Mimbar Jumat

Khutbah Jumat: Nikmatnya Ibadah: Ketenangan Ruh dan Santapan Hati

 

Download Pdfnya Klik

Nikmatnya Ibadah: Ketenangan Ruh dan Santapan Hati

Penulis:

Ustaz Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

(Kandidat Doktor Qassim University, KSA)

Khutbah pertama:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

أما بعد:

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

﴿يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ﴾

﴿يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا﴾

﴿يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا﴾

Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’la…

Segala puji bagi Allah denga pujian yang baik dan penuh keberkahan, pujian yang memenuhi langit dan bumi. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada sosok yang kesejukan matanya terdapat dalam shalat, yaitu Nabi Muhammad bin Abdullah ﷺ, beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau.

Maasyiral muslimin wazumratal mu’minin rahimakumullah

Pernahkah anda merasakan shalat dua rakaat di tengah malam ketika hati telah kosong dari urusan dunia?

Pernahkah anda mengangkat kedua tangan pada waktu sahur menjelang fajar, lalu menangis di hadapan Allah?

Pernahkah engkau membaca Al-Qur’an dengan penuh kekhusyukan hingga anda merasa seolah-olah ayat-ayat itu sedang berbicara langsung kepada anda, dan anda berjalan di bawah cahaya petunjuknya?

Itulah nikmatnya ibadah. Itulah surga dunia, kebahagiaan ruh, dan ketenteraman hati.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ﴾

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

Kehidupan yang baik adalah ketika seseorang merasakan kenikmatan berada dekat dengan Allah, merasa tenteram dengan-Nya, serta merasakan keakraban dengan zikir dan munajat kepada-Nya.

Salah seorang ulama salaf berkata:

“Aku telah merasakan berbagai kenikmatan dunia, namun aku tidak menemukan sesuatu yang lebih nikmat daripada sujud yang panjang pada penghujung malam.”

Nabi ﷺ juga pernah berkata kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu:

«قُمْ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ»

“Bangunlah wahai Bilal, hiburlah dan tenangkan kami dengan shalat.” (HR. Abu Dawud no. 4986, dishahihkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani)

Perhatikanlah, beliau tidak memandang shalat sekadar sebagai kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi sebagai sumber ketenangan, kebahagiaan, dan kedamaian hati.

Iman memiliki rasa, ibadah memiliki kenikmatan, dan ketaatan memiliki manisnya tersendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:

«ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا»

“Sungguh telah merasakan manisnya iman orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya.” (HR. Muslim)

Beliau ﷺ juga bersabda:

«ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَمَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَمَنْ كَانَ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ»

“Ada tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: mencintai seseorang semata-mata karena Allah, Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan ia lebih suka dilemparkan ke dalam api daripada kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya.” (HR. Muslim)

Manisnya iman itu berupa ketenangan jiwa, kebahagiaan hati, lapangnya dada, serta perasaan bahagia yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Seakan-akan seorang hamba sedang hidup beberapa saat di dalam surga; hatinya terbang melintasi taman-tamannya, jauh dari hiruk-pikuk dunia, ketika ia sedang melaksanakan suatu ibadah.

Namun, kenikmatan ini berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya, sesuai dengan kuat atau lemahnya iman yang dimilikinya.

Ahmad ibn Taymiyyah rahimahullah berkata:

«إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً، مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ»

“Sesungguhnya di dunia ini terdapat sebuah surga. Barang siapa tidak memasukinya, maka ia tidak akan memasuki surga di akhirat.” (Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 81)

Yang dimaksud dengan “surga dunia” adalah kenikmatan mengenal Allah, mencintai-Nya, berzikir kepada-Nya, bermunajat kepada-Nya, serta merasakan manisnya ketaatan dan ibadah kepada-Nya.

Perkataan Ulama dan Salaf tentang Nikmatnya Ibadah

Sebagian ulama salaf berkata:

«مَسَاكِينُ أَهْلُ الدُّنْيَا، خَرَجُوا مِنْهَا وَمَا ذَاقُوا أَطْيَبَ مَا فِيهَا»

“Kasihan penduduk dunia, mereka meninggalkan dunia ini sebelum sempat merasakan sesuatu yang paling nikmat yang ada di dalamnya.”

Lalu ditanyakan kepada beliau:

قِيلَ: وَمَا أَطْيَبُ مَا فِيهَا؟

“Apakah sesuatu yang paling nikmat di dalamnya itu?”

