Tatsqif

Sabar Dalam Menghadapi Musibah

Sabar Dalam Menghadapi Musibah[1]

Setiap manusia yang hidup di dunia pasti akan berhadapan dengan berbagai ujian. Terkadang berupa kesempitan rezeki, kehilangan orang yang dicintai, sakit, kegagalan, atau berbagai musibah lainnya. Semua itu merupakan bagian dari sunnatullah yang berlaku bagi seluruh manusia.

Keimanan yang sejati tidak akan tampak hanya melalui ucapan. Cahaya iman akan semakin bersinar, dan keyakinan akan semakin kokoh, ketika seorang hamba mampu bertahan menghadapi berbagai ujian yang Allah tetapkan.

Kehidupan dunia memang dibangun di atas berbagai kesulitan dan risiko. Tidak seorang pun dapat berharap hidup tanpa penderitaan dan rasa sakit. Hanya saja, ada yang mendapat ujian sedikit, dan ada pula yang mendapat ujian lebih banyak.

Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata:

“Barang siapa menginginkan keselamatan yang terus-menerus, kemenangan atas orang yang memusuhinya, serta kesehatan tanpa adanya cobaan, maka sungguh ia belum memahami hakikat taklif (beban syariat) dan belum memahami makna berserah diri kepada Allah.”[2]

Karena itu, setiap manusia pasti akan merasakan penderitaan, baik ia seorang mukmin maupun orang kafir. Perbedaannya adalah bahwa ujian menjadi sarana penyucian bagi orang-orang yang beriman.

Allah Ta’ala berfirman,

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?” QS. Al-Ankabut: 2

Ayat ini menjelaskan bahwa ujian merupakan sunnatullah untuk membedakan orang yang benar keimanannya dengan orang yang hanya mengaku beriman.

Hakikat ujian adalah datangnya sesuatu yang bertentangan dengan keinginan dan harapan manusia. Dunia tidak akan pernah memberikan kebahagiaan yang sempurna kepada siapa pun, sekalipun seseorang memperoleh berbagai kenikmatan yang diimpikannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan menimpakan musibah kepadanya.” HR.Bukhari No.5645

Hadis ini menunjukkan bahwa musibah bukan selalu pertanda kemurkaan Allah. Justru sering kali ia merupakan bukti bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya.

Manusia akan terus berganti keadaan; hari ini menikmati nikmat, esok menghadapi ujian. Demikianlah kehidupan dunia hingga datang ajal.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

“Barang siapa yang Allah ciptakan untuk surga, maka berbagai kesulitan akan terus mendatanginya. Seorang mukmin yang teguh akan tetap kokoh menghadapi berbagai peristiwa besar. Hatinya tidak berubah dan lisannya tidak dipenuhi keluhan. Menyembunyikan musibah dan rasa sakit merupakan akhlak orang-orang mulia. Tidaklah binasa orang-orang yang binasa kecuali karena habisnya kesabaran mereka. Maka ringankanlah musibah yang menimpamu dengan mengingat janji pahala dari Allah. Ingatlah bahwa Allah tidak menghalangimu kecuali untuk memberimu yang lebih baik, tidak mengujimu kecuali agar Dia menyembuhkanmu, dan tidak mengujimu kecuali agar Dia menyucikanmu.”[3]

Bagaimana Agar Musibah Terasa Ringan?

Salah satu bentuk ibadah yang paling berat adalah bersabar terhadap ketetapan Allah. Namun, di balik beratnya kesabaran terdapat kemuliaan yang sangat besar.

Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata:

“Tidak ada perkara dalam syariat yang lebih berat daripada bersabar terhadap ketetapan Allah, dan tidak ada yang lebih utama daripada ridha terhadapnya.”[4]

Orang yang memahami hakikat dunia tidak akan mudah terkejut ketika musibah datang, dan tidak pula larut dalam kegembiraan ketika memperoleh kenikmatan dunia.

Jangan terlalu bersedih atas apa yang luput darimu. Pandanglah musibah yang menimpamu sebagai sesuatu yang lebih ringan dibandingkan musibah yang tidak Allah timpakan kepadamu. Demikian pula berbagai keinginan yang tidak tercapai, boleh jadi Allah menghindarkanmu dari sesuatu yang sebenarnya tidak baik bagimu.

