Keluarga

Ingatkan Muslimah Kita

INGATKAN MUSLIMAH KITA

☷ Daftar Isi Artikel

Menjaga Kemuliaan Perempuan yang Telah Allah Muliakan dengan Islam

Pendahuluan: Wahai Muslimah, Ingatlah Kemuliaanmu

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menurunkan Islam sebagai agama yang sempurna, membawa petunjuk bagi seluruh manusia, serta mengangkat derajat perempuan dari berbagai bentuk kezaliman dan penghinaan. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang melalui ajaran dan keteladanannya mengingatkan umat manusia tentang hak-hak perempuan, memuliakan para ibu, menyayangi anak-anak perempuan, memperhatikan saudari, dan memerintahkan para suami untuk memperlakukan istri dengan baik.

Wahai kaum muslimin, ingatkanlah muslimah-muslimah kita tentang betapa mulianya kedudukan mereka di dalam Islam. Ingatkanlah putri-putri kita agar menjaga kehormatan dan agamanya. Ingatkanlah ibu-ibu kita tentang besarnya pahala dan kedudukan mereka. Ingatkanlah saudari-saudari kita agar selalu berada di atas jalan ketaatan. Ingatkanlah istri-istri kita dengan penuh kasih sayang, bukan dengan penghinaan dan kekerasan. Sebab perempuan bukanlah makhluk yang boleh direndahkan, melainkan hamba Allah yang memiliki hak, kewajiban, dan kesempatan memperoleh kemuliaan di sisi-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ayat ini mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah jenis kelamin, keturunan, kekayaan, ataupun kedudukan sosial, melainkan ketakwaannya kepada Allah. Seorang muslimah yang beriman, menjaga kehormatan, mendirikan salat, memelihara akhlak, dan menjalankan perintah Allah adalah perempuan yang sedang meniti jalan kemuliaan.

1. Perempuan pada Zaman Jahiliah: Ketika Kelahiran Anak Perempuan Dipandang sebagai Aib

Sebelum datangnya Islam, sebagian masyarakat Arab pada masa jahiliah memiliki pandangan yang sangat buruk terhadap perempuan. Dalam lingkungan tertentu, kelahiran anak perempuan dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Ada orang yang merasa kecewa ketika dikaruniai anak perempuan, bahkan sampai menyembunyikan diri dari masyarakat karena rasa malu. Sebagian mereka melakukan perbuatan yang jauh lebih kejam, yaitu menguburkan bayi perempuan hidup-hidup. Praktik ini memang tidak dilakukan oleh seluruh masyarakat Arab, tetapi keberadaannya menunjukkan betapa buruk sebagian tradisi jahiliah terhadap perempuan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan keadaan mereka:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

“Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar tentang kelahiran anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah.” (QS. An-Nahl: 58).

Allah juga berfirman:

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ ۝ بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ

“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh?” (QS. At-Takwir: 8–9).

Betapa mengerikannya keadaan tersebut. Anak perempuan yang seharusnya disambut dengan kasih sayang justru dipandang sebagai beban. Padahal dia tidak pernah memilih untuk dilahirkan sebagai perempuan dan tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Al-Qur’an mengecam kejahatan tersebut dan menegaskan bahwa mereka yang menjadi korban kezaliman tidak dilupakan oleh Allah.

Selain itu, dalam sebagian kebiasaan jahiliah, perempuan dapat diperlakukan sebagai bagian dari harta warisan. Mereka tidak selalu mempunyai kebebasan untuk menentukan pernikahannya, sementara hak kepemilikan dan hak waris mereka dapat diabaikan. Oleh sebab itu, ketika Islam datang, Islam tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga memperbaiki berbagai bentuk kezaliman sosial yang menimpa perempuan.

2. Islam Datang Membawa Kemuliaan bagi Perempuan

Islam datang dengan membawa ketentuan yang melindungi hak-hak perempuan. Anak perempuan tidak boleh dibunuh atau dihina karena jenis kelaminnya. Perempuan memperoleh hak atas harta, hak waris sesuai ketentuan syariat, mahar dalam pernikahan, dan hak diperlakukan dengan baik. Islam juga mengajarkan bahwa perempuan sebagaimana laki-laki mempunyai tanggung jawab beriman dan beramal saleh.