Beliau menjawab:

«مَحَبَّةُ اللَّهِ، وَمَعْرِفَتُهُ، وَذِكْرُهُ»

“Yaitu mencintai Allah, mengenal-Nya, dan senantiasa mengingat-Nya.” (Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 82).

Syair tentang Nikmatnya Ibadah

وَلَسْتُ أَرَى لِلسُّرُورِ طَعْمًا إِذَا *** لَمْ يَكُنْ فِي الصَّلَاةِ لَذَّةُ سُجُودِي

Aku tidak merasakan manisnya kebahagiaan, jika di dalam shalat tidak ada nikmatnya sujudku.

وَإِذَا خَلَوْتُ بِرَبِّي قُلْتُ يَا أَمَلِي *** يَا وَاحِدًا لَيْسَ لِي غَيْرُكَ مِنْ أَحَدِ

Ketika aku bersendirian bersama Rabbku, aku berkata: “Wahai harapanku, wahai Dzat Yang Maha Esa, tidak ada bagiku selain Engkau seorang.”

هُمُ الْأَحْبَابُ إِنْ غَابُوا فَلِي عَنْهُمْ *** أُنْسٌ بِرَبِّي يُجَلِّينِي عَنِ الْكَدَرِ

Jika para kekasihku pergi dan tidak berada di sisiku, maka kebersamaanku dengan Rabbku cukup menghiburku dan menghilangkan kesedihanku.

صَلَّيْتُ فَانْسَابَ نُورٌ فِي جَوَانِبِي *** كَأَنَّ قَلْبِي عَلَى طُهْرٍ مِنَ الزَّهْرِ

Aku melaksanakan shalat, lalu cahaya mengalir ke seluruh relung jiwaku, seakan-akan hatiku berada dalam kesucian bunga-bunga yang mekar.

Sebagian dai berkata:

“Di antara sebab kemunduran iman dan meninggalkan ketaatan — semoga Allah melindungi kita darinya — adalah karena seseorang belum merasakan manisnya iman dan nikmatnya ibadah ini. Sebab, seorang hamba yang telah merasakannya tidak akan mampu meninggalkannya ataupun merasa cukup tanpa itu.”

Kemudian beliau berkata:

«فَمَنْ ذَاقَ عَرَفَ، وَمَنْ عَرَفَ اغْتَرَفَ»

“Barang siapa telah merasakan, maka ia akan mengetahui; dan barang siapa telah mengetahui, maka ia akan terus mengambil bagian darinya.”

Ibrahim ibn Adham rahimahullah berkata:

«لَوْ يَعْلَمُ الْمُلُوكُ وَأَبْنَاءُ الْمُلُوكِ – وَهُمْ فِي ظَنِّ النَّاسِ السُّعَدَاءُ الْمُنَعَّمُونَ – مَا نَحْنُ فِيهِ مِنَ السَّعَادَةِ – أَيْ بِطَاعَةِ اللَّهِ – لَجَالَدُونَا عَلَيْهَا بِالسُّيُوفِ»

“Seandainya para raja dan anak-anak para raja — yang menurut anggapan manusia merupakan orang-orang yang paling bahagia dan hidup mewah — mengetahui kebahagiaan yang kami rasakan dalam ketaatan kepada Allah, niscaya mereka akan memerangi kami dengan pedang untuk merebutnya.” (Siyar A’lam an-Nubala’ karya Shams al-Din al-Dhahabi, 7/387).

Betapa besar kebahagiaan dan kenikmatan yang mereka rasakan, hingga mereka menggambarkan bahwa kenikmatan hidup dalam ketaatan kepada Allah merupakan salah satu kenikmatan terbesar yang dapat dirasakan seorang hamba di dunia.

بَارَكَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الذِّكْرِ وَالْحِكْمَةِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ، وَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

أما بعد:

Maasyiral muslimin wazumratal mu’minin rahimakumullah

Pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimana kita Meraih Nikmatnya Ibadah?

1. Bersungguh-sungguh Melawan Hawa Nafsu

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا … ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran kalian…” (QS. Ali ‘Imran: 200)

Sebagian ulama salaf berkata:

«مَا زِلْتُ أَسُوقُ نَفْسِي إِلَى اللَّهِ وَهِيَ تَبْكِي، حَتَّى سُقْتُهَا وَهِيَ تَضْحَكُ»

“Aku terus menggiring diriku menuju Allah dalam keadaan ia menangis, hingga akhirnya aku menggiringnya dalam keadaan ia tersenyum.”

2. Menjauhi Dosa dan Maksiat

Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah berkata:

«وَكُلَّمَا كَثُرَتِ الذُّنُوبُ اشْتَدَّتِ الْوَحْشَةُ»

“Semakin banyak dosa, maka semakin kuat pula rasa keterasingan dan kegelisahan dalam hati.” (Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, hlm. 401).

