Tatsqif

Kisah Hajar: Pelajaran dan Hukum dari Sejarah Masa Lalu

Kisah Hajar: Pelajaran dan Hukum dari Sejarah Masa Lalu

Pelajaran dan hukum dapat dipetik melalui sebab-sebab dan peristiwa yang terjadi. Di antara kisah yang mengandung banyak pelajaran dan hukum adalah kisah Hajar, ibunda Nabi Ismail dan istri Nabi Ibrahim عليهما السلام, yaitu Hajar al-Qibthiyyah.

Imam al-Bukhari dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

««إِنَّ أَوَّلَ مَا اتَّخَذَ النِّسَاءُ الْمِنْطَقَ مِنْ قِبَلِ أُمِّ إِسْمَاعِيلَ، اتَّخَذَتْ مِنْطَقًا لَتُعَفِّيَ أَثَرَهَا عَلَى سَارَةَ»»

“Sesungguhnya wanita yang pertama kali menggunakan ikat pinggang adalah ibunda Ismail. Ia menggunakan ikat pinggang untuk menyembunyikan jejaknya dari Sarah.”

Al-minthaq berarti ikat pinggang atau sesuatu yang diikatkan pada bagian pinggang.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fath al-Bari:

««وَكَانَ السَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ سَارَةَ كَانَتْ وَهَبَتْ هَاجَرَ لِإِبْرَاهِيمَ، فَحَمَلَتْ مِنْهُ بِإِسْمَاعِيلَ، فَلَمَّا وَلَدَتْهُ غَارَتْ مِنْهَا، فَحَلَفَتْ لَتَقْطَعَنَّ مِنْهَا ثَلَاثَةَ أَعْضَاءَ، فَاتَّخَذَتْ هَاجَرُ مِنْطَقًا فَشَدَّتْ بِهِ وَسَطَهَا وَهَرَبَتْ، وَجَرَّتْ ذَيْلَهَا لِتُخْفِيَ أَثَرَهَا عَلَى سَارَةَ»»

“Penyebabnya adalah bahwa Sarah telah memberikan Hajar kepada Ibrahim. Kemudian Hajar mengandung Ismail dari Ibrahim. Ketika Hajar melahirkan Ismail, Sarah merasa cemburu kepadanya. Sarah kemudian bersumpah akan memotong tiga bagian tubuh Hajar. Karena takut, Hajar memakai ikat pinggang, mengikatkannya pada pinggangnya, lalu melarikan diri. Ia memanjangkan bagian bawah pakaiannya untuk menyembunyikan jejaknya dari Sarah.”

Disebutkan pula bahwa Nabi Ibrahim عليه السلام memberikan syafaat atau menjadi penengah bagi Hajar. Ibrahim berkata kepada Sarah:

««حَلِّلِي يَمِينَكِ بِأَنْ تَثْقُبِي أُذُنَيْهَا وَتَخْفِضِيهَا»»

“Lepaskanlah sumpahmu dengan melubangi kedua telinganya dan mengkhitannya.”

Dikatakan bahwa Hajar adalah wanita pertama yang melakukan hal tersebut.

Disebutkan pula bahwa setelah itu rasa cemburu Sarah semakin kuat. Karena itulah Ibrahim membawa Ismail dan ibunya ke Makkah.

Hajar dan Ismail Ditempatkan di Makkah

Dalam kelanjutan hadis disebutkan:

««ثُمَّ جَاءَ بِهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَبِابْنِهَا إِسْمَاعِيلَ وَهِيَ تُرْضِعُهُ، حَتَّى وَضَعَهُمَا عِنْدَ الْبَيْتِ»»

“Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan putranya, Ismail, yang ketika itu masih disusuinya, hingga menempatkan keduanya di dekat Baitullah.”

Pada saat itu belum terdapat bangunan Ka’bah. Yang dimaksud adalah tempat Ka’bah. Di tempat Hajar dan Ismail ditempatkan tidak ada manusia, tempat tinggal, bangunan, tanda-tanda permukiman maupun susunan batu. Yang ada hanyalah gunung-gunung, lembah-lembah, dataran rendah dan padang pasir.

Ibrahim menempatkan keduanya:

««عِنْدَ دَوْحَةٍ فَوْقَ زَمْزَمَ، فِي أَعْلَى الْمَسْجِدِ»»

“Di dekat sebuah pohon besar, di atas lokasi Zamzam, di bagian atas tempat Masjidil Haram.”

Kata الدَّوْحَة berarti pohon besar yang tumbuh dan menyebar di padang pasir.

Yang dimaksud dengan “masjid” adalah lokasi Masjidil Haram, karena pada saat itu masjid belum dibangun.

Dalam hadis disebutkan:

««وَلَيْسَ بِمَكَّةَ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ، وَلَيْسَ بِهَا مَاءٌ، فَوَضَعَهُمَا هُنَاكَ، وَوَضَعَ عِنْدَهُمَا جِرَابًا فِيهِ تَمْرٌ، وَسِقَاءً فِيهِ مَاءٌ، ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا»»

“Pada saat itu tidak ada seorang pun di Makkah dan tidak ada air di sana. Ibrahim menempatkan keduanya di tempat tersebut. Ia meletakkan di dekat mereka sebuah kantong berisi kurma dan sebuah wadah kulit berisi air. Kemudian Ibrahim berpaling dan pergi.”

Kata السِّقَاء berarti wadah air kecil yang terbuat dari kulit.