Allah Ta’ala berfirman:

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian pula dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit maupun banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (QS. An-Nisa: 7).

Allah juga menjanjikan pahala kepada laki-laki dan perempuan yang beriman serta beramal saleh:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97).

Oleh karena itu, wahai muslimah, jangan pernah merasa bahwa agamamu merendahkan dirimu. Justru Islam mengajarkan tanggung jawab dan kemuliaan bagi perempuan. Namun, kemuliaan tersebut harus dijaga dengan keimanan dan ketaatan. Seorang muslimah tidak cukup hanya bangga dengan identitas Islam, tetapi hendaknya berusaha menghadirkan ajaran Islam dalam pakaian, ucapan, pergaulan, keluarga, dan seluruh kehidupannya.

3. Hijab Muslimah: Perintah Allah untuk Menjaga Kehormatan

Di antara ajaran Islam yang harus selalu kita ingatkan kepada muslimah adalah kewajiban menjaga aurat dan mengenakan hijab sesuai tuntunan syariat. Hijab bukan sekadar simbol budaya, bukan pula pakaian yang dikenakan hanya pada waktu tertentu. Hijab merupakan bagian dari ketaatan seorang muslimah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ

“Katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (QS. An-Nur: 31).

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).

Wahai para muslimah, hijab hendaknya dipahami sebagai bentuk ibadah dan kepatuhan kepada Allah. Karena itu, seorang muslimah hendaknya memperhatikan agar pakaiannya menutup aurat, tidak transparan, tidak memperlihatkan lekuk tubuh, dan tidak dijadikan sarana untuk sengaja memamerkan kecantikan kepada laki-laki yang bukan mahram.

Namun, penting pula diingat bahwa seorang perempuan yang berhijab belum tentu telah menyempurnakan seluruh akhlaknya, sebagaimana seorang perempuan yang belum berhijab tidak boleh diputuskan sebagai orang yang tidak memiliki kebaikan. Kewajiban berhijab tetap harus disampaikan, tetapi nasihat hendaknya diberikan dengan ilmu, hikmah, dan kasih sayang. Jangan sampai ajakan kepada ketaatan berubah menjadi penghinaan terhadap sesama muslimah.

4. Hijab Bukan Hanya Pakaian, tetapi Juga Penjagaan Diri

Seorang muslimah tidak hanya diperintahkan menutup aurat, tetapi juga menjaga pandangan, memelihara kesucian diri, menghindari pergaulan yang diharamkan, dan menjaga lisannya. Demikian pula laki-laki Muslim diperintahkan menundukkan pandangan dan menjaga kehormatannya.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali bersama mahramnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5233).

Karena itu, seorang muslimah hendaknya menjaga kehormatannya baik dalam kehidupan nyata maupun dalam dunia digital. Jangan sampai pakaian telah menutup aurat, tetapi media sosial dipenuhi dengan perilaku yang bertentangan dengan adab Islam. Demikian pula laki-laki wajib menjaga pandangannya dan tidak mengganggu atau melecehkan perempuan. Kesalahan berpakaian seseorang tidak pernah menjadi pembenaran bagi pelecehan ataupun kezaliman terhadap dirinya.

Wahai muslimah, kemajuan zaman tidak boleh membuat kita merasa malu terhadap syariat Allah. Jadikanlah teknologi sebagai sarana menyebarkan ilmu, menjaga silaturahmi, dan melakukan kebaikan. Jangan sampai keinginan memperoleh perhatian manusia menjadikan kita mengabaikan keridaan Allah.

5. Ingatkan Anak-Anak Perempuan Kita: Mereka Adalah Amanah dan Jalan Menuju Surga

Wahai para ayah dan ibu, anak perempuan bukanlah beban keluarga. Mereka adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga, dididik, disayangi, dan dibimbing menuju kebaikan. Jangan pernah membedakan kasih sayang antara anak laki-laki dan perempuan secara zalim. Jangan membuat anak perempuan merasa bahwa kelahirannya kurang diharapkan atau bahwa dirinya lebih rendah daripada saudara laki-lakinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ

“Barang siapa memelihara dua anak perempuan hingga keduanya dewasa, pada hari kiamat aku dan dia akan datang seperti ini.” Kemudian beliau merapatkan jari-jarinya. (HR. Muslim no. 2631).

