Setan dibelenggu pada malam pertama Ramadan dan dilepaskan saat berakhirnya bulan Ramadan

Setan dibelenggu pada malam pertama Ramadan dan dilepaskan saat berakhirnya bulan Ramadan
Ust. Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:
Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar menghilangkan dari kita gangguan setan yang tampak ataupun tersembunyi, memohon kepada Allah Ta’ala kekuatan untuk melawan rasa was-was, berlindung kepada Allah Ta‘ala dari keburukan jiwa, dan dosa amal perbuatan.
Sesungguhnya kebiasaan setan adalah menjadikan orang yang dibisikinya menjadi bingung dalam pikirannya, ragu dalam ibadahnya, dan memberatkan dirinya sendiri hingga terjatuh ke dalam hal yang terlarang, serta menghilangkan kepercayaan dirinya dan kepada orang lain.
Dan usaha kita dalam melawan gangguan setan merupakan sesuatu yang dengannya bisa menghalangi antara setan dan apa yang diinginkannya. Maka jangan berputus asa dan jangan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat baik:
﴿ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ ﴾
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (ihsan).” (QS. An-Nahl: 128)
Pertama: Teks Hadits
Adapun tentang pembelengguan setan di bulan Ramadan, maka hal ini telah tetap dalam hadits-hadits shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, yang diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits paling otoritatif seperti Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, serta juga dalam riwayat An-Nasa’i.
Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa pada bulan Ramadan dibukakan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan para setan dibelenggu, sebagai bentuk rahmat Allah dan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya untuk beribadah dan menjauhi maksiat.
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«إذا دخل شهر رمضان فُتِّحت أبواب السماء، وغُلِّقت أبواب جهنم، وسُلسلت الشياطين»
“Apabila masuk bulan Ramadan, dibukalah pintu-pintu langit, ditutuplah pintu-pintu Jahannam, dan dirantai para setan.”
Shahih Al-Bukhari no. 1899 dan Shahih Muslim no. 1079.”
Dan dalam riwayat Muslim:
«إذا جاء رمضان فتِّحت أبواب الجنة، وغلِّقت أبواب النار، وصفِّدت الشياطين»
“Apabila datang Ramadan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggu para setan.”
Shahih Muslim no. 1079.
Dan dalam riwayat An-Nasa’i:
«تفتح فيه أبواب الجنة، وتغلق فيه أبواب النار، وتغلُّ فيه الشياطين، وينادي مناد كل ليلة: يا باغي الخير هلم، ويا باغي الشر أقصر»
“Dibukalah di dalamnya pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu para setan. Dan ada penyeru yang berseru setiap malam: Wahai pencari kebaikan, kemarilah! Wahai pencari keburukan, berhentilah!”
Sunan An-Nasa’i no. 2107, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani.
Maka telah tetap dalam hadits-hadits ini dari Nabi ﷺ bahwa setan-setan dibelenggu dan dirantai di bulan Ramadan, dan hadits-hadits tersebut adalah shahih dalam kitab hadits paling shahih: Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Dan sesungguhnya zahir hadits-hadits yang menyebutkan tentang pembelengguan setan menunjukkan bahwa hal itu terjadi karena keutamaan bulan ini, dan keadaan tersebut tetap berlangsung hingga akhir bulan. Dan tidak ditemukan dalam nash-nash apa pun yang memalingkan dari makna zahir ini, atau yang menunjukkan bahwa pembelengguan tersebut berakhir dengan berakhirnya malam Lailatul Qadr.
Kedua: Makna Pembelengguan Setan
Ibnu ‘Abdil Barr berkata:
“الصفد بتخفيف الفاء: فهو الغل عند العرب”
“Shafd (pembelengguan) menurut orang Arab adalah belenggu (rantai).”
Kitab Al-Istidzkar, jilid 3 halaman 377.
Ibnu Hajar berkata:
«صفدت الشياطين» أي: أوثقت بأغلال الحديد.
“‘Dibelenggu setan-setan’ artinya diikat dengan rantai besi.”
Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari), jilid 1 halaman 144.
Para ulama berbeda pendapat tentang makna “pembelengguan setan” dalam beberapa pendapat:
1. Makna Hakiki (Benar-benar dibelenggu)
Yaitu setan benar-benar dibelenggu secara nyata. Ini pendapat banyak ulama.
As-Suyuthi berkata:
“وقال عياض: يحتمل أن الحديث على ظاهره وحقيقته، وأن ذلك كله علامة للملائكة لدخول الشهر وتعظيم حرمته، ولمنع الشياطين من أذى المؤمنين”
“Al-Qadhi ‘Iyadh berkata: Hadits ini kemungkinan dipahami sesuai zahirnya dan hakikatnya, dan bahwa semua itu merupakan tanda bagi para malaikat atas masuknya bulan (Ramadan) dan sebagai pengagungan terhadap kehormatannya, serta untuk mencegah setan-setan dari mengganggu kaum mukminin.”
Hasyiyah As-Suyuthi atas Sunan An-Nasa’i, jilid 4 halaman 129.”
Ibnu Al-Mulaqqin berkata:
“وقد أسلفنا أنه حقيقة، فيسلسلون، ويقل أذاهم ووسوستهم، ولا يكون ذَلِكَ منهم كما هو في غير رمضان، ويدل عليه ما يذكر من تغليل الشياطين ومردتهم بدخول أهل المعاصي كلها في الطاعة”.
“Dan telah kami jelaskan sebelumnya bahwa hal itu adalah hakikat (secara nyata), maka para setan dirantai, sehingga berkurang gangguan dan bisikan mereka, dan tidaklah hal itu terjadi sebagaimana di luar Ramadan. Hal ini ditunjukkan oleh apa yang disebutkan tentang dibelenggunya para setan dan setan-setan yang durhaka, sehingga orang-orang yang biasa berbuat maksiat pun masuk ke dalam ketaatan.”
Kitab At-Taudhih li Syarh Al-Jami’ Ash-Shahih, jilid 13 halaman 56.
Dan yang dimaksud di sini adalah semua setan, karena lafaznya umum.
2. Hakiki, tapi khusus setan durhaka (مردة الشياطين) Yaitu yang dibelenggu hanya setan-setan yang sangat durhaka.
Bahwa pembelengguan di sini adalah secara hakikat (nyata), namun tidak mencakup seluruh setan, melainkan hanya setan-setan yang sangat durhaka (maraadah) di antara mereka. Pembatasan ini telah disebutkan dalam banyak riwayat, di antaranya sabda Nabi ﷺ:
«أعطيت أمتي خمس خصال في رمضان، لم تعطها أمة قبلهم: خلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك، وتستغفر لهم الملائكة حتى يفطروا، ويزين الله عز وجل كل يوم جنته، ثم يقول: يوشك عبادي الصالحون أن يلقوا عنهم المئونة والأذى ويصيروا إليك، ويصفد فيه مردة الشياطين، فلا يخلصوا فيه إلى ما كانوا يخلصون إليه في غيره، ويغفر لهم في آخر ليلة»
“Aku diberi untuk umatku lima keutamaan di bulan Ramadan yang tidak diberikan kepada umat sebelum mereka: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau misk; para malaikat memohonkan ampun untuk mereka hingga mereka berbuka; Allah menghiasi surga-Nya setiap hari, kemudian berfirman: ‘Hampir saja hamba-hamba-Ku yang shalih akan melepaskan kesusahan dan gangguan mereka lalu menuju kepadamu’; dan dibelenggu di dalamnya para setan yang durhaka, sehingga mereka tidak mampu mencapai apa yang biasa mereka capai di selainnya; dan mereka diampuni pada malam terakhir.”
Ditanyakan: Wahai Rasulullah, apakah itu malam Lailatul Qadr?
Beliau menjawab:
«لا، ولكن العامل إنما يوفى أجره إذا قضى عمله»
“Tidak, tetapi seorang pekerja akan disempurnakan upahnya ketika ia telah menyelesaikan pekerjaannya.”
Diriwayatkan oleh An-Nasa’i no. 2106 dan Ahmad no. 7917, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani.”
