Tatsqif

Kabar Gembira bagi Umat Muhammad ﷺ dari Surah An-Nisa’

Kabar Gembira bagi Umat Muhammad ﷺ dari Surah An-Nisa’

Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما, beliau berkata:
«ثَمَانُ آيَاتٍ نَزَلَتْ فِي سُورَةِ النِّسَاءِ، هِيَ خَيْرٌ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ وَغَرَبَتْ».

“Delapan ayat yang diturunkan dalam Surah An-Nisa’ lebih baik bagi umat ini daripada segala sesuatu yang disinari matahari sejak terbit hingga terbenam.”

Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya (8/257) dan Al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman (5/427). Lihat pula: Al-Kasysyaf karya Az-Zamakhsyari (1/501), Tafsir Ar-Razi (10/56), Tafsir Al-Qurthubi (5/161–162), dan Fath Al-Qadir (1/626).

Ayat pertama, firman Allah عز وجل:

﴿ يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴾
[النساء: 26]

“Allah hendak menerangkan kepadamu, menunjukkan kepadamu jalan-jalan orang-orang sebelum kamu, dan menerima tobatmu. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”
(QS. An-Nisa’: 26)

Ayat kedua, firman Allah عز وجل:

﴿ وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا ﴾
[النساء: 27]

“Allah hendak menerima tobatmu, sedangkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu menginginkan agar kamu menyimpang sejauh-jauhnya.”
(QS. An-Nisa’: 27)

Ayat ketiga, firman Allah عز وجل:

﴿ يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا ﴾
[النساء: 28]

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”
(QS. An-Nisa’: 28)

Ayat keempat, firman Allah عز وجل:

﴿ إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا ﴾
[النساء: 31]

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang untuk kamu kerjakan, niscaya Kami akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke tempat yang mulia.”
(QS. An-Nisa’: 31)

Ayat kelima, firman Allah عز وجل:

﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا ﴾
[النساء: 40]

“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi walaupun sebesar zarrah. Jika ada suatu kebaikan, Dia akan melipatgandakannya.”
(QS. An-Nisa’: 40)

Ayat keenam, firman Allah عز وجل:

﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ﴾
[النساء: 48، 116]

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisa’: 48 dan 116)

Ayat ketujuh, firman Allah عز وجل:

﴿ وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا ﴾
[النساء: 110]

“Barang siapa melakukan keburukan atau menzalimi dirinya sendiri, kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa’: 110)

Ayat kedelapan, firman Allah عز وجل:

﴿ وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ أُولَئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا ﴾
[النساء: 152]

“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya serta tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, mereka itulah yang kelak akan Dia berikan pahala kepada mereka. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa’: 152)

Setelah memberitahukan ayat-ayat tersebut, Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما kemudian menjelaskan bagian akhir ayat:

«وَكَانَ اللَّهُ لِلَّذِينَ عَمِلُوا الذُّنُوبَ غَفُورًا رَحِيمًا».

“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang terhadap orang-orang yang melakukan dosa.”

Atsar Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya (8/257) dan Al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman (5/427). Lihat pula: Al-Kasysyaf karya Az-Zamakhsyari (1/501), Tafsir Ar-Razi (10/56), Tafsir Al-Qurthubi (5/161–162), dan Fath Al-Qadir (1/626).

Ayat-ayat dalam Surah An-Nisa’ ini merupakan landasan penting dalam berbagai pembahasan dan menunjukkan banyak perkara. Hal itu tidak lain karena pahala yang diperoleh darinya dan manfaat yang dihasilkannya sangat besar dan agung. Demikian pula karena di dalamnya terkandung berbagai kabar gembira.

Maka ayat-ayat tersebut benar-benar sebagaimana dikatakan Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما:

«خَيْرٌ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ وَغَرَبَتْ».

“Lebih baik bagi umat ini daripada segala sesuatu yang disinari matahari sejak terbit hingga terbenam.”

Atau sebagaimana dikatakan Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه:

«أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا».

