POSISI PARA REFORMIS DI MASA FITNAH DAN KRISIS (3)

19

Perang Ideologi nan Dahsyat

Penting untuk selalu disadari ketika fitnah terjadi, bahwa perang ideologi dan nilai antara pembela kebenaran dan pengusung kebatilan sangat serius. Bukan seperti, yang diasumsikan orang awam. Ahli batil berusaha menampilkan makarnya dengan cover indah dan menawan. Supaya agendanya mudah diterima dan terasa familiar, mereka membungkusnya dengan istilah yang indah namun menipu, seperti pembaharuan,  kemajuan, keterbukaan, emansipasi, dsb. Sebaliknya, orang lain tidak berani menentangnya karena takut dituduh primitif, ekstrem,  fanatik dan gelar-gelar buruk lainnya. Tipuan ini harus diungkap dan diperangi secara serius.

Perkara lain yang lebih penting untuk disadari adalah motif dan tujuan rahasia dari makar tersebut. Sebagai contoh nyata adalah emansipasi wanita dalam segala aspek. Secara kasat mata seruan ini sangat cemerlang, tetapi misi di belakangnya sangat berbahaya. Sebut saja misalnya serangan terhadap jilbab, karena dengan terjunnya wanita ke dunia karir, jilbab dianggap sebagai penghalang. Bercampur-baurnya lelaki dan wanita yang bukan mahramnya, terlepasnya perempuan dari pengawasan dan ketaatan kepada suami, meningkatnya perselingkuhan dan pelecehan terhadap wanita.

Untuk mendukung misinya biasanya ahli batil mengangkat argumen fikih yang picik, seperti ungkapan; bukankah di zaman Nabi perempuan ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Bisa juga dengan cerita menarik tentang keterpaksaan seorang wanita menjual harga diri karena faktor ekonomi, atau kekerasan rumah tangga dan istri tak bisa apa-apa. Jadi jelas, tujuan utamanya adalah merusak masyarakat dengan mengeksploitasi wanita. Masih banyak agenda serupa yang tak kalah berbahaya.

Undang-undang tegas di sebagian negara Islam memang mampu menghambat laju misi kaum Liberal dan Sekular. Tetapi usaha yang terus menerus dengan menghalalkan segala macam cara, akan membuat agenda mereka berhasil nantinya. Maka hendaklah ulama, para cendikiawan dan intelektual muslim membongkar agenda rahasia ini sampai ke akar-akarnya, dan menjelaskannya kepada umat secara kontinu.

Eliminasi Barisan

Di era fitnah, barisan Islam perlu benar-benar dibersihkan. Pembela Islam sejati harus dibedakan dari musuh yang menjual nama Islam demi keuntungan duniawi.  Peristiwa perang Uhud  adalah contoh dari proses eliminasi barisan Islam, sebagaimana firman Allah:

“Supaya Allah memisahkan (golongan) buruk dari yang baik.” (QS. al-Anfal: 37)

Artinya, jika generasi terbaik umat ini saja perlu dibersihkan dari kaum munafik, apalagi  generasi selanjutnya.

Agar Keharmonisan Ulama dan Umara Tidak Rusak

Ulama dan umara adalah ulil amri. Kebaikan umat ini sangat tergantung pada kebaikan keduanya. Persatuan mereka dalam kebenaran serta ta’awun/koordinasi dalam kebaikan dan takwa akan menciptakan masyarakat bahagia, aman, dan sentosa. Ulama dan Umara bertugas mengajari dan membimbing umat menuju kebahagiaan dunia dan akhirat,  jika diminta mereka merespon dan jika memerintah mereka ditaati.

Tetapi ada pihak ketiga yang memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan antara ulama dan umara. Mereka adalah pendamping para pemimpin. Jika para pemimpin didampingi orang-orang saleh yang senantiasa menuntun dan membantu dalam kebaikan, maka umat sangat diuntungkan. Namun jika orang-orang buruklah yang mendampingi mereka, maka umat akan dirugikan,bahkan tidak jarang pula mereka merusak hubungan baik kedua pilar penting ini. Sejarah telah mengukir berbagai fakta nyata betapa para pendamping atau kaki tangan pemimpin sangat berpengaruh.

