HOUTHI JARUDIYAH DAN BERLINDUNG DI BALIK JUBAH ZAIDIYAH

HOUTHI JARUDIYAH DAN BERLINDUNG DI BALIK JUBAH ZAIDIYAH
Zaidiyah
– Zaidiyah dinisbatkan kepada Imam Zaid bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (80–122 H).
– Imam Zaid memimpin revolusi melawan Bani Umayyah pada masa Hisyam bin Abdul Malik tahun 122 H.
– Penduduk Kufah mendorongnya untuk melakukan perlawanan tersebut. Namun, tidak lama kemudian mereka meninggalkan dan tidak menolongnya setelah mengetahui bahwa ia tidak berlepas diri dari dua Syaikh, Abu Bakar dan Umar radliallahu anhuma, serta tidak mencela keduanya. Akhirnya ia terpaksa menghadapi pasukan Umayyah dengan hanya sekitar 500 pasukan berkuda. Ia kemudian terkena anak panah yang menyebabkan kematiannya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Awal Mula dan Perkembangan Zaidiyah di Yaman
– Orang pertama yang membawa mazhab Zaidiyah ke Yaman adalah Imam Yahya bin Al-Husain bin Al-Qasim yang dikenal dengan Al-Hadi (245–298 H). Ia merupakan keturunan Al-Hasan bin Ali.
– Ia lahir di Madinah kemudian pergi ke Yaman pada tahun 280 H. Ia mendapati Yaman sebagai tempat yang subur untuk menanamkan pandangan-pandangan fikihnya.
– Ia menetap di Sha‘dah, Yaman utara, dan mengambil baiat dari penduduknya untuk menegakkan Al-Qur’an dan Sunnah, memerintahkan yang makruf, mencegah kemungkaran, dan taat dalam perkara yang makruf.
– Imam Al-Hadi memulai gerakan perbaikannya dengan menyatukan masyarakat serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan, hingga akhirnya mampu menguasai sebagian besar wilayah Yaman dan sebagian wilayah Hijaz.
– Sepanjang sejarahnya, Zaidiyah terlibat dalam banyak peperangan melawan Qaramithah Bathiniyah.
– Kekuasaan Yaman terus berada di tangan anak-anak dan keturunan Al-Hadi hingga terjadinya revolusi Yaman pada tahun 1382 H/1962 M. Ini merupakan periode kekuasaan Ahlul Bait terpanjang dalam sejarah, berlangsung selama sebelas abad.
– Sebagian sumber memperkirakan jumlah penganut Zaidiyah mencapai 45% dari penduduk Yaman bagian utara. Mereka terkonsentrasi di provinsi-provinsi bagian utara.
– Adapun penduduk Yaman Selatan adalah Sunni bermazhab Syafi‘i.
Akidah dan Pemikiran Zaidiyah
– Zaidiyah membolehkan imam berasal dari seluruh keturunan Fathimah, baik dari keturunan Imam Al-Hasan maupun Imam Al-Husain.
– Imamah menurut mereka tidak ditetapkan berdasarkan nash dan tidak bersifat turun-temurun, tetapi berdasarkan baiat. Imam dipilih oleh ahlul halli wal ‘aqdi.
– Pada awal perkembangannya, mazhab Zaidiyah menggabungkan fikih Ahlul Bait dengan pemikiran Mu‘tazilah, disertai kecenderungan kepada mazhab Hanafi dalam masalah-masalah fikih. Mereka juga menganut prinsip disyariatkannya keluar melawan penguasa zalim. Prinsip inilah yang diterapkan oleh Zaidiyah dari generasi ke generasi.
– Mereka membolehkan keberadaan lebih dari satu imam dalam waktu yang sama di dua wilayah yang berbeda.
– Mereka membolehkan kepemimpinan orang yang kurang utama meskipun terdapat orang yang lebih utama.
– Mereka mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan Umar radliallahu anhuma serta tidak mencela keduanya.
