Mata Terakhir Yang Melihat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam

MATA TERAKHIR YANG MELIHAT NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WASSALAM
Abu Ath-Thufail ‘Amir bin Watsilah Al-Kinani
(Sahabat terakhir yang wafat)
Termasuk tokoh dari Makkah
Pada tahun 110 H, dunia kehilangan sahabat terakhir dari para sahabat Nabi ﷺ di Makkah, yaitu Amir ibn Wathila al-Kinani yang dikenal dengan kunyah Abu Ath-Thufail.
Ia lahir pada tahun ketiga Hijriyah, sehingga sempat hidup bersama Nabi Muhammad ﷺ selama delapan tahun. Abu Ath-Thufail adalah seorang pemimpin dari kaumnya, termasuk orang-orang terpandang. Ia dikenal sebagai sosok yang utama, cerdas, cepat dalam menjawab, fasih berbicara, serta seorang penyair yang baik.
Ia tinggal di Kufah. Ketika Ali ibn Abi Talib wafat, ia berpindah ke Makkah dan menetap di sana hingga meninggal dunia.
Adz Dzahabi menceritakan dalam kitab siyar A’lamin Nubala’:
Abu Ath-Thufail (رضي الله عنه)
Beliau adalah penutup (orang terakhir) yang melihat Rasulullah ﷺ di dunia. Keadaan ini terus berlangsung pada masa tabi‘in dan tabi‘ut tabi‘in dan seterusnya, sehingga tidak ada seorang manusia pun yang mengatakan: “Aku telah melihat Rasulullah ﷺ.”
Hingga kemudian, setelah sekitar lima ratus tahun, muncul di India seseorang bernama Baba Ratan yang mengaku sebagai sahabat. Ia telah menipu dirinya sendiri, dan para ulama mendustakannya. Barang siapa membenarkan pengakuannya, maka semoga Allah memberkahi akalnya (ungkapan sindiran), dan kita memuji Allah atas keselamatan (dari kesesatan tersebut).
Nama Abu Ath-Thufail adalah Amir ibn Wathila al-Kinani bin ‘Abdullah bin ‘Amr Al-Laitsi Al-Kinani Al-Hijazi, dan ia memiliki kecenderungan kepada Syi‘ah (yakni termasuk pendukung Ali).
Ia termasuk pengikut Ali ibn Abi Talib. Ia lahir setelah hijrah.
Ia melihat Nabi ﷺ pada Haji Wada‘, ketika beliau mengusap Hajar Aswad dengan tongkatnya, lalu mencium tongkat tersebut.
Ia meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar bin Al-Khaththab, Mu‘adz bin Jabal, Ibnu Mas‘ud, dan Ali.
Dan yang meriwayatkan darinya antara lain: Habib bin Abi Tsabit, Az-Zuhri, Abu Az-Zubair Al-Makki, Ali bin Zaid bin Jud‘an, Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, Ma‘ruf bin Kharbudz, Sa‘id Al-Jariri, Fithr bin Khalifah, dan banyak lainnya.
Ma‘ruf berkata: Aku mendengar Abu Ath-Thufail berkata:
“Aku melihat Rasulullah ﷺ ketika aku masih seorang pemuda, beliau thawaf di Baitullah di atas kendaraannya, mengusap Hajar Aswad dengan tongkatnya.”
Muhammad bin Salam Al-Jumahi meriwayatkan dari Abdurrahman Al-Hamdani, ia berkata:
Abu Ath-Thufail masuk menemui Mu‘awiyah. Mu‘awiyah berkata:
“Bagaimana waktu telah menyisakan kesedihanmu atas Ali?”
Ia menjawab:
“Seperti kesedihan seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya, dan seperti seorang tua yang tidak memiliki anak.”
Mu‘awiyah berkata: “Bagaimana cintamu kepadanya?”
Ia menjawab:
“Seperti cinta ibu Musa kepada Musa, dan kepada Allah aku mengadukan kekuranganku (dalam mencintainya).”
Diriwayatkan pula dari Abu Ath-Thufail, ia berkata:
“Aku mendapatkan masa hidup Rasulullah ﷺ selama delapan tahun.”