Dan sabda Nabi ﷺ:
«في رمضان تفتح أبواب السماء، وتغلق أبواب النار، ويصفد فيه كل شيطان مريد، وينادي مناد كل ليلة: يا طالب الخير هلم، ويا طالب الشر أمسك»
“Di bulan Ramadan dibukakan pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu setiap setan yang durhaka. Dan ada penyeru yang berseru setiap malam: ‘Wahai pencari kebaikan, kemarilah! Wahai pencari keburukan, berhentilah!’”
Diriwayatkan oleh An-Nasa’i no. 2108 dan Ahmad no. 18794, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani.
Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Khuzaimah rahimahullah, beliau berkata:
“باب ذكر البيان أن النبي صلى الله عليه وسلم إنما أراد بقوله: «وصفدت الشياطين» مردة الجن منهم، لا جميع الشياطين، إذ اسم الشياطين قد يقع على بعضهم، وذكر دعاء الملَك في رمضان إلى الخيرات، والتقصير عن السيئات، مع الدليل على أن أبواب الجنان إذا فتحت لم يغلق منها باب، ولا يفتح باب من أبواب النيران إذا أغلقت في شهر رمضان”.
“Bab penjelasan bahwa Nabi ﷺ dengan sabdanya: «وصفدت الشياطين» yang dimaksud adalah para setan durhaka dari kalangan jin, bukan seluruh setan. Karena nama ‘setan’ bisa digunakan untuk sebagian mereka saja. Dan disebutkan pula seruan malaikat di bulan Ramadan kepada kebaikan dan untuk menahan diri dari keburukan, bersamaan dengan dalil bahwa pintu-pintu surga jika telah dibuka tidak ada yang ditutup, dan pintu-pintu neraka jika telah ditutup tidak ada yang dibuka di bulan Ramadan.”
Shahih Ibnu Khuzaimah, jilid 3 halaman 188.
Hal ini juga ditegaskan oleh Al-‘Aini, bahwa itu adalah salah satu pendapat dalam masalah ini. Beliau berkata:
“وقيل: المراد بالشياطين بعضهم، وهم المردة منهم، وترجم لذلك ابن خزيمة في صحيحه، وأورد ما أخرجه هو والترمذي والنسائي وابن ماجه والحاكم من طريق الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة بلفظ: «إذا كان أول ليلة من شهر رمضان صفدت الشياطين مردة الجن» وأخرجه النسائي من طريق أبي قلابة عن أبي هريرة بلفظ: «وتغلّ فيه مردة الشياطين»“.
“Dikatakan: yang dimaksud dengan setan adalah sebagian dari mereka, yaitu para setan yang durhaka. Dan Ibnu Khuzaimah membuat bab tentang hal itu dalam Shahih-nya, serta meriwayatkan hadits melalui Al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dengan lafaz:
«إذا كان أول ليلة من شهر رمضان صفدت الشياطين مردة الجن»
‘Apabila malam pertama bulan Ramadan, dibelenggu para setan dari kalangan jin yang durhaka.’
Dan An-Nasa’i meriwayatkannya melalui Abu Qilabah dari Abu Hurairah dengan lafaz:
«وتغلّ فيه مردة الشياطين»
‘Dan dibelenggu di dalamnya para setan yang durhaka.’”
Umdatul Qari (Syarah Shahih Al-Bukhari), jilid 10 halaman 270.
3. Bahwa hadits tersebut bukan pada makna hakikatnya, melainkan merupakan majaz (kiasan). Maknanya adalah bahwa kaum muslimin tidak banyak terjatuh dalam maksiat, karena Ramadan adalah bulan ketaatan dan kebaikan.
Ibnu ‘Abdil Barr berkata:
“«صفدت الشياطين» وجهه عندي -والله أعلم- أنه على المجاز، وإن كان قد روي في بعض الأحاديث: «سلسلت» فهو عندي مجاز، والمعنى فيه -والله أعلم- أن الله يعصم فيه المسلمين أو أكثرهم في الأغلب من المعاصي، ولا يخلص إليهم فيه الشياطين كما كانوا يخلصون إليهم في سائر السنة”
“‘Dibelenggu setan-setan’, menurutku -wallahu a’lam- maknanya adalah majaz. Meskipun dalam sebagian hadits disebutkan ‘dirantai’, namun menurutku itu juga majaz. Maknanya -wallahu a’lam- bahwa Allah menjaga kaum muslimin atau kebanyakan mereka dari maksiat, dan setan tidak sampai kepada mereka sebagaimana mereka sampai kepada mereka di sepanjang tahun lainnya.”
Al-Istidzkar, jilid 3 halaman 377.”
Al-Hulaimi berkata:
“ويحتمل أن يكون المراد أن الشياطين لا يخلصون من افتتان المسلمين إلى ما يخلصون إليه في غيره لاشتغالهم بالصيام الذي فيه قمع الشهوات وبقراءة القرآن والذكر”
“Bisa jadi maknanya bahwa setan tidak mampu menyesatkan kaum muslimin sebagaimana di luar Ramadan, karena mereka sibuk dengan puasa yang mengekang syahwat, serta dengan membaca Al-Qur’an dan berdzikir.”
“Lihat: Fathul Bari karya Ibnu Hajar, jilid 4 halaman 114.”
Mulla ‘Ali Al-Qari juga menukil dari Al-Hulaimi:
“والمعنى أن الشياطين لا يتخلصون فيه من إفساد الناس ما يتخلصون إليه في غيره؛ لاشتغال أكثر المسلمين بالصيام الذي فيه قمع الشهوات، وبقراءة القرآن وسائر العبادات”
“Maknanya bahwa setan tidak mampu merusak manusia sebagaimana mereka melakukannya di selain Ramadan, karena kebanyakan kaum muslimin sibuk dengan puasa yang menahan syahwat, serta membaca Al-Qur’an dan berbagai ibadah lainnya.”
Mirqaatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, jilid 4 halaman 1364.
Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan dua pendapat:
قيل: يحتمل الحقيقة، وأن فتح أبواب الجنة وتغليق أبواب النار علامة لدخول الشهر وعظم قدره، وكذلك تصفيد الشياطين ليمتنعوا من أذى المؤمنين وإغوائهم فيه. وقيل: يحتمل المجاز لكثرة الثواب والعفو، والاستعارة لذلك بفتح أبواب الجنة وإغلاق أبواب النار، وقد جاء في الحديث الآخر: «وفتحت أبواب الرحمة» وبأن الشياطين كالمصفدة لما لم يتم إغواؤهم بعصمة الله عباده فيه، ولم يفد خبث سعيها شيئا، ويكون معنى تصفيد الشياطين هنا خصوصا عن أشياء دون أشياء، ولبعض دون بعض، أو على الغالب، وجاء في حديث آخر: «صفدت مردة الشياطين».
“Dikatakan: kemungkinan maknanya adalah hakikat (secara nyata), dan bahwa dibukanya pintu-pintu surga serta ditutupnya pintu-pintu neraka merupakan tanda masuknya bulan (Ramadan) dan besarnya kedudukannya. Demikian pula pembelengguan setan, agar mereka terhalang dari mengganggu dan menyesatkan kaum mukminin di dalamnya.
وقد يكون فتح أبواب الجنة هنا عبارة عما يفتح الله على عباده من الطاعات المشروعة في هذا الشهر الذي ليست في غيره؛ من الصيام والقيام وفعل الخيرات، وأن ذلك أسباب لدخول الجنة وأبواب لها، وكذلك تغليق أبواب النار، وتصفيد الشياطين عبارة عما يكفه الصوم، والشغل بفعل الخير في هذا الشهر وعظم قدره في القلوب، وما جاء في النهي فيه عن أن يرفث أو يجهل، والكف فيه عن المحارم والمعاصي، وأن الصوم مانع عن كثير من المباحات، فكيف بما وراء ذلك؟! ومكفر للسيئات”
Dan dikatakan pula: kemungkinan maknanya adalah majaz (kiasan), karena banyaknya pahala dan ampunan. Dan ungkapan itu dianalogikan dengan dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka. Dan telah datang dalam hadits lain:
«وفتحت أبواب الرحمة»
“Dan dibukakan pintu-pintu rahmat.”