Ibrahim kemudian kembali menuju negeri Syam.

Keteguhan Tawakal Hajar

Ibunda Ismail mengikuti Ibrahim dan berkata:

««يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ؟»»

“Wahai Ibrahim, ke manakah engkau pergi dan meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni dan tidak terdapat apa pun ini?”

Hajar mengulang-ulang pertanyaan tersebut, tetapi Ibrahim tidak menjawab dan tidak menoleh kepadanya.

Akhirnya Hajar berkata:

««آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟»»

“Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan hal ini?”

Ibrahim menjawab:

««نَعَمْ»»

“Ya.”

Dengan demikian, kedatangan dan penempatan keduanya di tempat tersebut bukan semata-mata untuk memenuhi keinginan Sarah, melainkan karena perintah Allah. Namun, di balik perintah tersebut terdapat hikmah yang agung.

Hajar kemudian berkata:

««إِذَنْ لَا يُضَيِّعُنَا»»

“Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Setelah itu Hajar kembali, sedangkan Ibrahim melanjutkan perjalanannya.

Ketika Ibrahim sampai di sebuah tempat tinggi dan mereka tidak dapat melihatnya, ia menghadapkan wajahnya ke arah Baitullah, mengangkat kedua tangannya dan berdoa.

Para ulama menyatakan bahwa peristiwa ini merupakan dalil dianjurkannya menghadap kiblat ketika berdoa dan mengangkat kedua tangan.

Ibrahim عليه السلام berdoa:

«﴿رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ﴾
[إبراهيم: 37]»

“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di sebuah lembah yang tidak memiliki tanaman, di dekat rumah-Mu yang dihormati. Wahai Tuhan kami, agar mereka mendirikan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki berupa buah-buahan agar mereka bersyukur.”
(QS. Ibrahim: 37)

Allah mengabulkan doa Ibrahim. Hingga sekarang penduduk Makkah senantiasa diberi rezeki berupa berbagai macam buah-buahan.

Perjuangan Hajar Mencari Air

Ibunda Ismail terus menyusui Ismail dan meminum air yang ditinggalkan Ibrahim. Ketika air dalam wadah kulit tersebut habis, Hajar merasa haus dan putranya pun kehausan.

Ia melihat Ismail menggeliat karena kehausan. Hajar pergi meninggalkannya karena tidak sanggup terus-menerus melihat kondisi putranya.

Ia mendapati bahwa Shafa adalah bukit terdekat dengannya. Hajar naik ke atas Shafa, lalu menghadap ke arah lembah untuk melihat apakah ada seseorang. Namun, ia tidak melihat siapa pun.

Ia kemudian turun dari Shafa. Ketika sampai di dasar lembah, ia mengangkat ujung pakaiannya agar lebih mudah bergerak, lalu berlari seperti orang yang sedang mengalami kesulitan besar.

Dalam hadis disebutkan:

««ثُمَّ سَعَتْ سَعْيَ الْإِنْسَانِ الْمَجْهُودِ»»

“Kemudian ia berlari seperti larinya seseorang yang telah mencapai puncak kesulitan.”

Ia melewati lembah dan sampai di Marwah. Ia berdiri di atas Marwah dan melihat apakah ada seseorang. Namun, ia tidak melihat siapa pun.

Hajar melakukan hal tersebut sebanyak tujuh kali.

Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

««فَذَلِكَ سَعْيُ النَّاسِ بَيْنَهُمَا»»

“Itulah asal mula sa’i yang dilakukan manusia antara Shafa dan Marwah.”

Ketika Hajar naik ke atas Marwah pada putaran ketujuh, ia mendengar suara. Ia berkata kepada dirinya sendiri:

««صَهٍ»»

“Diamlah.”

Seakan-akan ia memerintahkan dirinya untuk diam agar dapat mendengarkan suara tersebut dengan saksama.

Kemudian ia mendengar suara itu lagi. Hajar berkata:

««قَدْ أَسْمَعْتَ إِنْ كَانَ عِنْدَكَ غَوَاثٌ»»

“Engkau telah memperdengarkan suaramu. Apabila engkau memiliki pertolongan, maka tolonglah kami.”

Munculnya Air Zamzam

Hajar kemudian melihat seorang malaikat di tempat Zamzam. Malaikat itu menggali tanah dengan tumitnya, atau dalam riwayat lain dengan sayapnya, hingga air memancar.

Hajar segera membuat semacam kolam kecil di sekelilingnya dan mengumpulkan air dengan kedua tangannya. Ia memasukkan air ke dalam wadah kulitnya, sedangkan air terus memancar setelah ia mengambilnya.

Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

««يَرْحَمُ اللهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ، لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ، أَوْ قَالَ: لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنَ الْمَاءِ، لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِينًا»»

“Semoga Allah merahmati ibunda Ismail. Seandainya ia membiarkan Zamzam, atau seandainya ia tidak mengambil dan mengumpulkan airnya, niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir.”

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3184 dan Ahmad no. 3390.

Para ulama menjelaskan bahwa makna:

««لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِينًا»»

“Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir,”

yaitu airnya akan tampak dan mengalir di atas permukaan bumi.