Betapa besarnya pahala bagi orang tua yang mengasuh anak perempuannya dengan baik. Mereka bukan hanya diberi tanggung jawab memenuhi kebutuhan makan dan pakaian, tetapi juga mendidik akidahnya, mengajarkan salat, memperkenalkan Al-Qur’an, menanamkan rasa malu yang terpuji, dan membimbingnya agar tumbuh menjadi perempuan yang berilmu serta berakhlak mulia.

Ingatkan anak-anak perempuan kita tentang kehormatan dirinya sejak kecil, dengan cara yang sesuai dengan usia mereka. Ajarkan mereka bahwa kecantikan bukanlah satu-satunya ukuran nilai seorang perempuan. Ilmu, keimanan, kejujuran, rasa tanggung jawab, dan akhlak yang baik jauh lebih berharga daripada pujian manusia. Jangan hanya mempersiapkan mereka agar berhasil dalam kehidupan dunia, tetapi persiapkan pula mereka untuk menghadapi kehidupan akhirat.

6. Ingatkan Para Ibu Kita: Allah Memberikan Kedudukan yang Agung

Di antara perempuan yang paling berhak mendapatkan kebaikan kita adalah ibu. Dialah yang mengandung dengan kesulitan, melahirkan dengan perjuangan, menyusui, merawat, serta mengorbankan waktu dan tenaganya untuk anak-anaknya. Betapa banyak ibu yang kehilangan waktu istirahat demi anaknya, menahan kesedihan tanpa mengeluh, dan mendoakan anak-anaknya agar memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Kami mewasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu.” (QS. Luqman: 14).

Dalam sebuah hadis, seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang siapa yang paling berhak memperoleh perlakuan baik darinya. Beliau menjawab:

أُمُّكَ

“Ibumu.”

Orang itu kembali bertanya, lalu beliau menjawab, “Ibumu.” Ketika ditanya lagi, beliau kembali menjawab, “Ibumu.” Setelah pertanyaan berikutnya, barulah beliau menjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).

Wahai anak-anak kaum muslimin, jangan sampai kita rajin menghormati orang lain tetapi sering menyakiti hati ibu sendiri. Jangan sampai kita mampu berbicara lembut kepada teman, tetapi meninggikan suara ketika berbicara kepada ibu. Allah memerintahkan agar kita tidak mengatakan “ah” kepada kedua orang tua dan agar berbicara kepada keduanya dengan perkataan yang mulia sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra: 23.

Wahai para ibu, tugas membesarkan dan membimbing anak merupakan amanah yang agung. Jangan merasa bahwa seluruh pekerjaan rumah dan pengasuhan yang dilakukan dengan ikhlas adalah sesuatu yang tidak bernilai. Allah mengetahui setiap amal kebaikan, kesabaran, dan pengorbanan hamba-Nya. Namun, seorang ibu juga memiliki hak untuk dihormati, dibantu, diperlakukan dengan baik, dan tidak dibebani secara zalim oleh keluarganya.

7. Ingatkan Saudari-Saudari Kita: Jangan Biarkan Mereka Berjalan Tanpa Bimbingan

Seorang saudari adalah bagian dari keluarga yang wajib dijaga hak dan kehormatannya. Ia berhak memperoleh kasih sayang, pendidikan, perlindungan dari kezaliman, dan nasihat yang baik. Seorang kakak atau adik laki-laki hendaknya tidak hanya merasa memiliki wewenang atas saudari perempuannya, tetapi juga menyadari tanggung jawab untuk membantunya menjalani kehidupan dengan baik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ أَوْ ثَلَاثُ أَخَوَاتٍ أَوِ ابْنَتَانِ أَوْ أُخْتَانِ فَأَحْسَنَ صُحْبَتَهُنَّ وَاتَّقَى اللَّهَ فِيهِنَّ فَلَهُ الْجَنَّةُ

“Barang siapa memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudari perempuan, atau dua anak perempuan atau dua saudari perempuan, kemudian memperlakukan mereka dengan baik dan bertakwa kepada Allah dalam urusan mereka, maka baginya surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 1916; hadis hasan).

