Tatsqif

Perang Uhud: Dari Badar menuju Hudaibiyah

*Perang Uhud: Dari Badar menuju Hudaibiyah*

Pada bulan Syawal tahun ketiga Hijriah, terjadilah Perang Uhud, yaitu peperangan yang berlangsung di dekat Kota Madinah, tepatnya di kaki Gunung Uhud, sehingga peperangan tersebut dinamakan dengan nama gunung itu.

Perang Uhud memiliki dua fase yang sangat berbeda:

1. Fase pertama, kaum muslimin memperoleh kemenangan yang nyata. Mereka berhasil mengalahkan pasukan musyrikin dan memperoleh harta rampasan perang yang banyak.
2. Fase kedua, kaum muslimin mengalami musibah besar. Banyak yang gugur sebagai syahid, banyak pula yang terluka. Mereka diuji dengan cobaan yang sangat berat hingga sebagian mereka bertanya, “Mengapa musibah ini bisa terjadi kepada kami?”

Allah Ta’ala menjelaskan hal tersebut dalam firman-Nya:

> ﴿أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾

“Mengapa ketika kamu ditimpa suatu musibah, padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat kepada musuhmu, kamu berkata, ‘Dari mana datangnya musibah ini?’ Katakanlah, ‘Musibah itu datang dari (kesalahan) dirimu sendiri.’ Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

(QS. Ali ‘Imran: 165)

Jumlah kaum muslimin yang gugur syahid pada Perang Uhud mencapai 70 orang, sedangkan orang-orang musyrik yang terbunuh berjumlah 23 orang, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sa’d dan para ahli sejarah lainnya.

Setelah itu, kaum musyrikin kembali ke Makkah dengan merasa cukup atas apa yang mereka capai. Adapun kaum muslimin kembali dengan membawa luka, penderitaan, dan kehilangan banyak syuhada. Semua itu terjadi akibat sebagian pasukan pemanah menyelisihi perintah Rasulullah ﷺ.

Perang Uhud juga menjadi sebab turunnya banyak ayat dalam Surah Ali ‘Imran, yang menjelaskan peristiwa sebelum peperangan, ketika peperangan berlangsung, dan setelah peperangan selesai, sekaligus mengandung pelajaran, hikmah, serta berbagai hukum syariat.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang Turun Berkaitan dengan Perang Uhud

Sejarawan Ibnu Sa’d dalam kitab الطبقات الكبرى menghubungkan setiap peperangan besar Rasulullah ﷺ dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang turun mengenainya. Beliau berkata:

> “Perang Badar Kubra, yaitu peperangan besar pertama dalam Islam, diturunkan mengenainya Surah Al-Anfal. Perang Uhud, diturunkan mengenainya enam puluh ayat dari Surah Ali ‘Imran. Adapun Perang Hamra’ al-Asad—yang merupakan kelanjutan dari Perang Uhud—diturunkan mengenainya ayat-ayat Surah Ali ‘Imran, yaitu ayat 172–175.”

Ayat-ayat tentang Perang Uhud dalam Surah Ali ‘Imran dimulai dari ayat 121 hingga ayat 179, meskipun di antara rentang tersebut terdapat beberapa ayat yang membahas tema lain.

1. Persiapan Menuju Medan Perang

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ۝ إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ﴾

“Ingatlah ketika engkau (Muhammad) berangkat pada pagi hari dari keluargamu untuk menempatkan orang-orang mukmin pada posisi-posisi perang. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ketika dua golongan di antaramu hampir kehilangan keberanian, padahal Allah adalah Pelindung keduanya. Maka hanya kepada Allah hendaklah orang-orang mukmin bertawakal.”

(QS. Ali ‘Imran: 121–122)

2. Pelajaran dari Kekalahan

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ﴾

“Sungguh telah berlalu sebelum kamu berbagai ketetapan Allah. Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan.”

(QS. Ali ‘Imran: 137)

Allah juga berfirman:

> ﴿وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾

“Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya apabila kamu benar-benar beriman.”

(QS. Ali ‘Imran: 139)

Hingga firman-Nya:

> ﴿وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ﴾

“Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika beliau wafat atau terbunuh kamu akan berbalik ke belakang?”