Pendamping yang saleh dapat kita lihat pada kisah Sulaiman bin Abdul Malik, salah seorang Khalifah Dinasti Umayyah dengan rekan dekatnya Raja’ bin Haywah rahimahumallah. Selain seorang alim, Raja’ bin Haywah juga terkenal jujur dan berakhlak mulia. Beliaulah yang mengusulkan kepada Khalifah Sulaiman untuk mengangkat Umar ibn Abdul Aziz sebagai penerusnya. Semua orang tahu betapa tingginya keadilan dan kesejahteraan yang dirasakan umat Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah. Kisah kepemimpinan beliau terukir indah di lembaran-lembaran sejarah.

Sebaliknya, contoh pendamping buruk dapat kita baca pada sejarah tiga khalifah Dinasti Abbasiah yakni Makmun, Mu’tashim, dan Watsiq. Di masa pemerintahan ketiganya fitnah Khalqul Qur’an (Al-Qur’an adalah makhluk) telah melahirkan penderitaan dan kesengsaraan bagi masyarakat, terutama kalangan alim ulama.

Dalang dari semua keburukan ini adalah para pendamping buruk, yang menjadi tangan kanan ketiga khalifah tersebut. Provokator utama fitnah ini adalah:

  1. Bisyr bin Ghiyats al-Marrisiy.

Ibn Katsir berkata tentang Bisyr: “(Dia adalah) pemimpin Mu’tazilah dan salah seorang yang membuat Khalifah al-Makmun tersesat.”[1] Beliau juga berkata: “Khalifah Makmun bermazhab Mu’tazilah karena ia sangat dekat dengan Bisyr al-Marrisiy. Kemudian kaum Mu’tazilah menipunya hingga ia membela dan memaksa orang-orang menganut faham Mu’tazilah. Semua ini terjadi di akhir hayatnya.”[2]

  1. Ahmad bin Abi Duad.

Khatib al-Baghdadiy menyebutkan biografi singkat tokoh Jahmiah ini: “Ia terkenal dermawan, tetapi dia kemudian mendeklarasikan paham Jahmiah. Ia mengarahkan Khalifah agar mengusung klaim bahwa Al-Quran adalah makhluk. Setelah menjabat sebagai hakim agung, ia mulai menguji ulama Islam, yang setuju dengannya dibebaskan dan yang menentang pendapatnya dipenjara atau dihukum mati.”[3]

Imam adz-Dzahabiy menulis: “Ibnu Abi Duad, seorang Jahmiy pendengki.”[4] Beliau menambahkan: “Saat mengadili Imam Ahmad tentang fitnah Khalq al-Quran terjadi, ia berkata kepada Khalifah: ‘Bunuh saja dia (Imam Ahmad), karena ia adalah orang yang sesat menyesatkan’.”[5]

Dampak fitnah jahat ini sangat besar. Sehingga Ibnu Katsir berkata: “Fitnah buruk ini sangat berbahaya karena telah menjadi pintu bagi berbagai fitnah lainnya.”[6]

Setelah masa penjara dan penyiksaan berlangsung cukup lama, akhirnya Allah membela kebenaran melalui Khalifah Mutawakkil. Imam Ahmad pun melesit menjadi figur teladan. Mutawakkil meminta beliau menjadi penasihat, namun permintaan tersebut ia tolak. Sebaliknya, di akhir hayatnya, Ibnu Abi Duad diserang penyakit stroke, terbaring lemah di pembaringan, dan tidak bisa lagi merasakan nikmat makanan, minuman, dan hubungan suami istri.[7]

Suatu hari seseorang menulis surat kaleng yang melaporkan bahwa Imam Ahmad memvonis Khalifah Makmun, Mu’tashim dan Watsiq sebagai zindiq. Maka Khalifah Mutawakkil membalas suratnya dan menulis: “Khalifah Makmun telah tertipu sehingga memaksa manusia mengikuti pendapat sesatnya. Sedangkan ayahku Mu’tashim, beliau disibukkan dengan peperangan hingga tidak sempat memahami tipuan ahli kalam. Adapun saudaraku Watsiq, maka klaim tersebut memang sesuai dengan perangainya.”

