Tarbawi

Apa Setelah Ramadan?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ

“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai kematian mendatangimu.” (Al-Hijr: 99)

Belum lama berlalu, kaum muslimin berada di bulan yang penuh berkah. Bulan yang kaum muslimin berpuasa di siang harinya, dan shalat tarawih di malam harinya. Bulan yang kaum muslimin mengisinya dengan berbagai amal ketaatan. Kini bulan itu telah berlalu, dan akan menjadi saksi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas  segala perbuatan yang dilakukan oleh setiap orang di bulan tersebut, baik berupa amalan ketaatan maupun perbuatan maksiat,  maka sekarang tidak ada lagi yang tersisa dari bulan tersebut kecuali apa yang telah disimpan pada catatan amalan yang akan diperlihatkan pada hari akhir nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيْدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَاللهُ رَءُوْفٌ بِالْعِبَادِ

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati (pada catatan amalan) segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” (Ali ‘Imran: 30)

Ibarat seorang pedagang yang baru selesai dari perniagaannya, tentu dia akan menghitung berapa keuntungan atau kerugiannya, begitu pula yang semestinya dilakukan oleh orang yang beriman dengan hari akhir ketika keluar dari bulan Ramadhan. Bulan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi orang yang berpuasa, dan shalat tarawih karena iman dan mengharapkan balasan dari-Nya, dan pada bulan tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala bebaskan orang-orang yang berhak mendapatkan siksa neraka, sehingga benar-benar bebas darinya, yaitu bagi mereka yang memanfaatkan bulan tersebut untuk bertaubat kepada-Nya dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Oleh karena itu, orang yang mau berpikir tentu akan melihat pada dirinya apa yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan?, sudahkah dia memanfaatkannya untuk bertaubat dengan sebenar-benarnya?, ataukah kemaksiatan yang dilakukan sebelum Ramadhan masih berlanjut, meskipun bertemu dengan bulan yang penuh ampunan tersebut?. Jika demikian halnya, dia terancam dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Baca Juga  Hakikat Taubat

“Dan rugilah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan namun belum mendapatkan ampunan ketika berpisah dengannya.”

Namun demikian, bukan berarti sudah tidak ada lagi kesempatan bagi dirinya untuk memperbaiki diri, karena kesempatan bertobat tidaklah hanya di bulan Ramadhan, bahkan selama ajal belum sampai ke tenggorokan kesempatan masih terbuka lebar, meskipun bukan berarti pula seseorang boleh menunda-nundanya, tapi semestinya dia segera melakukannya, karena kematian bisa datang dengan tiba-tiba dalam waktu yang tidak disangka-sangka, dan seandainya seseorang mengetahui kapan datangnya kematian, maka harus dipahami pula bahwa tobat adalah pertolongan dan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga tidak bisa seseorang memastikan bahwa dirinya pasti akan bertobat sebelum ajal mendatanginya, bahkan Abu Thalib paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, pada akhir hayatnya tidak bisa bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, padahal yang mengingatkannya adalah orang terbaik dari kalangan manusia, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan taufiq dan pertolongan-Nya, maka tidak akan ada seorang pun yang mampu memberikannya. Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap orang segera bertaubat dari seluruh dosanya. Sehingga dia akan mendapat ampunan dan menjadi orang yang tidak lagi memiliki dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللهِ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السُّوْءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوْبُوْنَ مِنْ قَرِيْبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوْبُ اللهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا. وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ اْلآنَ وَلاَ الَّذِيْنَ يَمُوْتُوْنَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah hanyalah akan menerima tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan karena ketidak hati-hatiannya dan kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang Allah terima taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan sehingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi mereka itu telah Kami siapkan siksa yang pedih.” (An-Nisa`: 17-18)

Baca Juga  Sifat-sifat Hamba Ar-Rahman (Sifat Ketujuh)

