Tatsqif

Abyār ‘Alī

Abyār ‘Alī

Sebuah kisah agung yang tidak banyak diketahui

Banyak dari kita mengenal Abyār ‘Alī, yaitu miqat bagi penduduk Madinah al-Munawwarah. Dari miqat inilah para jamaah haji dan umrah berniat dan berihram, termasuk penduduk negeri Syam dan wilayah sekitarnya.

Miqat ini pada masa Nabi ﷺ dan setelahnya dikenal dengan nama Dzul Hulaifah. Sebagian orang mengira bahwa penamaan Abyār ‘Alī dinisbatkan kepada ‘Alī bin Abī Thālib رضي الله عنه, namun anggapan ini tidak benar.

Yang benar, tempat ini dinamakan Abyār ‘Alī karena dinisbatkan kepada ‘Alī bin Dīnār.

‘Alī bin Dīnār رحمه الله

Beliau datang ke miqat tersebut pada tahun 1315 H / 1898 M sebagai seorang jamaah haji, yakni lebih dari 120 tahun yang lalu. Saat itu, beliau mendapati kondisi miqat dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.

Maka beliau menggali sumur-sumur air untuk para jamaah agar dapat minum dan memberi makan mereka di tempat tersebut. Beliau juga merenovasi Masjid Dzul Hulaifah, yaitu masjid tempat Rasulullah ﷺ shalat ketika keluar dari Madinah menuju haji.

Beliau menetap, membangun, dan memakmurkan kawasan tersebut. Oleh karena itu, tempat itu kemudian dikenal dengan nama Abyār ‘Alī, dinisbatkan kepada ‘Alī bin Dīnār.

Siapakah ‘Alī bin Dīnār?

Beliau adalah Sultan Darfur, sebuah wilayah yang kini baru dikenal dunia ketika menjadi perhatian internasional, sehingga banyak orang mengira wilayah tersebut hanyalah tanah tandus dan gersang di barat Sudan.

Padahal, sejak tahun 1898 M hingga 1917 M, Darfur adalah sebuah kesultanan Islam yang dipimpin oleh Sultan ‘Alī bin Dīnār.

Ketika Mesir terlambat mengirim kiswah Ka‘bah, Sultan ‘Alī bin Dīnār mendirikan pabrik pembuatan kiswah Ka‘bah di kota Al-Fāshir (ibu kota Darfur). Selama 20 tahun, beliau secara rutin mengirim kiswah Ka‘bah ke Makkah al-Mukarramah dari Al-Fāshir.

Wilayah Darfur memiliki luas yang setara dengan luas negara Prancis, dengan jumlah penduduk sekitar 6 juta jiwa, dan 99% di antaranya adalah Muslim.

Hal yang jarang diketahui, Darfur memiliki persentase penghafal Al-Qur’an tertinggi di dunia Islam, yakni lebih dari 50% penduduknya menghafal Al-Qur’an di luar kepala. Karena itu, kaum Muslimin di Afrika menjuluki wilayah ini sebagai “dua sampul mushaf”.

Di Al-Azhar Asy-Syarif hingga masa yang belum lama berlalu, terdapat sebuah serambi khusus bernama “Riwāq Darfur”, karena para penuntut ilmu dari Darfur terus-menerus datang untuk belajar di Al-Azhar.

Semoga Allah merahmati Sultan ‘Alī bin Dīnār, dan semoga Allah menuliskan bagi kami dan setiap orang yang rindu kesempatan untuk mengunjungi Masjid Nabi ﷺ dan beribadah di sana.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button