Sufyan al-Thawri rahimahullah berkata:

«حُرِمْتُ قِيَامَ اللَّيْلِ بِذَنْبٍ أَذْنَبْتُهُ»

“Aku pernah terhalang dari qiyamul lail karena dosa yang telah aku lakukan.” (Ladzdzatul ‘Ibadah, hlm. 18).

3. Mengurangi Berlebihan dalam Makan dan Berbicara

Sebagian ulama salaf berkata:

«رَاحَةُ الْقَلْبِ فِي قِلَّةِ الْآثَامِ، وَرَاحَةُ الْبَطْنِ فِي قِلَّةِ الطَّعَامِ، وَرَاحَةُ اللِّسَانِ فِي قِلَّةِ الْكَلَامِ»

“Ketenangan hati terdapat pada sedikitnya dosa, kenyamanan perut terdapat pada sedikitnya makan, dan keselamatan lisan terdapat pada sedikitnya berbicara.”

4. Menghadirkan Niat untuk Mendekatkan Diri kepada Allah

Dalam hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman:

«وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ…»

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 6502).

5. Mengingat Pengaruh Ibadah di Dunia dan Akhirat

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا ﴾

“Barang siapa mengerjakan amal-amal saleh dalam keadaan beriman, maka ia tidak perlu takut akan kezaliman maupun pengurangan pahala.” (QS. Thaha: 112)

Dikisahkan, seorang pemuda datang menemui seorang imam tua di salah satu masjid di Madinah lalu berkata:

“Wahai Syekh, aku ingin merasakan nikmatnya ibadah, tetapi aku tidak mampu. Setiap kali aku shalat, aku justru merasa bosan.”

Sang syekh tersenyum dan berkata: “Apakah engkau pernah berdiri di hadapan Allah seakan-akan engkau melihat-Nya?”

Pemuda itu menjawab: “Belum.”

Sang syekh berkata:

“Kalau begitu, malam ini cobalah shalat dua rakaat di tengah gelapnya malam. Bacalah Al-Fatihah seakan-akan Allah sedang berbicara langsung kepadamu. Kemudian bersujudlah sambil berdoa:”

«اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّكَ، فَاجْعَلْنِي مِنَ الْمَحْبُوبِينَ»

“Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai-Mu, maka jadikanlah aku termasuk orang-orang yang Engkau cintai.”

“Jangan bangkit dari sujudmu hingga kedua matamu meneteskan air mata.”

Beberapa hari kemudian pemuda itu kembali dan berkata:

“Demi Allah wahai Syekh, aku telah merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sepanjang hidupku. Aku tertidur setelah shalat, lalu ketika bangun aku merasakan kerinduan yang mendalam untuk kembali melaksanakan shalat.”

Wahai saudara-saudaraku yang tercinta,

Sesungguhnya nikmatnya ibadah hanya diberikan kepada orang yang bersabar, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya, dan jujur dalam mencarinya.

Maka menghadaplah kepada Allah. Kalian akan mendapati bahwa sujud kepada-Nya lebih manis daripada tidur, qiyamul lail lebih nikmat daripada empuknya bantal, dan tilawah Al-Qur’an lebih menyegarkan daripada udara pagi.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَلَذِّذِينَ بِعِبَادَتِكَ، الْمُطْمَئِنِّينَ بِذِكْرِكَ، الْمُقَرَّبِينَ مِنْ رِضَاكَ

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang merasakan kenikmatan dalam beribadah kepada-Mu, yang memperoleh ketenangan dengan mengingat-Mu, dan yang Engkau dekatkan kepada keridaan-Mu.”

Semoga Allah ﷻ menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta memberikan kekuatan kepada kita untuk senantiasa istiqamah di atas jalan-Nya.

Marilah kita bershalawat kepada baginda Nabi kita Muuhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Allah berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهم َّاغْفِرِ للمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ، والمُؤْمِنِينَ والمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا كُلَّهَا، دِقَّهَا وَجِلَّهَا، أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا، عَلَانِيَتَهَا وَسِرَّهَا.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عبادَ اللهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُ اللَّهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ، قُوْمُوْا إِلَى صَلَاتِكُمْ.

markazinayahofficial

@markazinayah

t.me/markaz_inayah

@markazinayah

@markazinayah

add/markaz_inayah

pin.it/27A9yFJT5

@markazinayah

@markazinayah

www.markazinayah.com

+6285333345252

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button