– Dalam masalah akidah tentang Allah Ta‘ala serta qadha dan qadar, mereka cenderung kepada Mu‘tazilah.
– Mereka berpendapat bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka.
Persamaan antara Zaidiyah dan Itsna ‘Asyariyah
– Keduanya termasuk kelompok Syiah.
– Keduanya sepakat mengenai zakat khumus.
– Keduanya membolehkan taqiyyah apabila diperlukan.
– Keduanya berpendapat bahwa Ahlul Bait lebih berhak terhadap kekhalifahan.
– Keduanya mengutamakan hadis-hadis yang diriwayatkan dari Ahlul Bait dibandingkan riwayat lainnya serta mengikuti mereka.
– Mereka mengucapkan حي على خير العمل (Hayya ‘ala khairil ‘amal) dalam azan.
Perbedaan antara Zaidiyah dan Itsna ‘Asyariyah
– Itsna ‘Asyariyah berpendapat kafirnya orang yang tidak beriman kepada seluruh dua belas imam. Berdasarkan hal tersebut, ulama mereka memfatwakan kekafiran Zaidiyah.
– Sebaliknya, para ulama Zaidiyah dahulu maupun sekarang—kecuali sebagian yang menyimpang—mengetahui kesesatan Rafidhah, memperingatkan manusia terhadap mereka, serta mengingkari kesesatan dan kemungkaran yang ada pada mereka.
– Di antara kelompok yang keluar dari Zaidiyah adalah Jarudiyah. Mereka dikenal dengan sikap ekstrem dan kecenderungan kepada Rafidhah. Kepada kelompok inilah Badruddin Al-Houthi dan para pengikutnya dinisbatkan.
Itsna ‘Asyariyah dan Upaya Menarik Zaidiyah
– Meskipun berbagai upaya dilakukan Rafidhah untuk memasuki Zaidiyah, mereka gagal mendirikan sebuah arus dan membentuk sekolah pemikiran Itsna ‘Asyariyah.
– Pemikiran Itsna ‘Asyariyah tetap menjadi pemikiran asing yang ditolak. Para pembawanya menjadi sasaran kemarahan dan penolakan kalangan umum Zaidiyah.
– Hubungan antara Zaidiyah dan Itsna ‘Asyariyah mengalami perbaikan yang nyata setelah revolusi Rafidhah Khomeini di Iran.
– Itsna ‘Asyariyah kemudian memulai upaya serius menyebarkan mazhab mereka di tengah-tengah Zaidiyah Yaman. Mereka memperoleh keberhasilan yang nyata dan berhasil menarik banyak pemimpin maupun masyarakat awam Zaidiyah. Corak Rafidhah mulai tampak jelas dalam aktivitas Zaidiyah, baik dalam karya tulis, ceramah, maupun penyelenggaraan hari raya dan berbagai peringatan Imamah.
Dr. Abdullah Asy-Syamahi berkata:
«إِنَّ الزَّيْدِيَّةَ عَبْرَ تَارِيخِهَا الْأَوَّلِ كَانَتْ بَعِيدَةً كُلَّ الْبُعْدِ عَنْ مَسَارِ غُلَاةِ التَّشَيُّعِ هَذَا، إِلَّا أَنَّ فَتَرَاتٍ تَارِيخِيَّةً لَاحِقَةً، قَدْ شَهِدَتْ بَعْضًا مِنْ مُنْتَسِبِي الزَّيْدِيَّةِ، مِمَّنْ يَتَبَنَّى أُطْرُوحَاتِ غُلَاةِ التَّشَيُّعِ، وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ بِدَرَجَاتٍ مُتَفَاوِتَةٍ»
“Sesungguhnya Zaidiyah sepanjang sejarah awalnya sangat jauh dari jalan kelompok Syiah ekstrem ini. Akan tetapi, pada periode-periode sejarah berikutnya terdapat sebagian orang yang menisbatkan diri kepada Zaidiyah yang mengadopsi pemikiran Syiah ekstrem, meskipun dengan tingkatan yang berbeda-beda.”
