Ayat-Ayat Allah yang Menakjubkan: Gunung sebagai Salah Satu Contohnya dan Rahasia Penyebutannya dalam Al-Qur’an

Ayat-Ayat Allah yang Menakjubkan: Gunung sebagai Salah Satu Contohnya dan Rahasia Penyebutannya dalam Al-Qur’an
Gunung merupakan salah satu makhluk Allah yang agung. Allah menyebutkannya dalam Kitab-Nya yang mulia pada lebih dari empat puluh tempat. Ayat-ayat tersebut berbicara mengenai sifat, fungsi, dan karakteristik gunung; mengajak manusia memperhatikan dan merenungkan bagaimana gunung diciptakan; serta menunjukkan sebagian dari keagungan kekuasaan Allah dalam membentuknya dan kokohnya penciptaannya.
Al-Qur’an juga berbicara mengenai nasib gunung ketika bumi diganti dengan bumi yang lain, demikian pula langit. Gunung-gunung yang begitu besar dan kokoh itu akhirnya berubah menjadi debu yang beterbangan dan seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
Gunung dalam Metode Al-Qur’an
Al-Qur’an membicarakan gunung dari berbagai sisi. Di antaranya, gunung menjadi saksi keras kepalanya orang-orang kafir yang menolak beribadah kepada Allah عز وجل.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ﴾
[هود: 42–43]
“Dan kapal itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung-gunung. Nuh memanggil anaknya ketika dia berada di tempat yang jauh, ‘Wahai anakku! Naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.’ Dia menjawab, ‘Aku akan berlindung ke gunung yang dapat melindungiku dari air bah.’ Nuh berkata, ‘Tidak ada yang dapat melindungi dari ketetapan Allah pada hari ini selain siapa yang dirahmati-Nya.’ Gelombang pun menjadi penghalang antara keduanya, maka dia termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”
Gunung juga menjadi saksi kemahiran kaum Nabi Shalih dalam memahat dan membangun, sekaligus menjadi saksi pembangkangan dan kedurhakaan mereka.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُصْبِحِينَ﴾
[الحجر: 82–83]
“Dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung dengan aman. Kemudian mereka ditimpa suara keras yang mengguntur pada waktu pagi.”
Penghambaan Gunung kepada Allah
Dalil-dalil syariat menunjukkan bahwa gunung bersujud kepada Allah Ta‘ala, bertasbih kepada-Nya, takut dan tunduk kepada-Nya. Gunung juga termasuk makhluk yang ditawari amanah untuk memikulnya. Nash-nash juga menyebutkan tindakan gunung yang menunjukkan adanya bentuk kesadaran yang Allah berikan kepadanya.
Gunung Bersujud kepada Allah
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ﴾
[الحج: 18]
“Tidakkah engkau mengetahui bahwa kepada Allah bersujud siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan yang melata, dan banyak di antara manusia? Namun banyak pula manusia yang pantas mendapatkan azab. Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang dapat memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”
Ayat ini secara umum menetapkan bahwa seluruh makhluk bersujud kepada Allah Ta‘ala. Penyebutan mereka secara beriringan menunjukkan bahwa semuanya beribadah kepada Allah. Adapun bagaimana hakikat sujud mereka, hanya Allah سبحانه وتعالى yang mengetahuinya.
Ibnu Katsir رحمه الله berkata mengenai sujud gunung dan pepohonan:
«وَأَمَّا الْجِبَالُ وَالشَّجَرُ فَسُجُودُهَا بِفَيْءِ ظِلَالِهَا عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمَائِلِ»
“Adapun gunung dan pepohonan, sujud keduanya adalah dengan bergeraknya bayang-bayangnya ke kanan dan ke kiri.”
Al-Qur’an membicarakan gunung dengan sesuatu yang mungkin tidak pernah dibayangkan seorang peneliti, yaitu mengenai penghambaan makhluk-makhluk tersebut kepada Rabb dan Penciptanya serta ketundukannya—meskipun begitu besar dan kokoh—di hadapan Zat yang menciptakan dan mengadakannya.
Gunung Bertasbih
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ﴾
[الأنبياء: 79]
“Dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung bersama Dawud; semuanya bertasbih. Dan Kamilah yang melakukannya.”
Allah juga berfirman:
﴿يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ﴾
[سبأ: 10]
“Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud. Dan Kami telah melunakkan besi untuknya.”
Allah berfirman:
﴿إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ﴾
[ص: 18]
“Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung bersamanya; mereka bertasbih pada waktu petang dan pagi.”
Tasbih yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut adalah tasbih yang sebenarnya. Allah سبحانه وتعالى memberikan kepada gunung suatu kemampuan untuk bertasbih.
Gunung bertasbih bersama Nabi Dawud عليه السلام dan ditundukkan untuk itu sebagai salah satu bentuk mukjizat beliau. Gunung mengulang tasbih bersamanya atau bertasbih atas perintahnya, sehingga Allah عز وجل menundukkannya untuk Nabi Dawud.