Ibnu al-Jauzi berkata:

««كَانَ ظُهُورُ زَمْزَمَ نِعْمَةً مِنَ اللهِ مَحْضَةً بِغَيْرِ عَمَلِ عَامِلٍ، فَلَمَّا خَالَطَهَا تَحْوِيطُ هَاجَرَ دَاخَلَهَا كَسْبُ الْبَشَرِ، فَقَصُرَتْ عَلَى ذَلِكَ»»

“Munculnya Zamzam merupakan nikmat murni dari Allah tanpa campur tangan usaha manusia. Ketika Hajar membuat pembatas di sekelilingnya, masuklah unsur usaha manusia ke dalamnya, sehingga alirannya terbatas seperti itu.”

Seandainya Hajar tidak mengambil air dan membuat batas di sekelilingnya, niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang terus mengalir sampai hari Kiamat.

Dalam riwayat Ahmad disebutkan:

««لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنَ الْمَاءِ، لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِينًا تَجْرِي إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ»»

“Seandainya ia tidak mengambil air tersebut, niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir sampai hari Kiamat.”

Jaminan Allah bagi Keluarga-Nya

Hajar kemudian minum dan menyusui putranya.

Malaikat berkata kepadanya:

««لَا تَخَافُوا الضَّيْعَةَ، فَإِنَّ هَاهُنَا بَيْتَ اللهِ، يَبْنِيهِ هَذَا الْغُلَامُ وَأَبُوهُ، وَإِنَّ اللهَ لَا يُضِيعُ أَهْلَهُ»»

“Janganlah kalian takut akan kebinasaan dan keterlantaran. Sesungguhnya di tempat ini terdapat Baitullah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya. Sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan keluarga-Nya.”

Kita memohon kepada Allah agar menjaga negeri tersebut serta menjaga penduduknya demi kemaslahatan Islam dan kaum Muslimin.

Pada saat itu lokasi Ka’bah lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya, seperti sebuah bukit kecil. Banjir datang melewati sisi kanan dan kirinya.

Dalam hadis disebutkan:

««وَكَانَ الْبَيْتُ مُرْتَفِعًا مِنَ الْأَرْضِ كَالرَّابِيَةِ، تَأْتِيهِ السُّيُولُ، فَتَأْخُذُ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ»»

“Lokasi Baitullah lebih tinggi daripada permukaan tanah, seperti bukit kecil. Aliran banjir mendatanginya, lalu mengalir di sisi kanan dan kirinya.”

Hajar tetap berada dalam keadaan tersebut untuk beberapa waktu. Ia memenuhi kebutuhan makan dan minumnya dengan air Zamzam.

Ibnu Hajar menjelaskan:

««فِيهِ إِشْعَارٌ بِأَنَّهَا كَانَتْ تَغْتَذِي بِمَاءِ زَمْزَمَ، فَيَكْفِيهَا عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ»»

“Hal ini menunjukkan bahwa Hajar mendapatkan asupan dari air Zamzam, sehingga air tersebut mencukupinya dari kebutuhan makan dan minum.”

Kedatangan Kabilah Jurhum

Kemudian sekelompok orang dari kabilah Jurhum melintas di dekat mereka.

Jurhum adalah keturunan Jurhum bin Qahthan bin Amir bin Syalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh.

Mereka datang dari arah Kada’, yaitu kawasan di bagian bawah Makkah, lalu singgah di sana.

Mereka melihat seekor burung berputar-putar di udara.

Dalam hadis disebutkan:

««فَرَأَوْا طَائِرًا عَائِفًا»»

“Mereka melihat seekor burung yang berputar-putar.”

Kata العَائِف berarti burung yang mengitari tempat air, berulang kali kembali kepadanya dan tidak menjauh darinya.

Mereka berkata:

««إِنَّ هَذَا الطَّائِرَ لَيَدُورُ عَلَى مَاءٍ، لَعَهْدُنَا بِهَذَا الْوَادِي وَمَا فِيهِ مَاءٌ»»

“Burung ini pasti berputar-putar di atas air. Padahal, sepengetahuan kami, di lembah ini tidak pernah ada air.”

Mereka kemudian mengutus seseorang untuk memeriksa. Utusan tersebut melihat air, lalu kembali dan memberitahukannya kepada mereka. Mereka pun mendatangi Hajar.

Mereka berkata:

««أَتَأْذَنِينَ لَنَا أَنْ نَنْزِلَ عِنْدَكِ؟»»

“Apakah engkau mengizinkan kami tinggal di dekatmu?”

Hajar menjawab:

««نَعَمْ، وَلَكِنْ لَا حَقَّ لَكُمْ فِي الْمَاءِ»»

“Ya, tetapi kalian tidak memiliki hak kepemilikan atas air ini.”

Maksudnya, air tersebut tetap menjadi milik Hajar dan putranya. Kabilah Jurhum tidak memiliki hak kepemilikan, tetapi Hajar tidak melarang mereka memanfaatkannya untuk minum dan memberi minum.

Mereka menerima syarat tersebut.

Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

««فَأَلْفَى ذَلِكَ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ وَهِيَ تُحِبُّ الْأُنْسَ»»

“Hal itu sesuai dengan keinginan ibunda Ismail, karena ia menyukai keberadaan orang lain sebagai teman.”

Manusia disebut insan karena ia merasa tenteram dan akrab dengan orang lain, bukan makhluk yang hidup sendirian dalam keterasingan.

Kabilah Jurhum kemudian tinggal di dekat Hajar. Mereka mengirim utusan kepada keluarga mereka, lalu keluarga mereka pun datang dan menetap bersama mereka. Akhirnya berdirilah sejumlah rumah di tempat tersebut.

