Tatsqif

60 Detik untuk Hati – 20 Nasihat di Tengah Kesibukan Zaman

**60 Detik untuk Hati** — 20 Nasihat di Tengah Kesibukan Zaman

Naskah Dai 1 — Jangan Biarkan HP Mencuri Umurmu
Pernahkah kita membuka HP hanya ingin melihat satu pesan, lalu tanpa terasa setengah jam berlalu?
Allah bersumpah dengan waktu:
﴿وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ﴾
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–2)
Hasan al-Bashri رحمه الله berkata:
«يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ»
“Wahai anak Adam, sesungguhnya dirimu hanyalah kumpulan hari. Setiap satu hari berlalu, berlalu pula sebagian dari dirimu.”
HP sebenarnya bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika alat yang seharusnya kita kendalikan justru mengendalikan kita.
Jangan hanya menghitung berapa persen baterai HP yang tersisa. Sesekali tanyakan: berapa banyak umur kita yang sudah habis, dan untuk apa?

Naskah Dai 2 — Tidak Semua yang Viral Layak Dibagikan
Di zaman media sosial, satu sentuhan jari bisa menyebarkan berita kepada ribuan orang. Karena itu, seorang muslim tidak boleh berpikir, “Yang penting saya cuma meneruskan.”
Allah berfirman:
﴿إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا﴾
“Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Rasulullah ﷺ bersabda:
«كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan setiap yang ia dengar.”
(HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya)
Dulu berita menyebar melalui lisan. Sekarang berita menyebar melalui jempol.
Maka sebelum menekan tombol “share”, berhentilah beberapa detik: Apakah ini benar? Apakah bermanfaat? Dan apakah Allah ridha saya ikut menyebarkannya?

Naskah Dai 3 — Jangan Ukur Hidupmu dari Hidup Orang Lain
Salah satu penyakit zaman media sosial adalah kita melihat kehidupan orang lain, lalu merasa hidup kita kurang.
Dia punya rumah, kita belum. Dia menikah, kita belum. Dia berhasil, kita masih berjuang.
Allah berfirman:
﴿وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ﴾
“Janganlah kalian mengangan-angankan apa yang Allah lebihkan kepada sebagian kalian atas sebagian yang lain.”
(QS. An-Nisa’: 32)
Ingat: media sosial biasanya memperlihatkan bagian terbaik kehidupan seseorang, bukan seluruh kehidupannya.
Jangan membandingkan ujian kita dengan nikmat yang mereka tampilkan.
Allah tidak akan bertanya mengapa hidupmu tidak seperti dia. Allah akan bertanya apa yang kamu lakukan dengan nikmat yang diberikan kepadamu.

4. AI Semakin Pintar, Jangan Sampai Kita Malas Belajar

Hari ini teknologi bisa menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. AI bisa merangkum buku, menerjemahkan bahasa, bahkan membantu menulis. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh terjadi: teknologi semakin pintar, sementara kita semakin malas belajar.

Allah berfirman:

﴿قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾

“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar: 9)

Teknologi adalah alat, bukan pengganti ilmu yang tertanam dalam diri.

Gunakan teknologi untuk mempercepat jalan menuju ilmu, bukan untuk berhenti berpikir.

Jangan hanya menjadi orang yang pandai mencari jawaban. Jadilah orang yang memahami jawaban.

—

5. Sibuk Belum Tentu Produktif

Ada orang yang sejak pagi sampai malam sibuk. Pesan dibalas, rapat diikuti, HP tidak pernah berhenti berbunyi. Tetapi ketika malam tiba, ia bertanya: “Sebenarnya hari ini saya menghasilkan apa?”

Rasulullah ﷺ bersabda:

«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ»

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.”
(HR. Muslim)

Islam tidak hanya mengajarkan kita untuk melakukan banyak hal, tetapi memilih hal yang paling bermanfaat.

Maka setiap pagi tanyakan: Apa pekerjaan terpenting yang harus saya selesaikan hari ini?

Jangan sampai kita kelelahan mengejar banyak hal, tetapi kehilangan hal yang paling penting.

—

6. Jangan Korbankan Keluarga demi Dunia

Kita bekerja untuk keluarga. Kita mencari nafkah untuk keluarga. Tetapi jangan sampai karena terlalu sibuk mencari sesuatu untuk keluarga, kita justru tidak punya waktu bersama keluarga.

Allah berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Keluarga tidak hanya membutuhkan biaya hidup. Anak membutuhkan pendidikan, teladan, percakapan dan doa orang tuanya.

Jangan sampai rumah kita penuh fasilitas, tetapi miskin komunikasi; banyak koneksi internet, tetapi sedikit koneksi hati.