Seruan ﴿يَا جِبَالُ﴾ “Wahai gunung-gunung” merupakan bentuk pembicaraan kepada makhluk yang diberi kemampuan memahami.
Al-Qurthubi رحمه الله berkata bahwa Allah menyebutkan bukti dan mukjizat yang diberikan kepada Dawud, yaitu gunung-gunung bertasbih bersamanya. Muqatil berkata:
«كَانَ دَاوُدُ إِذَا ذَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرَتِ الْجِبَالُ مَعَهُ»
“Apabila Dawud berdzikir kepada Allah عز وجل, gunung-gunung pun berdzikir bersamanya.”
Al-Qurthubi kemudian menjelaskan bahwa pendapat yang benar adalah bahwa tasbih tersebut merupakan tasbih dengan ucapan yang sebenarnya, dan itu terjadi ketika matahari terbit dan ketika matahari terbenam.
Gunung Takut kepada Allah
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ﴾
[الحشر: 21]
“Sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk dan terpecah-belah karena takut kepada Allah.”
Allah عز وجل mengingatkan manusia agar takut kepada-Nya, menjauhi kemaksiatan, dan melaksanakan ketaatan. Allah memberikan perumpamaan yang lebih utama: apabila gunung dengan segala kekokohannya, seandainya Al-Qur’an diturunkan kepadanya, akan tunduk kepada Allah, maka manusia yang telah Allah muliakan atas banyak makhluk tentu lebih pantas untuk memiliki rasa takut yang lebih besar kepada-Nya.
Muhammad al-Amin asy-Syinqithi رحمه الله menjelaskan bahwa meskipun Allah tidak menurunkan Al-Qur’an kepada sebuah gunung, seandainya Dia menurunkannya, niscaya gunung tersebut benar-benar akan:
﴿خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ﴾
“Tunduk dan terpecah-belah karena takut kepada Allah.”
Hal serupa ditunjukkan oleh firman Allah:
﴿إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا﴾
[الأحزاب: 72]
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikul amanah itu dan mereka takut terhadapnya. Lalu manusia memikulnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa gunung merasa takut untuk memikul amanah. Apabila hanya dengan ditawari amanah saja gunung telah merasa takut, bagaimana kiranya apabila amanah tersebut benar-benar dibebankan kepadanya?
Gunung Hancur ketika Allah Menampakkan Diri
Allah Ta‘ala berfirman mengenai Nabi Musa عليه السلام:
﴿وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ﴾
[الأعراف: 143]
“Ketika Musa datang pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berbicara langsung kepadanya, Musa berkata, ‘Wahai Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Allah berfirman, ‘Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku. Namun lihatlah gunung itu; apabila ia tetap berada di tempatnya, niscaya engkau dapat melihat-Ku.’ Maka ketika Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, Dia menjadikannya hancur, dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah sadar, dia berkata, ‘Mahasuci Engkau. Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama beriman.’”
Sebagian ulama menafsirkan ﴿جَعَلَهُ دَكًّا﴾ dengan “menjadikannya hancur berkeping-keping.”
Mujahid menjelaskan bahwa gunung itu lebih besar dan lebih kuat penciptaannya daripada Musa. Namun ketika Allah menampakkan diri kepada gunung tersebut, gunung itu tidak mampu bertahan dan hancur. Ketika Musa melihat apa yang terjadi pada gunung, beliau pun jatuh pingsan.
Reaksi Dahsyat Gunung terhadap Perkataan bahwa Allah Mempunyai Anak
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا﴾
[مريم: 88–91]
“Dan mereka berkata, ‘Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak.’ Sungguh, kalian telah membawa suatu perkara yang sangat mungkar. Hampir saja langit pecah karenanya, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping, karena mereka menganggap Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak.”
Ini merupakan gambaran reaksi kosmik yang melibatkan langit, bumi, dan gunung karena dahsyatnya kemungkaran ucapan:
﴿اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا﴾
“Ar-Rahman mempunyai anak.”
Kemudian Allah menegaskan:
﴿وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا﴾
[مريم: 92–95]
“Tidak patut bagi Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi melainkan akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba. Sungguh, Dia telah mengetahui mereka seluruhnya dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada hari Kiamat seorang diri.”
Isyarat Al-Qur’an tentang Penciptaan Gunung
Al-Qur’an menyebut gunung sebagai أوتاد (pasak-pasak) dan رواسي (gunung-gunung yang kokoh) serta menyebut keberagaman warnanya.
Allah berfirman:
﴿وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا﴾
[النبأ: 7]
“Dan gunung-gunung sebagai pasak.”
Pasak memiliki bagian yang tampak di permukaan, sedangkan bagian lainnya tertanam di dalam. Fungsi pasak adalah memberikan kekokohan.
Dalam geologi modern, banyak pegunungan memang memiliki “akar” kerak yang lebih dalam sebagai konsekuensi keseimbangan kerak bumi (isostasy). Karena itu, perumpamaan gunung sebagai pasak memiliki sisi kesesuaian yang menarik.
