Tatsqif

Sepuluh Amalan Yang Pahalanya Terus Mengalir Setelah Seseorang Meninggal Dunia Bag. 2

Sepuluh Amalan

Yang Pahalanya Terus Mengalir Setelah Seseorang Meninggal Dunia

Karya

Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin bin Hamad al-Badr hafizhahullāh

Alih Bahasa:

Sadnanto Tarnya Sarngit

Amalan Pertama: Mengajarkan Ilmu

Telah disebutkan dalam hadis Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Ada tujuh perkara yang pahalanya terus mengalir bagi seorang hamba setelah kematiannya, sementara ia berada di dalam kuburnya: orang yang mengajarkan ilmu…”.

Amalan ini juga disebutkan dalam hadis Abu Umamah Al-Bahili dan Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhuma.

Hal itu karena mengajarkan ilmu yang bermanfaat termasuk amalan saleh yang paling agung dan bentuk pendekatan diri (kepada Allah) yang paling utama. Mengajarkan ilmu merupakan tugas seluruh para nabi, karena dengannyalah manusia diberi pemahaman tentang agama mereka, dikenalkan kepada Rabb dan Sesembahan mereka, serta ditunjukkan ke jalan-Nya yang lurus. Melalui ilmu pula, kebenaran dapat dibedakan dari kebatilan, jalan petunjuk dari kesesatan, serta yang halal dari yang haram.

Dari sini terlihat jelas betapa agungnya keutamaan para ulama yang memberi nasihat dan para da’i yang ikhlas. Mereka adalah pelita bagi hamba-hamba Allah, mercusuar bagi negeri, pilar penopang umat, dan sumber mata air hikmah. Kehidupan mereka adalah keberkahan/keuntungan, sedangkan kematian mereka adalah musibah. Mereka mengajari orang yang bodoh, mengingatkan orang yang lalai, serta membimbing orang yang sesat. Tidak mungkin adanya gangguan dan keburukan yang datang dari mereka.

Ketika salah seorang dari ahli ilmu meninggal dunia, ilmunya tetap ada di tengah-tengah manusia sebagai warisan, karya-karyanya dan perkataan-perkataannya tetap beredar di antara mereka; mereka mengambil manfaat darinya dan menimba ilmu darinya, sementara ia berada di dalam kuburnya, pahalanya terus mengalir dan ganjaran kebaikan terus menyertainya, sebagaimana sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang mengajarkan satu ayat dari Kitabullah, maka ia mendapatkan pahalanya selama ayat tersebut dibaca“([1]).

Maka seorang alim, meskipun telah meninggal dunia, sesungguhnya buku-bukunya, rekaman-rekaman pelajarannya, ceramah-ceramahnya, serta khutbah-khutbahnya yang bermanfaat tetap ada; yang diambil manfaatnya oleh generasi-generasi yang tidak pernah hidup sezaman dengannya dan tidak ditakdirkan untuk bertemu dengannya.

Dan barangsiapa memperhatikan keadaan para ulama seperti ahli hadis dan fikih, walaupun mereka telah berada di bawah tanah, namun di alam dunia mereka seolah-olah masih hidup di tengah-tengah manusia; mereka tidak hilang kecuali jasad mereka saja, sedangkan sebutan tentang mereka, perkataan mereka, serta pujian bagi mereka tidak pernah terputus. Inilah kehidupan yang sebenarnya, hingga hal tersebut dianggap sebagai kehidupan kedua; sebagaimana dikatakan oleh Al-Mutanabbi:

Mengingat kebaikan seorang pemuda adalah kehidupan keduanya, dan kebutuhannya

terhadap apa yang telah terlewat darinya, serta kelebihan-kelebihan hidup adalah kesibukan semata([2])

Ibnul Jauzi raḥimahullāh berkata: “Apabila seseorang mengetahui bahwa kematian akan memutuskan amalnya, maka ia akan beramal semasa hidupnya dengan hal-hal yang pahalanya tetap berlanjut setelah kematiannya, [seperti] menyusun suatu karya ilmiyah; karena sesungguhnya karangan seorang alim itu bagaikan anaknya yang kekal”([3]).