Dan bahwa setan-setan itu seperti orang yang dibelenggu, karena mereka tidak mampu menyesatkan akibat Allah menjaga hamba-hamba-Nya di dalamnya, dan usaha jahat mereka tidak menghasilkan apa-apa. Dan makna pembelengguan setan di sini bisa jadi khusus pada sebagian hal, tidak pada semuanya, dan pada sebagian orang, tidak pada semuanya, atau berlaku secara umum (mayoritas). Dan telah datang dalam hadits lain:
«صفدت مردة الشياطين»
“Dibelenggu para setan yang durhaka.”
Dan bisa jadi pembukaan pintu-pintu surga di sini adalah ungkapan tentang apa yang Allah bukakan bagi hamba-hamba-Nya berupa ketaatan-ketaatan yang disyariatkan di bulan ini yang tidak ada di selainnya, seperti puasa, qiyam (shalat malam), dan berbagai amal kebaikan. Dan itu semua merupakan sebab-sebab untuk masuk surga dan pintu-pintunya.
Demikian pula penutupan pintu-pintu neraka dan pembelengguan setan adalah ungkapan tentang apa yang ditahan oleh puasa dan kesibukan dalam melakukan kebaikan di bulan ini, serta besarnya kedudukannya di dalam hati, dan adanya larangan di dalamnya dari berkata kotor dan berbuat bodoh, serta menahan diri dari hal-hal yang haram dan maksiat.
Dan puasa itu mencegah dari banyak hal yang sebenarnya mubah, maka bagaimana lagi dengan yang lebih dari itu (yang haram)?!
Dan (puasa) juga menjadi penghapus dosa-dosa.”
Ikmaalul Mu’lim bi Fawa’id Muslim, jilid 4 halaman 5–6.
Ibnu Baththal juga berkata dalam menjelaskan dua pendapat:
“وتأول العلماء في قوله: «فتحت أبواب الجنة، وسلسلت الشياطين» معنيين:
أحدهما: أنهم يسلسلون على الحقيقة، فيقل أذاهم ووسوستهم، ولا يكون ذلك منهم كما هو في غير رمضان، وفتح أبواب الجنة على ظاهر الحديث.
والثاني: على المجاز، ويكون المعنى في فتح أبواب الجنة ما فتح الله على العباد فيه من الأعمال المستوجب بها الجنة من الصلاة والصيام وتلاوة القرآن، وأن الطريق إلى الجنة في رمضان أسهل والأعمال فيه أسرع إلى القبول، وكذلك أبواب النار تغلق بما قطع عنهم من المعاصي، وترك الأعمال المستوجب بها النار، ولقلة ما يؤاخذ الله العباد بأعمالهم السيئة، يستنفذ منها ببركة الشهر أقوامًا ويهب المسيء للمحسن، ويتجاوز عن السيئات فهذا معنى الغلق، وكذلك قوله: «سلسلت الشياطين«»، يعنى: أن الله يعصم فيه المسلمين أو أكثرهم في الأغلب عن المعاصي والميل إلى وسوسة الشياطين وغرورهم
“Para ulama menafsirkan sabda beliau: «فتحت أبواب الجنة، وسلسلت الشياطين» dengan dua makna:
Yang pertama: bahwa para setan benar-benar dirantai secara hakikat, sehingga berkurang gangguan dan bisikan mereka, dan tidak seperti keadaan mereka di luar Ramadan. Dan pembukaan pintu-pintu surga dipahami sesuai zahir hadits.
Yang kedua: secara majaz (kiasan), yaitu bahwa makna dibukanya pintu-pintu surga adalah apa yang Allah bukakan bagi hamba-hamba-Nya berupa amal-amal yang menyebabkan masuk surga, seperti shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an. Dan bahwa jalan menuju surga di bulan Ramadan lebih mudah, serta amal-amal di dalamnya lebih cepat diterima.
Demikian pula pintu-pintu neraka ditutup dengan terputusnya mereka dari maksiat dan ditinggalkannya amalan-amalan yang menyebabkan masuk neraka. Dan karena sedikitnya Allah menghukum hamba-hamba atas amal buruk mereka, maka dengan keberkahan bulan ini sebagian manusia dibebaskan darinya, dan Allah menganugerahkan kepada orang yang berbuat buruk (ampunan) karena orang yang berbuat baik, serta Dia memaafkan kesalahan-kesalahan. Inilah makna penutupan (pintu neraka).
Dan demikian pula sabda beliau: «سلسلت الشياطين», maksudnya adalah bahwa Allah menjaga kaum muslimin atau kebanyakan mereka dari maksiat dan dari kecenderungan kepada bisikan setan serta tipu dayanya.”
Syarah Shahih Al-Bukhari, jilid 4 halaman 20.”
4. Bahwa setan-setan yang dibelenggu adalah mereka yang mencuri berita langit (istiraq as-sam‘) saat turunnya wahyu.
Al-Hulaimi berkata:
“يحتمل أن يكون المراد من الشياطين مسترقو السمع منهم، وأن تسلسلهم يقع في ليالي رمضان دون أيامه؛ لأنهم كانوا منعوا في زمن نزول القرآن من استراق السمع فزيدوا التسلسل مبالغة في الحفظ”.
“Bisa jadi yang dimaksud dengan setan adalah para pencuri berita langit dari kalangan mereka, dan bahwa pembelengguan mereka terjadi pada malam-malam Ramadan, bukan pada siang harinya; karena mereka telah dihalangi dari mencuri berita langit pada masa turunnya Al-Qur’an, lalu ditambah lagi pembelengguan sebagai bentuk penguatan penjagaan.”
Lihat: Fathul Bari karya Ibnu Hajar, jilid 4 halaman 114.”
Dan Mulla ‘Ali Al-Qari membantah pendapat ini, bahwa konsekuensinya adalah makna hadits tersebut hanya berlaku pada masa Nabi ﷺ saja. Ia berkata:
“يلزم منه اختصاص هذا الوصف بأيام نزول الوحي وهو زمن حياته صلى الله عليه وسلم، وهو مع بعده وكونه خلافَ ظاهر التصفيد ينافي الإطلاق، ولا يلائمه بقية الأوصاف”.
“Konsekuensinya adalah bahwa sifat ini khusus pada masa turunnya wahyu, yaitu masa kehidupan Nabi ﷺ. Hal ini, selain jauh (dari makna yang tepat), juga bertentangan dengan zahir lafaz ‘pembelengguan’ yang bersifat umum, serta tidak sesuai dengan sifat-sifat lain dalam hadits tersebut.”
Mirqaatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, jilid 4 halaman 1364.”
Ketiga: Hikmah Pembelengguan Setan
Setan-setan dibelenggu, baik itu secara hakikat maupun majaz, atau hanya terbatas pada setan-setan yang durhaka saja. Di antara hikmah syariat dalam hal ini adalah untuk mengurangi pengaruh mereka terhadap hamba-hamba Allah dan menghalangi mereka dari menyesatkan kaum mukminin di bulan Ramadan.
Pembelengguan ini bertujuan untuk mencegah mereka dari menyakiti kaum muslimin, baik dengan merusak puasa mereka maupun menjauhkan mereka dari ketaatan, agar kaum muslimin tetap berada dalam kondisi kejernihan ruhani dan fokus dalam beribadah.
Pada bulan yang diberkahi ini, setan tidak mampu mencapai apa yang biasa mereka capai di luar Ramadan dalam menyesatkan manusia dari kebenaran dan melemahkan mereka dari amal shalih. Dengan demikian, pembelengguan ini menjadi semacam perlindungan bagi kaum mukminin dari was-was setan, agar mereka lebih giat dalam ketaatan, menjauhi maksiat dan syahwat, serta bersungguh-sungguh dalam bertaubat dan mendekat kepada Allah.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“قال صلى الله عليه وسلم: «إذا دخل شهر رمضان فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين»، وما ذاك إلا لأنه في شهر رمضان تنبعث القلوب إلى الخير والأعمال الصالحة التي بها وبسببها تفتح أبواب الجنة، ويمتنع من الشرور التي بها تفتح أبواب النار، وتصفد الشياطين فلا يتمكنون أن يعملوا ما يعملونه في الإفطار، فإن المصفَّد هو المقيَّد؛ لأنهم إنما يتمكنون من بني آدم بسبب الشهوات، فإذا كفوا عن الشهوات صفدت الشياطين”.
