُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ.

“Sungguh, dahulu aku melihat diriku sebagai orang yang paling membenci Rasulullah ﷺ. Tidak ada sesuatu yang lebih aku inginkan daripada mendapatkan kesempatan menguasainya lalu membunuhnya. Seandainya aku mati dalam keadaan seperti itu, niscaya aku termasuk penghuni neraka.”

Fase kedua: Allah memasukkan Islam ke dalam hatinya

Beliau melanjutkan:

فَلَمَّا جَعَلَ اللَّهُ الْإِسْلَامَ فِي قَلْبِي، أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ فَقُلْتُ: ابْسُطْ يَمِينَكَ فَلِأُبَايِعْكَ. فَبَسَطَ يَمِينَهُ، قَالَ: فَقَبَضْتُ يَدِي.

“Ketika Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku, aku mendatangi Nabi ﷺ. Aku berkata, ‘Ulurkan tangan kananmu agar aku berbaiat kepadamu.’ Beliau pun mengulurkan tangan kanannya, tetapi aku menarik tanganku.”

Rasulullah ﷺ bertanya:

مَا لَكَ يَا عَمْرُو؟

“Ada apa denganmu, wahai ‘Amr?”

Ia menjawab:

أَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرِطَ.

“Aku ingin mengajukan sebuah syarat.”

Beliau bertanya:

تَشْتَرِطُ بِمَاذَا؟

“Syarat apa?”

‘Amr menjawab:

أَنْ يُغْفَرَ لِي.

“Agar dosa-dosaku diampuni.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ، وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا، وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa Islam menghapus apa yang terjadi sebelumnya, hijrah menghapus apa yang terjadi sebelumnya, dan haji menghapus apa yang terjadi sebelumnya?”

(HR. Muslim)

Kemudian ‘Amr berkata:

وَمَا كَانَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَلَا أَجَلَّ فِي عَيْنِي مِنْهُ، وَمَا كُنْتُ أُطِيقُ أَنْ أَمْلَأَ عَيْنَيَّ مِنْهُ إِجْلَالًا لَهُ، وَلَوْ سُئِلْتُ أَنْ أَصِفَهُ مَا أَطَقْتُ؛ لِأَنِّي لَمْ أَكُنْ أَمْلَأُ عَيْنَيَّ مِنْهُ.

“Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah ﷺ dan tidak ada seorang pun yang lebih agung dalam pandanganku daripada beliau. Aku bahkan tidak sanggup memandang beliau sepenuh pandanganku karena begitu besarnya penghormatanku kepada beliau. Seandainya aku diminta menggambarkan beliau, aku tidak akan mampu, karena aku tidak pernah memandang beliau dengan sepenuh pandanganku.”

Beliau melanjutkan:

وَلَوْ مُتُّ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ لَرَجَوْتُ أَنْ أَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ.

“Seandainya aku meninggal dalam keadaan seperti itu, sungguh aku berharap termasuk penghuni surga.”

Fase ketiga: menghadapi berbagai urusan dan fitnah

Kemudian beliau berkata:

ثُمَّ وَلِينَا أَشْيَاءَ، مَا أَدْرِي مَا حَالِي فِيهَا.

“Kemudian kami memegang berbagai urusan. Aku tidak mengetahui bagaimana keadaanku berkaitan dengannya.”

Setelah itu beliau memberikan wasiat:

فَإِذَا أَنَا مُتُّ فَلَا تَصْحَبْنِي نَائِحَةٌ وَلَا نَارٌ، فَإِذَا دَفَنْتُمُونِي فَشُنُّوا عَلَيَّ التُّرَابَ شَنًّا، ثُمَّ أَقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ وَيُقْسَمُ لَحْمُهَا، حَتَّى أَسْتَأْنِسَ بِكُمْ، وَأَنْظُرَ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّي.

