Menjemput Hati yang Lapang ( Bag 3)

8

Masihkah tergambar dalam benak kita ilustrasi jalan dan rambu-rambunya yang akan mengantarkan kita kepada satu tujuan?

Agar kita sampai kepada tujuan taman hati yang lapang nan indah, maka kita harus masuk dan lewat pada jalan iman dan islam, serta patuh menaati rambu-rambunya selama berada dalam jalan tersebut.

Tidak sampainya kita kepada tempat tujuan, bisa jadi karena kita salah mengambil jalan dan akhirnya tersesat, atau kita tidak mematuhi rambu-rambu jalan tersebut, sehingga memperlambat sampainya kita ke tempat tujuan, bahkan bisa jadi terhenti atau terhalang untuk melanjutkan perjalanan karena beratnya pelanggaran terhadap rambu-rambu yang kita lakukan.

Demikian juga, ketika seseorang tidak memiliki hati yang lapang, yang denganya bisa merasakan kebahagiaan dan ketenangan, atau sudah merasakannya namun terkadang timbul dan tenggelam, bisa dipastikan hal tersebut karena 2 hal:

  • Karena dia tidak memilih iman dan islam sebagai agamanya yang akan menjadi sumber kebahagiaan dan ketenangan hakiki.
  • Atau karena dia tidak patuh menaati rambu-rambu iman dan islam, meskipun ia telah meyakininya sebagai agamanya.

Ketaatan pada Allah sebagai Syarat untuk Meraih Kelapangan Hati

            Allah subhanahu wata’ala berfirman:

﴿فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى  ﴾

Artinya: “Siapa mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan tersesat dan juga tidak akan sengsara. (QS Thaha:123).

Dari petikan ayat di atas, Allah ta’ala menjelaskan 2 hal yaitu syarat dan jaminannya, siapa yang memenuhi syarat tersebut, pasti ia akan mendapatkan jaminannya.

  • Pertama: Allah mensyaratkan, siapa saja yang mengikuti petunjuk-Nya yang termaktub dalam Al-Quran dan As-S
  • Kedua: Allah menjamin keselamatan dari kesesatan dan kesengsaraan. Artinya jaminan kebenaran dan kebahagiaan.

Hakikat Ketaatan

Kata taat merupakan serapan dari bahasa arab Ath-Tha’ah yang berarti ketundukan (alinqiyad) dan kesesuaian (almuwaafaqah)[1].

Dan akan sangat menarik bila kita cermati makna taat dalam bahasa arab tersebut, mengapa menggabungkan dua hal yaitu ketundukan dan kesesuaian?

Ketundukan adalah amalan hati, sedangkan kesesuaian yang dimaksud adalah menyesuaikan amalan-amalan hati dan anggota tubuh, baik ucapan maupun pekerjaan dengan aturan Allah dan rasul-Nya. Inqiyad dan muwaafaqah saling berkaitan, bila keduanya ada maka terwujudlah ketaatan, namun bila salah satu dari keduanya hilang, maka ketaatatan pun tiada. Dengan makna lain seseorang akan mampu menyesuaikan pikiran, perasaan, ucapan dan sikapnya dengan aturan Allah dan Rasul-Nya, bila hatinya tunduk dan pasrah kepada keduanya.

Adapun Ath-Tha’ah secara istilah, para ulama mendefinisakannya dengan:

الامتثال بأوامر الله واجتناب نواهيه

“Mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”

Sedangkan taat kepada Rasulullah shallallhu’alaihi wasallam, Allah ta’ala menjelaskan dalam firman-Nya:

وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوه

Artinya: “Apa yang Rasul perintahkan untuk kalian maka kerjakanlah, dan apa yang Beliau larang maka tinggalkanlah. (QS Al-Hasyr: 7).

Itulah hakikat Tha’ah, mudah diucapkan dan dipahami, namun berat dibuktikan dalam ucapan dan perbuatan kecuali orang-orang yang diberi taufik dan hidayah oleh Allah ta’ala. Begitu banyak orang yang berpaling dari ketaatan padahal dia mendengar dan memahaminya, Allah ta’ala berfirman:

يايها الذين آمنوا أطيعوا الله ورسوله ولا تولوا عنه وأنتم تسمعون

Artinya: “Wahai orang yang beriman taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kalian berpaling darinya padahal kalian mendengar. (QS Al-Anfal: 20).

Mungkin saja ada yang bertanya apa hubungan ketaatan kepada Allah dan kebahagiaan hati? Insya Allah jawabannya akan dijelaskan pada tulisan berikutnya.

[1]. Kamus Mukhtar Ash-Shihaah

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.