Ismail Belajar Bahasa Arab

Ismail tumbuh menjadi pemuda dan belajar bahasa Arab dari kabilah Jurhum.

Ibnu Hajar berkata:

««فِيهِ إِشْعَارٌ بِأَنَّ لِسَانَ أُمِّهِ وَأَبِيهِ لَمْ يَكُنْ عَرَبِيًّا، وَفِيهِ تَضْعِيفٌ لِقَوْلِ مَنْ رَوَى أَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ تَكَلَّمَ بِالْعَرَبِيَّةِ»»

“Hal ini menunjukkan bahwa bahasa ibu dan ayah Ismail bukan bahasa Arab. Hal ini juga melemahkan pendapat yang meriwayatkan bahwa Ismail adalah orang pertama yang berbicara dalam bahasa Arab.”

Dalam hadis Ibnu Abbas yang diriwayatkan al-Hakim dalam al-Mustadrak disebutkan:

««أَوَّلُ مَنْ نَطَقَ بِالْعَرَبِيَّةِ إِسْمَاعِيلُ»»

“Orang pertama yang mengucapkan bahasa Arab adalah Ismail.”

Maksudnya bukan bahwa Ismail adalah manusia pertama yang berbicara bahasa Arab secara mutlak.

Az-Zubair bin Bakkar meriwayatkan dalam kitab an-Nasab dari Ali رضي الله عنه dengan sanad hasan:

««أَوَّلُ مَنْ فَتَقَ اللهُ لِسَانَهُ بِالْعَرَبِيَّةِ الْمُبِينَةِ إِسْمَاعِيلُ»»

“Orang pertama yang Allah lancarkan lisannya dengan bahasa Arab yang jelas dan fasih adalah Ismail.”

Ibnu Hajar berkata:

««وَبِهَذَا الْقَيْدِ يُجْمَعُ بَيْنَ الْخَبَرَيْنِ، فَتَكُونُ أَوَّلِيَّتُهُ فِي ذَلِكَ بِحَسَبِ الزِّيَادَةِ فِي الْبَيَانِ، لَا الْأَوَّلِيَّةِ الْمُطْلَقَةِ»»

“Dengan batasan tersebut, kedua riwayat dapat dipadukan. Keutamaan Ismail sebagai yang pertama adalah dalam hal tingkat kefasihan dan kejelasan, bukan sebagai orang pertama secara mutlak.”

Setelah Ismail mempelajari dasar-dasar bahasa Arab dari Jurhum, Allah mengilhamkan kepadanya bahasa Arab yang sangat fasih dan jelas. Ia pun berbicara dengan bahasa tersebut.

Ismail menjadi orang terbaik dan paling berharga di tengah kabilah Jurhum. Mereka sangat menyukainya dan kagum kepadanya ketika ia telah dewasa.

Ketika Ismail mencapai usia dewasa, mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka.

Setelah itu ibunda Ismail wafat. Disebutkan bahwa Ismail menikah setelah berusia sekitar dua puluh tahun.

Kunjungan Nabi Ibrahim kepada Ismail

Setelah Ismail menikah, Nabi Ibrahim datang untuk melihat keadaan keluarga yang ditinggalkannya di Makkah.

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa terdapat riwayat lain mengenai kunjungan Ibrahim sebelum masa tersebut.

Dalam hadis Abu Jahm disebutkan:

««كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَزُورُ هَاجَرَ كُلَّ شَهْرٍ عَلَى الْبُرَاقِ، يَغْدُو غُدْوَةً فَيَأْتِي مَكَّةَ، ثُمَّ يَرْجِعُ فَيَقِيلُ فِي مَنْزِلِهِ بِالشَّامِ»»

“Ibrahim mengunjungi Hajar setiap bulan dengan menaiki Buraq. Ia berangkat pada pagi hari dan sampai di Makkah, kemudian kembali dan beristirahat siang di rumahnya di Syam.”

Al-Fakihi juga meriwayatkan dari Ali dengan sanad hasan bahwa Ibrahim mengunjungi Ismail dan ibunya dengan menaiki Buraq.

Karena itu, ucapan:

««فَجَاءَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَمَا تَزَوَّجَ إِسْمَاعِيلُ»»

“Kemudian Ibrahim datang setelah Ismail menikah,”

bermakna bahwa Ibrahim datang lagi setelah sebelumnya telah berulang kali mengunjungi mereka. Allah lebih mengetahui.

Ketika Ibrahim datang, ia tidak menemukan Ismail. Ia bertanya kepada istri Ismail tentang keberadaannya.

Istri Ismail menjawab:

««خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا»»

“Ia keluar untuk mencari rezeki bagi kami.”

Ibrahim kemudian bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka.

Wanita itu menjawab:

««نَحْنُ بِشَرٍّ، نَحْنُ فِي ضِيقٍ وَشِدَّةٍ»»

“Kami berada dalam keadaan buruk, kesempitan dan kesulitan.”

Ia mengadukan keadaan hidupnya kepada Ibrahim.

Ibrahim berkata:

««فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلَامَ، وَقُولِي لَهُ: يُغَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِهِ»»

“Apabila suamimu datang, sampaikan salam kepadanya dan katakan kepadanya agar mengganti ambang pintunya (kayu pijakan di bagian bawah pintu).”