“Apabila aku telah meninggal, janganlah wanita peratap maupun api mengiringi jenazahku. Setelah kalian menguburkanku, tuangkanlah tanah kepadaku dengan perlahan. Kemudian berdirilah di sekitar kuburku selama kira-kira waktu yang diperlukan untuk menyembelih seekor unta dan membagikan dagingnya, agar aku merasa tenteram dengan keberadaan kalian dan agar aku dapat melihat jawaban apa yang akan aku berikan kepada para utusan Rabb-ku.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Nasihat Orang yang Berada di Ambang Kematian

Sesungguhnya di antara nasihat yang paling berharga dan paling jujur adalah nasihat orang-orang yang sedang menghadapi kematian. Karena itulah orang-orang berakal sejak dahulu sangat bersemangat menghadiri orang yang sedang menghadapi sakaratul maut, bahkan meminta wasiat darinya.

Apabila wasiat tersebut datang dari seorang sahabat Rasulullah ﷺ, tentu manfaatnya semakin besar.

Apalagi jika yang memberikan wasiat adalah seorang yang cerdas dan tajam pikirannya seperti ‘Amr bin al-‘Ash رضي الله عنه; seorang yang telah mengenal dunia, menyaksikan berbagai keadaan manusia, dan melalui berbagai fase kehidupan.

Maka sudah selayaknya kita mempelajari wasiatnya dan mengambil pelajaran darinya.

Kecerdasan ‘Amr bin al-‘Ash

‘Amr رضي الله عنه dikenal sebagai seorang yang sangat cerdas, tajam pikirannya, dan memiliki kemampuan strategi yang luar biasa, hingga ia dikenal sebagai salah seorang tokoh yang sangat piawai dalam urusan dunia dan salah seorang cerdik pandai bangsa Arab.

Kemudian Allah Ta‘ala memasukkan iman ke dalam hatinya.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang dirinya:

أَسْلَمَ النَّاسُ، وَآمَنَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ.

“Manusia masuk Islam, sedangkan ‘Amr bin al-‘Ash benar-benar beriman.”

Diriwayatkan Ahmad dan at-Tirmidzi dari ‘Uqbah bin ‘Amir, dan dinilai hasan oleh al-Albani.

‘Amr juga dianugerahi kefasihan dan kemampuan menyampaikan maksud dengan sangat baik.

Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه apabila melihat seseorang kesulitan mengungkapkan perkataannya, beliau mengatakan:

خَالِقُ هٰذَا وَخَالِقُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَاحِدٌ!

“Pencipta orang ini dan Pencipta ‘Amr bin al-‘Ash adalah satu!”

Maksudnya adalah menunjukkan besarnya kekuasaan Allah dalam menciptakan perbedaan kemampuan berbicara di antara manusia.

—

Menghadiri Orang yang Sedang Sakaratul Maut

Perkataan Ibnu Syamasah:

حَضَرْنَا عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ وَهُوَ فِي سِيَاقَةِ الْمَوْتِ.

“Kami menghadiri ‘Amr bin al-‘Ash ketika beliau sedang menghadapi sakaratul maut.”

Menunjukkan bagaimana generasi terdahulu memanfaatkan tempat-tempat yang dapat menghidupkan hati dan memberikan pelajaran.

Menghadiri orang yang sedang menghadapi kematian merupakan sesuatu yang dikenal di kalangan mereka: pertama untuk mengambil pelajaran, dan kedua untuk memberikan kabar gembira kepada orang yang sedang menghadapi kematian agar ia berbaik sangka kepada Allah.

Adapun pada zaman kita, kesempatan menyaksikan seseorang menghadapi sakaratul maut semakin jarang, di antaranya karena banyaknya kematian mendadak. Di sisi lain, kelalaian manusia terhadap perkara yang dapat memperbaiki hati dan keadaan mereka pun semakin besar.

Mengapa ‘Amr bin al-‘Ash Menangis?

Disebutkan:

فَبَكَى طَوِيلًا وَحَوَّلَ وَجْهَهُ إِلَى الْجِدَارِ.