Allah juga berfirman:
﴿وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ﴾
[لقمان: 10]
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung yang kokoh di bumi agar bumi itu tidak mengguncangkan kalian.”
Dan:
﴿وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ﴾
[الأنبياء: 31]
“Dan Kami telah menjadikan di bumi gunung-gunung yang kokoh agar bumi itu tidak mengguncangkan mereka, dan Kami menjadikan padanya jalan-jalan yang luas agar mereka mendapatkan petunjuk.”
Allah juga berfirman:
﴿وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾
[الرعد: 3]
“Dialah yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung serta sungai-sungai padanya. Dari setiap jenis buah-buahan Dia menjadikan padanya berpasang-pasangan. Dia menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
Gunung memiliki hubungan dengan sistem air di bumi. Pegunungan dapat memengaruhi aliran udara, curah hujan, penyimpanan salju dan air, serta pembentukan daerah aliran sungai. Dari air tersebut tumbuh tanaman dan dihasilkan berbagai buah-buahan.
Catatan ilmiah penting: beberapa uraian dalam tulisan asal—misalnya bahwa gunung secara sederhana “mencegah gempa”, bahwa seluruh gunung memiliki akar beberapa kali tinggi bagian permukaannya, atau bahwa buah secara umum “tumbuh pada malam hari” karena malam diperlukan untuk pematangan—sebaiknya tidak dinyatakan sebagai fakta ilmiah mutlak. Ayat-ayat Al-Qur’an tetap benar sebagaimana lafaznya, tetapi penafsiran ilmiah manusia perlu dibedakan antara fakta geologi yang mapan, hipotesis, dan upaya menghubungkan fenomena ilmiah dengan ayat.
Hancur dan Lenyapnya Gunung pada Hari Kiamat
Gunung yang sekarang begitu besar dan kokoh akan mengalami kehancuran total pada hari Kiamat.
Allah berfirman:
﴿وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا لَا تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا﴾
[طه: 105–107]
“Mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung. Maka katakanlah, ‘Rabbku akan menghancurkannya sehancur-hancurnya, kemudian Dia akan menjadikan bekasnya sebagai tanah datar yang sama sekali rata. Engkau tidak akan melihat padanya tempat yang rendah ataupun yang tinggi.’”
Allah berfirman:
﴿وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا﴾
[الكهف: 47]
“Dan pada hari ketika Kami menjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi dalam keadaan terbuka, Kami mengumpulkan mereka seluruhnya dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.”
Gunung-gunung yang dahulu kokoh akan dihancurkan dan diratakan dengan bumi.
Allah berfirman:
﴿وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا﴾
[الواقعة: 5–6]
“Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya, lalu menjadi debu yang beterbangan.”
Dalam ayat lain:
﴿وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ﴾
[القارعة: 5]
“Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.”
Ibnu Qayyim رحمه الله mengambil pelajaran yang sangat menyentuh dari keadaan gunung tersebut: gunung yang tersusun dari batu keras saja tunduk, takut, dan akan hancur karena keagungan Allah. Maka sungguh mengherankan apabila hati manusia justru lebih keras daripada gunung; ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya, tetapi hatinya tidak menjadi lembut, tidak khusyuk, dan tidak kembali kepada Allah.
Pada hari tersebut manusia pun berada dalam ketakutan yang luar biasa.
Allah berfirman:
﴿يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ﴾
[الحاقة: 18]
“Pada hari itu kalian dihadapkan kepada Allah; tidak ada sedikit pun keadaan kalian yang tersembunyi.”
Allah juga berfirman:
﴿يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ﴾
[عبس: 34–37]
“Pada hari ketika seseorang lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.”
Dan Allah berfirman:
﴿يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ﴾
[الحج: 2]
“Pada hari ketika kalian melihatnya, setiap perempuan yang menyusui akan lalai terhadap anak yang disusuinya, setiap perempuan yang hamil akan menggugurkan kandungannya, dan engkau melihat manusia dalam keadaan seperti mabuk, padahal mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah sangat keras.”
Pelajaran
Gunung yang besar, tinggi, keras, dan kokoh tetap merupakan hamba Allah. Ia bersujud kepada-Nya, bertasbih kepada-Nya, tunduk dan takut kepada-Nya. Apabila Al-Qur’an diturunkan kepadanya, niscaya ia tunduk dan terpecah karena takut kepada Allah. Dan ketika hari Kiamat tiba, gunung-gunung itu dihancurkan hingga menjadi debu yang beterbangan.
Karena itu, ayat tentang gunung bukan sekadar mengajak manusia mengagumi alam, tetapi terutama mengajak hati untuk mengenal kebesaran Allah dan tunduk kepada-Nya:
﴿لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ﴾
“Sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk dan terpecah-belah karena takut kepada Allah.” [الحشر: 21]