(Pengantar kitab Al-Qaul Al-Jali…, 1/9)
Sebagian ulama Zaidiyah juga menyambut dan memberikan ucapan selamat atas revolusi tersebut. Di antaranya Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Murtadha dalam kitab Az-Zaidiyyah wal Imāmah Wajhan li Wajh, hlm. 126–127. Ia menunjukkan prinsip keluar melawan penguasa dan menyatakan bahwa Revolusi Iran tidak berhasil kecuali dengan prinsip tersebut.
– Itsna ‘Asyariyah menemukan pada Al-Houthi dan kelompok Asy-Syabab Al-Mu’min yang berada di bawahnya sebuah lingkungan subur untuk menyebarkan mazhab dan pemikiran mereka melalui buku-buku dan risalah Badruddin Al-Houthi, yang menyebarkan pemikiran Itsna ‘Asyariyah di balik kedok mazhab Zaidiyah.
Hubungan antara Zaidiyah dan Houthi Jarudiyah serta Upaya Berlindung di Balik Jubah Zaidiyah
Jarudiyah
– Jarudiyah dinisbatkan kepada Abu Al-Jarud Ziyad bin Al-Mundzir Al-Hamdani, seorang tunanetra dari Kufah yang wafat tahun 150 H.
– Jarudiyah termasuk kelompok ekstrem Zaidiyah, sedangkan pada hakikatnya mereka adalah Rafidhah.
– Mereka dinamakan Jarudiyah karena Abu Al-Jarud Ziyad bin Al-Mundzir merupakan orang pertama yang menampakkan pandangan-pandangan tersebut di tengah Zaidiyah.
– Menurut keterangan Zaidiyah yang menyelisihi Abu Al-Jarud, Abu Al-Jarud bermazhab Imamiyah dan bukan Zaidiyah. Ia bergabung dengan para pengikut Imam Zaid dan tidak menampakkan pandangannya mengenai imamah dan para sahabat kecuali setelah Imam Zaid gugur. Dengan demikian, ia menjadi semacam jembatan yang memindahkan pemikiran Imamiyah kepada Zaidiyah. Orang-orang yang menyetujui pandangannya kemudian dikenal sebagai Jarudiyah.
– Sebagian peneliti berpendapat bahwa Jarudiyah merupakan kelompok tersendiri yang terpisah dari Zaidiyah, tetapi berlindung di balik namanya. Mereka berdalil dengan fakta bahwa Abu Al-Jarud hidup sezaman dengan Imam Zaid.
– Mazhab mereka menyatakan bahwa para sahabat menjadi kafir karena meninggalkan baiat kepada Ali bin Abi Thalib, karena hal itu dianggap menyelisihi nash yang telah menetapkan dirinya.
– Kelompok-kelompok Zaidiyah lainnya mengkafirkan Jarudiyah karena mereka mengkafirkan para sahabat.
Al-Houthi dan kelompoknya sejalan dengan Jarudiyah, meskipun mereka tidak menyukai dan tidak menerima penisbatan tersebut. Namun, perkataan Al-Houthi dan perilaku yang tampak darinya memiliki kesesuaian yang jelas dan terang dengan teori-teori Jarudiyah.
Dalam sebagian ceramahnya, ia menyerang para imam Zaidiyah yang tidak meyakini sifat ilahiah imamah dan menggambarkan mereka sebagai:
«غَيْرُ مُؤَهَّلِينَ وَلَا جَدِيرِينَ بِالْقِيَادَةِ»
“Tidak memiliki kualifikasi dan tidak layak untuk memimpin.”
Ia juga mengkritik pendapat mereka bahwa pengalaman, pengetahuan tentang urusan agama dan dunia, serta pilihan dan kerelaan masyarakat sudah cukup untuk memperoleh hak imamah. Ia menganggap hal tersebut sekadar:
«مَعَايِيرُ مَادِّيَّةٌ جَاءَتْ لِنَسْفِ الْمَعَايِيرِ الْإِلَهِيَّةِ وَجَلَبَتِ الِانْحِطَاطَ لِلْأُمَّةِ»
“Standar-standar material yang datang untuk menghancurkan standar-standar ilahi dan membawa umat kepada kemunduran.”