Hadis ini memberikan pelajaran bahwa memperlakukan saudari perempuan dengan baik merupakan amal yang sangat besar pahalanya. Hendaknya saudara laki-laki tidak meremehkan kebutuhan, pendapat, dan perasaan saudari perempuannya. Mereka sepatutnya menjadi penolong dalam kebaikan, bukan penyebab ketakutan dan penderitaan.

Wahai saudari-saudari muslimah, saling menasihatilah dalam perkara yang benar. Jangan saling menjatuhkan karena penampilan, kedudukan, keadaan rumah tangga, atau keberhasilan duniawi. Jangan menjadikan kehidupan orang lain sebagai sumber kedengkian. Jadilah saudari yang saling mendoakan, menjaga rahasia yang patut dijaga, dan saling mengingatkan ketika ada yang mulai jauh dari ketaatan kepada Allah.

8. Ingatkan Istri-Istri Kita: Pernikahan Adalah Amanah, Bukan Tempat Kezaliman

Seorang istri bukanlah pembantu yang boleh diperlakukan semena-mena, bukan pula seseorang yang kehilangan seluruh haknya setelah menikah. Islam menjadikan hubungan suami istri sebagai ikatan yang dibangun di atas tanggung jawab, kasih sayang, dan pergaulan yang baik. Seorang istri berkewajiban menunaikan hak-hak suaminya dalam perkara yang makruf, sementara suami berkewajiban memenuhi hak-hak istrinya serta melindunginya dari kezaliman.

Allah Ta’ala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut.” (QS. An-Nisa: 19).

Allah juga berfirman:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Perumpamaan pakaian ini mengandung pelajaran tentang kedekatan, perlindungan, dan kebutuhan timbal balik antara suami dan istri. Keduanya sepatutnya saling menjaga kehormatan dan tidak mudah membuka aib rumah tangga kepada orang lain. Ketika suami memiliki kekurangan, hendaknya istri menasihatinya dengan baik. Demikian pula apabila istri melakukan kesalahan, suami hendaknya membimbingnya dengan kesabaran, bukan dengan penghinaan dan tindakan sewenang-wenang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi no. 3895; hadis sahih).

Rasulullah ﷺ juga berpesan:

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Berwasiatlah kalian untuk memperlakukan perempuan dengan baik.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim; di antaranya Muslim no. 1468).

Wahai para suami, jangan hanya menuntut istri menjadi salehah sementara engkau mengabaikan kewajibanmu sebagai suami. Berikan nafkah sesuai kewajiban dan kemampuan, perlakukan dia dengan baik, ajarkan agama, dan hargai pengorbanannya. Wahai para istri, jagalah amanah rumah tangga, hormatilah suami dalam kebaikan, peliharalah kehormatan diri, dan bangunlah keluarga di atas ketaatan kepada Allah. Hendaknya keduanya saling menolong agar rumah tangga menjadi tempat bertumbuhnya iman dan ketakwaan.

9. Muslimah dan Ilmu Agama: Jangan Biarkan Mereka Jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah

Di antara kebutuhan utama setiap muslimah adalah ilmu agama. Muslimah perlu mengetahui akidah yang benar, tata cara bersuci, salat, puasa, aturan pergaulan, hak dan kewajiban dalam keluarga, serta berbagai hukum yang berkaitan dengan kehidupannya. Tanpa ilmu, seseorang mudah mengikuti kebiasaan yang salah atau terpengaruh oleh nasihat yang tidak mempunyai dasar yang benar.

Pada masa Rasulullah ﷺ, kaum perempuan sangat memperhatikan ilmu agama. Mereka meminta kepada Nabi ﷺ agar menyediakan waktu khusus untuk mengajarkan agama kepada mereka karena kaum laki-laki sering mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk belajar langsung kepada beliau. Rasulullah ﷺ pun memenuhi permintaan tersebut dan memberikan pengajaran kepada mereka. Peristiwa ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari no. 101.

Hadis ini menunjukkan pentingnya memberikan kesempatan kepada perempuan untuk memperoleh pendidikan agama. Seorang ayah hendaknya tidak hanya memperhatikan pendidikan putranya, tetapi juga pendidikan putrinya. Seorang suami hendaknya membantu istrinya mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Demikian pula seorang muslimah hendaknya memanfaatkan waktu untuk mempelajari Al-Qur’an, memahami Sunnah, menghadiri majelis ilmu yang baik, dan bertanya kepada orang berilmu tentang persoalan agamanya.