“Beliau menangis lama kemudian memalingkan wajahnya ke arah dinding.”

Tangisan ini bukanlah karena buruk sangka kepada Allah.

Sebaliknya, ia merupakan rasa takut seorang mukmin ketika menghadapi perkara besar yang akan datang.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴾

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sementara hati mereka merasa takut, karena mereka mengetahui bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”

(QS. al-Mu’minun: 60)

‘Aisyah رضي الله عنها pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai ayat tersebut:

أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟

“Apakah mereka adalah orang-orang yang meminum khamar dan mencuri?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَلَّا يُقْبَلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ.

“Bukan, wahai putri ash-Shiddiq. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang berpuasa, mengerjakan salat, dan bersedekah, sedangkan mereka takut amal tersebut tidak diterima dari mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam berbagai kebaikan.”

(HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Demikianlah keadaan orang-orang saleh.

Ketika seorang pemuda memuji ‘Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه menjelang wafatnya, beliau berkata:

وَدِدْتُ أَنَّ ذٰلِكَ كَفَافٌ، لَا لِي وَلَا عَلَيَّ.

“Aku berharap seandainya semua itu hanya impas; tidak menjadi keuntungan bagiku dan tidak pula menjadi beban atasku.”

Ketakutan Orang Saleh terhadap Su’ul Khatimah

Demikian pula seorang mukmin merasa takut terhadap akhir kehidupannya.

Diriwayatkan bahwa Sufyan ats-Tsauri رحمه الله ketika menjelang wafat berkata:

وَاللَّهِ، لَذُنُوبِي أَهْوَنُ عَلَيَّ مِنْ هٰذَا، إِنِّي أَخَافُ سُوءَ الْخَاتِمَةِ.

“Demi Allah, dosa-dosaku terasa lebih ringan bagiku dibandingkan perkara ini. Sesungguhnya aku takut terhadap akhir kehidupan yang buruk.”

Karena berbagai hal itulah ‘Amr bin al-‘Ash menangis dan memalingkan wajahnya dari manusia.

Memberikan Harapan kepada Orang yang Menjelang Wafat

Putranya berkata kepadanya:

يَا أَبَتَاهُ، أَمَا بَشَّرَكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِكَذَا؟ أَمَا بَشَّرَكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِكَذَا؟

“Wahai ayahku, bukankah Rasulullah ﷺ pernah memberikan kabar gembira kepadamu dengan ini dan itu?”

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ telah memberikan banyak kabar gembira kepada ‘Amr رضي الله عنه.

Di dalamnya juga terdapat pelajaran agar orang yang sedang menghadapi kematian diberikan harapan sehingga ia berbaik sangka kepada Allah.

Anas رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ memasuki tempat seorang pemuda yang sedang menghadapi kematian.

Beliau bertanya:

كَيْفَ تَجِدُكَ؟

“Bagaimana keadaanmu?”

Pemuda tersebut menjawab:

وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَرْجُو اللَّهَ، وَإِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي.

“Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya aku berharap kepada Allah, tetapi aku juga takut terhadap dosa-dosaku.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هٰذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو، وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ.

“Tidaklah kedua hal tersebut berkumpul di dalam hati seorang hamba pada keadaan seperti ini, melainkan Allah akan memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan mengamankannya dari apa yang ia takutkan.”

(HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Tauhid adalah Bekal Terbesar

‘Amr berkata:

إِنَّ أَفْضَلَ مَا نُعِدُّ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ.

“Sesungguhnya bekal terbaik yang kami persiapkan adalah persaksian bahwa tidak ada sembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Ucapan ini menunjukkan betapa besarnya kedudukan tauhid di dalam hati seorang mukmin.

Para sahabat dahulu mendapatkan hidayah kepada tauhid setelah sebelumnya berada dalam kesesatan. Karena itu mereka benar-benar memahami besarnya nikmat Allah berupa tauhid.