Ia berpandangan bahwa penetapan imam hanya berasal dari Allah Ta‘ala, bukan dengan penyebutan nama, tetapi melalui sifat-sifat yang tidak terdapat kecuali pada dirinya. Umat berkewajiban mencari orang yang memiliki sifat-sifat tersebut dan menjadikannya sebagai pemimpin yang ditaati dalam urusan agama dan dunia.
Allah kemudian menakdirkan adanya orang dari kalangan Syiah Al-Houthi sendiri, para pendukungnya, bahkan dari sahabat dan orang terdekatnya, yang bangkit menghadapi kezaliman tersebut, membantah kedustaan itu, membatasi kekacauan pemikiran tersebut, dan membela kehormatan para sahabat penghulu anak keturunan Adnan ﷺ.
Ia adalah sahabat dekatnya dan mantan Sekretaris Jenderal Partai Al-Haqq, Muhammad Yahya Salim Azzan. Ia menyusun sebuah risalah berjudul:
«الْخِلَافَاتُ الْجَلِيَّةُ لِلْحُوثِيِّ مَعَ مَذْهَبِ الزَّيْدِيَّةِ»
“Perbedaan-Perbedaan Nyata Al-Houthi dengan Mazhab Zaidiyah.”
Di dalamnya ia menetapkan bahwa Al-Houthi menyelisihi pandangan yang masyhur dari para imam dan ulama Zaidiyah. Bahkan mereka bersepakat untuk menjauhi segala bentuk cacian dan berbagai cara mencela para sahabat yang mulia.
Risalah tersebut disampaikan di hadapan para ulama Yaman dalam konferensi yang diselenggarakan di Sana‘a sejak Selasa, 28 Rabi‘ul Akhir 1428 H/15 Mei 2007 M sampai Kamis, 30 Rabi‘ul Akhir 1428 H/17 Mei 2007 M, dalam rangka membendung fitnah Al-Houthi dan membahas cara mengatasinya melalui jalan-jalan syar‘i.
Perkataan Ulama tentang Jarudiyah sebagai Akar Houthi
Para ahli hadis telah menyifati Abu Al-Jarud sebagai pendusta dan tidak terpercaya. Ia adalah seorang Rafidhi yang membuat hadis-hadis tentang celaan terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:
«مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ»
“Hadisnya ditinggalkan.”
Beliau juga melemahkannya dengan sangat keras.
(Al-‘Ilal, 3/382)
Yahya bin Ma‘in rahimahullah berkata:
«زِيَادُ بْنُ الْمُنْذِرِ أَبُو الْجَارُودِ كَذَّابٌ عَدُوُّ اللَّهِ، لَيْسَ يَسْوِي فَلْسًا»
“Ziyad bin Al-Mundzir Abu Al-Jarud adalah seorang pendusta, musuh Allah, tidak bernilai satu fulus pun.”
(Al-Kāmil karya Ibnu Adi, 3/189)
Ibnu Hibban rahimahullah berkata:
«كَانَ رَافِضِيًّا يَضَعُ الْحَدِيثَ فِي مَثَالِبِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَرْوِي عَنْ فَضَائِلِ أَهْلِ الْبَيْتِ أَشْيَاءَ مَا لَهَا أُصُولٌ، لَا تَحِلُّ كِتَابَتُهَا»
“Ia adalah seorang Rafidhi yang membuat hadis tentang celaan terhadap para sahabat Nabi ﷺ dan meriwayatkan berbagai hal tentang keutamaan Ahlul Bait yang tidak memiliki dasar. Tidak halal menuliskannya.”