Makna Ambang Pintu (kayu pijakan di bagian bawah pintu)

Ibnu Hajar menjelaskan:

««عَتَبَةُ الْبَابِ كِنَايَةٌ عَنِ الْمَرْأَةِ، وَسَمَّاهَا بِذَلِكَ لِمَا فِيهَا مِنَ الصِّفَاتِ الْمُوَافِقَةِ لَهَا، وَهُوَ حِفْظُ الْبَابِ، وَصَوْنُ مَا هُوَ دَاخِلَهُ»»

“Ambang pintu merupakan kiasan bagi seorang istri. Ia disebut demikian karena terdapat kesesuaian sifat antara keduanya, yaitu menjaga pintu dan memelihara sesuatu yang berada di dalam rumah.”

Seorang wanita menjaga rumah dan apa yang ada di dalamnya. Selain itu, ambang pintu merupakan tempat yang diinjak, sebagaimana seorang istri merupakan tempat hubungan suami istri.

Ketika Ismail pulang, ia seakan merasakan adanya sesuatu yang berbeda.

Ia bertanya:

««هَلْ جَاءَكُمْ مِنْ أَحَدٍ؟»»

“Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?”

Istrinya menjawab:

“Ya, telah datang kepada kami seorang tua dengan ciri-ciri demikian dan demikian. Ia menanyakan tentang dirimu dan aku memberitahukannya. Ia bertanya tentang kehidupan kita, lalu aku memberitahunya bahwa kita berada dalam kesusahan dan kesulitan.”

Ismail bertanya:

««فَهَلْ أَوْصَاكِ بِشَيْءٍ؟»»

“Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?”

Istrinya menjawab:

“Ya. Ia memerintahkanku menyampaikan salam kepadamu dan berkata, ‘Gantilah ambang pintumu.’”

Ismail berkata:

««ذَاكِ أَبِي، وَقَدْ أَمَرَنِي أَنْ أُفَارِقَكِ، الْحَقِي بِأَهْلِكِ»»

“Orang itu adalah ayahku. Ia telah memerintahkanku untuk berpisah denganmu. Kembalilah kepada keluargamu.”

Ismail pun menceraikannya.

Istri Kedua Ismail yang Bersyukur

Setelah itu Ismail menikahi wanita lain dari kalangan Jurhum.

Nabi Ibrahim tidak mengunjungi mereka selama waktu yang Allah kehendaki. Kemudian ia kembali datang, tetapi tidak menemukan Ismail.

Ibrahim menemui istri Ismail dan menanyakan keberadaannya.

Wanita itu menjawab:

««خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا»»

“Ia keluar untuk mencari rezeki bagi kami.”

Ibrahim bertanya:

««كَيْفَ أَنْتُمْ؟»»

“Bagaimana keadaan kalian?”

Ia juga bertanya tentang kehidupan mereka.

Istri Ismail menjawab:

««نَحْنُ بِخَيْرٍ وَسَعَةٍ»»

“Kami berada dalam kebaikan dan kelapangan.”

Ia memuji Allah عز وجل.

Ibrahim bertanya:

««مَا طَعَامُكُمْ؟»»

“Apa makanan kalian?”

Ia menjawab:

««اللَّحْمُ»»

“Daging.”

Ibrahim bertanya:

««فَمَا شَرَابُكُمْ؟»»

“Apa minuman kalian?”

Ia menjawab:

««الْمَاءُ»»

“Air.”

Ibrahim berdoa:

««اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي اللَّحْمِ وَالْمَاءِ»»

“Ya Allah, berilah keberkahan kepada mereka dalam daging dan air.”

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa pada saat itu mereka tidak memiliki biji-bijian. Seandainya mereka memilikinya, Ibrahim tentu akan mendoakan keberkahan pada biji-bijian tersebut.

Beliau ﷺ bersabda:

««فَهُمَا لَا يَخْلُو عَلَيْهِمَا أَحَدٌ بِغَيْرِ مَكَّةَ إِلَّا لَمْ يُوَافِقَاهُ»»

“Daging dan air apabila terus-menerus dikonsumsi oleh seseorang di luar Makkah tanpa makanan lain, biasanya tidak sesuai bagi tubuhnya.”

Ibrahim berkata kepada istri Ismail:

««فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلَامَ، وَمُرِيهِ يُثَبِّتْ عَتَبَةَ بَابِهِ»»

“Apabila suamimu datang, sampaikan salam kepadanya dan perintahkan kepadanya agar mempertahankan ambang pintunya.”

Ketika Ismail pulang, ia bertanya:

««هَلْ أَتَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ؟»»

“Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?”

Istrinya menjawab:

“Ya. Telah datang kepada kami seorang tua yang bagus penampilannya.”

Ia memuji Ibrahim dan berkata:

“Ia bertanya kepadaku tentang dirimu, lalu aku memberitahukannya. Ia juga bertanya tentang kehidupan kita, lalu aku memberitahunya bahwa kita berada dalam kebaikan.”

Ismail bertanya:

««فَأَوْصَاكِ بِشَيْءٍ؟»»

“Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?”

Istrinya menjawab:

“Ya. Ia menyampaikan salam kepadamu dan memerintahkanmu agar mempertahankan ambang pintumu.”

Ismail berkata:

««ذَاكِ أَبِي، وَأَنْتِ الْعَتَبَةُ، أَمَرَنِي أَنْ أُمْسِكَكِ»»

“Orang itu adalah ayahku. Engkaulah ambang pintu yang dimaksud. Ia memerintahkanku untuk mempertahankanmu.”