—

7. Jangan Remehkan Dosa Kecil

Kadang kita berkata, “Ah, cuma sekali.” “Cuma lihat.” “Cuma komentar.” “Cuma bercanda.”

Tetapi Rasulullah ﷺ mengingatkan:

«إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ»

“Jauhilah dosa-dosa yang dianggap remeh.”
(HR. Ahmad)

Dosa kecil yang terus dikumpulkan tidak lagi kecil.

Sebagaimana api besar dapat bermula dari percikan yang kecil, kerusakan hati juga bisa bermula dari dosa yang terus diremehkan.

Jangan bertanya: seberapa kecil dosa ini? Tetapi tanyakan: kepada siapa saya bermaksiat?

—

8. Siapa Kita Saat Tidak Ada yang Melihat?

Menjadi baik di depan manusia itu mudah. Yang lebih berat adalah tetap baik ketika sendirian.

Allah berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabb mereka meskipun tidak melihat-Nya, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Mulk: 12)

Di zaman sekarang, seseorang bisa sendirian bersama HP-nya dan membuka apa saja tanpa diketahui keluarganya.

Tetapi seorang mukmin sadar: layar mungkin bisa disembunyikan dari manusia, tetapi tidak dari Allah.

Kualitas iman kita bukan hanya terlihat dari siapa kita di depan orang banyak, tetapi juga siapa kita ketika pintu telah tertutup.

—

9. Rezekimu Tidak Akan Tertukar

Kadang kita gelisah melihat orang lain lebih cepat berhasil. Teman sudah memiliki rumah. Rekan sudah naik jabatan. Usaha orang lain berkembang.

Allah berfirman:

﴿وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا﴾

“Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”
(QS. Hud: 6)

Tugas kita bukan iri terhadap bagian orang lain. Tugas kita adalah bekerja, berdoa, menempuh sebab yang halal dan bertawakal.

Apa yang Allah tetapkan untuk kita tidak akan salah alamat.

Maka jangan kotori perjalanan mencari rezeki dengan hasad, apalagi dengan yang haram.

—

10. Jangan Terlalu Sering Melihat ke Atas

Media sosial membuat kita setiap hari melihat orang yang lebih kaya, lebih terkenal, lebih sukses dan lebih banyak fasilitasnya.

Rasulullah ﷺ memberi resep:

«انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ»

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian.”
(HR. Muslim)

Bukan berarti kita tidak boleh bercita-cita tinggi. Tetapi dalam urusan nikmat dunia, jangan terus melihat apa yang belum kita miliki.

Lihat kembali kesehatan, keluarga, makanan, keamanan dan iman yang Allah berikan.

Kadang kita merasa miskin bukan karena sedikit nikmat, tetapi karena terlalu sering melihat nikmat orang lain.

—

11. Tidak Semua Komentar Harus Dibalas

Ada komentar yang salah. Ada yang menyakitkan. Bahkan ada yang sengaja memancing emosi.

Tetapi tidak semua komentar membutuhkan jawaban.

Allah menyebut sifat عباد الرحمن:

﴿وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا﴾

“Apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”
(QS. Al-Furqan: 63)

Kedewasaan bukan kemampuan memenangkan semua perdebatan.

Kadang kemenangan terbesar adalah mampu menahan diri untuk tidak masuk ke perdebatan yang tidak bermanfaat.

Tidak membalas bukan selalu berarti kalah. Terkadang itu tanda bahwa kita tahu mana pertempuran yang memang layak diperjuangkan.

—

12. Jaga Jempolmu

Dulu orang berhati-hati dengan lisannya. Sekarang kita juga harus berhati-hati dengan jempol kita.

Allah berfirman:

﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾

“Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)

Tulisan juga merupakan ucapan seseorang.

Satu komentar bisa menyakiti. Satu unggahan bisa menjadi fitnah. Satu informasi palsu bisa tersebar kepada ribuan orang.

Dan jejak digital terkadang hilang dari layar kita, tetapi tidak hilang dari catatan amal.

Sebelum jempol menekan “kirim”, biarkan iman bertanya terlebih dahulu: apakah saya siap mempertanggungjawabkan tulisan ini di hadapan Allah?

—

13. Terkenal Bukan Berarti Mulia

Hari ini angka mudah membuat manusia tertipu: jumlah followers, likes, viewers dan subscribers.

Tetapi Allah tidak menetapkan kemuliaan berdasarkan jumlah pengikut.

Allah berfirman:

﴿إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Bisa jadi seseorang tidak dikenal manusia, tetapi namanya mulia di sisi Allah.

Dan bisa jadi seseorang dikenal jutaan manusia, tetapi tidak memiliki kedudukan di sisi-Nya.

Jangan terlalu sibuk membangun personal branding sampai lupa membangun amal yang Allah cintai.