Disebutkan bahwa ia pernah bersyair:
“Aku tinggalkan satu anak panah dalam kantong panah,
yang akan digunakan untuk memanah, atau panah itu akan patah oleh pematahnya.”
Disebutkan pula bahwa Abu Ath-Thufail pernah menjadi pembawa panji Al-Mukhtar ketika ia muncul di Irak dan memerangi para pembunuh Al-Husain.
Abu Ath-Thufail adalah seorang yang terpercaya dalam riwayatnya, jujur, berilmu, penyair, dan pemberani. Ia hidup dalam usia yang panjang, dan turut serta bersama Ali dalam peperangannya.
Khalifah (bin Khayyath) berkata:
Ia tinggal di Makkah hingga wafat sekitar tahun 100 H. Ada juga yang mengatakan tahun 107 H.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Ath-Thufail masih ada di Makkah pada tahun 107 H.
Wahb bin Jarir berkata:
Aku mendengar ayahku berkata: Aku berada di Makkah pada tahun 110 H, lalu aku melihat sebuah jenazah. Aku bertanya tentangnya, mereka menjawab: “Ini adalah Abu Ath-Thufail.”
Saya (penulis) mengatakan: inilah yang paling kuat mengenai tahun wafatnya, karena adanya penetapan riwayat, dan didukung oleh riwayat sebelumnya.
Seandainya ada seseorang yang hidup setelahnya dengan usia sepanjang yang ia jalani setelah Nabi ﷺ, niscaya ia akan hidup hingga sekitar awal abad kedua Hijriyah. Selesai.
Dalam Shahih Muslim, dari Abu Ath-Thufail, ia berkata:
Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas:
إِني قد رأَيت رسول الله صَلَّى الله عليه وسلم. قال: فَصِفْه لي. قلت: رأَيته عند المروة على ناقة وقد كَثُر الناسُ عليه ــ قال: فقال ابن عباس: ذاكَ رسولُ الله صَلَّى الله عليه وسلم، إِنهم كانوا لا يُدَعُّون عنه.
“Sesungguhnya aku pernah melihat Rasulullah ﷺ.”
Ibnu ‘Abbas berkata: “Gambarkanlah beliau kepadaku.”
Aku berkata: “Aku melihat beliau di dekat Marwah, di atas seekor unta, sementara orang-orang berkerumun di sekitarnya.”
Ibnu ‘Abbas berkata: “Itulah Rasulullah ﷺ, mereka tidak menghalangi manusia dari beliau.”
Di antara sunnah yang beliau riwayatkan adalah sunnah mengusap Hajar Aswad. Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, ia berkata:
رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يطوف بالبيت على راحلته يستلم الركن بمحجنه ثم يقبله.
“Aku melihat Nabi ﷺ thawaf di Baitullah di atas kendaraannya, beliau mengusap sudut (Hajar Aswad) dengan tongkatnya, kemudian menciumnya.”
Ketika Abu Ath-Thufail wafat, tidak ada lagi di muka bumi ini seorang pun yang pernah melihat Nabi ﷺ selain dirinya. Diriwayatkan bahwa ia berkata:
(رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وما على وجه الأرضِ رجلٌ رآه غيري، قال فقلتُ له: فكيف رأيتَه؟ قال: كان أبيضَ مليحاً مقصداً) .
“Aku melihat Rasulullah ﷺ, dan tidak ada seorang pun di muka bumi yang melihat beliau selain aku.”
Ketika ditanya: “Bagaimana engkau melihat beliau?”
Ia menjawab: “Beliau berkulit putih, rupawan, dan berperawakan sedang.”
Abu Ath-Thufail ‘Amir bin Watsilah Al-Kinani adalah sahabat terakhir yang wafat. Ia wafat pada tahun 102 H, ada yang mengatakan 100 H, ada yang mengatakan 107 H, dan ada pula yang mengatakan 110 H.
Disepakati bahwa beliau adalah sahabat terakhir yang meninggal dari kalangan orang yang pernah melihat Nabi Muhammad ﷺ.



