Petunjuk Nabi ﷺ dalam Mendidik (Bag. 7)

Bagian ke-7
15. Memberikan penegasan terhadap hal-hal yang sangat urgen
Tercatat bahwa Nabi bersumpah lebih dari delapan puluh kali dalam berbagai macam permasalahan dan perkara penting, seperti sabdanya: “Demi Allah, tidak beriman…”, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya…”, “Demi Allah…”, dan ungkapan serupa lainnya sebagai bentuk penekanan terhadap urgensi pesan yang disampaikan. Beliau juga kerap mengulang-ulang sebagian pernyataan tertentu, seperti sabdanya: “Ingatlah, jauhilah perkataan dusta…” yang diulang terus-menerus hingga para sahabat berharap agar Rasulullah berhenti karena rasa belas kasih terhadap beliau. (Muttfaqun ‘alaihi).
16. Menjaga fokus murid dalam proses belajar
Hal ini tampak dalam kisah seorang laki-laki yang datang bertanya kepada Nabi tentang hari kiamat. Saat itu, beliau tengah mengajar para sahabat, sehingga pada awalnya beliau sengaja berpaling darinya agar tidak mengalihkan fokus mereka dari pokok pembahasan. Namun setelah itu, beliau tetap menjawab pertanyaannya di waktu yang tepat. Metode ini menjadi pelajaran berharga bagi para pengajar agar tidak larut pada pembahasan sampingan yang jauh dari tujuan utama hingga melalaikan inti materi. Karena itu, para pengajar yang sering keluar dari fokus utama pelajaran sebaiknya meninjau kembali metode Nabi dalam mendidik.
Al-Qur’an juga telah mengisyaratkan akan pentingnya hal ini, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya (dengan penuh perhatian).” (Qaf: 37)
Ayat ini mengisyaratkan bahwa untuk dapat mentadabburi Al-Qur’an dengan benar, seseorang harus mengosongkan hatinya dari berbagai gangguan dan hal-hal yang dapat memalingkan konsentrasinya.
Demikian pula halnya dalam shalat Jumat. Rasulullah melarang seseorang menyibukkan diri dari khutbah, sekalipun hanya sekadar menyuruh orang lain diam, sebagaimana sabda Nabi :
“Jika engkau berkata kepada temanmu pada hari Jumat, ‘Diamlah!’ sementara imam sedang berkhutbah, maka sungguh engkau telah berbuat sia-sia.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Begitu pula dalam shalat, seorang muslim dilarang menunaikannya dalam kondisi yang mengganggu kekhusyukan dan kehadiran hati, seperti saat makanan tersaji, saat menahan buang air besar atau kecil, atau ketika ada sesuatu yang mengganggu pandangan di arah kiblat.
17. Memperhatikan semangat dan kondisi mental pelajar
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud raḍiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi memberikan nasihat kepada para sahabatnya hanya pada momen-momen tertentu saja, karena beliau khawatir kami akan merasa jenuh. (Muttafaqun ‘alaihi).
Hal ini menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak hanya tentang menyampaikan informasi dan materi belaka, tetapi juga harus mempertimbangkan kesiapan mental dan kondisi emosional pelajar. Sebab mereka bukanlah robot, melainkan manusia dengan kemampuan terbatas serta sifat-sifat manusiawi yang patut dihargai dan dipahami.
18. Menjaga ilmu dengan murajaah
Nabi sangat menekankan pentingnya muraja’ah (mengulang) ilmu dan menjaga hafalan. Beliau pernah berpesan kepada para penghapal Al-Qur’an:
“Jagalah Al-Qur’an, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya ia lebih cepat lepas daripada unta dari ikatannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Bahkan, malaikat Jibril pun selalu menemani Nabi untuk mengulang hapalan Al-Qur’annya di bulan Ramadan.
Penutup
Demikianlah 18 Petunjuk Nabi dalam mendidik. Dan apa yang tertulis di sini hanyalah secuil dari luasnya metode pengajaran Nabi yang dapat disarikan dari khazanah sunnahnya. Penulis menyadari bahwa masih banyak sisi lain yang belum tergali dan butuh kajian lebih mendalam. Ini adalah ikhtiar sederhana, dengan segala keterbatasannya, tanpa mengklaim kesempurnaan. Namun satu hal yang pasti bahwa Nabi adalah sosok pendidik sejati, guru pertama yang menjadi teladan dalam menyampaikan ilmu dengan hikmah dan kasih sayang. Mengabaikan warisan beliau adalah kesalahan fatal yang tidak semestinya terjadi.
Semoga semakin banyak pihak yang terdorong untuk menelusuri dan menghidupkan kembali metode beliau dalam dunia pendidikan, demi lahirnya generasi yang berilmu dan berakhlak mulia.
Diterjemahkan dari kitab Al-Mudarris wa Mahaaratu at-Taujih karya DR. Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy -hafizahullah- dengan beberapa penyesuaian.