“Lebih aku cintai daripada dunia seluruhnya.”

Dari Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه, beliau berkata:

«خَمْسُ آيَاتٍ مِنْ سُورَةِ النِّسَاءِ لَهُنَّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا».

“Lima ayat dari Surah An-Nisa’ lebih aku cintai daripada dunia seluruhnya.”

Kemudian beliau menyebutkan:

Pertama:

﴿ إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ ﴾
[النساء: 31]

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang untuk kamu kerjakan, niscaya Kami akan menghapus kesalahan-kesalahanmu.”

Kedua:

﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا ﴾
[النساء: 40]

“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi walaupun sebesar zarrah. Jika ada suatu kebaikan, Dia akan melipatgandakannya.”

Ketiga:

﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ﴾
[النساء: 48، 116]

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”

Keempat:

﴿ وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا ﴾
[النساء: 110]

“Barang siapa melakukan keburukan atau menzalimi dirinya sendiri, kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kelima:

﴿ وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ أُولَئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا ﴾
[النساء: 152]

“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya serta tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, mereka itulah yang kelak akan Dia berikan pahala kepada mereka. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Atsar Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya (8/255) dan ‘Abdurrazzaq dalam Tafsir-nya (1/449).

Maksud perkataan mereka adalah bahwa ayat-ayat tersebut lebih mereka cintai daripada segala sesuatu. Hal itu karena tidak ada selain dunia dan akhirat, sedangkan ayat-ayat ini—tanpa diragukan lagi—mengantarkan kepada derajat-derajat akhirat.

Telah diketahui bahwa segala sesuatu yang mengantarkan kepada akhirat dan derajat-derajatnya lebih utama dan lebih dicintai daripada dunia. Sebab, dunia pada akhirnya pasti menuju kebinasaan. Oleh karena itu, hendaknya keterikatan kepadanya diputus, jalan-jalan yang mengantarkan kepada ketergantungan terhadapnya ditutup, dan segala sesuatu yang menyeret manusia kepadanya dicegah.

Dari sinilah ayat-ayat tersebut benar-benar lebih dicintai oleh seorang hamba yang beriman daripada seluruh emas dan perak, daripada segala sesuatu yang dipikul bumi dan dinaungi langit, bahkan daripada dunia seluruhnya, sekalipun dunia dengan seluruh isinya dikumpulkan untuk seorang mukmin.

Perkataan kedua sahabat tersebut رضي الله عنهما pada hakikatnya merupakan dorongan yang sangat tepat untuk memperhatikan ayat-ayat ini yang mengantarkan kepada akhirat, sekaligus merupakan bentuk peremehan terhadap dunia.

Tidaklah mengherankan, karena mereka adalah para sahabat رضي الله عنهم أجمعين yang telah memberikan teladan luar biasa dalam perkara ini.

Oleh karena itu, ayat-ayat ini benar-benar layak untuk direnungkan secara mendalam, diperhatikan dengan saksama, serta seorang hamba hendaknya mengerahkan segenap kemampuan dan kesungguhannya untuk memahami kandungannya.

Demikian pula seharusnya seorang alim dan penuntut ilmu. Ia mengagungkan apa yang Allah عز وجل agungkan dan mendorong manusia untuk mencintainya. Di sisi lain, ia menjelaskan kepada manusia perkara yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka serta menjadikan mereka zuhud terhadap selainnya.

Ar-Razi, setelah menyebutkan atsar tersebut, berkata:

«اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بِفَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ أَهْلًا لَهَا، يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ».

“Ya Allah, dengan karunia dan rahmat-Mu, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang layak mendapatkannya. Wahai Zat Yang Maha Pemurah di antara semua yang pemurah dan Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.”

Dan kita pun mengatakan:

“Demikian pula kami, wahai Rabb seluruh alam. Amin, amin, amin.”

Kita memohon kepada Allah عز وجل agar menganugerahkan kepada kita pemahaman yang benar terhadap ayat-ayat ini serta memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkannya dengan cara yang diridhai oleh Allah عز وجل.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button