“Rasulullah ﷺ bersabda:
«إذا دخل شهر رمضان فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين»
Dan hal itu tidak lain karena di bulan Ramadan hati terdorong kepada kebaikan dan amal-amal shalih, yang dengannya dan karenanya dibukakan pintu-pintu surga. Dan manusia tercegah dari keburukan yang menyebabkan dibukanya pintu-pintu neraka. Dan setan-setan dibelenggu sehingga mereka tidak mampu melakukan apa yang mereka lakukan ketika tidak berpuasa. Karena yang dibelenggu adalah yang terikat; dan mereka hanya mampu menguasai manusia melalui syahwat. Maka ketika syahwat ditahan, setan-setan pun dibelenggu.”
Majmu’ Al-Fatawa, jilid 14 halaman 167.”
Beliau juga berkata:
فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين»، فإن مجاري الشياطين الذي هو الدم ضاقت، وإذا ضاقت انبعثت القلوب إلى فعل الخيرات التي بها تفتح أبواب الجنة، وإلى ترك المنكرات التي بها تفتح أبواب النار، وصفدت الشياطين فضعفت قوتهم وعملهم بتصفيدهم، فلم يستطيعوا أن يفعلوا في شهر رمضان ما كانوا يفعلونه في غيره”.
“Rasulullah ﷺ bersabda:
«إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين»
Sesungguhnya jalur setan, yaitu aliran darah, menjadi sempit. Ketika ia menyempit, hati pun terdorong untuk melakukan kebaikan yang dengannya dibukakan pintu-pintu surga, dan untuk meninggalkan kemungkaran yang dengannya dibukakan pintu-pintu neraka. Dan setan-setan dibelenggu sehingga melemah kekuatan dan pengaruh mereka dengan pembelengguan itu, sehingga mereka tidak mampu melakukan di bulan Ramadan apa yang biasa mereka lakukan di luar Ramadan.”
Majmu’ Al-Fatawa, jilid 25 halaman 246.
Di antara hikmah yang dalam yang disebutkan Ibnu Hajar dalam menafsirkan hadits pembelengguan setan adalah ucapannya:
“وقال غيره: في تصفيد الشياطين في رمضان إشارة إلى رفع عذر المكلَّف كأنه يقال له: قد كفت الشياطين عنك، فلا تعتلّ بهم في ترك الطاعة ولا فعل المعصية”.
“Sebagian ulama berkata: dalam pembelengguan setan di bulan Ramadan terdapat isyarat bahwa alasan (udzur) bagi orang yang dibebani syariat telah diangkat, seakan dikatakan kepadanya: setan telah dicegah darimu, maka janganlah engkau menjadikan mereka sebagai alasan untuk meninggalkan ketaatan atau melakukan maksiat.”
Fathul Bari, jilid 4 halaman 114–115.”
Maka pembelengguan setan di bulan Ramadan bukan sekadar pengekangan kejahatan secara lahir, tetapi juga merupakan penghilangan penghalang batin yang sering dijadikan alasan oleh manusia dalam bermalas-malasan dari ketaatan.
Pada bulan ini, ketika kesempatan besar untuk beribadah terbuka, maka hilanglah alasan yang biasanya dikaitkan dengan godaan setan. Setan ditahan pada waktu ini, sehingga manusia berhadapan langsung dengan dirinya sendiri, bertanggung jawab atas amal dan keputusannya, tanpa dapat menyalahkan faktor luar.
Dengan demikian, Ramadan menjadi kesempatan besar bagi seorang mukmin untuk mendekat kepada Allah dan melakukan ketaatan tanpa alasan untuk bermalas-malasan atau lalai.
Dan hal ini dikuatkan oleh riwayat Al-Bukhari dalam Shahihnya dari Ali bin Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
إن صفية زوج النبي صلى الله عليه وسلم أخبرته أنها جاءت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم تزوره في اعتكافه في المسجد في العشر الأواخر من رمضان، فتحدثت عنده ساعة، ثم قامت تنقلب، فقام النبي صلى الله عليه وسلم معها يقلبها، حتى إذا بلغت باب المسجد عند باب أم سلمة مر رجلان من الأنصار فسلما على رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال لهما النبي صلى الله عليه وسلم على رسلكما، إنها صفية بنت حيي، فقالا: سبحان الله يا رسول الله، وكبر عليهما، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: إن الشيطان يبلغ من ابن آدم مبلغ الدم، وإني خشيت أن يقذف في قلوبكما شيئا
“Sesungguhnya Shafiyyah, istri Nabi ﷺ, mengabarkan bahwa ia datang kepada Rasulullah ﷺ untuk mengunjunginya ketika beliau sedang i’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Ia berbincang dengan beliau beberapa saat, lalu berdiri untuk pulang. Maka Nabi ﷺ berdiri bersamanya untuk mengantarnya. Ketika sampai di pintu masjid dekat pintu Ummu Salamah, lewatlah dua orang dari Anshar, lalu keduanya memberi salam kepada Rasulullah ﷺ. Maka Nabi ﷺ berkata kepada keduanya: ‘Tunggulah, ini adalah Shafiyyah binti Huyay.’ Keduanya berkata: ‘Subhanallah, wahai Rasulullah!’ dan hal itu terasa berat bagi keduanya. Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya setan berjalan dalam diri manusia seperti aliran darah, dan aku khawatir ia melemparkan sesuatu ke dalam hati kalian.’”
Demikian juga hadits tentang setan dalam shalat, bahwa ia tidak berhenti dari was-was, baik di bulan Ramadan maupun selainnya. Utsman bin Abil ‘Ash datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:
يا رسول الله: إن الشيطان قد حال بيني وبين صلاتي وقراءتي يلبسها علي، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ذاك شيطان يقال له خنزب، فإذا أحسسته فتعوذ بالله منه واتفل على يسارك ثلاثا، قال: ففعلت ذلك فأذهبه الله عني
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah menghalangiku dari shalatku dan bacaanku, ia mengacaukannya atasku.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Itu adalah setan yang disebut Khanzab. Jika engkau merasakannya, maka berlindunglah kepada Allah darinya dan meludahlah ringan ke sebelah kirimu tiga kali.”
Ia berkata: “Maka aku lakukan itu, lalu Allah menghilangkannya dariku.”
Sebagian ulama berkata bahwa yang dibelenggu hanyalah sebagian setan, yaitu para setan yang sangat durhaka (maraadah). Hal ini disebutkan oleh Al-Qurthubi dan selainnya. (HR. Muslim)
Keempat: Bagaimana setan dibelenggu sementara maksiat tetap terjadi?!
Salah satu problem pemikiran yang telah diangkat oleh ulama terdahulu dan kembali diangkat oleh sebagian kalangan kontemporer adalah masalah terjadinya maksiat di bulan Ramadan meskipun setan-setan dibelenggu. Pertanyaan yang diajukan adalah: bagaimana setan-setan dibelenggu di bulan yang mulia ini sementara manusia masih tetap melakukan maksiat?!
Syubhat ini, yang secara lahir tampak seperti kontradiksi, telah dijawab oleh para ulama sejak dahulu. Bahkan, sebagian kalangan kontemporer sebenarnya tidak bermaksud kecuali menolak hadits dan mengingkarinya, meskipun hadits tersebut terdapat dalam Shahihain. Padahal, keberatan ini telah dijawab sejak lama oleh banyak ulama kaum muslimin.
Pertanyaan ini dapat dijawab melalui beberapa poin berikut:
1. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa pembelengguan itu dikatakan khusus bagi setan-setan yang durhaka (maraadah). Berdasarkan pendapat ini, maka tidak ada tempat bagi keberatan tersebut.