—

14. Mengapa Hati Tetap Sepi?

Kontak kita ribuan. Grup kita puluhan. Setiap hari ada notifikasi. Tetapi mengapa terkadang hati tetap terasa sepi?

Karena hati mempunyai kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh manusia.

Allah berfirman:

﴿أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Ada ruang di dalam hati yang tidak bisa diisi oleh followers, hiburan, perjalanan ataupun harta.

Ia hanya tenang ketika dekat dengan Penciptanya.

Ketika hati terasa kosong, jangan selalu mencari layar untuk menghiburnya. Mungkin yang dibutuhkan adalah sajadah untuk menghidupkannya.

—

15. Jangan Menunggu Nanti

Nanti kalau sudah tua saya akan rajin ibadah.

Nanti kalau pekerjaan sudah ringan saya akan belajar.

Nanti kalau sudah mapan saya akan berubah.

Masalahnya, kita tidak pernah mendapat jaminan akan bertemu dengan kata “nanti.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Al-Bukhari)

Kesempatan terbaik untuk bertaubat adalah ketika masih bisa bertaubat.

Kesempatan terbaik memulai kebaikan adalah sekarang.

Jangan menunggu hidup menjadi sempurna untuk menjadi lebih baik.

—

16. Ketika Hidup Tidak Sesuai Rencana

Kita sudah membuat rencana. Sudah berusaha. Sudah menghitung semuanya. Tetapi hasilnya berbeda.

Allah berfirman:

﴿وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ﴾

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Tidak semua pintu yang tertutup adalah musibah.

Terkadang Allah menutup satu pintu karena di baliknya ada sesuatu yang tidak baik bagi kita.

Kita melihat hari ini. Allah mengetahui hari ini, besok dan seluruh masa depan kita.

Berencana adalah tugas kita. Berusaha adalah kewajiban kita. Tetapi hasil akhirnya tetap milik Allah.

—

17. Sibuk Memperbaiki Orang Lain

Kita mudah melihat kesalahan orang lain. Di media sosial bahkan kita bisa mengoreksi seseorang yang tinggal ribuan kilometer dari kita.

Tetapi Allah mengingatkan:

﴿أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ﴾

“Apakah kalian menyuruh manusia melakukan kebaikan sementara kalian melupakan diri kalian sendiri?”
(QS. Al-Baqarah: 44)

Menasehati orang lain adalah kebaikan. Tetapi jangan sampai sibuk memperbaiki seluruh dunia sementara hati sendiri terbengkalai.

Sebelum bertanya, “Mengapa dia seperti itu?”, sesekali tanyakan: “Apa yang hari ini harus saya perbaiki dari diri saya?”

—

18. Keluarga Tidak Hanya Membutuhkan Uang

Seorang ayah mungkin berkata, “Saya bekerja keras ini semuanya untuk keluarga.”

Itu mulia. Tetapi Rasulullah ﷺ bersabda:

«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي»

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.”
(HR. At-Tirmidzi)

Anak-anak tidak hanya mengingat apa yang kita belikan untuk mereka.

Mereka juga mengingat apakah ayah mendengarkan cerita mereka, apakah ibu mendapatkan perhatian, dan bagaimana suasana di rumah.

Carilah rezeki untuk keluarga, tetapi jangan sampai keluarga kehilangan dirimu karena engkau terlalu sibuk mencari rezeki.

—

19. Berbeda Tidak Harus Bermusuhan

Hari ini perbedaan kecil mudah berubah menjadi pertengkaran besar, terlebih di media sosial.

Allah berfirman:

﴿ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ﴾

“Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)

Kebenaran memang harus disampaikan. Kesalahan perlu diluruskan.

Tetapi kebenaran tidak membutuhkan akhlak buruk untuk membelanya.

Imam Asy-Syafi‘i رحمه الله berkata:

«مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا إِلَّا أَحْبَبْتُ أَنْ يُوَفَّقَ وَيُسَدَّدَ وَيُعَانَ»

“Aku tidak pernah berdiskusi dengan seseorang kecuali aku berharap ia diberi taufik, dibimbing dan ditolong.”

Tujuan diskusi bukan menghancurkan lawan, tetapi menemukan dan menjelaskan kebenaran.

—

20. Apa yang Tersisa Setelah Kita Pergi?

Suatu hari HP kita akan berhenti digunakan. Jabatan kita akan digantikan. Rumah kita akan ditempati orang lain. Dan nama kita perlahan hanya menjadi kenangan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Apabila manusia meninggal, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Maka jangan hanya bertanya: “Apa yang sudah saya miliki?”

Tanyakan juga:

“Apa yang sudah saya tinggalkan yang pahalanya masih berjalan ketika saya sudah berada di dalam kubur?”

Itulah investasi yang paling panjang usianya.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button