Adapun kita yang menerima syahadat secara turun-temurun dari ayah dan kakek kita, terkadang tidak lagi merasakan bahwa syahadat merupakan salah satu amal saleh terbesar.

Padahal bagi para sahabat Rasulullah ﷺ, kalimat tauhid adalah tali keselamatan mereka dari neraka.

Karena itu, ia merupakan amal mereka yang paling agung dan bekal saleh terbesar yang mereka persiapkan untuk bertemu Allah.

Tiga Fase Kehidupan

‘Amr berkata:

إِنِّي قَدْ كُنْتُ عَلَى أَطْبَاقٍ ثَلَاثٍ.

“Aku telah melalui tiga keadaan.”

Ucapan ini menunjukkan kecerdasan seorang mukmin dalam mengevaluasi perjalanan hidupnya dan mengenali titik-titik terpenting di dalamnya.

Tujuannya bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi melakukan muhasabah, memperbaiki cara pandang, dan memberikan pengalaman kepada orang lain agar mereka dapat mengambil manfaat darinya.

Fase pertama adalah masa ketika beliau sangat membenci Rasulullah ﷺ.

Fase kedua adalah masa setelah Allah memasukkan Islam ke dalam hatinya hingga Rasulullah ﷺ menjadi manusia yang paling beliau cintai.

Fase ketiga adalah masa ketika beliau memegang berbagai urusan dan terlibat dalam berbagai peristiwa besar setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.

Tentang fase terakhir inilah beliau berkata:

ثُمَّ وَلِينَا أَشْيَاءَ، مَا أَدْرِي مَا حَالِي فِيهَا.

“Kemudian kami memegang berbagai urusan; aku tidak mengetahui bagaimana keadaanku berkaitan dengannya.”

Hidayah Semata-mata Milik Allah

Ucapan ‘Amr:

فَلَمَّا جَعَلَ اللَّهُ الْإِسْلَامَ فِي قَلْبِي.

“Ketika Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku.”

Mengandung pelajaran penting bahwa segala kebaikan harus dinisbatkan kepada Allah.

Hati manusia berada di tangan Allah. Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.

Renungkan perubahan ‘Amr: dahulu tidak ada manusia yang lebih ia benci daripada Rasulullah ﷺ, bahkan ia berharap dapat membunuh beliau. Namun kemudian Rasulullah ﷺ justru menjadi manusia yang paling ia cintai dan paling ia muliakan.

Akhlak Rasulullah ﷺ, kelembutan beliau, serta kebaikan pergaulan beliau dengan manusia tentu mempunyai pengaruh besar.

Namun perubahan hati yang sedemikian dahsyat pada diri orang-orang yang sebelumnya memerangi beliau menunjukkan bahwa hidayah pada hakikatnya datang dari Allah Ta‘ala.

Bukti Ketulusan Islam ‘Amr bin al-‘Ash

Ketika hendak berbaiat, ‘Amr mensyaratkan agar dosa-dosanya diampuni.

Ini menunjukkan kecerdasan beliau dalam memahami akibat sebuah perbuatan.

Beliau memahami betapa besarnya dosa kesyirikan dan betapa beratnya dosa memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Karena itulah beliau ingin mendapatkan kepastian mengenai pengampunan dosa-dosanya sebelum berbaiat.

Hal ini sekaligus menunjukkan ketulusan iman ‘Amr رضي الله عنه.

Seandainya keislamannya hanya didorong kepentingan dunia, sebagaimana tuduhan sebagian kelompok terhadapnya, tentu beliau tidak akan sedemikian mengkhawatirkan dosa-dosanya dan tidak akan mensyaratkan pengampunan sebelum berbaiat.

Cinta dan Pengagungan kepada Rasulullah ﷺ

Setelah masuk Islam, ‘Amr berkata:

وَمَا كَانَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَلَا أَجَلَّ فِي عَيْنِي مِنْهُ.

“Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah ﷺ dan tidak ada seorang pun yang lebih agung dalam pandanganku daripada beliau.”

Bahkan beliau mengatakan:

وَمَا كُنْتُ أُطِيقُ أَنْ أَمْلَأَ عَيْنَيَّ مِنْهُ إِجْلَالًا لَهُ.

“Aku tidak sanggup memandang beliau dengan sepenuh pandanganku karena begitu besarnya penghormatanku kepada beliau.”

Inilah cinta yang disertai pengagungan.

Bukan sekadar ucapan cinta, tetapi rasa cinta yang membuat seorang sahabat bahkan merasa segan untuk menatap Rasulullah ﷺ sepenuh pandangan.

Hati Para Sahabat Setelah Wafatnya Rasulullah ﷺ

Keadaan demikian dirasakan oleh mayoritas sahabat selama Rasulullah ﷺ masih hidup.

Setelah beliau wafat, kemudian muncul berbagai perubahan dan fitnah, para sahabat merasakan perubahan besar dalam hati mereka.

Anas bin Malik رضي الله عنه berkata:

وَلَمَّا نَفَضْنَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ الْأَيْدِيَ، وَإِنَّا لَفِي دَفْنِهِ، حَتَّى أَنْكَرْنَا قُلُوبَنَا.

“Belum lagi kami selesai mengibaskan tangan dari pemakaman Rasulullah ﷺ, kami sudah merasakan hati kami berubah.”

Dalam riwayat dengan redaksi ringkas:

وَإِنَّا لَفِي دَفْنِهِ حَتَّى أَنْكَرْنَا قُلُوبَنَا.

“Ketika kami masih dalam proses pemakaman beliau, kami telah merasakan hati kami berubah.”

Karena itulah ‘Amr berkata:

وَلَوْ مُتُّ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ لَرَجَوْتُ أَنْ أَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ.

“Seandainya aku meninggal dalam keadaan tersebut, aku benar-benar berharap termasuk penghuni surga.”

Bahaya Fitnah

Fase ketiga kehidupan ‘Amr digambarkan dalam perkataannya:

ثُمَّ وَلِينَا أَشْيَاءَ، مَا أَدْرِي مَا حَالِي فِيهَا.

“Kemudian kami memegang berbagai urusan; aku tidak mengetahui bagaimana keadaanku berkaitan dengannya.”

Yang beliau maksud adalah berbagai peristiwa dan fitnah yang terjadi pada masa-masa berikutnya.

Hakikat fitnah adalah ketika kebenaran bercampur dengan kebatilan sehingga manusia sulit membedakan keduanya.

Karena itulah seorang mukmin merasa takut terhadap sikapnya ketika menghadapi fitnah.

Seseorang tidak hanya perlu khawatir ketika ikut terjun di dalam fitnah. Bahkan sikap diam, menjauh, atau tidak berpihak pun membutuhkan ilmu dan pertimbangan syar‘i.

Inilah sebabnya ‘Amr رضي الله عنه, meskipun seorang sahabat yang agung, tetap berkata dengan penuh ketakutan:

مَا أَدْرِي مَا حَالِي فِيهَا.

“Aku tidak mengetahui bagaimana keadaanku berkaitan dengannya.”

Betapa jauh ucapan ini dari sikap orang yang merasa pasti bahwa seluruh amalnya telah benar.

Wasiat Terakhir ‘Amr bin al-‘Ash

Pada akhir kehidupannya beliau berwasiat:

فَإِذَا أَنَا مُتُّ فَلَا تَصْحَبْنِي نَائِحَةٌ وَلَا نَارٌ.

“Apabila aku meninggal, janganlah wanita peratap dan api mengiringi jenazahku.”

Kemudian:

فَإِذَا دَفَنْتُمُونِي فَشُنُّوا عَلَيَّ التُّرَابَ شَنًّا.

