Tatsqif

Sisi Menarik Huruf wau (و) di Surah Az-Zumar ayat 73

Oleh: Muhammad Iqbal Zhuhri Tulutugon

Sisi Menarik Huruf wau (و) di Surah Az-Zumar ayat 73

Dalam bahasa Arab, satu huruf saja bisa membawa makna yang sangat penting. Bahkan, perbedaan pandangan para ulama terkadang muncul hanya karena perbedaan interpretasi atas satu huruf. Salah satu huruf yang paling sering menjadi bahan kajian dalam Al-Qur’an adalah huruf wau (و) atau yang sering diterjemahkan dengan “dan”. Kali ini, mari kita telaah dua sisi menarik dari huruf tersebut, khususnya kaitannya dengan gambaran pintu surga dan neraka, serta hubungannya dengan angka delapan.

Pertama: Wau hal

Perhatikan bahasa Qur’an (bahasa arab) di dua ayat berikut yang terletak dalam surah yang sama, yaitu Surah Az-Zumar:

حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوۡهَا فُتِحَتۡ اَبۡوَابُهَا

“Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (neraka), pintu-pintunya dibukakan.” (QS. Az-Zumar: 71)

حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوۡهَا وَفُتِحَتۡ اَبۡوَابُهَا

“Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga), dan pintu-pintunya telah dibukakan.” (QS. Az-Zumar: 73)

Ayat 71 berbicara tentang pintu neraka, sedangkan ayat 73 berbicara tentang pintu surga. Keduanya memiliki struktur kalimat yang hampir sama, tetapi terdapat satu perbedaan kecil yang menyimpan makna besar: kehadiran huruf wau (dan).

Ketika Al-Qur’an mengabarkan tentang neraka, huruf wau tidak digunakan. Namun, ketika berbicara tentang surga, Allah Ta’ala menyisipkan huruf wau. Dari segi kaidah bahasa Arab, wau ini disebut sebagai wau ḥāl. Fungsinya adalah menunjukkan bahwa suatu keadaan telah terjadi lebih dahulu, sebelum peristiwa utama berlangsung.

Dengan kata lain, pintu neraka baru dibuka tepat pada saat penghuninya tiba di sana. Sebaliknya, pintu surga sudah terbuka lebih dahulu, sebelum para penghuninya datang menghampirinya. Satu huruf wau ini seolah menjadi isyarat halus tentang perbedaan sambutan antara neraka dan surga bagi para penghuninya.

Kedua: Huruf Wau dan Angka Delapan

Menariknya, dalam kaidah bahasa Arab, huruf wau juga baru digunakan ketika penyebutan sampai pada urutan atau bilangan kedelapan. Pola ini dapat ditemukan dalam beberapa ayat berikut:

1. QS. At-Taubah: 112

Dalam ayat ini, kata “dan” (wau) baru muncul pada penyebutan sifat kedelapan, yaitu sebelum kata “mencegah kemungkaran”.

التَّائِبُوۡنَ الۡعٰبِدُوۡنَ الۡحٰمِدُوۡنَ السَّآئِحُوۡنَ الرّٰكِعُوۡنَ السّٰجِدُوۡنَ الۡاٰمِرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَالنَّاهُوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَالۡحٰفِظُوۡنَ لِحُدُوۡدِ اللّٰهِ ؕ وَبَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ

“(Mereka itulah) orang-orang yang bertobat, beribadah, memuji (Allah), mengembara (demi ilmu dan agama), rukuk, sujud, menyuruh berbuat makruf dan mencegah kemungkaran, serta memelihara hukum-hukum Allah. Sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.”

2. QS. Al-Kahf: 22

Wau muncul tepat sebelum penyebutan bilangan kedelapan.

سَيَقُوۡلُوۡنَ ثَلٰثَةٌ رَّابِعُهُمۡ كَلۡبُهُمۡۚ وَيَقُوۡلُوۡنَ خَمۡسَةٌ سَادِسُهُمۡ كَلۡبُهُمۡ رَجۡمًۢا بِالۡغَيۡبِۚ وَيَقُوۡلُوۡنَ سَبۡعَةٌ وَّثَامِنُهُمۡ كَلۡبُهُمۡ

“Kelak (sebagian orang) akan mengatakan, ‘Jumlah mereka tiga, yang keempat adalah anjingnya.’ Sebagian lain mengatakan, ‘Jumlah mereka lima, yang keenam adalah anjingnya,’ sebagai terkaan terhadap yang gaib. Sebagian lain lagi mengatakan, ‘Jumlah mereka tujuh, dan yang kedelapan adalah anjingnya.”

3. QS. At-Tahrim: 5

Wau kembali muncul pada penyebutan sifat kedelapan, yaitu sebelum kata “gadis”.

عَسٰى رَبُّهٗۤ اِنۡ طَلَّقَكُنَّ اَنۡ يُّبۡدِلَهٗۤ اَزۡوَاجًا خَيۡرًا مِّنۡكُنَّ مُسۡلِمٰتٍ مُّؤۡمِنٰتٍ قٰنِتٰتٍ تٰٓئِبٰتٍ عٰبِدٰتٍ سٰٓئِحٰتٍ ثَيِّبٰتٍ وَّاَبۡكَارًا

“Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya istri-istri yang lebih baik daripada kamu: yang berserah diri, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang beribadah, yang berpuasa, baik yang janda dan yang gadis.”

Dari pola tersebut, sebagian ulama menarik sebuah kesimpulan menarik terkait ayat 71 dan 73 Surah Az-Zumar. Tidak digunakannya huruf wau pada ayat 71 yang berbicara tentang neraka, diyakini sebagai isyarat bahwa jumlah pintu neraka ada tujuh, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Hijr ayat 43 – 44.

Sebaliknya, digunakannya huruf wau pada ayat 73 yang berbicara tentang surga diyakini sebagai isyarat bahwa jumlah pintu surga ada delapan. Ini juga diperkuat dalam hadis Nabi shalallahu alaihi wasallam, di antaranya hadis yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad dan hadis yang diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit.

Dari uraian di atas, tampak bagaimana satu huruf saja dalam Al-Qur’an dapat menyimpan lapisan makna yang begitu dalam. Kehadiran atau ketiadaan huruf wau bukan sekadar persoalan tata bahasa, melainkan juga membawa isyarat makna, baik dari sisi keadaan (wau ḥāl) maupun dari sisi bilangan. Inilah salah satu keindahan bahasa Al-Qur’an yang menunjukkan betapa cermat dan terjaganya setiap huruf di dalamnya.

Muhammad Iqbal Zhuhri Tulutugon

Mahasiswa S1, Jurusan Syariah, Islamic University of Madinah, KSA

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button