Jati Diri Manusia

16

Kadang bahkan sering kita mendapatkan orang berkata untuk mencari jati dirinya. Mereka melakukan berbagai cara agar dapat mengetahui alasan mereka hidup di dunia ini. Andai mereka melirik sedikit saja kepada Islam dan mempelajarinya, maka mereka akan mendapatkan bahwa tiada lain manusia diciptakan selain untuk beribadah kepada penciptanya 

Allah Ta’alaa berfirman, 

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ} 

 Tidaklah sekali-kali aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.” (QS Adz-Adzaaiyaat 56). As-Sa’dirahimahullahdalam tafsirnya megomentari ayat muliah ini dan menyatakan bahwa, Inilah tujuan (dari penciptaan); bahwasanya Allah menciptakan jin dan manusia untuk tujuan tersebut. Dia mengutus semua rasul untuk mengajak manusia kepada hal tersebut yaitu untuk beribadah kepada-Nya. Dalam ibadah ini terkandung di dalamnya makrifat, cinta, dan inabah (yaitu kembali kepada kebenaran setelah pertaubatan) kepada Allah.”  

 Allah Azza wa Jallah memberikan dan menetapkan lewat rasul-Nya shallalahu alayhi wasallam berbagai macam ibadah agar hamba-hamba-Nya dapat mengerjakan amalan-amalan ibadah tersebut untuk menambah bekal mereka di akhirat kelak. Di antara ibadah tersebut ada yang wajib dan ada yang sunnah. Adapun ibadah yang wajib terdapat dalam rukun Islam yang Rasulullah shallallahualayhi wassalam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan puasa Ramadhan.” (Hadis riwayat Imam Turmuzi dan Imam Muslim) 

Bagi seorang muslim yang mencukupkan ibadah-ibadah wajib di atas, kemudian ia menghalakan yang halal dan mengharamkan yang haram, maka ia berhak untuk masuk ke dalam surga. Hal ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah—rahimahumallah yang menyatakan bahwasanya ada seseorang  bertanya kepada Rasulullah shallallahualyhi wasallam, ia berkata, ”Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram, dan saya tidak tambah sedikitpun, apakah saya akan masuk surga? Beliau bersabda, “Ya.” (Hadis riwayat Imam Muslim) 

Prof. Dr. Bandar bin Nafidalam bukunya Ad-Durar As-Asaniyah menyatakan bahwa,  

Berbagai jenis ibadah yang disebutkan dalam hadis ini merupakan sebab-sebab masuk ke dalam surga. Namun, masih ada sebab-sebab lain yang belum disebutkan, akan tetapi Nabi shallallahualayhi wasallam hanya menjawab si penanya mengenai apa yang ia tanyakan saja. Di dalam hadis ini juga tidaklah disebutkan ibadah zakat dan haji. Ada yang berpendapat bahwasanya ibadah haji pada saat itu belum diwajibkan. Adapun ibadah zakat maka ada kemungkinan Nabi mengetahui keadaan si penanya bahwasanya saat itu ia seorang yang fakir. Ia pun bukan seseorang yang dibebankan zakat, maka Nabi menjawab sesuai dengan keadaan si penanya saja.” 

Di sisi lain, Allah juga menyediakan banyak ibadah-ibadah tambahan yang bersifat sunnah yang bisa dilakukan seorang hamba. Di antara ibadah-ibadah tersebut berupa shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah, dan jenis ibadah lainnya yang bisa ditemukan pembahasan lengkapnya di buku-buku fikih. Bagi siapa yang melaksanakan ibadah-ibadah tambahan tersebut maka ia tentu lebih unggul dari seseorang yang hanya menjalankan kewajibannya saja. Ia tentu lebih unggul dalam perlombaan menuju ampunan Allah. Wallahu a’lam. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.