(QS. Ali ‘Imran: 144)

3. Larangan Mengikuti Orang-orang Kafir

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menaati orang-orang kafir, niscaya mereka akan mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), sehingga kamu menjadi orang-orang yang rugi.”

(QS. Ali ‘Imran: 149)

4. Penyebab Kekalahan di Uhud

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ ۚ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ﴾

“Sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu ketika kamu membinasakan mereka dengan izin-Nya, hingga ketika kamu menjadi lemah, berselisih tentang perintah itu, dan mendurhakai Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada yang menghendaki akhirat.”

(QS. Ali ‘Imran: 152)

Ayat-ayat ini berlanjut hingga ayat 155, yang menjelaskan sebab kekalahan, ujian yang dialami kaum muslimin, serta ampunan Allah kepada mereka.

5. Hikmah di Balik Musibah Uhud

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنْفُسِكُمْ﴾

“Mengapa ketika kamu ditimpa musibah, padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat kepada musuhmu, kamu berkata, ‘Dari mana datangnya musibah ini?’ Katakanlah, ‘Itu berasal dari dirimu sendiri.'”

(QS. Ali ‘Imran: 165)

Allah kemudian menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi dengan izin-Nya untuk membedakan orang-orang beriman dari orang-orang munafik, serta menguji keimanan mereka.

6. Keutamaan Para Syuhada Uhud

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ ۝ فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ۝ يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ﴾

“Janganlah engkau mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dan diberi rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang Allah berikan kepada mereka dan bergembira terhadap orang-orang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih. Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia dari Allah, serta bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.”

(QS. Ali ‘Imran: 169–171)

Ayat-ayat tersebut menjadi penghibur bagi kaum muslimin atas gugurnya para syuhada sekaligus penegasan bahwa kematian di jalan Allah adalah kemuliaan yang agung, bukan kehinaan.

Pelajaran Tarbiah dari Perang Uhud

Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata dalam kitab Fath al-Bari:
“قال العلماء: وكان في قصة أحد وما أصيب به المسلمون فيها من الفوائد والحكم الربانية أشياء عظيمة، منها: تعريف المسلمين سوء عاقبة المعصية وشؤم ارتكاب النهي، لما وقع من ترك الرماة موقفهم الذي أمرهم الرسول صلى الله عليه وسلم أن لا يبرحوا منه. ومنها: أن عادة الرسل أن تبتلى وتكون لها العاقبة.. والحكمة في ذلك أنهم لو انتصروا دائما دخل في المؤمنين من ليس منهم، ولم يتميز الصادق من غيره، ولو انكسروا دائما لم يحصل المقصود من البعثة، فاقتضت الحكمة الجمع بين الأمرين لتمييز الصادق من الكاذب.. ومنها: أن في تأخير النصر في بعض المواطن هضما للنفس وكسرا لشماختها، فلما ابتلي المؤمنون صبروا وجزع المنافقون. ومنها: أن الله هيأ لعباده المؤمنين منازل في دار كرامته لا تبلغها أعمالهم، فقيض لهم أسباب الابتلاء والمحن ليصلوا إليها. ومنها: أن الشهادة من أعلى مراتب الأولياء، فساقها إليهم. ومنها: أنه أراد إهلاك أعدائه فقيض لهم الأسباب التي يستوجبون بها ذلك من كفرهم وبغيهم وطغيانهم في أذى أوليائه، فمحص بذلك ذنوب المؤمنين، ومحق بذلك الكافرين .. وقد قال ابن إسحاق: أنزل الله في شأن أحد ستين آية من آل عمران، وروى ابن أبي حاتم من طريق المسور بن مخرمة قال: قلت لعبد الرحمن بن عوف: أخبرني عن قصتكم يوم أحد؟ قال: اقرأ العشرين ومائة من آل عمران تجدها”.
> “Para ulama berkata, ‘Dalam kisah Perang Uhud dan musibah yang menimpa kaum muslimin terdapat banyak faedah dan hikmah Rabbani yang sangat agung, di antaranya:

1. Maksiat Membawa Akibat yang Buruk

Allah memperlihatkan kepada kaum muslimin betapa buruk akibat kemaksiatan dan pelanggaran terhadap perintah Rasulullah ﷺ. Hal itu terjadi ketika para pemanah meninggalkan posisi yang telah diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ agar tidak mereka tinggalkan.

