Tadabbur Al-Quran

INTRAKSIMU DENGAN ALQURAN BAG. 1

INTRAKSIMU DENGAN ALQURAN

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang memudahkan Al-Qur’an bagi orang yang membacanya, dan mengangkat derajat serta kedudukan orang yang melaksanakannya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, yang membaca Al-Qur’an hingga air matanya bercucuran, dan berdiri melaksanakan shalat untuk Allah dengan membaca Al-Qur’an sampai kedua kakinya bengkak, dialah Muhammad bin Abdullah, serta kepada keluarga, sahabat, dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik. Amma ba’du:

Sesungguhnya, di antara amal yang paling mulia dan bentuk ibadah yang paling utama adalah membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan mengamalkannya hanya untuk Allah  pemilik langit dan bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih orang-orang tertentu untuk melaksanakan tugas ini, memberi taufik kepada mereka, dan mereka menghabiskan waktu mereka dengan membacanya serta memperindah suara mereka dengan lantunan Al-Qur’an. Hingga Al-Qur’an menjadi teman setia mereka dan membaca serta mengamalkannya menjadi penyejuk hati mereka. Maha Suci Allah, betapa bahagianya mereka dan betapa besar anugerah yang mereka terima.

Kitab yang mulia ini telah banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits sebagai amal yang paling utama. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat serta menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah sempurnakan bagi mereka pahala mereka dan menambahkannya dengan karunia-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Fathir: 29-30). Dan Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman, dan bagi orang-orang yang tidak beriman, di telinga mereka ada penutup dan mereka berada dalam keadaan buta dari itu.’” (Fushilat: 44). Allah juga berfirman: “Ini adalah ayat-ayat kitab yang penuh hikmah, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat baik.” (Luqman: 3).

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi orang yang membacanya. Bacalah dua surat Al-Baqarah dan Surah Ali Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan keduanya adalah dua awan atau dua kelompok burung yang terbang dan mereka akan membela orang yang membacanya.’” (HR. Muslim).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Tidak ada rasa iri kecuali pada dua hal: seorang yang diberikan Al-Qur’an oleh Allah dan ia membaca Al-Qur’an pada waktu-waktu malam dan siang hari, serta seorang yang diberikan kekayaan oleh Allah dan ia menafkahkannya pada waktu-waktu malam dan siang hari.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan ‘Alif Lam Mim’ adalah satu huruf, tetapi Alif adalah satu huruf, Lam adalah satu huruf, dan Mim adalah satu huruf.” (HR. Tirmidzi).

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Akan dikatakan kepada pemilik Al-Qur’an: Bacalah dan naiklah derajatmu, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca di dunia, karena tempatmu di surga adalah pada ayat terakhir yang engkau baca.” (HR. Tirmidzi).

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Peliharalah Al-Qur’an, karena demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, Al-Qur’an lebih cepat melarikan diri daripada unta yang terlepas dari tali pengikatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka, seorang Muslim hendaknya memelihara bacaan Al-Qur’an dan tidak membiarkan harinya berlalu tanpa menghiasi lidahnya dengan membacanya.

Dalam hadist banyak kita menemukan bahwa waktu yang disarankan untuk khatam Al-Qur’an adalah selama empat puluh hari, dan minimal tiga hari.

Dalam sebuah riwayat, Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma bertanya kepada Nabi ﷺ, “Berapa lama seharusnya seseorang membaca Al-Qur’an?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Dalam waktu empat puluh hari,” kemudian beliau bersabda: “Dalam sebulan,” dan seterusnya hingga beliau bersabda: “Dalam tujuh hari.” (HR. Muslim).

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu juga diceritakan, “Saya berpuasa sepanjang tahun dan membaca Al-Qur’an setiap malam. Ketika hal ini saya sampaikan kepada Nabi ﷺ, beliau berkata: ‘Apakah aku tidak memberi tahu kepadamu agar membaca Al-Qur’an dalam sebulan?’ Saya berkata: ‘Ya, Rasulullah, saya mampu melakukan lebih dari itu,’ maka beliau bersabda: ‘Bacalah dalam setiap dua puluh hari.’ Saya berkata lagi: ‘Saya mampu lebih dari itu.’ Beliau bersabda: ‘Bacalah dalam setiap sepuluh hari.’ Saya berkata: ‘Saya mampu lebih dari itu.’ Beliau bersabda: ‘Bacalah dalam setiap tujuh hari, dan jangan lebih dari itu, karena bagi istrimu ada hak atasmu, bagi tubuhmu ada hak atasmu, dan bagi tetanggamu ada hak atasmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim).“Dia berkata: ‘Saya menjadi lebih keras pada diri saya, dan saya pun diperberat (oleh Allah).’ Nabi ﷺ berkata kepadaku: ‘Kamu tidak tahu, mungkin umurmu akan panjang.’ Maka ketika saya sudah tua, saya menyesal dan berharap saya dulu menerima keringanan yang diberikan oleh Nabi Allah. Dalam riwayat lain, dia berkata: ‘Saya merasa mampu melakukan lebih banyak, hingga akhirnya Nabi ﷺ mengatakan: “Cukup tiga hari.”’

Maka, Apa yang lebih dari empat puluh hari dan kurang dari tiga hari tidak sesuai dengan yang dianjurkan, meskipun itu tidak sampai pada hukum haram dan tidak mendatangkan dosa bagi yang melakukannya, Karena khatam Al-Qur’an bukanlah tujuan yang utama, tetapi sebagai bagian dari ibadah dan amal shalih.

Muhammad Rasdil Amirullah, Lc.

(S2, Jurusan Ushul Tarbiyah Al-Islamiyah, Universitas Islam Madinah, KSA)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button