Khutbah Jumat: Nikmat Keamanan Dan Kewajiban Mensyukurinya

NIKMAT KEAMANAN DAN KEWAJIBAN MENSYUKURINYA
Tadabbur Surah Quraisy
KHUTBAH PERTAMA
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
Amma ba’du.
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Ta‘ala dengan sebenar-benar ketakwaan, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
[آل عمران: ١٠٢]
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah menurunkan Al-Qur’an agar kita membacanya, mentadabburinya, mengambil pelajaran darinya, kemudian menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan.
Di antara surah pendek yang sering kita baca, namun mengandung pelajaran yang sangat besar, adalah Surah Quraisy. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ﴾
[قريش: ١-٤]
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini, yang telah memberi mereka makanan sehingga terbebas dari kelaparan dan memberikan keamanan kepada mereka dari rasa takut.”
Allah mengingatkan orang-orang Quraisy tentang nikmat yang mereka rasakan. Mereka terbiasa melakukan perjalanan dagang setiap tahun: pada musim dingin menuju Yaman dan pada musim panas menuju Syam. Perdagangan itulah yang menjadi salah satu sumber kehidupan mereka.
Di dalamnya terdapat pelajaran tentang kesempurnaan kekuasaan Allah. Apabila Allah menghendaki sesuatu, Allah mampu memudahkan sebab-sebabnya. Seluruh pengaturan berada di tangan-Nya. Allah dapat merendahkan siapa yang Dia kehendaki meskipun sebelumnya mulia, dan Allah dapat mengangkat siapa yang Dia kehendaki meskipun sebelumnya rendah.
Kesadaran seperti ini seharusnya menumbuhkan kecintaan kepada Allah, ketergantungan hanya kepada-Nya, ketundukan dalam beribadah kepada-Nya, serta keyakinan bahwa segala manfaat dan segala perlindungan pada hakikatnya berada di tangan Allah Ta‘ala.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Setiap nikmat menuntut adanya syukur. Karena itu, setelah menyebutkan nikmat-Nya kepada Quraisy, Allah langsung memerintahkan mereka untuk beribadah:
﴿فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ﴾
“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini.”
Artinya, hendaklah mereka beribadah hanya kepada Allah, Rabb pemilik Ka‘bah, yang telah memberikan begitu banyak kebaikan kepada mereka. Syukur terbesar seorang hamba adalah mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada-Nya.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾
[النمل: ٩١]
“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Rabb negeri ini yang telah menjadikannya suci dan milik-Nyalah segala sesuatu. Dan aku diperintahkan agar termasuk orang-orang Muslim.”
Kemudian Allah menyebutkan dua nikmat yang sangat besar:
﴿الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ﴾
“Yang telah memberi mereka makanan sehingga terbebas dari kelaparan dan memberikan keamanan kepada mereka dari rasa takut.”
Perhatikanlah, jamaah sekalian. Allah menyebutkan nikmat kecukupan pangan dan nikmat keamanan.
Tentang nikmat rezeki, Allah mengabadikan doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:
﴿وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ﴾
[البقرة: ١٢٦]
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa, ‘Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya.’”
Tentang nikmat keamanan, Allah berfirman:
﴿إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا﴾
[آل عمران: ٩٦-٩٧]
“Sesungguhnya rumah yang pertama kali dibangun untuk manusia ialah Baitullah yang berada di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di sana terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya Maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya, ia mendapatkan keamanan.”
Allah juga berfirman:
﴿أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا﴾
[القصص: ٥٧]
“Bukankah Kami telah meneguhkan bagi mereka tanah haram yang aman, yang didatangkan kepadanya berbagai macam hasil sebagai rezeki dari sisi Kami?”
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kecukupan rezeki dan rasa aman merupakan dua nikmat dunia yang sangat besar.
Sering kali seseorang baru mengetahui betapa berharganya keamanan ketika keamanan itu hilang. Ketika suatu masyarakat diliputi ketakutan, konflik, kekacauan dan permusuhan, kehidupan menjadi sulit. Orang merasa takut keluar rumah, mencari nafkah menjadi sulit, pendidikan terganggu, ibadah pun tidak dapat dilaksanakan dengan tenang.
Karena itu, keamanan bukanlah nikmat yang kecil.
Allah berfirman:
﴿فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ﴾
Maka nikmat keamanan harus membawa kita semakin dekat kepada Allah, bukan justru membuat kita lalai kepada-Nya.
Barang siapa mensyukuri nikmat Allah dengan iman, tauhid dan ketaatan, berarti ia telah menempuh sebab untuk memperoleh keamanan dunia dan keamanan akhirat.
Sebaliknya, Allah telah memberikan contoh tentang sebuah negeri yang dahulu hidup aman dan tenteram, rezekinya datang dengan melimpah, kemudian penduduknya mengingkari nikmat Allah.
Allah berfirman:
﴿وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ﴾
[النحل: ١١٢-١١٣]
“Dan Allah membuat perumpamaan sebuah negeri yang dahulu aman dan tenteram. Rezekinya datang kepadanya dengan melimpah dari segala tempat. Namun penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Maka Allah membuat mereka merasakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat. Sungguh, telah datang kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya. Maka mereka ditimpa azab dalam keadaan berbuat zalim.”
Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah,
Kita pun merasakan banyak nikmat dalam kehidupan kita. Setelah nikmat Islam dan iman, di antara nikmat besar itu adalah keamanan dan ketenteraman.
Persatuan adalah nikmat. Keamanan adalah nikmat. Kerukunan masyarakat adalah nikmat. Kehidupan yang damai adalah nikmat. Terjaganya persaudaraan dan kepedulian terhadap kepentingan bersama juga merupakan nikmat Allah.
Nikmat-nikmat tersebut harus kita jaga. Dan cara terpenting menjaganya adalah dengan mensyukuri Allah, menaati-Nya, meninggalkan kemaksiatan, menjaga hak sesama, tidak menzalimi orang lain, tidak menebarkan permusuhan, dan bersama-sama menjaga ketenteraman masyarakat.
Sebab Allah telah menjanjikan:
﴿وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ﴾
[إبراهيم: ٧]
“Dan ingatlah ketika Rabb kalian menyatakan, ‘Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian. Tetapi jika kalian mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’”
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ:
﴿أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ﴾
[العنكبوت: ٦٧]
“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa Kami telah menjadikan tanah haram sebagai tempat yang aman, sementara manusia di sekitarnya saling dirampas? Mengapa mereka masih mempercayai kebatilan dan mengingkari nikmat Allah?”
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاقْتَفَى.
أَمَّا بَعْدُ:
Marilah kita kembali meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta‘ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾
[الحشر: ١٨]
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan.”
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Di tengah berbagai peristiwa, konflik dan krisis yang terjadi, ada beberapa hal yang perlu kita jaga agar kita tidak justru menjadi penyebab tersebarnya keresahan di tengah masyarakat.
Pertama, jangan mudah menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.
Tidak semua yang kita dengar harus kita ceritakan. Tidak semua yang masuk ke telepon genggam kita harus diteruskan kepada orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»
رواه مسلم في مقدمة صحيحه
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan setiap berita yang didengarnya.”
Karena itu, seorang Muslim hendaknya membiasakan diri melakukan tabayyun. Periksa dahulu kebenaran berita sebelum menyebarkannya, terlebih jika berita tersebut berkaitan dengan keamanan, konflik, atau sesuatu yang dapat menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat.
Kedua, jangan tergesa-gesa berbicara tentang persoalan besar yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ﴾
[النساء: ٨٣]
“Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyebarkannya. Padahal apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang mampu mengambil kesimpulan di antara mereka akan mengetahuinya.”
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»
رواه الترمذي (٢٣١٧)
“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat dan bukan menjadi urusannya.”
Ketiga, berhati-hatilah dalam menyebarkan foto dan video yang berkaitan dengan peristiwa keamanan, konflik, musibah, dan kejadian sensitif lainnya.
Sebuah video yang kita anggap biasa bisa menimbulkan kepanikan. Sebuah informasi yang kita sebarkan tanpa pertimbangan bisa memperkeruh keadaan. Bahkan informasi tertentu dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak yang ingin menimbulkan kerusakan.
Karena itu, seorang Muslim harus berpikir sebelum menekan tombol “kirim” atau “bagikan”: Apakah informasi ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah menyebarkannya justru akan menimbulkan mudarat?
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kita memohon kepada Allah agar menjaga negeri kita dan seluruh negeri kaum Muslimin dari segala keburukan. Semoga Allah memberikan keamanan, ketenteraman dan kestabilan kepada masyarakat kita. Semoga Allah melindungi kaum Muslimin di mana pun mereka berada, menolong mereka yang tertindas, memberikan kedamaian kepada mereka yang dilanda konflik, serta menjauhkan kita semua dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ﴾
[البقرة: ١٨٦]
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapatkan petunjuk.”
Maka bertakwalah kepada Allah, wahai kaum Muslimin.
Mari kita jaga nikmat keamanan ini, dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita. Tegakkan ketaatan kepada Allah, jauhi kezaliman, jaga persaudaraan, jangan menyebarkan fitnah dan berita dusta, jangan mudah diadu domba, serta jangan menjadi sebab timbulnya keresahan dan perpecahan di tengah masyarakat.
Jadilah setiap kita bagian dari penjaga ketenteraman masyarakat. Jagalah lisan kita, tulisan kita, media sosial kita dan tindakan kita. Karena keamanan suatu negeri bukan hanya kebutuhan pemerintah atau aparat keamanan, tetapi merupakan kebutuhan dan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat sesuai dengan kedudukan dan kemampuan masing-masing.
Kemudian, marilah kita bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi kita Muhammad ﷺ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَيْنَا نِعْمَةَ الْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةَ وَالْإِسْلَامِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بِلَادَنَا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، رَخَاءً سَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ احْقِنْ دِمَاءَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَادْفَعْ عَنْهُمُ الْفِتَنَ وَالْحُرُوبَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.