Al-Qadhi Ibnu Al-‘Arabi berkata:
“اعتراض من مستريب:
قال: إنَّا نَرَى المعاصي في رمضان كما هي في غيره، فما أفاد تصفيد الشّياطين؟! وما معنى هذا الخبر؟
قلنا له: كذبتَ، أو جهلتَ، ليس يَخْفَى أنّ المعاصي في رمضان أقلّ منها في غيره، ومن زعم أنّ رمضان في الاسترسال على المعاصي وغيره سواء فلا تُكلِّموه، فقد سقطت مُخَاطَبَتُه، بل تقلّ المعاصي ويبقى منها ما بقي، وذلك لثلاثة أوجه، أحدها: أن يكون المعنى: صُفِّدت وسُلْسِلَت [المردةُ]، ويبقى ما ليس بمَارِدٍ ولا عفريتٍ، ويدلُّ على ذلك الحديثُ الآخر”.
“Ini adalah keberatan dari orang yang ragu:
Ia berkata: ‘Kami melihat maksiat di bulan Ramadan sebagaimana di luar Ramadan, maka apa manfaat pembelengguan setan? Apa makna hadits ini?’
Kami katakan kepadanya: engkau berdusta atau tidak memahami. Tidaklah tersembunyi bahwa maksiat di bulan Ramadan lebih sedikit dibandingkan di selainnya. Barang siapa menganggap bahwa Ramadan sama dengan selainnya dalam terus-menerus melakukan maksiat, maka jangan diajak bicara, karena ia telah gugur kelayakannya untuk diajak berdialog.
Bahkan maksiat itu berkurang, meskipun masih ada sebagian yang tersisa. Hal itu karena tiga sebab. Salah satunya adalah: bahwa yang dibelenggu dan dirantai adalah para setan yang durhaka saja, sedangkan yang bukan dari kalangan tersebut tetap ada. Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang lain.”
2. Berdasarkan pendapat bahwa pembelengguan itu bersifat hakiki, maka tidak berarti maksiat sama sekali tidak terjadi. Karena maksiat berkaitan dengan sebab-sebab lain selain setan. Setan bukan satu-satunya sebab dari maksiat yang dilakukan manusia.
Di antara sebab lainnya adalah pengaruh yang tertumpuk dalam jiwa manusia dari maksiat-maksiat sebelumnya sebelum Ramadan. Tidak diragukan bahwa maksiat memiliki kegelapan dan pengaruh terhadap amal seseorang setelahnya serta terhadap tabiatnya.
Mulla ‘Ali Al-Qari berkata:
“الحكمة في تقييد الشياطين وتصفيدهم كيلا يوسوسوا في الصائمين، وأمارة ذلك تنزه أكثر المنهمكين في الطغيان عن المعاصي ورجوعهم بالتوبة إلى الله تعالى، وأما ما يوجد من خلاف ذلك في بعضهم فإنها تأثيرات من تسويلات الشياطين أغرقت في عمق تلك النفوس الشريرة، وباضت في رءوسها”.
“Sesungguhnya hikmah dari pengikatan dan pembelengguan setan adalah agar mereka tidak membisikkan (godaan) kepada orang-orang yang berpuasa. Tanda dari hal itu adalah bersihnya kebanyakan orang yang tenggelam dalam kedurhakaan dari maksiat, serta kembalinya mereka dengan taubat kepada Allah Ta’ala. Adapun yang masih tampak menyelisihi hal itu pada sebagian orang, maka itu adalah pengaruh dari bisikan setan yang telah tenggelam dalam kedalaman jiwa-jiwa yang buruk tersebut dan telah berakar kuat di dalamnya.”
Mirqaatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, jilid 4 halaman 1364.
Mulla ‘Ali Al-Qari juga menyebutkan pendapat yang mengatakan bahwa Iblis dikecualikan, sehingga bisikan itu berasal darinya. Namun hal ini tidak didukung oleh dalil. Ia berkata:
“وقيل: قد خص من عموم «صفدت الشياطين» زعيم زمرتهم وصاحب دعوتهم لمكان الإنظار الذي سأله من الله، فأجيب إليه، فيقع ما يقع من المعاصي بتسويله وإغوائه”.
“Dikatakan: yang dikecualikan dari keumuman sabda ‘dibelenggu setan-setan’ adalah pemimpin mereka (Iblis) dan pengajak mereka, karena adanya penangguhan (umur) yang ia minta kepada Allah lalu dikabulkan. Maka terjadilah maksiat yang terjadi karena bisikan dan penyesatannya.”
Sumber yang sama, jilid 4 halaman 1364.
3. Pengaruh setan dari kalangan manusia, dan mereka bahkan lebih kuat dalam menyesatkan daripada setan dari kalangan jin. Hal ini dipahami dari penyebutan manusia sebelum jin dalam masalah bisikan dan penyesatan.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ﴾
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi musuh, yaitu setan-setan dari kalangan manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu. Dan sekiranya Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Maka biarkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 112)
Al-Qurthubi berkata:
: “لو سلمنا أنها صُفِّدت عن كل صائم، لكن لا يلزم من تصفيد جميع الشياطين ألا يقع شر؛ لأن لوقوع الشر أسبابًا أخر غير الشياطين، وهي: النفوس الخبيثة، والعادات الرَّكيكة، والشياطين الإنسية”.
“Seandainya kita terima bahwa setan dibelenggu dari setiap orang yang berpuasa, maka tidaklah harus dari pembelengguan seluruh setan itu tidak terjadi keburukan. Karena terjadinya keburukan memiliki sebab-sebab lain selain setan, yaitu: jiwa-jiwa yang buruk, kebiasaan yang rusak, dan setan-setan dari kalangan manusia.”
Al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, jilid 3 halaman 136.
4. Jiwa yang memerintahkan kepada keburukan (النفس الأمارة بالسوء):
Jiwa yang memerintahkan kepada keburukan tetap menjadi salah satu sebab utama yang berkontribusi terhadap terjadinya maksiat, meskipun setan-setan dibelenggu di bulan Ramadan. Karena meskipun setan dibatasi, jiwa manusia dengan segala keinginan dan syahwatnya tetap mampu mendorong pemiliknya menuju maksiat.
Jiwa ini cenderung kepada hal-hal yang menggoda, yang mengacaukan pikiran dan mendorong manusia untuk mengambil keputusan yang bertentangan dengan nilai-nilai ketaatan dan komitmen. Oleh karena itu, seseorang tetap berada dalam pergulatan terus-menerus dengan dorongan batinnya, yang terkadang lebih kuat pengaruhnya dibandingkan bisikan dari luar. Hal ini menunjukkan peran utama jiwa dalam membentuk perilaku manusia, terlepas dari pengaruh setan.
Allah telah menyebutkan hal ini dalam kitab-Nya:
﴿إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ﴾
“Sesungguhnya jiwa itu benar-benar selalu memerintahkan kepada keburukan.” (QS. Yusuf: 53)
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah juga mengisyaratkan hal ini, beliau berkata:
“النظر إلى محل الجناية ومصدرها وهو النفس الأمارة بالسوء، ويفيده نظره إليها أمورا، منها: أن يعرف أنها جاهلة ظالمة، وأن الجهل والظلم يصدر عنهما كل قول وعمل قبيح، ومَن وصفُه الجهل والظلم لا مطمع في استقامته واعتداله البتة، فيوجب له ذلك بذل الجهد في العلم النافع الذي يخرجها به عن وصف الجهل، والعمل الصالح الذي يخرجها به عن وصف الظلم، ومع هذا فجهلها أكثر من علمها، وظلمها أعظم من عدلها.
فحقيق بمن هذا شأنه أن يرغب إلى خالقها وفاطرها أن يقيها شرها، وأن يؤتيها تقواها ويزكيها فهو خير من زكاها، فإنه ربها ومولاها، وأن لا يكله إليها طرفة عين، فإنه إن وكله إليها هلك، فما هلك من هلك إلا حيث وكل إلى نفسه… وقد قال تعالى {وَمَن يُّوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [الحشر: 9]، وقال: {إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ} [يوسف: 53].
فمن عرف حقيقة نفسه وما طبعت عليه علم أنها منبع كل شر، ومأوى كل سوء، وأن كل خير فيها ففضل من الله من به عليها لم يكن منها، كما قال تعالى: {وَلَوْلَا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا} [النور: 21]، وقال تعالى: {وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ} [الحجرات: 7]، فهذا الحب وهذه الكراهة لم يكونا في النفس ولا بها، ولكن هو الله الذي من بهما، فجعل العبد بسببهما من الراشدين، {فَضْلًا مِنَ اللهِ وَنِعْمَةً وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ} [الحجرات: 8] عليم بمن يصلح لهذا الفضل، ويزكو عليه وبه، ويثمر عنده، حكيم فلا يضعه عند غير أهله فيضيعه بوضعه في غير موضعه”.
