Keluarga

HP untuk Anak di Rumah?

HP untuk Anak di Rumah?

Belakangan ini, makin banyak sekolah yang menerapkan aturan tegas dengan melarang atau membatasi secara ketat penggunaan HP selama jam belajar. Tujuannya sangat baik sih, agar anak-anak fokus belajar, tidak terlalu terpapar distraksi dr HP, dan terbiasa berinteraksi sosial di lingkungan sekolah. Bagus banget.

Namun, sebagai ortu mari sejenak kita bertanya, “Bagaimana dengan rumah kita?”

Ironis sih, di sekolah aturan ditegakkan sedemikian rupa, namun saat tiba di rumah, anak-anak diberikan kebebasan menggunakan gawai bahkan tanpa pendampingan. Padahal, benteng utama pendidikan anak itu ya di rumah, sekolah itu adalah pelengkap. Pendidik utamanya adalah orang tuanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan para orang tua untuk membentengi keluarganya,
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…”

Sahabat Nabi yang bernama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menjelaskan maksud ayat ini,
“Ajarilah mereka ilmu kebaikan dan ajarilah adab kpd mereka.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Tabari dalam Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān 23/491 dan Al-Hakim no. 3828)

Menjaga anak dari api neraka di zaman ini termasuk berusaha menjaga pandangan, akal, dan hati mereka dari paparan konten yang bisa merusak moral dan akidah.

Rasulullah juga ﷺ menegaskan posisi sentral ayah dan ibu dalam rumah tangga, beliau bersabda,
«كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ، وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْهُمْ»
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya… Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan ditanya tentang mereka, dan seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya serta anak-anaknya dan dia akan ditanya tentang mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam no. 7138 dan Muslim no. 1829)

Sebagai ortu kita perlu ingat bahwa kelak kita akan ditanyai secara mendetail tentang tanggung jawab kita, nabi bersabda,
«إِنَّ اللَّهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ: أَحَفِظَ أَمْ ضَيَّعَ، حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ»
“Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin atas apa yang diamanahkan kepadanya. Apakah ia menjaganya atau justru menyia-nyiakannya? Hingga seorang laki-laki akan ditanya tentang keluarganya.” (HR. Ibnu Hibban no. 4493 dan An-Nasa’i dalam As-Sunan al-Kubrā no. 9128)

Sahabat nabi yang bernama Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma pun pernah berpesan,
“Ajarilah anakmu adab, karena sungguh engkau akan dimintai pertanggungjawaban tentang anakmu, adab apa yang telah kau ajarkan dan ilmu apa yang telah kau berikan kepadanya? Anakmu pun kelak akan ditanya tentang baktinya dan ketaatannya kepadamu.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Īmān 11/135)

Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah menulis,
“Anak adalah amanah di tangan kedua orang tuanya. Hatinya yang masih suci laksana permata berharga yang masih polos tanpa ukiran maupun gambar. Hati itu siap menerima goresan apa pun dan condong ke mana pun diarahkan. Jika ia dibiasakan dan diajarkan pada kebaikan, ia akan tumbuh di atas kebaikan itu dan bahagia di dunia maupun akhirat. Namun jika ia dibiasakan berbuat buruk dan dibiarkan terlantar begitu saja layaknya hewan ternak, ia akan celaka dan binasa, dan dosanya pun dipikul oleh walinya (ortu/pengasuhnya).” (Lihat: Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn 3/72)

Ketika penggunaan HP dibiarkan tanpa aturan, maka sejatinya kita tengah menempatkan HP itu untuk “mengukir permata” hati anak kita setiap harinya. Sayangnya kita tidak tahu seliar apa nanti hasilnya? Olehnya sebagai orang tua, sesibuk apapun kita kita tidak boleh A-B-A-I.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah menjabarkan dampak buruk dari sikap abai orang tua,
“Barang siapa yang menelantarkan pendidikan anaknya, tidak mengajarinya apa yang bermanfaat baginya dan membiarkannya begitu saja tanpa aturan, sungguh ia telah berbuat seburuk-buruk keburukan padanya. Mayoritas kerusakan anak-anak itu bersumber dari kelalaian orang tua, pembiaran mereka, serta keengganan mengajarkan kewajiban-kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Mereka menyia-nyiakannya saat kecil, hingga anak-anak itu tidak membawa manfaat bagi diri mereka sendiri dan tidak pula bagi orang tuanya kelak saat dewasa.” (Lihat : Tuḥfat al-Mawdūd bi Aḥkām al-Mawlūd 1/229)

Beliau juga mengingatkan,
“Anak kecil meskipun belum masuk kategori taklif (beban syariat), namun orang tuanya (walinya) tetap terkena taklif; tidak boleh bagi orang tua membiarkannya terbiasa dengan hal-hal yang terlarang, karena jika terbiasa, akan sangat sulit baginya untuk melepaskannya kelak saat dewasa.” (1/242)

Sesama orang tua, saya ingin mengingatkan,
1. Ayo tetapkan batasan waktu (screen time) yang tegas dan jelas.
2. Ciptakan zona/waktu bebas gadget, seperti di meja makan atau kamar tidur saat malam hari, atau saat subuh sampai dengan terbit matahari, atau hard stop gawai tepat pukul 9 malam.
3. Beri keteladanan, ini lebih ampuh dari pada ngomel panjang lebar. Letakkan gawai kita saat sedang bicara dengan anak2 atau saat sedang menemani mereka. Ini memang tantangan di era WFA, teman2 pekerja remote pasti mengeluh. Tapi, ini harus kita usahakan, bahkan kita paksakan. Minimal kita memberi atensi penuh saat dibutuhkan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menolong kita, para orang tua yang berharap anak2 kita jauh lebih baik dari pada diri kita. Amin.

Fahmi Alfian, Lc., M.A.

Kandidat Doktor Sunnah, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button