Apa maksud dari hadits bahwa surga itu lebih dekat daripada kedua tali sandal seseorang?

Apa maksud dari hadits bahwa surga itu lebih dekat daripada kedua tali sandal seseorang?
Jawaban
Penjelasan Hadis Ibn Mas‘ūd: “Surga lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada tali sandalnya”
Teks Hadis
Dari Ibn Mas‘ūd رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:
الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ
“Surga lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada tali sandalnya, dan neraka pun demikian.” (HR. al-Bukhārī).
Keterangan Syaikh Ibn ‘Utsaimīn رحمه الله
Hadis ini mengandung targhīb (motivasi) sekaligus tarhīb (peringatan).
1. Motivasi (targhīb)
Pada kalimat pertama Nabi ﷺ bersabda: “Surga lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada tali sandalnya.”
Tali sandal (shirāk an-na‘l) adalah tali yang melekat di atas kaki, sangat dekat sekali dengan manusia. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa surga itu amat dekat.
Kadang seseorang mengucapkan satu kalimat yang diridhai Allah, tanpa menyangka dampaknya begitu besar, ternyata kalimat itu bisa mengantarkannya masuk ke surga.
Selain itu, hadis ini juga bermakna umum: bahwa banyak amal ketaatan dan meninggalkan larangan Allah adalah sebab masuk surga. Semua itu mudah bagi orang yang dimudahkan Allah.
Seorang mukmin yang dadanya lapang dengan Islam merasa ringan dalam shalat, zakat, puasa, haji, dan amal-amal kebajikan lainnya. Demikian pula ia merasa mudah meninggalkan larangan Allah. Maka surga benar-benar dekat baginya.
Sebaliknya, orang yang sempit dadanya terhadap Islam akan merasa berat dalam ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Maka surga tidaklah dekat baginya.
2. Peringatan (tarhīb)
Kalimat kedua dari hadis: “Dan neraka pun demikian.”
Maksudnya, neraka pun sedekat tali sandal. Seseorang bisa saja mengucapkan kalimat yang dimurkai Allah tanpa ia pedulikan, lalu kalimat itu menjatuhkannya ke dalam neraka bertahun-tahun lamanya.
Betapa banyak ucapan yang dianggap remeh oleh seseorang, namun justru menjerumuskannya ke neraka.
Contoh Nyata dari Al-Qur’an
Perhatikan kisah para munafik di perang Tabuk. Mereka berkata dengan merendahkan Nabi ﷺ dan para sahabat:
“Kami tidak pernah melihat orang seperti mereka, paling rakus perutnya, paling dusta lisannya, dan paling pengecut menghadapi musuh.”
Mereka bermaksud mencela Rasulullah ﷺ dan para sahabat.
Padahal sifat-sifat itu lebih layak untuk mereka sendiri, karena:
Mereka sangat tamak terhadap kehidupan dunia.
Mereka paling banyak berdusta.
Mereka paling pengecut ketika berjumpa musuh.
Allah ﷻ menyingkap kedustaan mereka dengan firman-Nya:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ
“Dan jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka, niscaya mereka akan berkata: ‘Sesungguhnya kami hanya berbincang-bincang dan bermain-main saja.’”
Allah ﷻ menegaskan:
قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Katakanlah (wahai Muhammad): Apakah kepada Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian berolok-olok? Tidak perlu kalian minta maaf, karena kalian telah kafir setelah beriman.” (Qs. At Taubah: 65-66)
Ayat ini menjelaskan bahwa olok-olok mereka terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya menyebabkan mereka kufur setelah sebelumnya beriman.
Pelajaran Penting
Surga amat dekat: bisa dicapai dengan amal yang ringan, doa yang tulus, atau kalimat yang diridhai Allah.
Neraka pun amat dekat: bisa disebabkan oleh ucapan yang remeh namun penuh dosa.
Wajib bagi seorang muslim menjaga lisan dan membatasi ucapannya, agar tidak tergelincir dan binasa.
Doa Penutup
Semoga Allah memberi kita taufik untuk menjaga lisan, mengamalkan kebaikan, dan menjauhkan kita dari api neraka.
(Diringkas dari: Syarḥ Riyāḍ aṣ-Ṣāliḥīn, 2/99–101, karya Syaikh Ibn ‘Utsaimīn رحمه الله).