(Al-Majrūhīn, 1/197)
Imam Al-Hakim rahimahullah berkata:
«زِيَادُ بْنُ الْمُنْذِرِ أَبُو الْجَارُودِ الثَّقَفِيُّ رَدِيءٌ، يَرْوِي الْمَنَاكِيرَ فِي الْفَضَائِلِ عَنِ الْأَعْمَشِ وَغَيْرِهِ»
“Ziyad bin Al-Mundzir Abu Al-Jarud Ats-Tsaqafi adalah perawi yang buruk. Ia meriwayatkan riwayat-riwayat munkar mengenai keutamaan-keutamaan dari Al-A‘masy dan selainnya.”
(Al-Madkhal ilā Ash-Shahīh, hlm. 139)
Lihat pula: Al-Milal wan Nihal, 1/207 dan seterusnya; Maqālāt Al-Islāmiyyīn, 1/28 dan seterusnya; Muqaddimah Ibni Khaldūn, hlm. 179; Al-Farqu bainal Firaq, hlm. 29; At-Tabshīr, hlm. 32; Al-Fishal, 4/179; dan Maqātil Ath-Thālibiyyīn karya Al-Ashfahani, hlm. 127 dan seterusnya.
Sebagian kelompok Jarudiyah bersikap ekstrem. Mereka mengatakan bahwa para imam mengalami ghaib dan menyerukan keyakinan akan kembalinya mereka.
Kelompok Jarudiyah lainnya mengklaim bahwa ilmu keturunan Al-Hasan dan Al-Husain radliallahu anhuma sama seperti ilmu Nabi ﷺ.
Bahkan sebagian mereka mengucapkan ungkapan yang menyerupai perkataan Rafidhah Itsna ‘Asyariyah:
«الْحَلَالُ حَلَالُ آلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَرَامُ حَرَامُهُمْ، وَالْأَحْكَامُ أَحْكَامُهُمْ، وَعِنْدَهُمْ جَمِيعُ مَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُ كَامِلٌ عِنْدَ صَغِيرِهِمْ وَكَبِيرِهِمْ، الصَّغِيرُ مِنْهُمْ وَالْكَبِيرُ كُلُّهُمْ فِي الْعِلْمِ سَوَاءٌ، لَا يَفْضُلُ الْكَبِيرُ مِنْهُمُ الصَّغِيرَ»
“Yang halal adalah apa yang dihalalkan keluarga Muhammad ﷺ, yang haram adalah apa yang mereka haramkan, dan hukum-hukum adalah hukum mereka. Pada mereka terdapat seluruh yang dibawa Nabi ﷺ secara sempurna, baik pada yang muda maupun yang tua. Yang muda dan yang tua di antara mereka sama dalam ilmu; yang tua tidak lebih utama dalam ilmu daripada yang muda.”
Akidah ini sama dengan akidah Syiah Itsna ‘Asyariyah. Banyak riwayat semacam ini terdapat dalam kitab-kitab Syiah Itsna ‘Asyariyah yang paling terkenal, seperti Al-Kāfī karya Muhammad bin Ya‘qub Al-Kulaini dan Bihār Al-Anwār karya Al-Majlisi. Riwayat-riwayat tersebut menyatakan bahwa yang halal adalah apa yang dihalalkan keluarga Muhammad ﷺ dan yang haram adalah apa yang mereka haramkan.
Abdul Qahir Al-Baghdadi rahimahullah berkata:
«وَأَمَّا أَهْلُ الْأَهْوَاءِ مِنَ الْجَارُودِيَّةِ وَالْهِشَامِيَّةِ وَالنَّجَّارِيَّةِ وَالْجَهْمِيَّةِ وَالْإِمَامِيَّةِ الَّذِينَ أَكْفَرُوا أَخْيَارَ الصَّحَابَةِ، وَالْقَدَرِيَّةِ الْمُعْتَزِلَةِ…»
“Adapun para pengikut hawa nafsu dari kalangan Jarudiyah, Hisyamiyah, Najjariyah, Jahmiyah, Imamiyah yang mengkafirkan para sahabat pilihan, dan Qadariyah Mu‘tazilah….”