Setiap orang yang berkontribusi dalam mencetak buku-buku yang bermanfaat, menyebarkan risalah-risalah dan karya-karya tulis yang berfaedah, maka ia mendapatkan bagian yang melimpah dari pahala yang agung tersebut, yang terus mengalir bagi seorang hamba semasa hidupnya dan setelah kematiannya.

Sesungguhnya Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

«مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا»

“Barangsiapa mengajak kepada suatu petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun” ([4]).

Termasuk ilmu bermanfaat yang pahalanya terus mengalir bagi seorang hamba setelah kematiannya adalah: membeli buku-buku yang bermanfaat dan berfaedah, lalu mewakafkannya atau memberikannya kepada orang yang dapat mengambil manfaat darinya, baik dari kalangan penuntut ilmu, para peneliti, maupun para pembaca. Selama buku-buku tersebut masih ada, maka ia menjadi sedekah jariyah yang pahalanya terus diperbarui bagi penulisnya dan bagi orang yang mewakafkannya.

Termasuk pula dalam hal ini: membuat buku-buku elektronik dan menyebarkannya melalui aplikasi baca, aplikasi pencarian ilmiah, dan sejenisnya. Sebab buku-buku dan program-program elektronik itu sama seperti buku cetak dalam hal pemanfaatan dan penyebaran ilmu, bahkan bisa jadi lebih luas jangkauannya dan lebih besar manfaatnya.

Amalan Kedua: Mengalirkan Sungai

Telah disebutkan sebelumnya dalam hadis Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan yang pahalanya terus menyusul seorang mukmin setelah ia meninggal dunia adalah…” dan di dalamnya beliau bersabda: “…atau sungai yang ia alirkan…”.

Dan disebutkan pula dalam hadis Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Atau mengalirkan sungai”.

Yang dimaksud dengan mengalirkan sungai adalah: menggali saluran-saluran air dari mata air dan sungai, agar air dapat sampai ke tempat tinggal manusia dan ke ladang-ladang mereka; sehingga manusia dapat melepas dahaga, tanaman dapat disirami, dan hewan ternak dapat minum.

Betapa besar kebaikan kepada sesama manusia yang terkandung dalam amalan mulia semacam ini, dan betapa besar kelapangan yang diberikan kepada mereka; yaitu dengan memudahkan diperolehnya air yang menjadi sumber kehidupan, bahkan ia merupakan unsur terpenting penopang kehidupan!

Termasuk yang serupa dengan amalan ini adalah: mengalirkan air melalui pipa-pipa saluran menuju tempat tinggal manusia dan tempat-tempat yang mereka butuhkan.

Termasuk pula dalam hal ini: menyediakan tempat pendingin air minum di tempat-tempat berkumpulnya manusia dan di tempat-tempat yang mereka butuhkan.

Dan telah sahih dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

«وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ»

“Dan engkau menuangkan air dari embermu ke dalam ember saudaramu adalah sedekah bagimu”([5]).

Bahkan ketika Sa‘d bin Ubadah raḍiyallāhu ‘anhu bertanya kepada Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tentang sedekah yang paling utama, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjawab:

«سَقْيُ الْمَاءِ»

“Memberi minum air”([6]).

  1. ( (Diriwayatkan oleh Abu Sahl Al-Qatthan dalam Hadits-nya (4/243), dan sanadnya dinyatakan baik oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah (1335). ↑
  2. ( (Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah karya Ibnul Qayyim (1/387). ↑
  3. ( (Shaid al-Khāthir (hlm. 34) dengan sedikit perubahan redaksi. ↑
  4. ( (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (no. 2674). ↑
  5. ( (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam al-Jami‘ (no. 1956), dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah (no. 572). ↑
  6. ( (Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam Sunan-nya (no. 3664), dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib (no. 962). ↑

Sadnanto. BA. MA

Kandidat Doktor Ulumul Hadis Universitas Islam Madinah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button