TUHAN TIDAK JAUH TAPI AKU YANG MENJAUH

TUHAN TIDAK JAUH TAPI AKU YANG MENJAUH
Oleh: Anugrah, S.H.
Alumni Stiba Makassar, Prodi Perbandingan Mazhab.
Mahasiswa S1, Prodi Ushuluddin, Universitas Najran, KSA.
Hal yang terkadang kita rasakan adalah kekosongan jiwa dan kengundahan hati, merasa jauh dari Allah subhanahu wa ta’ala. Apakah ini sekedar rasa? atau demikianlah hakikatnya? Bukan karena tak lagi percaya, bukan pula karena hilang keyakinan, namun seperti ada jarak yang sulit untuk didefinisikan. Ibadah? mungkin tetap kita laksanakan, doa pun masih selalu terucapkan, tapi seperti ada kekosongan yang tak mampu kita jelaskan.
Lantas apa? Tuhan kita tak berubah, Allah yang Maha penyayang itu, tak akan menjauh dari kita. Lalu? Ya! Kita!, kita lah yang membuat jarak dengan-Nya, perlahan melangkah jauh dari-Nya. Apa yang salah? Terlalu sibuknya kita dengan dunia, karir, jabatan, pangkat, harta, semuanya kita kejar. Al-hasil ibadah sekadar rutinitas yang tak bermakna, hingga tak lagi mampu membasahi hati kita. Padahal, ibadah adalah saat-saat dimana kita seharusnya merasa sangat dekat dengan tuhan, Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan dalam sabdanya:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Artinya: “Keadaan seorang hambah yang paling dekat dari Tuhannya adalah ketika dia sujud, maka perbanyaklah doa” (HR. Muslim).
Seharusnya, kita mampu mencicipi manisnya bersujud kepada Allah dan merasa dekat dengan-Nya, namun sujud kita tak lagi bermakna, jiwa kita pun tetap dalam kekosongan. Hal ini dikarenakan tenggelamnya kita pada urusan dunia yang bahkan saat menghadap Allah pun kita membawa urusan-urusan dunia kita, bukan untuk kita adukan, agar diberi kemudahan, tapi justru malah menyibukkan kita dari hakikat beribadah yang seharusnya kita tunaikan.
Pada saat-saat hati kita diliputi kegundahan, mungkin pernah kita merasakan suatu momen ketika kita mulai tersadarkan dengan keadaan kita yang sudah terlalu jauh dari Tuhan. Saat-saat ketika kita menghela napas panjang dan menatap ke langit “(menghela napas) ya Allah…, maafkan aku yang sudah terlalu jauh dari-Mu”. Bahkan saat itu, “sekadar” menyebut nama-Nya “Allah” air mata kita mungkin tak lagi tertahankan. Saat itu, kita benar-benar sedih, yang kita rasakan hanya “ya Allah, aku ingin kembali”.
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ …..
Terjemahan: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat…..” (Q.S. Al-Baqarah: 186).
Ya Rabb, Engkau dekat, sangat dekat dengan hambah-hambah-Mu, namun aku lah yang menjauh dari-Mu.
Momen seperti ini, boleh jadi, itulah bentuk cinta Allah kepada kita, Allah ingatkan kita dengan sentuhan yang sangat lembut, lewat hati kita yang tersadarkan dengan jarak yang telah jauh itu. Begitulah Al-Lathif (yang Maha lembut), memberikan kebaikannya kepada kita, pada saat-saat yang mungkin tak kita sadari.
Ketika kita tersadarkan akan jarak kita dengan Allah yang sudah semakin jauh, Allah dengan kasih sayang dan cinta-Nya, memberikan kita kesempatan untuk kembali merenung, mengingat masa-masa ketaatan kita, tatkala ibadah meninggalkan bekas yang mendalam, kita merasa dekat dengan Allah, tak ada yang kita khawatirkan, karena kita tau bahwa Allah bersama dengan kita. Maka, menyadari hal ini, saatnya kita mengambil langkah untuk cepat-cepat kembali kepada-Nya, agar kita tidak semakin jauh sampai akhirnya kita tenggelam dalam kemaksiatan dan menjadikan hati gelap, tak lagi tahu arah kembali.
Sungguh sangat indah, dan sangat membuat haru, ketika kita yang mulai tersadarkan ini, kembali mendekat kepada Allah, dengan bertaubat dan menyesali kesalahan-kesalahan kita yang terlalu sibuk dengan dunia yang fana ini. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman:
إِذَا تَقَرَّبَ عَبْدِي مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا، وَإِذَا تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَإِذَا أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
Artinya: “Apabila ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Apabila ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari” (HR. Muslim).
Perhatikanlah, bagaimana Allah menyambut kita dengan memberikan kebaikan yang lebih dari apa yang kita kerjakan. Saat kita kembali kepadanya dengan berjalan, Ia pun datang menghampiri kita dengan berlari.
Mendengar pesan ini, tidakkah kita ingin segera bergegas untuk kembali kepada-Nya? Pulanglah!!!, kita ini lemah, jika harus terus menjauh dari-Nya.
Kembali kepada Allah subhanahu wa ta’la dimulai dengan langkah-langkah kecil. Perbaiki lagi ibadah-ibadah yang dulunya tak bermakna, bercampur dengan urusan dunia di dalamnya, sholat kita, bacaan al-Qur’an, zikir dan doa, semuanya mari kembali kita perkuat.
Pelan tapi menuju-Nya, karena Ia tak pernah menunggu kita saat kita telah sempurna, dan kesempurnaan memang hanyalah milik-Nya. Tapi, Ia selalu membuka pintu maaf-Nya saat kita mau kembali datang kepada-Nya.
Mungkin, selama ini kita merasa terlalu kotor untuk kembali, terlalu jauh untuk dimaafkan, terlalu rusak untuk diperbaiki. Tapi ketahuilah! tidak ada istilah ‘terlambat’ dalam kamus rahmat Allah. Selama nyawa masih ada di dada, selama mata masih bisa menangis dan hati masih bisa menyesal, maka jalan pulang itu masih terbuka lebar. Jangan tunggu waktu yang tepat. Waktu yang tepat adalah sekarang.
Teteskan air mata karena dosa, bukan karena dunia. Rangkullah pengampunan-Nya dengan hati yang penuh penyesalan, karena Allah lebih senang melihatmu kembali, daripada dunia dan seluruh isinya.
Pulanglah, wahai hati yang lelah. Allah tak pernah menutup pintu bagi hamba yang ingin kembali. Tak peduli seberapa jauh kita dari Allah, yang Allah lihat adalah langkah kecil kita hari ini. Dan satu langkah kecil itu bisa mengubah hidup kita untuk menjadi kehidupan yang lebih baik dan lebih bermakna.
“Kita seperti musafir yang haus di padang tandus, tapi terlalu malu meminta air. Padahal, Allah telah menyiapkan mata air kasih-Nya, hanya menunggu kita menengadah”.