(Al-Farqu bainal Firaq, hlm. 350)
Imam Asy-Syahrastani rahimahullah berkata:
«وَمَالَتْ أَكْثَرُ الزَّيْدِيَّةِ بَعْدَ ذَلِكَ عَنِ الْقَوْلِ بِإِمَامَةِ الْمَفْضُولِ، وَطَعَنَتْ فِي الصَّحَابَةِ طَعْنَ الْإِمَامِيَّةِ، وَهُمْ أَصْنَافٌ ثَلَاثَةٌ: جَارُودِيَّةٌ وَسُلَيْمَانِيَّةٌ وَبَتْرِيَّةٌ…»
“Setelah itu, sebagian besar Zaidiyah berpaling dari pendapat mengenai kepemimpinan orang yang kurang utama dan mencela para sahabat sebagaimana celaan Imamiyah. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok: Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Batriyah….”
(Al-Milal wan Nihal, 1/153, Dar Al-Ma‘rifah, Beirut, 1404 H)
Seorang imam besar Zaidiyah sekaligus mujtahid abad ke-12 H, Shalih bin Mahdi bin Ali Al-Muqbili Ash-Shan‘ani, berkata dalam kitabnya Dalīl Al-‘Ilm Asy-Syāmikh fī Ītsār Al-Haqq ‘alal Ābā’ wal Masyāyikh:
«إِنَّ الزَّيْدِيَّةَ لَيْسَ لَهُمْ قَاعِدَةٌ مُحَدَّدَةٌ، فَإِنَّهُمْ أَحْيَانًا يَطْعَنُونَ فِي بَعْضِ خِيَارِ الصَّحَابَةِ كَأَبِي هُرَيْرَةَ وَجَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ وَأُمِّ الْمُؤْمِنِينَ حَبِيبَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ؛ لِأَنَّ هَؤُلَاءِ رَوَوْا مَا يُخَالِفُ هَوَاهُمْ، وَإِذَا جَاءَهُمُ الْحَدِيثُ عَلَى مَا يُوَافِقُ هَوَاهُمْ قَبِلُوهُ مِنْ طَرِيقِ ذَلِكَ الصَّحَابِيِّ، وَإِنْ كَانَ أَقَلَّ فَضْلًا وَرُتْبَةً مِمَّنْ طَعَنُوا فِيهِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»
“Sesungguhnya Zaidiyah tidak memiliki kaidah yang jelas dan tetap. Terkadang mereka mencela sebagian sahabat pilihan seperti Abu Hurairah, Jarir bin Abdullah Al-Bajali, dan Ummul Mukminin Habibah radliallahu anhum karena mereka meriwayatkan sesuatu yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka. Namun, apabila suatu hadis datang sesuai dengan hawa nafsu mereka, mereka menerimanya melalui sahabat tersebut, meskipun ia lebih rendah keutamaan dan kedudukannya dibandingkan sahabat Nabi ﷺ yang mereka cela.”
Al-Muqbili juga berkata:
«إِنَّهُ قَدْ سَرَى دَاءُ الْإِمَامِيَّةِ فِي الزَّيْدِيَّةِ فِي هَذِهِ الْأَعْصَارِ، وَهُوَ تَكْفِيرُ الصَّحَابَةِ وَمَنْ يَتَوَلَّاهُمْ، صَانَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى»
“Sesungguhnya penyakit Imamiyah telah menjalar ke dalam Zaidiyah pada masa-masa ini, yaitu mengkafirkan para sahabat dan orang-orang yang mencintai mereka. Semoga Allah Ta‘ala menjaga mereka.”
Fenomena sebagian Zaidiyah yang menganut paham Rafidhah inilah yang menyebabkan sebagian orang mengatakan:
«جِئْنِي بِزَيْدِيٍّ صَغِيرٍ أُخْرِجْ لَكَ مِنْهُ رَافِضِيًّا كَبِيرًا»
“Bawakan kepadaku seorang Zaidiyah kecil, niscaya akan kukeluarkan darinya seorang Rafidhi besar.”
