Menjadikan Nikmat sebagai Jalan Menuju Ihsan

“Berbuat Baiklah Sebagaimana Allah Telah Berbuat Baik Kepadamu“ (QS. Al-Qashash: 77)
Menjadikan Nikmat sebagai Jalan Menuju Ihsan
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga hari kiamat.
Firman Allah Ta’ala:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini merupakan bagian dari kisah Qarun, seorang yang diberi kekayaan luar biasa oleh Allah, namun gagal mensyukurinya. Ia menganggap seluruh hartanya merupakan hasil kepintaran dan usahanya sendiri, hingga lupa bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Karena itu, orang-orang saleh dari kaumnya menasihatinya dengan empat prinsip kehidupan: mengutamakan akhirat, tidak melupakan bagian dunia, berbuat ihsan, dan menjauhi kerusakan.
Imam ar-Razi menjelaskan bahwa nasihat dalam ayat ini telah menghimpun seluruh kebaikan. Seandainya Qarun menerimanya, niscaya tidak diperlukan lagi nasihat yang lain.
Di antara empat prinsip tersebut, terdapat satu kalimat yang sangat menyentuh hati:
“Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”
Kalimat ini bukan sekadar perintah untuk berbuat baik, tetapi juga mengajarkan sumber lahirnya ihsan. Allah tidak langsung memerintahkan manusia untuk berbuat baik, melainkan terlebih dahulu mengingatkannya bahwa Allah telah lebih dahulu berbuat baik kepadanya. Dengan kata lain, ihsan seorang hamba merupakan balasan syukur atas ihsan Allah yang tidak terhitung jumlahnya.
Para mufasir menjelaskan bahwa perintah ihsan dalam ayat ini bersifat umum. Sebagian mengaitkannya dengan kesempurnaan ibadah kepada Allah, sebagian lagi dengan berbuat baik kepada sesama manusia melalui harta, kedudukan, dan akhlak yang mulia. Ibnu al-‘Arabi merangkum seluruh penafsiran tersebut dengan ungkapan yang sangat indah:
“Gunakan seluruh nikmat Allah untuk menaati-Nya.”
Sementara itu, Ibnu ‘Asyur menegaskan bahwa objek ihsan dalam ayat ini tidak disebutkan secara khusus agar mencakup seluruh bentuk kebaikan: kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan kepada seluruh makhluk Allah sesuai kemampuan.
Rasulullah ﷺ pun bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan pada segala sesuatu “ (HR. Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa ihsan bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam pekerjaan, pendidikan, muamalah, dakwah, kepemimpinan, bahkan dalam memperlakukan hewan.
Yang menarik, Allah mengaitkan perintah ihsan dengan nikmat yang telah diberikan-Nya. Hal ini mengajarkan bahwa setiap nikmat mengandung amanah. Ilmu menuntut untuk diajarkan, harta menuntut untuk dibelanjakan di jalan Allah, kedudukan menuntut untuk membela yang lemah, kesehatan menuntut untuk digunakan dalam ketaatan, dan waktu menuntut untuk dimanfaatkan dalam hal-hal yang bermanfaat.
Karena itu, seorang mukmin hendaknya senantiasa bertanya kepada dirinya: “Dengan nikmat yang Allah berikan kepadaku hari ini, bentuk ihsan apa yang sudah aku lakukan?”
Jika Allah telah memberinya hidayah, hendaknya ia membantu orang lain menemukan jalan hidayah. Jika Allah memudahkannya menghafal Al-Qur’an, hendaknya ia mengamalkan dan mengajarkannya. Jika Allah melapangkan rezekinya, hendaknya ia berbagi kepada yang membutuhkan. Bahkan ketika Allah menutupi aibnya, hendaknya ia juga menjaga kehormatan saudaranya dan tidak membuka aib orang lain.
Sebaliknya, ayat ini juga mengingatkan bahwa lawan dari ihsan adalah kerusakan. Oleh karena itu Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya:
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”
Kerusakan tidak selalu berbentuk kekerasan atau kezaliman besar, tetapi juga setiap bentuk penyalahgunaan nikmat Allah. Ilmu yang digunakan untuk menyesatkan, harta yang dipakai untuk kesombongan, jabatan yang dimanfaatkan untuk menzalimi orang lain, semuanya termasuk bentuk kerusakan yang bertentangan dengan ihsan.
Ayat ini juga mengajarkan keseimbangan Islam. Allah memerintahkan agar manusia mencari akhirat dengan seluruh nikmat dunia yang dimilikinya, tetapi pada saat yang sama tidak melupakan bagian dunia yang halal. Islam bukan agama yang mengajarkan tenggelam dalam kenikmatan dunia, namun juga bukan agama yang mengajarkan meninggalkan dunia sama sekali. Seorang mukmin menjadikan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat, bukan tujuan akhir kehidupannya.
Pada akhirnya, ihsan bukanlah sebuah amal tertentu, melainkan cara hidup seorang mukmin. Ia bermula dari hati yang dipenuhi rasa syukur kepada Allah, lalu tercermin dalam ibadah yang sempurna, akhlak yang mulia, pekerjaan yang profesional, kepedulian kepada sesama, serta manfaat yang dirasakan oleh seluruh makhluk.
Maka, setiap kali kita mengingat betapa banyak nikmat yang Allah limpahkan kepada kita- nikmat iman, Islam, kesehatan, keluarga, ilmu, rezeki, dan kesempatan hidup- hendaknya kita merasa malu jika belum membalasnya dengan ketaatan dan kebaikan.
Jadikanlah ayat ini sebagai prinsip hidup:
“Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash: 77).
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang berbuat ihsan, yang memperoleh kebersamaan-Nya sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. An-Nahl: 128).



