“Fatwa-fatwa Syar‘i dalam Permasalahan Kontemporer dari Fatwa Ulama Negeri Haram: Fatwa-fatwa Pilihan tentang Permasalahan Kontemporer.”

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Mukadimah
Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan petunjuk kepada-Nya, serta berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kita dan dari keburukan amal-amal kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Amma ba‘du:
Sesungguhnya maksiat termasuk sebab terbesar yang mendatangkan beratnya musibah, kesengsaraan hidup, buruknya ketetapan, dan kegembiraan musuh atas penderitaan seseorang. Maksiat juga merupakan sebab utama hilangnya nikmat dan datangnya berbagai bencana dari Allah Ta‘ala. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari apa yang telah mereka kerjakan, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum)
Seorang muslim yang berakal tidak akan ragu bahwa setiap musibah yang turun hanyalah buah dari dosa-dosa yang dilakukan manusia.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا﴾
“Jika kalian berbuat baik, maka kebaikan itu untuk diri kalian sendiri. Dan jika kalian berbuat buruk, maka keburukan itu kembali kepada diri kalian sendiri.” (QS. Al-Isra’)
Betapa banyak perkara yang diremehkan manusia dan mereka sangka sebagai hal sepele, padahal dapat menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan sementara mereka lalai. Dalam hadis sahih disebutkan:
«إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ، وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ ضَرَبَ لَهُنَّ مَثَلًا: كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا أَرْضَ فَلَاةٍ، فَحَضَرَ صَنِيعُ الْقَوْمِ، فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَنْطَلِقُ فَيَجِيءُ بِالْعُودِ، وَالرَّجُلُ يَجِيءُ بِالْعُودِ، حَتَّى جَمَعُوا سَوَادًا، فَأَجَّجُوا نَارًا، وَأَنْضَجُوا مَا قَذَفُوا فِيهَا».
“Jauhilah dosa-dosa kecil yang diremehkan, karena dosa-dosa itu akan berkumpul pada diri seseorang hingga membinasakannya.”
Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan permisalan bagi dosa-dosa kecil tersebut:
“Seperti suatu kaum yang singgah di sebuah tanah lapang, lalu datang waktu mereka memasak makanan. Maka seseorang pergi mengambil sepotong kayu bakar, dan yang lain pun membawa sepotong kayu bakar, hingga terkumpullah banyak kayu. Lalu mereka menyalakan api dan memasak makanan mereka di atasnya.”
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (1/402), dan oleh Ath-Thabarani dalam “Al-Mu‘jam Al-Kabir” (10/212 no. 10500). Hadis ini berstatus sahih. Lihat: “Majma‘ Az-Zawa’id” karya Al-Haitsami (10/189).
Maka renungkanlah, semoga Allah merahmatiku dan merahmatimu, permisalan Nabi ﷺ yang agung ini. Bagaimana kayu kecil yang sedikit demi sedikit terkumpul akhirnya menjadi api besar yang mampu memasak makanan. Demikian pula dosa-dosa, manusia meremehkannya hingga akhirnya menyeretnya ke dalam Jahannam, wal ‘iyadzu billah.
Sebaliknya, ada pula amal-amal kebaikan yang dipandang remeh oleh manusia, padahal sangat besar nilainya di sisi Allah Ta‘ala.
«اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ».
“Takutlah kalian kepada neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh butir kurma. Barang siapa tidak mendapatkannya, maka dengan ucapan yang baik.”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 6540 dan Imam Muslim no. 1016.
Fitnah pada hari-hari ini telah banyak tersebar, dan banyak perbincangan serta perdebatan mengenai berbagai persoalan penting yang seharusnya seorang muslim mengetahui kebenaran di dalamnya.
Jarang sekali engkau mendapati seorang muslim yang tidak membahas salah satu dari persoalan-persoalan tersebut, antara yang mengharamkan dan yang membolehkan tanpa ilmu, berbicara atas nama Allah tanpa dasar. Padahal Allah telah mencela orang-orang seperti ini dalam Al-Qur’an. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Dan janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidah kalian secara dusta: ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung. Itu hanyalah kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. An-Nahl)
Allah Ta‘ala juga berfirman:
﴿فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِّيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾
“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-An‘am: 144)
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ».
“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 107.
Ketika aku melihat banyak manusia meremehkan perkara ini dan tidak bersungguh-sungguh mencari hukum yang benar dalam masalah-masalah tersebut, padahal seharusnya seorang muslim bertanya kepada para ulama dalam setiap perkara kecil maupun besar, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau kecuali laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl)
Karena seluruh alasan itulah, aku memandang baik untuk menghadiahkan kepada setiap keluarga muslim kumpulan ini yang berisi berbagai fatwa sosial pilihan dari para ulama kita yang mulia, yaitu: Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Fadhilatusy Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin, Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan, serta Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’.
Aku juga telah mengumpulkan bagian-bagian dari buku-buku kecil fatwa sosial yang pernah aku terbitkan sebelumnya ke dalam satu jilid, lalu menambahkan beberapa fatwa terkait persoalan-persoalan kontemporer, dan aku menamakannya:
“Fatwa-fatwa Syar‘i dalam Permasalahan Kontemporer dari Fatwa Ulama Negeri Haram: Fatwa-fatwa Pilihan tentang Permasalahan Kontemporer.”