Pertemuan Ibrahim dan Ismail

Setelah beberapa waktu, Nabi Ibrahim kembali datang.

Ketika itu Ismail sedang meraut anak panah di bawah sebuah pohon besar dekat Zamzam.

Kata النَّبْل berarti batang anak panah sebelum dipasangi mata dan bulu panah.

Ketika melihat Ibrahim, Ismail berdiri menyambutnya. Keduanya melakukan apa yang biasa dilakukan seorang ayah kepada anaknya dan seorang anak kepada ayahnya setelah lama berpisah, seperti berpelukan, berjabat tangan, mencium tangan dan bentuk penghormatan lainnya.

Ibrahim berkata:

««يَا إِسْمَاعِيلُ، إِنَّ اللهَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ»»

“Wahai Ismail, sesungguhnya Allah telah memerintahkanku melakukan suatu perkara.”

Ismail menjawab:

««فَاصْنَعْ مَا أَمَرَكَ رَبُّكَ»»

“Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu.”

Ibrahim berkata:

««وَتُعِينُنِي؟»»

“Apakah engkau akan membantuku?”

Ismail menjawab:

««وَأُعِينُكَ»»

“Aku akan membantumu.”

Ibrahim berkata:

««فَإِنَّ اللهَ أَمَرَنِي أَنْ أَبْنِيَ هَاهُنَا بَيْتًا»»

“Sesungguhnya Allah memerintahkanku membangun sebuah rumah di tempat ini.”

Ibrahim menunjuk sebuah tanah tinggi yang lebih menonjol daripada tanah di sekitarnya.

Kata الأَكَمَة berarti tanah tinggi yang ukurannya lebih kecil daripada gunung.

Pembangunan Ka’bah

Pada saat itu Ibrahim dan Ismail meninggikan fondasi Baitullah.

Dalam riwayat Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas disebutkan:

««رَفَعَ الْقَوَاعِدَ الَّتِي كَانَتْ قَوَاعِدَ الْبَيْتِ قَبْلَ ذَلِكَ»»

“Ibrahim meninggikan fondasi yang sebelumnya telah menjadi fondasi Baitullah.”

Dengan demikian, fondasi Baitullah telah ada dan tugas Ibrahim adalah meninggikannya.

Abu Jahm menambahkan:

««وَأَدْخَلَ الْحِجْرَ فِي الْبَيْتِ»»

“Ibrahim memasukkan Hijr ke dalam bagian Baitullah.”

Hijr sebelumnya merupakan tempat berpagar yang digunakan Ismail untuk kambing-kambingnya.

Disebutkan:

««وَكَانَ الْحِجْرُ قَبْلَ ذَلِكَ زَرْبًا لِغَنَمِ إِسْمَاعِيلَ»»

“Hijr sebelum itu adalah kandang bagi kambing-kambing Ismail.”

Ibrahim membangun Ka’bah dengan menyusun batu di atas batu. Ia tidak membuat atap, tetapi membuat sebuah pintu.

Ia juga menggali sebuah sumur di dekat pintu sebagai tempat penyimpanan harta Baitullah. Harta emas, perak dan persembahan untuk Ka’bah diletakkan di dalamnya.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Allah mewahyukan kepada Ibrahim agar mengikuti as-sakinah.

««أَنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَى إِبْرَاهِيمَ أَنِ اتَّبِعِ السَّكِينَةَ، فَحَلَّقَتْ عَلَى مَوْضِعِ الْبَيْتِ كَأَنَّهَا سَحَابَةٌ، فَحَفَرَا يُرِيدَانِ أَسَاسَ آدَمَ الْأَوَّلَ»»

“Allah mewahyukan kepada Ibrahim agar mengikuti as-sakinah. As-sakinah itu berputar-putar di atas lokasi Baitullah seperti awan. Ibrahim dan Ismail kemudian menggali untuk menemukan fondasi pertama yang dibangun sejak masa Adam.”

As-sakinah disebut sebagai sesuatu seperti awan yang disertai para malaikat.

Dalam hadis Ali yang diriwayatkan ath-Thabari dan al-Hakim disebutkan:

««رَأَى عَلَى رَأْسِهِ فِي مَوْضِعِ الْبَيْتِ مِثْلَ الْغَمَامَةِ، فِيهِ مِثْلُ الرَّأْسِ، فَكَلَّمَهُ فَقَالَ: يَا إِبْرَاهِيمُ، ابْنِ عَلَى ظِلِّي، أَوْ عَلَى قَدْرِي، وَلَا تَزِدْ وَلَا تَنْقُصْ»»

“Ibrahim melihat sesuatu seperti awan di atas kepalanya pada lokasi Baitullah. Di dalamnya terdapat sesuatu menyerupai kepala. Ia berbicara kepada Ibrahim dan berkata, ‘Wahai Ibrahim, bangunlah sesuai bayanganku atau sesuai ukuranku. Jangan menambah dan jangan mengurangi.’”

Hal ini berkaitan dengan firman Allah:

«﴿وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ﴾
[الحج: 26]»

“Dan ingatlah ketika Kami menunjukkan kepada Ibrahim tempat Baitullah.”
(QS. Al-Hajj: 26)

Ismail membawa batu-batu, sedangkan Ibrahim membangun.