Perempuan yang berilmu dapat menjadi sebab kebaikan bagi banyak orang. Ia dapat membimbing anak-anaknya, membantu keluarganya memahami agama, mengajarkan kebaikan kepada sesama muslimah, serta menjadi teladan dalam akhlak dan ibadah. Karena itu, jangan membatasi perhatian terhadap muslimah hanya pada pakaiannya, sementara kebutuhan ilmu dan pembinaan keimanannya diabaikan.

10. Wahai Muslimah, Jagalah Salat dan Hubunganmu dengan Allah

Di antara perkara yang paling penting untuk selalu diingatkan kepada seluruh kaum muslimin, termasuk muslimah, adalah menjaga salat lima waktu. Jangan sampai seorang muslimah sangat memperhatikan penampilan lahiriah, tetapi lalai terhadap salatnya. Jangan sampai waktu berjam-jam dapat digunakan untuk menikmati hiburan dan media sosial, sementara beberapa menit untuk menghadap Allah terasa begitu berat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103).

Salat adalah kewajiban bagi laki-laki dan perempuan yang telah memenuhi syarat-syaratnya, dengan ketentuan-ketentuan khusus yang telah dijelaskan syariat. Seorang muslimah hendaknya menjaga salatnya, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta bertaubat dari dosa-dosa yang telah dilakukan. Apabila pernah meninggalkan kewajiban atau terjerumus ke dalam maksiat, jangan berputus asa dari rahmat Allah.

Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53).

Wahai muslimah, jangan biarkan masa lalu menghalangimu untuk kembali kepada Allah. Apabila sebelumnya engkau belum menjaga hijab, mulailah memperbaikinya. Apabila salatmu masih sering terlambat, berusahalah menjaganya. Apabila lisanmu masih suka membicarakan orang lain, latihlah dirimu untuk menahannya. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.

11. Jangan Kembali kepada Akhlak Jahiliah dalam Kehidupan Modern

Zaman jahiliah telah berlalu, tetapi berbagai sifat buruk yang pernah ada pada masa tersebut masih dapat muncul dalam bentuk yang berbeda. Merendahkan anak perempuan, menjadikan perempuan sekadar objek untuk dinilai berdasarkan kecantikan dan tubuhnya, menzalimi istri, melupakan hak ibu, atau memperlakukan saudari secara tidak adil adalah contoh perilaku buruk yang harus dijauhi oleh umat Islam.

Demikian pula seorang muslimah perlu berhati-hati terhadap budaya yang menjadikan ketenaran, pujian, dan penampilan sebagai tujuan utama kehidupan. Tidak semua hal yang dianggap biasa oleh masyarakat otomatis menjadi benar menurut agama. Seorang hamba hendaknya menimbang ucapan dan perbuatannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, bukan sekadar mengikuti apa yang sedang populer.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33).

Ayat ini disampaikan dalam rangkaian perintah kepada istri-istri Nabi ﷺ dan mengandung peringatan tentang perilaku tabarruj. Karena itu, seorang muslimah hendaknya tidak menjadikan penampilan dan perhiasannya sebagai sarana menarik perhatian yang dilarang syariat.

Namun, mengingatkan muslimah untuk menjaga dirinya tidak berarti mengabaikan tanggung jawab kaum laki-laki. Laki-laki pun wajib menjauhi pandangan yang haram, menjaga akhlak, tidak melakukan pelecehan, tidak menzalimi perempuan, dan menunaikan hak-hak keluarga. Perbaikan masyarakat memerlukan ketakwaan dari seluruh anggotanya, baik laki-laki maupun perempuan.

12. Tanggung Jawab Kita untuk Mengingatkan Muslimah dengan Kasih Sayang

Wahai para ayah, ingatkan putri-putrimu tentang Allah dan hari akhirat. Jangan hanya memikirkan bagaimana mereka memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang layak, tetapi pikirkan pula bagaimana mereka mengenal Tuhannya, mencintai agamanya, menjaga salatnya, dan memahami batasan halal serta haram.

Wahai para anak, ingatkan ibu-ibu kalian kepada kebaikan dengan kelembutan dan penghormatan. Jangan merasa lebih tinggi hanya karena kalian lebih muda, lebih banyak belajar, atau lebih mengenal teknologi. Hargailah jasa mereka dan ajaklah kepada kebaikan dengan cara yang santun.