“Memperhatikan tempat terjadinya kejahatan dan sumbernya, yaitu jiwa yang memerintahkan kepada keburukan, akan memberikan beberapa faidah, di antaranya: seseorang mengetahui bahwa jiwa itu bodoh dan zalim. Dari kebodohan dan kezaliman itulah muncul setiap ucapan dan perbuatan yang buruk. Dan siapa yang sifatnya seperti itu (bodoh dan zalim), maka tidak ada harapan baginya untuk lurus dan seimbang sama sekali.
Hal ini menuntutnya untuk bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu yang bermanfaat yang dapat mengeluarkannya dari sifat kebodohan, dan melakukan amal shalih yang dapat mengeluarkannya dari sifat kezaliman. Namun demikian, kebodohannya lebih banyak daripada ilmunya, dan kezalimannya lebih besar daripada keadilannya.
Maka orang yang keadaannya seperti ini sangat layak untuk memohon kepada Penciptanya dan Yang telah membentuknya agar melindunginya dari keburukan jiwanya, serta memberinya ketakwaan dan menyucikannya, karena Dialah sebaik-baik yang menyucikannya. Dialah Rabb dan Pelindungnya. Dan agar Dia tidak menyerahkannya kepada dirinya sendiri walau sekejap mata. Karena jika ia diserahkan kepada dirinya sendiri, niscaya ia akan binasa. Tidaklah binasa orang yang binasa kecuali ketika ia diserahkan kepada dirinya sendiri.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَمَن يُّوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
“Dan barang siapa yang dijaga dari kekikiran jiwanya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Dan Allah berfirman:
﴿إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ﴾
“Sesungguhnya jiwa itu benar-benar memerintahkan kepada keburukan.” (QS. Yusuf: 53)
Maka siapa yang mengenal hakikat jiwanya dan tabiat yang telah ditanamkan padanya, ia akan mengetahui bahwa jiwa itu adalah sumber setiap keburukan dan tempat bersemayamnya segala kejelekan. Dan setiap kebaikan yang ada padanya hanyalah karunia dari Allah yang Dia anugerahkan kepadanya, bukan berasal dari dirinya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
﴿وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا﴾
“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian akan suci selama-lamanya.” (QS. An-Nur: 21)
Dan firman-Nya:
﴿وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ﴾
“Akan tetapi Allah menjadikan kalian mencintai iman dan menghiasinya dalam hati kalian, serta menjadikan kalian benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Hujurat: 7)
Maka kecintaan ini dan kebencian itu bukan berasal dari jiwa itu sendiri, melainkan dari Allah yang menganugerahkannya. Dengan sebab itulah seorang hamba menjadi termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk:
﴿فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ﴾
“Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hujurat: 8)
Dia Maha Mengetahui siapa yang pantas mendapatkan karunia ini, yang akan tumbuh dan berkembang dengannya, serta berbuah padanya. Dan Dia Maha Bijaksana, tidak menempatkannya pada selain ahlinya sehingga sia-sia karena ditempatkan bukan pada tempatnya.”
Madarij As-Salikin bayna Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, jilid 1 halaman 235–236.
5. Bahwa pembelengguan tidak menghalangi adanya was-was. Karena hadits hanya mengabarkan tentang pembelengguan setan, bukan bahwa dengan itu mereka sama sekali tidak mampu berbisik.
Al-Qadhi Ibnu Al-‘Arabi berkata ketika membahas pertanyaan ini:
“اعتراض من مستريب:
قال: إنَّا نَرَى المعاصي في رمضان كما هي في غيره، فما أفاد تصفيد الشّياطين؟! وما معنى هذا الخبر؟
قلنا له: كذبتَ، أو جهلتَ، ليس يَخْفَى أنّ المعاصي في رمضان أقلّ منها في غيره، ومن زعم أنّ رمضان في الاسترسال على المعاصي وغيره سواء فلا تُكلِّموه، فقد سقطت مُخَاطَبَتُه، بل تقلّ المعاصي ويبقى منها ما بقي، وذلك لثلاثة أوجه:
أحدها: أنّ يكون المعنى صُفِّدت وسُلْسِلَت [المردة]، ويبقى ما ليس بمَارِدٍ ولا عفريتٍ، ويدلُّ على ذلك الحديثُ الآخر.
الوجه الثّاني: أنّ يكون المعنى أنّها بعد تَصْفِيدِهَا كلِّها وسلسلتها تحمل المرء على المعاصي بالوسوسة، فإنّه ليس من شرط الوسوسة الّتي يجدها المُؤْمِن نفسه من الشّيطان الاتِّصال، بل هي [بالبعد] صحيحة؛ فإنّ الله هو الّذي يخلُقها في قَلْبِ العبدِ عند تكلُّم الشيطان بها، كما يخلق في جسم المسحور عند تكلّم الساحر، وعند تكلُّم العائن في جسم المُعَيَّن.
الوجه الثّالث: قلنا: ليس من شرط التَّصْفِيدِ عدم الوسوسة؛ لأنّ الوسوسة لا تكون باليَدِ والرِّجْل.
فإن قيل: إذا كان هذا تأويله فلَم يبق للحديث معنى!
قُلْنَا: عن هذا جوابان:
أحدهما: أنّه ليس يلزمنا معرفة معنى الحديث، ولا أن نُعلِّل جميع الأشياء، فإنّ أكثر الأحاديث غير معلولة المعنى.
الجواب الثّاني: أنّ نقول: فائدة الحديث أنّهم منعوا الإذاية بأيديهم وأرجلهم من العمل والجنون والحُمْق وغير هذا”.
“Ini adalah keberatan dari orang yang ragu:
Ia berkata: ‘Kami melihat maksiat di bulan Ramadan sebagaimana di luar Ramadan, maka apa manfaat pembelengguan setan? Apa makna hadits ini?’
Kami katakan: engkau berdusta atau tidak memahami. Tidaklah tersembunyi bahwa maksiat di bulan Ramadan lebih sedikit dibandingkan di selainnya. Barang siapa menganggap bahwa Ramadan sama dengan selainnya dalam terus-menerus melakukan maksiat, maka jangan diajak bicara, karena ia telah gugur kelayakannya untuk diajak berdialog. Bahkan maksiat itu berkurang, meskipun masih ada sebagian yang tersisa, dan itu karena tiga sebab:
Pertama: bahwa yang dibelenggu dan dirantai adalah para setan yang durhaka, sementara yang bukan dari mereka tetap ada, dan hal ini ditunjukkan oleh hadits lain.
Kedua: bahwa maknanya adalah setelah setan-setan dibelenggu seluruhnya dan dirantai, mereka tetap mendorong manusia kepada maksiat melalui bisikan. Karena bisikan yang dirasakan oleh seorang mukmin dari setan tidak disyaratkan adanya kontak langsung; bahkan bisa terjadi dari jauh. Sesungguhnya Allah-lah yang menciptakan bisikan itu di dalam hati hamba ketika setan mengucapkannya, sebagaimana Dia menciptakan pengaruh pada tubuh orang yang terkena sihir saat tukang sihir berbicara, dan pada tubuh orang yang terkena ‘ain saat orang yang memandangnya berbicara.
Ketiga: kami katakan bahwa bukanlah syarat dari pembelengguan itu tidak adanya was-was, karena was-was tidak terjadi dengan tangan dan kaki.
Jika dikatakan: jika demikian penafsirannya, maka hadits ini tidak memiliki makna!
Kami jawab dengan dua jawaban:
Pertama: tidak wajib bagi kita mengetahui makna setiap hadits, dan tidak harus kita menjelaskan sebab bagi segala sesuatu, karena banyak hadits yang maknanya tidak dijelaskan secara rinci.
Kedua: faidah hadits adalah bahwa setan dicegah dari menyakiti manusia dengan tangan dan kaki mereka, seperti dalam tindakan, kegilaan, kebodohan, dan selainnya.”