Ketika bangunan semakin tinggi, Ismail membawa sebuah batu, yaitu Maqam Ibrahim.

Dalam riwayat disebutkan:

««حَتَّى ارْتَفَعَ الْبِنَاءُ، وَضَعُفَ الشَّيْخُ عَنْ نَقْلِ الْحِجَارَةِ، فَقَامَ عَلَى حَجَرِ الْمَقَامِ»»

“Ketika bangunan semakin tinggi dan orang tua itu tidak lagi kuat mengangkat batu, ia berdiri di atas batu Maqam Ibrahim.”

Ismail meletakkan batu tersebut untuk ayahnya. Ibrahim berdiri di atasnya sambil membangun, sedangkan Ismail memberikan batu-batu kepadanya.

Keduanya berdoa:

«﴿رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾
[البقرة: 127]»

“Wahai Tuhan kami, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 127)

Hadis kisah ini diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3184 dan 3185.

Siapakah Hajar?

Hajar adalah ibunda bangsa Arab keturunan Ismail.

Abu Hurairah رضي الله عنه berkata:

««تِلْكَ أُمُّكُمْ يَا بَنِي مَاءِ السَّمَاءِ»»

“Itulah ibu kalian, wahai keturunan air langit.”

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3358 dan Muslim no. 2371.

Al-‘Aini berkata:

««قَالَ مُقَاتِلٌ: كَانَتْ مِنْ وَلَدِ هُودٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَقَالَ الضَّحَّاكُ: كَانَتْ بِنْتَ مَلِكِ مِصْرَ، وَكَانَ سَاكِنًا بِمَنْفٍ، فَغَلَبَهُ مَلِكٌ آخَرُ فَقَتَلَهُ، وَسَبَى ابْنَتَهُ فَاسْتَرَقَّهَا، وَوَهَبَهَا لِسَارَةَ، ثُمَّ وَهَبَتْهَا سَارَةُ لِإِبْرَاهِيمَ، فَوَاقَعَهَا فَوَلَدَتْ إِسْمَاعِيلَ، ثُمَّ حَمَلَ إِبْرَاهِيمُ إِسْمَاعِيلَ وَأُمَّهُ هَاجَرَ إِلَى مَكَّةَ»»

“Muqatil berkata bahwa Hajar berasal dari keturunan Nabi Hud عليه السلام. Adh-Dhahhak berkata bahwa ia adalah putri seorang raja Mesir yang tinggal di Memphis. Raja lain mengalahkan dan membunuh ayahnya, lalu menawan putrinya dan menjadikannya sebagai budak. Kemudian ia diberikan kepada Sarah. Sarah kemudian memberikannya kepada Ibrahim. Ibrahim menggaulinya dan Hajar melahirkan Ismail. Setelah itu Ibrahim membawa Ismail dan ibunya, Hajar, ke Makkah.”

Keterangan ini disebutkan dalam ‘Umdat al-Qari.

Berdasarkan riwayat tersebut, Hajar pada asalnya bukan seorang budak, tetapi seorang wanita merdeka dan putri seorang raja. Kemudian ia ditawan dan dijadikan sebagai budak.

Mengenai namanya disebutkan:

««آجَرُ بِالْهَمْزِ وَالْمَدِّ وَبِفَتْحِ الْجِيمِ، وَقِيلَ: أَصْلُهُ هَاجَرُ، أُبْدِلَ مِنَ الْهَاءِ هَمْزَةٌ، وَهِيَ جَارِيَةٌ قِبْطِيَّةٌ هِيَ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ»»

“Namanya adalah Ajar, dengan hamzah panjang dan huruf jim berharakat fathah. Ada yang mengatakan bahwa asal namanya Hajar, lalu huruf ha diganti menjadi hamzah. Ia adalah seorang wanita Qibthi, ibunda Ismail.”

Keterangan ini terdapat dalam al-Kawakib ad-Darari fi Syarh Shahih al-Bukhari.

Imam al-Bukhari menyebutkan dalam bab:

«بَابُ قَبُولِ الْهَدِيَّةِ مِنَ الْمُشْرِكِينَ»

“Bab menerima hadiah dari orang-orang musyrik.”

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi ﷺ:

««هَاجَرَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِسَارَةَ، فَدَخَلَ قَرْيَةً فِيهَا مَلِكٌ أَوْ جَبَّارٌ، فَقَالَ: أَعْطُوهَا آجَرَ»»

“Ibrahim berhijrah bersama Sarah. Ia memasuki suatu negeri yang dipimpin seorang raja atau penguasa zalim. Raja itu berkata, ‘Berikanlah Ajar kepadanya.’”

Yang dimaksud dengan negeri tersebut adalah Mesir.

Bangsa Arab disebut:

«بَنُو مَاءِ السَّمَاءِ»

“Anak-anak air langit.”

Dalam kitab al-Kawakib ad-Darari dijelaskan:

««وَهُمُ الْعَرَبُ؛ لِأَنَّهَا أُمُّ إِسْمَاعِيلَ، وَالْعَرَبُ مِنْ نَسْلِهِ، وَسُمُّوا بِهِ؛ لِأَنَّهُمْ سُكَّانُ الْبَوَادِي، وَأَكْثَرُ مِيَاهِهِمْ مِنَ الْمَطَرِ»»

“Mereka adalah bangsa Arab, karena Hajar merupakan ibunda Ismail dan bangsa Arab berasal dari keturunannya. Mereka disebut anak-anak air langit karena tinggal di padang-padang gurun dan sebagian besar sumber air mereka berasal dari hujan.”