2. Sunnatullah bagi Para Rasul adalah Diuji

Di antara hikmahnya ialah bahwa para rasul pasti diuji, kemudian pada akhirnya memperoleh kemenangan.

Seandainya mereka selalu menang, niscaya akan masuk ke dalam barisan kaum mukminin orang-orang yang sebenarnya bukan bagian dari mereka, sehingga tidak tampak perbedaan antara orang yang jujur imannya dan orang yang berdusta.

Sebaliknya, jika mereka selalu kalah, maka tujuan diutusnya para rasul tidak akan tercapai.

Karena itulah hikmah Allah menghendaki adanya kemenangan dan kekalahan secara bergantian, agar tampak jelas siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang berdusta.

3. Kekalahan Menghilangkan Kesombongan

Di antara hikmahnya pula, tertundanya kemenangan pada sebagian keadaan dapat merendahkan jiwa dan mematahkan kesombongan.

Ketika kaum mukmin diuji, mereka bersabar, sedangkan kaum munafik justru berkeluh kesah dan menampakkan hakikat diri mereka.

4. Jalan Menuju Derajat yang Tinggi di Surga

Allah telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman kedudukan-kedudukan tinggi di negeri kemuliaan (surga) yang tidak mungkin mereka capai hanya dengan amal mereka semata.

Karena itu Allah menetapkan berbagai ujian dan musibah sebagai sebab agar mereka dapat mencapai derajat tersebut.

5. Syahid adalah Kedudukan yang Sangat Mulia

Allah menghendaki agar sebagian hamba-Nya memperoleh kedudukan syahid, karena syahid termasuk derajat tertinggi para wali Allah.

6. Membinasakan Musuh-Musuh Allah

Allah juga menghendaki kebinasaan musuh-musuh-Nya. Oleh sebab itu Allah membiarkan mereka melakukan kekafiran, kezaliman, dan permusuhan terhadap para wali-Nya sehingga mereka pantas menerima azab-Nya.

Dengan peristiwa itu pula Allah membersihkan dosa-dosa kaum mukminin dan membinasakan orang-orang kafir.”

Kemudian beliau menukil perkataan Ibnu Ishaq:

> “Allah menurunkan enam puluh ayat dari Surah Ali ‘Imran mengenai Perang Uhud.”

Beliau juga menyebutkan riwayat dari Al-Miswar bin Makhramah, beliau berkata:

> “Aku berkata kepada Abdurrahman bin ‘Auf, ‘Ceritakanlah kepadaku tentang peristiwa yang kalian alami pada Perang Uhud.’ Beliau menjawab, ‘Bacalah ayat ke-120 Surah Ali ‘Imran, niscaya engkau akan menemukan kisahnya.'”

Pelajaran Menurut Ibnu Qayyim

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab Zad al-Ma’ad juga menyebutkan banyak hikmah dan pelajaran pendidikan dari Perang Uhud.
Beliau berkata:

“تعريف المؤمنين سوء عاقبة المعصية والفشل والتنازع، وأن الذي أصابهم إنما هو شؤم ذلك، كما قال تعالى:{ولقد صدقكم الله وعده إذ تحسونهم بإذنه حتى إذا فشلتم وتنازعتم في الأمر وعصيتم من بعد ما أراكم ما تحبون منكم من يريد الدنيا ومنكم من يريد الآخرة ثم صرفكم عنهم ليبتليكم ولقد عفا عنكم والله ذو فضل على المؤمنين}(آل عمران:152)، فلما ذاقوا عاقبة معصيتهم للرسول وتنازعهم وفشلهم، كانوا بعد ذلك أشد حذرا ويقظة، وتحرزا من أسباب الخذلان.. ومنها: أن يتميز المؤمن الصادق من المنافق الكاذب، فإن المسلمين لما أظهرهم الله على أعدائهم يوم بدر، وطار لهم الصيت، دخل معهم في الإسلام ظاهرا من ليس معهم فيه باطنا، فاقتضت حكمة الله عز وجل أن سبب لعباده محنة ميزت بين المؤمن والمنافق، فأطلع المنافقون رؤوسهم في هذه الغزوة، وتكلموا بما كانوا يكتمونه، وظهرت مخباتهم وعاد تلويحهم تصريحا، وانقسم الناس إلى كافر ومؤمن ومنافق، انقساما ظاهرا، وعرف المؤمنون أن لهم عدوا في نفس دورهم وهم معهم لا يفارقونهم، فاستعدوا لهم، وتحرزوا منهم. قال الله تعالى:{ما كان الله ليذر المؤمنين على ما أنتم عليه حتى يميز الخبيث من الطيب وما كان الله ليطلعكم على الغيب ولكن الله يجتبي من رسله من يشاء}(آل عمران:179)”.
Di antaranya:

1. Akibat Buruk Maksiat, Perselisihan, dan Kelemahan

Allah memperlihatkan kepada kaum mukminin akibat buruk dari maksiat, kelemahan, dan perselisihan. Musibah yang menimpa mereka merupakan akibat dari semua itu.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ ۚ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾

> “Sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu ketika kamu membinasakan mereka dengan izin-Nya, hingga ketika kamu menjadi lemah, berselisih dalam urusan itu, dan mendurhakai perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu. Sungguh Dia telah memaafkanmu. Allah mempunyai karunia yang besar kepada orang-orang yang beriman.”
> (QS. Ali ‘Imran: 152)

Setelah mereka merasakan akibat buruk dari menyelisihi Rasulullah ﷺ, berselisih, dan melemah, mereka menjadi jauh lebih waspada terhadap sebab-sebab yang mendatangkan kekalahan.

2. Memisahkan Mukmin Sejati dari Orang Munafik

Sebelum Perang Uhud, setelah kemenangan di Badar, Islam tampak sangat kuat sehingga banyak orang masuk Islam hanya secara lahiriah, padahal batinnya tidak beriman.

Karena itu Allah menghendaki adanya ujian agar tampak jelas siapa mukmin sejati dan siapa munafik.

Pada Perang Uhud, orang-orang munafik mulai menampakkan apa yang selama ini mereka sembunyikan. Kedok mereka terbuka, sehingga manusia terbagi dengan jelas menjadi orang kafir, mukmin, dan munafik.

Kaum mukmin akhirnya mengetahui bahwa mereka mempunyai musuh yang hidup di tengah-tengah mereka sendiri. Dengan demikian mereka menjadi lebih siap dan lebih berhati-hati menghadapi mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ﴾

> “Allah tidak akan membiarkan orang-orang beriman dalam keadaan seperti sekarang ini hingga Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Allah juga tidak akan memperlihatkan kepadamu perkara gaib, tetapi Allah memilih siapa yang Dia kehendaki di antara para rasul-Nya.”
> (QS. Ali ‘Imran: 179)

Penutup

Meskipun dalam Perang Uhud kaum muslimin kehilangan banyak syuhada, mengalami luka-luka, serta merasakan penderitaan yang berat, namun perang tersebut tidak dapat dianggap sebagai kekalahan dalam pengertian militer.

Abdullah bin Abbas radhiyallāhu ‘anhumā berkata:

> «مَا نَصَرَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي مَوْطِنٍ كَمَا نَصَرَ يَوْمَ أُحُدٍ»

> “Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak pernah memberikan pertolongan pada suatu peperangan sebagaimana pertolongan-Nya pada Perang Uhud.”

Dalam riwayat Al-Hakim al-Naysaburi disebutkan:

> «مَا نُصِرَ النَّبِيُّ ﷺ فِي مَوْطِنٍ كَمَا نُصِرَ يَوْمَ أُحُدٍ»

> “Rasulullah ﷺ tidak pernah memperoleh pertolongan pada suatu peperangan sebagaimana pertolongan yang beliau peroleh pada Perang Uhud.”

Oleh karena itu, Perang Uhud—beserta ayat-ayat Al-Qur’an yang turun mengenainya serta berbagai peristiwa yang menyertainya—akan senantiasa menjadi sumber pelajaran yang tidak pernah kering bagi umat Islam. Dari peristiwa itu kaum muslimin belajar sebab-sebab datangnya pertolongan Allah, pentingnya menaati Rasulullah ﷺ, menjaga persatuan, bersabar ketika menghadapi ujian, serta menempuh jalan yang mengantarkan kepada kemenangan dan kejayaan atas musuh-musuh Islam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button