“Apabila kalian telah menguburkanku, tuangkanlah tanah kepadaku dengan perlahan.”

Lalu beliau meminta keluarganya tetap berada di sekitar kuburnya:

ثُمَّ أَقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ وَيُقْسَمُ لَحْمُهَا.

“Kemudian tetaplah berada di sekitar kuburku selama kira-kira waktu yang diperlukan untuk menyembelih seekor unta dan membagikan dagingnya.”

Untuk apa?

Beliau menjelaskan:

حَتَّى أَسْتَأْنِسَ بِكُمْ، وَأَنْظُرَ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّي.

“Agar aku merasa tenteram dengan keberadaan kalian dan agar aku dapat melihat jawaban apa yang akan aku berikan kepada para utusan Rabb-ku.”

Ucapan ini menunjukkan bahwa ‘Amr رضي الله عنه tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Tangisannya bukan tangisan orang yang berputus asa.

Ia adalah tangisan seorang mukmin yang berada di antara khauf—takut kepada Allah—dan raja’—mengharapkan rahmat-Nya.

Ia takut terhadap kekurangan amalnya.

Ia takut terhadap dosa-dosanya.

Ia takut terhadap fitnah yang pernah dilaluinya.

Ia takut terhadap akhir kehidupannya.

Namun pada saat yang sama ia tetap berharap kepada rahmat Allah.

Karena seandainya beliau berputus asa, tentu beliau tidak akan tetap berwasiat dengan ketaatan kepada Allah pada detik-detik terakhir kehidupannya.

Pelajaran Besar dari Mimbar Kematian

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa seorang mukmin tidak seharusnya tertipu oleh amalnya.

Semakin seseorang mengenal Allah, semakin besar rasa takutnya terhadap kekurangan dirinya.

Semakin seseorang mengenal akhirat, semakin kecil dunia dalam pandangannya.

Dan semakin dekat seseorang kepada kematian, semakin jelas baginya apa yang sebenarnya berharga.

Di penghujung kehidupan, ‘Amr bin al-‘Ash رضي الله عنه tidak membanggakan kecerdasannya, kepemimpinannya, keberanian militernya, kedudukannya, ataupun berbagai keberhasilan duniawinya.

Yang beliau sebut pertama justru:

إِنَّ أَفْضَلَ مَا نُعِدُّ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ.

“Sesungguhnya bekal terbaik yang kami persiapkan adalah persaksian bahwa tidak ada sembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Inilah pesan dari mimbar kematian:

Tauhid adalah bekal terbesar.

Amal membutuhkan keikhlasan dan penerimaan Allah.

Seorang mukmin tidak boleh merasa aman dari fitnah dan su’ul khatimah.

Dan sebanyak apa pun dosa masa lalu, pintu taubat tetap terbuka selama kehidupan masih ada.

Sebab Rasulullah ﷺ telah bersabda:

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa Islam menghapus apa yang terjadi sebelumnya?”

Maka orang yang dahulu sangat membenci Rasulullah ﷺ dapat berubah menjadi orang yang berkata:

وَمَا كَانَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.

“Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah ﷺ.”

Dan orang yang dahulu berharap dapat membunuh beliau akhirnya tidak sanggup menatap wajah beliau sepenuh pandangan karena begitu besar cinta dan pengagungannya.

Itulah hidayah.

Hidayah bukan sekadar perubahan pengetahuan, tetapi perubahan hati, cinta, tujuan hidup, dan arah perjalanan menuju Allah.

Semoga Allah menetapkan hati kita di atas tauhid dan Sunnah hingga akhir kehidupan serta menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالتَّوْحِيدِ وَالسُّنَّةِ، وَأَحْسِنْ خَاتِمَتَنَا، وَاجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ.

“Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Akhirilah kehidupan kami di atas tauhid dan Sunnah. Karuniakanlah kepada kami akhir kehidupan yang baik, dan jadikanlah ucapan terakhir kami di dunia: Lā ilāha illallāh.”

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button