Adapun orang yang telah memanfaatkan pertemuannya dengan Ramadhan untuk bertaubat dan mengisinya dengan berbagai amal shalih, maka seharusnya dia bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memohon agar amalannya diterima serta memohon agar bisa istiqamah di atas amalan tersebut, dan janganlah dirinya tertipu dengan banyaknya amalannya, sehingga dia menyangka bahwa dirinya termasuk orang-orang yang paling baik dan paling hebat. Dia harus senantiasa memohon ampun dan beristighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena seseorang tidak bisa memastikan apakah amalan yang sudah dia lakukan diterima atau tidak. Seandainya diterima pun, sesungguhnya belum bisa untuk membalas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah ia terima, karena amalan yang dia lakukan benar-benar tidak bisa lepas dari pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka sudah sepantasnya bagi dirinya untuk senantiasa tawadhu’ dan tidak merasa paling baik. Namun, semestinya dia memperbanyak menutup amalannya dengan beristighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena begitulah sifat-sifat orang yang beriman, yaitu orang-orang yang sudah beramal dengan sebaik-baiknya namun masih merasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan kekurangan dirinya dalam beramal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَا آتَوْا وَقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُوْنَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (tidak akan diterima). (Mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al-Mu`minun: 60)

Ketahuilah, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kita ibadahi di bulan Ramadhan adalah yang kita ibadahi pula di luar bulan tersebut. Begitu pula rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah terputus dan berhenti dengan berlalunya bulan Ramadhan, maka doa yang senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala di bulan tersebut janganlah kita tinggalkan di bulan berikutnya. Demikian pula membaca Al-Qur`an yang senantiasa kita lakukan di bulan Ramadhan, jangan sampai kita tinggalkan setelah berlalunya bulan tersebut. Begitu juga shalat malam yang semestinya tidak berhenti dengan berlalunya bulan Ramadhan, meskipun dilakukan hanya dengan beberapa rakaat saja, karena menjaganya adalah salah satu sifat wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

Baca Juga  Penjelasan Hadis Arba’in Nawawiyah | Penjelasan Hadis Pertama (bagian 2)

تَتَجَافَى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (untuk mengerjakan shalat malam) dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menginfakkan dari sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka.” (As-Sajdah: 16)

Di antara tanda yang menunjukkan diterimanya amalan kita adalah berlanjutnya amalan tersebut pada waktu berikutnya, karena amalan yang baik akan menarik amalan baik berikutnya, maka marilah kita senantiasa menjaga amalan-amalan kita, dan janganlah kita kembali kepada perbuatan maksiat setelah kita bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah, bahwa di depan kita ada timbangan amalan yang akan menimbang amalan-amalan kita yang baik dan amalan kita yang jelek. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِيْنَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِيْ جَهَنَّمَ خَالِدُوْنَ. تَلْفَحُ وُجُوْهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيْهَا كَالِحُوْنَ

“Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (Al-Mu`minun: 102-103)

Orang yang mengetahui betapa besarnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan betapa butuhnya dia terhadap rahmat tersebut, tentu akan terus berusaha untuk beramal shalih sampai ajal mendatanginya, sekecil apapun bentuknya. Selama dirinya mampu untuk melakukannya, maka dia tidak akan meremehkannya. Sebagaimana perbuatan maksiat, maka diapun akan meninggalkannya dan tidak menyepelekannya, sekecil apapun bentuknya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُوْلُوْنَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُوْنَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ

“Dan kalian ucapkan dengan mulut-mulut kalian apa yang kalian tidak berilmu tentangnya dan kalian menganggapnya sebagai suatu yang sepele saja. Padahal hal itu di sisi Allah adalah sesuatu yang besar.” (An-Nur: 15)

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menerima amalan-amalan kita, dan memberikan kekuatan kepada kita agar senantiasa mampu untuk menjalankannya, serta mengampuni seluruh kesalahan kita.

Muhammad Faisal Haqqani Ansar, Lc.

Alumni S1, Jurusan Dirasat Islamiyah, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?