Beberapa Keutamaan Hajar

Hajar mendahului manusia dalam beberapa perkara.

1. Wanita pertama yang memakai ikat pinggang

Ia adalah wanita pertama yang menggunakan al-minthaq, yaitu ikat pinggang, untuk menyembunyikan jejaknya dari Sarah.

2. Wanita pertama yang memanjangkan ujung pakaian

Hajar adalah wanita pertama yang memanjangkan dan menyeret ujung pakaiannya.

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما disebutkan:

««أَوَّلُ امْرَأَةٍ جَرَّتْ ذَيْلَهَا أُمُّ إِسْمَاعِيلَ، لَمَّا قَرُبَتْ مِنْ سَارَّةَ أَرْخَتْ ذَيْلَهَا لِتَقْفِيَ أَثَرَهَا»»

“Wanita pertama yang menyeret ujung pakaiannya adalah ibunda Ismail. Ketika ia mendekati Sarah, ia memanjangkan ujung pakaiannya untuk menutupi jejaknya.”

Dalam al-Istidzkar disebutkan:

««وَمِنْ هَذَا أَخَذَتْ نِسَاءُ الْعَرَبِ جَرَّ الذُّيُولِ»»

“Dari peristiwa inilah para wanita Arab mengambil kebiasaan memanjangkan ujung pakaian.”

Dengan demikian, Hajar menjadi teladan bagi wanita yang menjaga hijab dan kehormatannya.

3. Orang pertama yang melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah

Hajar adalah orang pertama yang melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah.

Al-Fakihi meriwayatkan dengan sanad hasan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata:

««هَذَا مَا أَوْرَثَتْكُمُوهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ»»

“Inilah sesuatu yang diwariskan oleh ibunda Ismail kepada kalian.”

Ibnu Hajar menyebutkannya dalam Fath al-Bari.

Sa’i antara Shafa dan Marwah adalah warisan dari perjuangan ibunda Ismail. Karena itu, para jamaah haji dan umrah hendaknya mengingat kisah tersebut ketika melaksanakan sa’i.

4. Wanita pertama yang dikhitan dan dilubangi telinganya

Disebutkan bahwa Hajar adalah wanita pertama yang dikhitan dan dilubangi kedua telinganya.

Semoga Allah meridhainya.

Wasiat agar Berbuat Baik kepada Penduduk Mesir

Dalam penutup pembahasan ini disebutkan hadis dari Abdurrahman bin Syimasah al-Mahri. Ia berkata bahwa ia mendengar Abu Dzar رضي الله عنه berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

««إِنَّكُمْ سَتَفْتَحُونَ أَرْضًا يُذْكَرُ فِيهَا الْقِيرَاطُ، فَاسْتَوْصُوا بِأَهْلِهَا خَيْرًا، فَإِنَّ لَهُمْ ذِمَّةً وَرَحِمًا، فَإِذَا رَأَيْتُمْ رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ فِي مَوْضِعِ لَبِنَةٍ فَاخْرُجْ مِنْهَا»»

“Sesungguhnya kalian akan menaklukkan suatu negeri yang di dalamnya dikenal istilah qirath. Berwasiatlah untuk memperlakukan penduduknya dengan baik, karena mereka memiliki hak perlindungan dan hubungan kekerabatan. Apabila engkau melihat dua orang bertengkar karena tempat sebuah batu bata, keluarlah dari negeri tersebut.”

Abu Dzar kemudian melewati Rabi’ah dan Abdurrahman, dua putra Syurahbil bin Hasanah, yang sedang berselisih mengenai tempat sebuah batu bata. Ia pun keluar dari Mesir.

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim no. 2543.

Dalam penjelasan hadis disebutkan:

««فَإِنَّ لَهُمْ ذِمَّةً»»

“Sesungguhnya mereka memiliki hak perlindungan,”

yaitu memiliki hak, kehormatan dan jaminan yang harus dijaga.

Adapun sabda beliau:

««وَرَحِمًا»»

“Dan hubungan kekerabatan,”

karena Hajar, ibunda Ismail عليه السلام, berasal dari kalangan mereka. Hajar merupakan ibunda bangsa Arab keturunan Ismail.

Dalam riwayat lain disebutkan:

««وَصِهْرًا»»

“Dan hubungan pernikahan,”

karena Mariyah al-Qibthiyyah, ibunda Ibrahim putra Rasulullah ﷺ, juga berasal dari Mesir.

Semoga Allah mencurahkan selawat, salam, keberkahan, kenikmatan dan kemuliaan kepada Nabi kita Muhammad, para sahabatnya dan semua orang yang mengikuti petunjuknya hingga hari Kiamat.

«اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.»

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan sikap berlebih-lebihan kami dalam urusan kami. Teguhkanlah kaki-kaki kami dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir.”

«اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوفَنَا، اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَزِلِ الْغِلَّ وَالْحِقْدَ وَالْحَسَدَ وَالْبَغْضَاءَ مِنْ صُدُورِنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.»

“Ya Allah, satukanlah barisan kami. Ya Allah, persatukanlah hati-hati kami. Hilangkanlah kedengkian, dendam, hasad dan kebencian dari dada kami. Tolonglah kami menghadapi musuh-Mu dan musuh kami, dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button