Al-Masalik fi Syarh Muwaththa’ Malik, jilid 4 halaman 247–248.
Dan ini juga tampak dari perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah, beliau berkata:
“قال النبي صلى الله عليه وسلم: «إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين» فإن مجاري الشياطين الذي هو الدم ضاقت، وإذا ضاقت انبعثت القلوب إلى فعل الخيرات التي بها تفتح أبواب الجنة، وإلى ترك المنكرات التي بها تفتح أبواب النار، وصفدت الشياطين فضعفت قوتهم وعملهم بتصفيدهم، فلم يستطيعوا أن يفعلوا في شهر رمضان ما كانوا يفعلونه في غيره، ولم يقل: إنهم قتلوا ولا ماتوا، بل قال: «صفدت» والمصفَّد من الشياطين قد يؤذي، لكن هذا أقل وأضعف مما يكون في غير رمضان، فهو بحسب كمال الصوم ونقصه، فمن كان صومه كاملا دفع الشيطان دفعا لا يدفعه دفع الصوم الناقص”.
“Rasulullah ﷺ bersabda:
«إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين»
Sesungguhnya jalur setan, yaitu aliran darah, menjadi sempit. Ketika ia menyempit, hati terdorong untuk melakukan kebaikan yang dengannya dibukakan pintu-pintu surga, dan meninggalkan kemungkaran yang dengannya dibukakan pintu-pintu neraka. Dan setan-setan dibelenggu sehingga melemah kekuatan dan pengaruh mereka dengan pembelengguan itu, sehingga mereka tidak mampu melakukan di bulan Ramadan apa yang mereka lakukan di luar Ramadan. Dan tidak dikatakan bahwa mereka dibunuh atau mati, tetapi dikatakan ‘dibelenggu’. Setan yang dibelenggu masih bisa menyakiti, namun itu lebih sedikit dan lebih lemah dibandingkan di luar Ramadan. Hal itu sesuai dengan sempurna atau tidaknya puasa seseorang. Siapa yang puasanya sempurna, maka ia menolak setan dengan penolakan yang tidak bisa dilakukan oleh puasa yang kurang.”
Majmu’ Al-Fatawa, jilid 25 halaman 246.”
Al-Baji berkata:
لى الوجه الأول أنها تصفد حقيقة، فتمتنع من بعض الأفعال التي لا تطيقها إلا مع الانطلاق، وليس في ذلك دليل على امتناع تصرفها جملة؛ لأن المصفد هو المغلول اليد إلى العنق يتصرف بالكلام والرأي وكثير من السعي”.
“Sabda beliau: «وصفدت الشياطين» bisa bermakna bahwa mereka benar-benar dibelenggu secara nyata, sehingga mereka terhalang dari sebagian perbuatan yang tidak mampu mereka lakukan kecuali dengan kebebasan. Namun hal ini tidak menunjukkan bahwa seluruh aktivitas mereka terhenti, karena yang dibelenggu adalah yang kedua tangannya terikat ke lehernya, namun ia masih bisa bertindak dengan ucapan, pemikiran, dan banyak bentuk usaha.”
Al-Muntaqa Syarh Al-Muwaththa’, jilid 2 halaman 75.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah ditanya tentang bagaimana menggabung antara hadis Pembelengguan Setan di Bulan Ramadan dan banyaknya kemaksiatan di bulan Ramadan, sebagai berikut:
Pertanyaan: Bagaimana kita menggabungkan antara sabda Nabi ﷺ yang maknanya:
إذا جاء رمضان صفدت الشياطين فلا يخلصون إلا ما كانوا يخلصون إليه في غيره
“Apabila datang Ramadan, setan-setan dibelenggu, sehingga mereka tidak sampai (mengganggu manusia) kecuali seperti yang biasa mereka capai di selainnya,”
dengan kenyataan banyaknya manusia yang melakukan maksiat di bulan yang mulia ini, berupa godaan setan kepada mereka, seperti meninggalkan sebagian shalat atau maksiat lainnya?
Jawaban:
Pertama, kita wajib mengetahui satu kaidah penting, yaitu:
bahwa apa yang telah tetap dalam Al-Qur’an dan Sunnah tidak mungkin bertentangan dengan realita sama sekali.
Jika didapati dalam realita yang tampak sesuatu yang seolah-olah bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka apa yang harus kita lakukan?
Kita katakan: harus ditakwil (dipahami dengan benar) Al-Qur’an dan Sunnah tersebut, karena pemahaman kita saat itu yang keliru. Bukan berarti Allah menghendaki makna yang kita pahami, dan bukan pula Rasulullah ﷺ menghendaki makna yang kita pahami itu.
Jika terjadi sesuatu dalam kenyataan yang bertentangan dengan zahir (lahiriah) dalil, maka ditakwil, dan dipahami bahwa pemahaman kita terhadap makna zahir tersebut adalah pemahaman yang keliru. Karena kalam Allah dan Rasul-Nya tidak mungkin bertentangan dengan realita sama sekali.
Adapun yang disebutkan oleh penanya bahwa di bulan Ramadan setan-setan dibelenggu, dan mereka tidak bisa mencapai apa yang biasa mereka capai di selainnya, sementara kenyataannya sebagaimana disebutkan, ada sebagian orang fasik yang justru bertambah kefasikannya di bulan Ramadan.
Maka pertanyaannya:
apakah setan-setan itu dibelenggu dari mereka, atau justru dibelenggu di dalam diri mereka?
Wallahu a’lam, kemungkinan mereka dibelenggu pada diri mereka (tidak sepenuhnya terhalang dari pengaruhnya).
Bagaimanapun, para ulama rahimahumullah mengatakan:
Dalam sebagian riwayat hadits disebutkan bahwa yang dibelenggu adalah para setan yang sangat durhaka (مردة الشياطين), bukan seluruh setan.
Berdasarkan itu, maka setan selain mereka tetap bisa menguasai orang-orang fasik tersebut, dan tidak ada masalah dengan hal itu.
Sebagian ulama lainnya mengatakan:
bahwa yang dibelenggu adalah seluruh setan, dan penyebutan “maraadah (yang durhaka)” dalam sebagian lafaz tidak menunjukkan pembatasan. Karena ada kaidah:
“Penyebutan sebagian individu dari sesuatu yang umum dengan hukum yang sama, tidak berarti تخصيص (pembatasan).”
Lalu bagaimana memahaminya?
Dikatakan: bahwa hal itu berlaku khusus bagi أهل الحق والإيمان (orang-orang yang beriman dan berada di atas kebenaran).
Maka setan-setan dibelenggu dari mereka, sehingga tidak mampu mencapai (mengganggu) mereka sebagaimana di luar Ramadan.
Dengan pemahaman ini, kita dapat memahami bahwa masih adanya pengaruh setan pada orang-orang fasik di bulan ini tidak bertentangan dengan hadits tersebut.
Kitāb Jalasāt Ramaḍāniyyah li al-‘Uthaymīn, “Buku Sesi-Sesi Ramadan karya Al-‘Utsaimin” (2/16), Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Al-‘Utsaimin, jilid 20 halaman 76.”
6. Kecenderungan jiwa kepada syahwat:
Ibnu Al-Jauzi berkata:
فإن قيل: إذا سلسلت الشياطين فكيف تقع المعاصي؟!
فالجواب: أن المعاصي تقع بميل الطبع إلى الشهوات المحرمة، وليس للشيطان إلا التزيين والتحريض، وإذا بعد المحرض عن المقدام لم يبطُل إقدامه”.
“Jika dikatakan: apabila setan-setan dirantai, maka bagaimana maksiat tetap terjadi?!
Jawabannya: bahwa maksiat terjadi karena kecenderungan tabiat kepada syahwat yang haram. Dan setan tidak memiliki peran selain menghias dan mendorong. Maka apabila pendorong itu jauh dari orang yang berani (melakukan maksiat), tidaklah batal keberaniannya itu.”
Kasyf Al-Musykil min Hadits Ash-Shahihain, jilid 3 halaman 409, karya Ibnu Al-Jauzi.