Kelompok Houthi, Pemimpin dan Tokoh-Tokohnya
Kelompok Houthi Jarudiyah Itsna ‘Asyariyah
– Merupakan gerakan pemberontakan Bathiniyah yang didirikan di Sha‘dah, Yaman utara.
– Memisahkan diri dari mazhab Zaidiyah.
– Fenomena Husain Al-Houthi mulai tampak melalui berbagai persoalan dan pandangan yang disampaikannya. Tampak keberaniannya menyerang para ulama Zaidiyah, pandangan-pandangan mazhab, dan kitab-kitab mereka. Ia menganggap dirinya sebagai pembaru dan reformis ilmu serta ajaran mazhab.
– Hal tersebut bahkan sampai pada taraf memperolok kitab-kitab hadis, ushul, dan para sahabat. Hal ini mendorong para ulama Zaidiyah mengeluarkan sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh surat kabar Al-Ummah, media Partai Al-Haqq. Mereka memperingatkan masyarakat terhadap kesesatan Husain Al-Houthi dan para pengikutnya, menolak adanya hubungan antara perkataan dan tindakannya dengan Ahlul Bait maupun mazhab Zaidiyah, serta mengharamkan mendengarkan, mendukung, atau meridhai bid‘ah dan kesesatan tersebut.
– Gerakan tersebut berjalan mengikuti pola Hizbullah di Lebanon secara agama maupun politik.
– Mereka menganut pemikiran dan keyakinan Rafidhah Itsna ‘Asyariyah.
– Mereka dinisbatkan kepada pemimpin pemberontakan pertama, Husain Badruddin Al-Houthi.
– Mereka menamakan diri sebagai organisasi Asy-Syabab Al-Mu’min.
Pemimpin Spiritual
Ia adalah Badruddin bin Amiruddin bin Al-Husain bin Muhammad Al-Houthi.
Ia lahir pada 17 Jumadal Ula 1345 H di kota Dhahyan dan tumbuh di Sha‘dah.
– Ia dianggap sebagai bapak spiritual kelompok tersebut.
– Ia tumbuh sebagai seorang Zaidiyah dari kelompok Jarudiyah, kelompok Zaidiyah yang paling dekat dengan Rafidhah.
– Ia pergi ke Teheran dan tinggal di sana selama beberapa tahun.
– Selama berada di Teheran, Rafidhah Itsna ‘Asyariyah berhasil menariknya kepada mereka.
Pemimpin Pertama
Ia adalah Husain Badruddin Al-Houthi.
– Ia merupakan putra tertua Badruddin Al-Houthi.
– Ia memperoleh pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah. Ia juga mempelajari mazhab Zaidiyah dari ayahnya dan para tokoh mazhab di Sha‘dah.
– Ia memperoleh gelar magister dalam ilmu-ilmu syariat dan sedang mempersiapkan diri memperoleh gelar doktor. Kemudian ia meninggalkan studinya dan merobek ijazah magisternya karena meyakini bahwa ijazah pendidikan merupakan bentuk pembekuan akal.
– Ia berperan aktif bersama sejumlah tokoh dan intelektual Zaidiyah dalam mendirikan Partai Al-Haqq pada tahun 1990.
– Ia terpilih menjadi anggota parlemen mewakili Partai Al-Haqq dari daerah pemilihan Marran pada periode 1993–1997.
– Ia mengunjungi Iran dan tinggal bersama ayahnya selama beberapa bulan di Qom. Ia juga mengunjungi Hizbullah di Lebanon.
– Ia mendirikan organisasi Asy-Syabab Al-Mu’min pada tahun 1991.
– Setelah mendirikan organisasi tersebut, ia memusatkan kegiatannya untuk memberikan pelajaran dan ceramah kepada para pendukung dan pengikutnya.
– Ia memiliki gaya penyampaian yang menarik, kemampuan menyampaikan gagasan, memainkan emosi, dan membangun keyakinan.