Kemudian Mutawakkil memerintahkan agar si penulis surat dicambuk sebanyak 200 kali. Abdullah bin Ishaq bin Ibrahim sang eksekutor malah mencambuknya sebanyak 500 kali. Ketika ditanya oleh Khalifah, ia menjawab: “200 untuk ketaatan kepada Khalifah, 200 lagi demi taat kepada Allah, dan yang seratus lagi karena ia telah menuduh Imam Ahamd, sang alim rabbani.”[8]

Kedua kisah di atas membuktikan bahwa para pemimpin sangat tergantung pada orang-orang yang mendampingi mereka. Jika demikian halnya umara, maka ulama juga bisa terpengaruh atau dipengaruhi. Sebut saja kisah fitnah Khalq al-Quran, betapa banyak ulama yang menjadi korbannya. Imam Ibnu Katsir menyebutkan sedikitnya ada 30 orang ulama besar yang terfitnah. Seperti Yahya bin Ma’in, Muhammd bin Sa’d (pengarang kitab Thabaqat), Zuhair bin Harb Abu Khaitsamah, Bisyr bin Walid al-Kindiy, Abu Nashr at-Tammar, dll.[9]

Bahkan menurut Ibnu Katsir, Khalifah Makmun juga memaksa ulama hadis dan fikih, para imam masjid, dan yang lainnya untuk mengikuti keyakinan bahwa Al-Quran adalah makhluk. Jika tidak maka mereka akan dipecat, dilarang berfatwa, atau tidak boleh mengajarkan hadis. Di masa itu fitnah besar yang mengerikan benar-benar mengancam. Wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.[10]

Penting untuk dibedakan antara ulama yang menjawab ajakan kepada kebatilan tersebut karena terpaksa -dan mayoritas mereka memang demikian-, dengan mereka yang menurut dengan senang hati. Lantaran ini, Imam adz-Dzahabiy membela ulama yang menurut karena terpaksa, saat beliau mengomentari pendapat Imam Ahmad yang tidak menerima riwayat Yahya bin Ma’in dan Abu Nashr at-Tammar. Beliau berkata: “Permasalahan ini agak rumit. Tiada dosa bagi mereka yang menuruti kemauan penebar fitnah, bahkan orang yang terpaksa mengucapkan kekufuran karena terpaksa sesuai dengan makna ayat. Inilah pendapat yang benar. Yahya bin Ma’in adalah imam dalam sunnah, karena khawatir akan kezaliman pemimpin, ia terpaksa menurut.”[11]

Bersambung…[12]

[1]Al-Bidayah wa an-Nihayah, jilid X, h. 118.

[2]Ibid, jilid X, h. 312.

[3]Tarikh Baghdad, jilid IV, h. 142.

[4]Mizan al-I’tidal, jilid I, h. 97.

[5]Siyar A’lam an-Nubala’, jilid XI, h. 170.

[6]Al-Bidayah wa an-Nihayah, jilid X, h. 365.

[7] Ibid, jilid X, h. 464.

[8]Ibid, jilid X, h. 385.

[9] Ibid,jilid X, h. 308-309.

[10]Ibid, jilid X, h. 309-310.

[11]Siyar A’lam an-Nubala’, jilid XI, h. 87. Ayat yang beliau maksud adalah firman Allah dalam surat an-Nahl, ayat 106.

[12]Artikel ini adalah terjemahan dari artikel berjudul (أين مواقع المصلحـين حين الشدائد والفتن), karya Prof. DR. Sulaiman bin Hamd al-Audah.

Sumber: https://www.albayan.co.uk/mobile/MGZarticle2.aspx?ID=3150

Leave A Reply

Your email address will not be published.