As-Sindi berkata:
“ولا ينافيه وقوع المعاصي؛ إذ يكفي في وجود المعاصي شرارة النفس وخباثتها، ولا يلزم أن تكون كل معصية بواسطة شيطان، وإلا لكان لكل شيطان شيطانان ويتسلسل، وأيضا معلوم أنه ما سبق إبليس شيطان آخر فمعصيته ما كانت إلا من قبل نفسه”
“Hal itu tidak bertentangan dengan terjadinya maksiat; karena untuk adanya maksiat cukup adanya percikan dari jiwa dan keburukannya. Dan tidak harus setiap maksiat terjadi melalui perantaraan setan. Jika demikian, maka setiap setan harus memiliki dua setan lagi dan akan terus berantai. Selain itu, telah diketahui bahwa Iblis tidak didahului oleh setan lain, maka maksiatnya terjadi semata-mata dari dirinya sendiri.”
Hasyiyah atas Sunan Ibnu Majah, jilid 1 halaman 503.
Maka diketahui bahwa tidak adanya setan di tengah kita tidak menghalangi terjadinya dosa dan maksiat; karena maksiat itu terjadi disebabkan oleh banyak faktor. Meskipun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa pembelengguan setan tidak menghalangi was-was, tetapi hanya mengurangi gangguan.
Kelima: Mengapa kita diperintahkan berlindung dari setan padahal ia dibelenggu dan tidak berperan?
Termasuk yang berkaitan dengan pembahasan sebelumnya adalah pertanyaan ini: bahwa kita diperintahkan untuk berlindung dari setan, padahal ia dibelenggu, maka mengapa kita tetap diperintahkan untuk berlindung darinya?
Jawabannya: bahwa manusia diperintahkan untuk selalu berlindung dari setan, dan tidak boleh meninggalkan amalan yang bersifat terus-menerus hanya karena hadits ini. Sebagaimana tidak ada riwayat dari syariat yang mengkhususkan amalan tersebut di luar Ramadan saja, bahkan perintahnya datang secara umum sehingga mencakup Ramadan dan selainnya.
Kemudian, pembelengguan setan sebagaimana dipilih oleh sebagian ulama tidak menghalangi setan dari berbisik (was-was), sehingga kebutuhan untuk berlindung darinya tetap ada.
Keenam: Bagaimana setan dibelenggu padahal ia hadir dalam Perang Badar?!
Di antara hal yang juga berkaitan dengan masalah ini adalah apa yang disebutkan tentang kehadiran setan dalam Perang Badar, padahal perang tersebut terjadi di bulan Ramadan.
Iblis datang dalam bentuk Suraqah bin Malik. Ketika ia melihat apa yang dilakukan para malaikat terhadap kaum musyrikin, ia pun melarikan diri dan berbalik ke belakang. Al-Harits bin Hisyam -yang mengira ia adalah Suraqah- memegangnya, lalu Iblis memukul dada Al-Harits hingga menjatuhkannya, kemudian ia melarikan diri. Orang-orang musyrik berkata: “Ke mana engkau wahai Suraqah? Bukankah engkau berkata bahwa engkau adalah pelindung kami dan tidak akan meninggalkan kami?”
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Dan (ingatlah) ketika setan menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan mereka, dan berkata: ‘Tidak ada yang dapat mengalahkan kalian pada hari ini dari manusia, dan sesungguhnya aku adalah pelindung kalian.’ Maka ketika kedua pasukan telah saling melihat, ia berbalik ke belakang dan berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian, sesungguhnya aku melihat apa yang kalian tidak lihat, sesungguhnya aku takut kepada Allah, dan Allah sangat keras siksa-Nya.’”
(QS. Al-Anfal: 48)
Jawaban terhadap hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan apa yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pembelengguan itu khusus bagi setan-setan yang durhaka, maka tidak ada lagi alasan untuk keberatan. Demikian pula menurut pendapat yang mengatakan bahwa pembelengguan itu bersifat majaz, maka tidak ada keberatan.
2. Bahkan jika dikatakan bahwa seluruh setan dibelenggu secara umum, tidak bisa dipastikan bahwa sabda Nabi ﷺ tentang pembelengguan setan itu terjadi pada awal disyariatkannya puasa. Puasa Ramadan disyariatkan pada tahun kedua hijrah, dan Perang Badar juga terjadi pada tahun kedua. Bisa jadi hadits tersebut terjadi setelah Perang Badar, dan tidak ada dalil yang memastikan waktu hadits tersebut.
Penutup
Dari penelusuran hadits Nabi ﷺ tentang pembelengguan setan di bulan Ramadan serta berbagai pendapat ulama, tampak bahwa teks ini memiliki dimensi ilmiah yang dalam, melampaui pemahaman lahiriahnya.
Pembelengguan setan tidak berarti menghapus keberadaan kejahatan atau menghentikan sepenuhnya kemampuan setan untuk berbisik menurut banyak ulama, tetapi menunjukkan berkurangnya pengaruh dan kekuatan mereka terhadap perilaku manusia.
Hal ini selaras dengan hikmah Allah Ta’ala dalam memberikan kesempatan besar kepada manusia di bulan ini untuk menyucikan jiwa dan melawan dorongan buruk yang tidak hanya berasal dari bisikan setan, tetapi juga dari dalam diri manusia sendiri.
Telah jelas bahwa keburukan tidak terbatas pada bisikan setan saja, tetapi memiliki banyak sebab, di antaranya jiwa yang memerintahkan kepada keburukan, serta pengaruh setan dari kalangan manusia yang lebih kompleks dalam menyesatkan.
Oleh karena itu, pembelengguan setan menciptakan suasana keimanan yang lebih kondusif untuk ketakwaan dan amal shalih, namun tidak menghilangkan sepenuhnya tantangan internal dan eksternal yang dihadapi manusia.
Hadits ini juga tidak terlepas dari tanggung jawab moral manusia, yang tetap berlaku dalam segala kondisi. Dengan berkurangnya pengaruh setan, terbuka peluang besar bagi seorang muslim untuk mengevaluasi diri, memperbaiki perilaku, dan menguatkan nilai ketaatan dan keimanan.
Dengan demikian, Ramadan menjadi kesempatan emas untuk mendekat kepada Allah, beramal tanpa alasan untuk bermalas-malasan, dan berjuang melawan hawa nafsu.
Hadits ini tidak bertentangan dengan realita maupun akal, bahkan memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang peran manusia dalam mencari kebaikan, tanggung jawabnya dalam menghadapi dorongan batin, serta pemanfaatannya terhadap bulan Ramadan untuk memperbaiki dan menyucikan diri, jauh dari bisikan setan dan sebab-sebab maksiat.
Doa
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ وَسَاوِسِ الشَّيَاطِينِ، وَنَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ.
“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari keburukan jiwa kami dan dari bisikan-bisikan setan. Dan kami berlindung kepada-Mu wahai Rabb kami dari kehadiran mereka.”
اللَّهُمَّ زَكِّ أَنْفُسَنَا، وَآتِهَا تَقْوَاهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.
“Ya Allah, sucikanlah jiwa-jiwa kami dan berikanlah kepadanya ketakwaannya. Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Penguasanya.”
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ وَقِيَامِهِ، وَاجْعَلْنَا فِيهِ مِنَ الْمُتَّقِينَ، وَاصْرِفْ عَنَّا الشَّيْطَانَ وَهَوَاهُ.
“Ya Allah, bantulah kami dalam menjalankan puasa Ramadan dan qiyamnya, dan jadikan kami di dalamnya termasuk orang-orang yang bertakwa, serta jauhkanlah dari kami setan dan hawa nafsunya.”
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ، وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ.
“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai iman dan hiasilah ia dalam hati kami, serta jadikan kami benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ تُقِيلُ عَثْرَتَهُ، وَتَغْفِرُ زَلَّتَهُ، وَتُدْخِلُهُ جَنَّتَكَ بِرَحْمَتِكَ.
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, bersihkanlah hati-hati kami, perbaikilah amal-amal kami, dan jadikanlah kami termasuk orang yang Engkau hapuskan kesalahannya, Engkau ampuni tergelincirnya, dan Engkau masukkan ke dalam surga-Mu dengan rahmat-Mu.”
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya.
Wallahu a’lam.