Salah seorang yang menulis di sebuah situs Itsna ‘Asyariyah menggambarkannya:
«حَسَبَ عِلْمِنَا الْحِسِّيِّ وَقِرَاءَاتِنَا لِكُتُبِهِ وَتَتَبُّعِنَا لِحَرَكَتِهِ أَنَّهُ مُتَأَثِّرٌ حَتَّى النُّخَاعِ بِثَوْرَةِ الْخُمَيْنِيِّ فِي إِيرَانَ، حَيْثُ إِنَّهُ خَضَعَ لِدَوْرَاتٍ أَمْنِيَّةٍ وَسِيَاسِيَّةٍ وَغَيْرِهَا فِي لُبْنَانَ عِنْدَ حِزْبِ اللَّهِ، وَلَدَيْهِ ارْتِبَاطٌ قَوِيٌّ بِالْحَرَسِ الثَّوْرِيِّ الْإِيرَانِيِّ»
“Berdasarkan pengetahuan langsung kami, pembacaan kami terhadap buku-bukunya, dan pengamatan kami terhadap gerakannya, ia sangat terpengaruh hingga ke sumsum oleh Revolusi Khomeini di Iran. Ia mengikuti berbagai pelatihan keamanan, politik, dan lainnya di Lebanon bersama Hizbullah serta memiliki hubungan kuat dengan Garda Revolusi Iran.”
– Para pemuda yang tertarik dengan pemikirannya dari sejumlah provinsi lain mendatanginya. Mereka mendapatkan tempat tinggal, kecukupan kebutuhan, dan fasilitas yang baik, khususnya pada liburan musim panas dan berbagai peringatan khusus Rafidhah.
– Ia menganggap dirinya sebagai pembaru dan reformis ilmu serta ajaran mazhab.
– Ia mengangkat slogan-slogan dukungan kepada Hizbullah Lebanon dan mengibarkan benderanya di sebagian pusat yang berada di bawahnya.
– Pelajaran dan khutbahnya dipenuhi istilah-istilah: mobilisasi, persiapan, keluar, jihad, mempersiapkan jiwa untuk berkorban, tidak takut kepada pihak-pihak yang melemahkan semangat dan tertinggal, serta penegasan mengenai pertolongan Allah yang akan datang kepada kaum tertindas.
– Ia mendirikan puluhan pusat pendidikan di berbagai wilayah yang diikuti ratusan, bahkan mungkin ribuan pelajar dari kalangan pemuda dan anak-anak.
– Ia memberlakukan pengamanan yang sangat ketat di sekeliling dirinya dengan alasan bahwa ia menjadi target Amerika.
– Ia memimpin pemberontakan melawan pemerintah Yaman dan terbunuh dalam perang pertama pada tahun 2004 dalam usia 46 tahun.
Pemimpin Kedua Houthi
Ia adalah Abdul Malik Al-Houthi.
– Ia lahir di Sha‘dah pada tahun 1979 dan ketika teks ini ditulis berusia tiga puluh tahun.
– Ia memperoleh pendidikan di sekolah-sekolah agama Zaidiyah.
– Setelah kematian saudaranya, Husain Al-Houthi, pada tahun 2004, ia memimpin arus Houthi dengan melampaui sejumlah tokoh penting lainnya, termasuk beberapa saudaranya yang lebih tua. Ia kemudian menjadi pemimpin aktual gerakan pemberontakan tersebut.
– Ia merupakan orator yang fasih dan memiliki kemampuan menghimpun para pendukung dan pengikut.
– Pada tahun 2007 ia mendirikan situs elektronik Al-Minbar untuk menyampaikan pandangan gerakannya kepada dunia.
Tokoh Penting Lainnya
Yahya Al-Houthi, yang ketika teks ini ditulis berusia 49 tahun.
– Ia adalah saudara Husain Al-Houthi.
– Ia tinggal di luar Yaman dan menetap di Berlin, Jerman, sejak akhir tahun 2004 setelah mengajukan permohonan suaka politik.
– Ia merupakan pejabat politik kelompok Houthi.