Wahai para saudara, sayangilah saudari-saudari kalian. Apabila mereka melakukan kesalahan, bantulah memperbaikinya. Jangan menyebarkan aibnya, jangan mempermalukannya di hadapan orang lain, dan jangan menggunakan alasan menjaga kehormatan keluarga untuk berbuat zalim.

Wahai para suami, bimbinglah istri-istri kalian kepada ketaatan kepada Allah. Jangan hanya memerintahkan mereka mengenakan hijab, sementara kalian sendiri meremehkan salat atau melakukan berbagai kemaksiatan. Jadilah teladan dalam menjaga agama, lisan, tanggung jawab, dan akhlak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Allah juga berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132).

Dua ayat ini mengingatkan bahwa menjaga keluarga bukan hanya tentang menyediakan kebutuhan dunia, tetapi juga membimbing mereka menuju keselamatan akhirat. Nasihat agama hendaknya disampaikan dengan kesabaran, keteladanan, dan kasih sayang. Terkadang seseorang tidak langsung menerima nasihat yang diberikan. Karena itu, jangan berhenti mendoakannya dan jangan menjadikan kekasaran sebagai cara utama mengajak kepada kebenaran.

Penutup: Wahai Muslimah, Jangan Lupakan Tujuan Hidupmu

Wahai muslimah yang dimuliakan Allah, engkau adalah seorang hamba yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Engkau mungkin seorang anak perempuan yang menjadi kebahagiaan kedua orang tua, seorang ibu yang mendidik generasi, seorang saudari yang menguatkan keluarganya, atau seorang istri yang menemani suaminya dalam perjalanan kehidupan. Engkau mungkin juga sedang menuntut ilmu, bekerja dalam pekerjaan yang halal, atau menjalani ujian kehidupan yang tidak diketahui orang lain. Apa pun keadaanmu, jangan lupakan bahwa kemuliaan yang paling tinggi adalah kemuliaan karena iman dan takwa.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang Mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar…” (QS. Al-Ahzab: 35).

Pada akhir ayat tersebut, Allah menjanjikan:

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35).

Betapa indahnya janji Allah ini. Pintu ampunan dan pahala yang besar terbuka bagi perempuan sebagaimana terbuka bagi laki-laki yang beriman dan beramal saleh.

Maka ingatkanlah muslimah-muslimah kita. Ingatkan mereka bukan karena kita membenci atau merendahkan, tetapi karena kita menginginkan kebaikan bagi mereka. Ingatkan mereka tentang hijabnya, salatnya, akhlaknya, ilmunya, keluarganya, dan hubungannya dengan Allah. Pada saat yang sama, penuhilah hak-hak mereka, lindungilah mereka dari kezaliman, dan jadilah teladan dalam ketaatan.

Jangan sampai kita begitu sibuk mengatur penampilan muslimah, tetapi melupakan kewajiban memuliakan dan memperlakukan mereka dengan baik. Jangan pula kita mengatasnamakan kemuliaan perempuan untuk mengabaikan perintah-perintah Allah yang ditujukan kepada mereka. Kemuliaan dan ketaatan harus berjalan bersama.

Semoga Allah menjaga putri-putri kita, merahmati ibu-ibu kita, membimbing saudari-saudari kita, memberkahi istri-istri kita, dan menjadikan seluruh muslimah sebagai hamba-hamba-Nya yang beriman, berilmu, menjaga kehormatan, serta istiqamah di atas jalan yang diridai-Nya.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ نِسَاءَ الْمُسْلِمِينَ، وَاحْفَظْ بَنَاتِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَخَوَاتِنَا وَزَوْجَاتِنَا، وَارْزُقْهُنَّ الْعِفَّةَ وَالْهُدَى وَالتُّقَى، وَاجْعَلْهُنَّ مِنَ الصَّالِحَاتِ.

“Ya Allah, perbaikilah keadaan perempuan-perempuan Muslim. Jagalah putri-putri, ibu-ibu, saudari-saudari, dan istri-istri kami. Karuniakanlah kepada mereka kesucian diri, petunjuk, dan ketakwaan, serta jadikanlah mereka termasuk perempuan-perempuan yang salehah.”

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sayyid Syadly, Lc

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button