Tatsqif

TALBIYAH

TALBIYAH

Berikut bacaan talbiyah yang disunnahkan untuk dibaca ketika berihram:

> لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ.

Labbaykallāhumma labbayk, labbayka lā syarīka laka labbayk, innal-ḥamda wan-ni‘mata laka wal-mulk, lā syarīka lak.

“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, segala nikmat, dan seluruh kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

Disunnahkan memperbanyak membaca talbiyah sejak memulai ihram hingga melihat Ka’bah.

Bertalbiyahlah, Para Jama’ah…
Sebab anda berstatus sebagai tamu Allah yang tengah memenuhi panggilan Allah.

Sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mengabarkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

“Orang yang berhaji serta berumrah adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri.” (HR. Ibnu Majah no. 2893)

Keutamaan Talbiyah

1. Talbiyah merupakan perintah dari Malaikat Jibril

Bertalbiyahlah, Para Jama’ah…
Sebab disyariatkan bagi orang yang bertalbiyah (bagi laki-laki) untuk mengeraskan suaranya.

Dari Khallad bin as-Sa’ib, dari ayahnya as-Sa’ib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> «أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَأَمَرَنِي أَنْ آمُرَ أَصْحَابِي أَنْ يَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالإِهْلَالِ وَالتَّلْبِيَةِ»

“Jibril ‘alaihissalam datang kepadaku, lalu memerintahkanku agar memerintahkan para sahabatku mengeraskan suara mereka ketika berihlal dan bertalbiyah.”

HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Hadis sahih (Shahih al-Jami’ no. 62).

2. Talbiyah termasuk syiar haji

Bertalbiyahlah, Para Jama’ah…
Sebab talbiyah merupakan diantara amalan haji dan umrah yang utama.

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> «جَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: مُرْ أَصْحَابَكَ فَلْيَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ؛ فَإِنَّهَا مِنْ شَعَائِرِ الْحَجِّ»

“Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Perintahkan para sahabatmu agar mengeraskan suara mereka ketika bertalbiyah, karena talbiyah termasuk syiar haji.'”

HR. Ibnu Majah. Hadis sahih (As-Silsilah ash-Shahihah no. 830; Shahih at-Targhib wat-Tarhib no. 1136).

3. Talbiyah termasuk amalan haji yang paling utama

Dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ ditanya:

> «أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: الْعَجُّ وَالثَّجُّ»

“Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Al-‘Ajj dan Ats-Tsajj.”

Al-‘Ajj ialah mengeraskan suara dengan talbiyah dan takbir.

Ats-Tsajj ialah menyembelih hewan kurban atau hadyu.

HR. at-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan al-Baihaqi. Hadis sahih (As-Silsilah ash-Shahihah no. 1500).

4. Haji terbaik adalah yang banyak bertalbiyah dan berkurban

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

> «أَفْضَلُ الْحَجِّ الْعَجُّ وَالثَّجُّ».

“Haji yang paling utama adalah yang banyak bertalbiyah dan banyak menyembelih hadyu.”

HR. at-Tirmidzi. Hadis sahih (Shahih al-Jami’ no. 1101).

5. Seluruh makhluk ikut menjawab talbiyah seorang Muslim

Bertalbiyahlah, Para Jama’ah…
Sebab ketika anda bertalbiyah, seluruh alam yang di samping kanan dan kiri anda pula turut bertalbiyah.

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> «مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُلَبِّي، إِلَّا لَبَّى مَا عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ مِنْ حَجَرٍ، أَوْ شَجَرٍ، أَوْ مَدَرٍ، حَتَّى تَنْقَطِعَ الْأَرْضُ مِنْ هَاهُنَا وَهَاهُنَا»

“Tidaklah seorang Muslim bertalbiyah, melainkan batu, pepohonan, dan tanah di sebelah kanan dan kirinya ikut bertalbiyah bersamanya, hingga ke seluruh penjuru bumi.”

HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim. Hadis sahih (Shahih at-Targhib wat-Tarhib no. 1134; Shahih al-Jami’ no. 5770).

6. Orang yang bertalbiyah diberi kabar gembira

Bertalbiyahlah, Para Jama’ah…
Sebab setiap satu ucapan kalimat talbiyah yang dilisankan akan berbuah surga.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> «مَا أَهَلَّ مُهِلٌّ قَطُّ، وَلَا كَبَّرَ مُكَبِّرٌ قَطُّ إِلَّا بُشِّرَ»

Para sahabat bertanya:

> «يَا رَسُولَ اللَّهِ، بِالْجَنَّةِ؟»

Beliau menjawab:

> «نَعَمْ»

“Tidaklah seseorang bertalbiyah atau bertakbir melainkan ia diberi kabar gembira.” Para sahabat bertanya, “Apakah dengan surga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya.”

HR. ath-Thabarani. Hadis sahih (Shahih at-Targhib wat-Tarhib no. 1137; As-Silsilah ash-Shahihah no. 1621).

al-Munawi berkata:

> «بَشَّرَتْهُ الْمَلَائِكَةُ أَوِ الْكَاتِبَانِ»

“Yang memberikan kabar gembira kepadanya adalah para malaikat atau dua malaikat pencatat amal.”

Bertalbiyahlah, Para Jama’ah…
Sebab boleh jadi, kita tidak tahu apakah ini merupakan kesempatan terakhir kita bertalbiyah ataukah bukan.

Hukum mengeraskan suara ketika bertalbiyah

Bagi laki-laki

Disunnahkan mengeraskan suara ketika bertalbiyah.

Dalilnya adalah hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

> «صَلَّى النَّبِيُّ ﷺ بِالْمَدِينَةِ الظُّهْرَ أَرْبَعًا، وَالْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ، وَسَمِعْتُهُمْ يَصْرُخُونَ بِهِمَا جَمِيعًا»

“Nabi ﷺ shalat Zuhur di Madinah empat rakaat, kemudian shalat Ashar di Dzul Hulaifah dua rakaat. Aku mendengar mereka mengeraskan suara dengan haji dan umrah (talbiyah).”

HR. Imam al-Bukhari.

Hadis-hadis sebelumnya juga menjadi dalil bahwa Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat mengeraskan suara ketika bertalbiyah.

Bagi wanita

Mayoritas ulama berpendapat bahwa wanita disunnahkan merendahkan suara ketika bertalbiyah, cukup terdengar oleh dirinya sendiri.

Ibnu Abdil Barr berkata:

> «وَأَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ فِي الْمَرْأَةِ أَلَّا تَرْفَعَ صَوْتَهَا، وَإِنَّمَا عَلَيْهَا أَنْ تُسْمِعَ نَفْسَهَا»

“Para ulama telah bersepakat bahwa sunnah bagi wanita adalah tidak mengeraskan suaranya. Ia hanya memperdengarkan talbiyah kepada dirinya sendiri.”

(At-Tamhid, 17/242).

Muhammad al-Amin asy-Syinqithi berkata:

> «إِنَّمَا يُسْتَحَبُّ الرَّفْعُ فِي حَقِّ الرَّجُلِ، وَالنِّسَاءُ يَقْتَصِرْنَ عَلَى سَمَاعِ أَنْفُسِهِنَّ»

“Mengeraskan suara hanya disunnahkan bagi laki-laki. Adapun wanita, mereka cukup memperdengarkan talbiyah kepada diri mereka sendiri.”

(Adhwa’ al-Bayan, 5/352).

Semoga bermanfaat.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button