Ibnu Qayyim rahimahullah menceritakan,

“Guru kami, Syaikhul Islam, pernah berkata kepadaku: ‘Berbagai gangguan dan musibah itu seperti panas dan dingin. Apabila seorang hamba mengetahui bahwa keduanya pasti ada, maka ia tidak akan marah ketika keduanya datang, tidak akan bersedih karenanya, dan tidak pula larut dalam kesedihan.'”[5]

Kehidupan dunia dipenuhi berbagai kegelisahan. Sebagian besar kesedihan manusia muncul karena besarnya keterikatan kepada dunia.

Abu Ad-Darda’ radiallahu ‘anhu berkata:

“Termasuk hinanya dunia di sisi Allah adalah bahwa maksiat kepada-Nya hanya terjadi di dunia, sedangkan apa yang ada di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan meninggalkannya.”

Karena itu, yakinlah kepada takdir Allah. Bersabarlah terhadap keputusan-Nya. Dunia memang diciptakan penuh dengan kesulitan dan penderitaan.

Ibnu Muflih rahimahullah berkata bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sering mengulang bait syair berikut,

Ketika seseorang mengira dirinya hanya pembawa berita,
Tiba-tiba ia sendiri menjadi berita yang diperbincangkan.

Dunia memang diciptakan penuh keruh,
Sedangkan engkau menginginkannya bersih dari segala kotoran dan kesusahan.[6]

Beriman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman. Tidak semua yang diinginkan manusia akan tercapai. Namun dengan terus berdoa, bersungguh-sungguh memohon kepada Allah, dan menggantungkan seluruh harapan hanya kepada-Nya, pintu-pintu kemudahan akan dibukakan.

Putuskan harapan dari apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya. Jangan berputus asa sehingga engkau menjadi lemah. Ingatlah banyaknya nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu. Ridhalah terhadap ketetapan-Nya, karena sepanjang apa pun malam, fajar pasti akan menyingsing. Akhir dari kesedihan adalah awal datangnya kelapangan.

Tidaklah seseorang meminum pahitnya kesabaran sambil tetap bergantung kepada Allah, melainkan Allah akan memberinya jalan keluar.

Para Nabi adalah Teladan dalam Kesabaran

Allah mengangkat derajat para nabi dan orang-orang saleh melalui berbagai ujian.

Sa’ad bin Abi Waqqash radiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?”, Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang paling baik setelah mereka, lalu yang lebih baik lagi. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat maka ujiannya ditambah. Jika agamanya lemah maka ujiannya diringankan. Musibah akan terus menimpa seorang mukmin hingga ia berjalan di muka bumi tanpa membawa satu dosa pun.” HR.Bukhari.

Lihatlah perjalanan para nabi. Nabi Adam diuji. Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api. Nabi Ismail diperintahkan untuk disembelih. Nabi Yunus berada di dalam perut ikan. Nabi Ayyub diuji dengan penyakit yang berat. Nabi Yusuf dijual sebagai budak, dilemparkan ke dalam sumur, lalu dipenjara tanpa kesalahan. Nabi Muhammad ﷺ menghadapi berbagai bentuk gangguan dan penderitaan dalam berdakwah.

Semua itu menunjukkan bahwa jalan menuju kemuliaan tidak pernah lepas dari ujian.

Seorang mukmin diuji bukan untuk disiksa, tetapi untuk dididik, dibersihkan, dan diangkat derajatnya di sisi Allah.

Musibah yang sesungguhnya adalah musibah yang menimpa agama seseorang. Adapun musibah dunia, selama iman tetap terjaga, maka ia merupakan sebab dihapusnya dosa dan ditinggikannya derajat.

Karena itu, jangan bersedih berlebihan atas urusan dunia yang hilang darimu. Dunia hanyalah tempat persinggahan yang penuh dengan pergantian keadaan. Hari-harinya dipenuhi kegelisahan, sementara kenikmatannya hanya sementara.

Para nabi telah bersabar menghadapi ujian yang jauh lebih berat daripada yang kita alami. Maka bersabarlah sebagaimana mereka bersabar. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperoleh pahala kesabaran, menghapus dosa-dosa kita melalui musibah yang kita alami, meninggikan derajat kita di sisi-Nya, serta mengumpulkan kita bersama para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh di dalam surga-Nya.

[1]. Diterjemahkan dari kitab Khutuwaat Ila as Sa’adah Hal. 58-61 karya Syekh Abdul Muhsin bin Muhammad al Qasim (Imam dan Khatib Mesjid Nabawi).

[2]. Saidul Khatir Hal.384

[3]. Al-Fawaaid Hal.32

[4]. Saidul Khatir Hal.91

[5]. Madaarij as-Saalikin 3/389.

[6]. Al-Adab asy-Syar’iah 2/247.

Darul Idam, Lc., M.A.

Kandidat Doktor Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button