Konsultasi

Hukum Puasa Saat Haid Terputus di Tengah Masa Kebiasaan (Kasus Hari ke-13 Tidak Keluar Darah)

Nomor Fatwa: 87

Pertanyaan:

Bismillah
Afwan ustadz, izin bertanya.
Bagaimana perempuan yg punya kebiasaan haid sampai 15 hari namun kadang di hari ke 13 tidak ada yang keluar tp dihari berikutnya ada lagi yang keluar, apakah dia harus puasa pada hari ke 13 tersebut. Jazaakallahu khair ustadz

Jawaban

Bismillah.

Masalah ini kembali kepada kaidah maksimal haid adalah 15 hari menurut jumhur ulama.

Dan dalam kondisi pertanyaan termasuk kategori muslimah yang memiliki kebiasaan waktu haid, bukan pemula atau yang berubah-ubah masanya.

Maka rinciannya:

Selama darah masih berada dalam rentang 15 hari dari awal haid, maka:

Semua itu dihukumi haid, walaupun:

Sempat berhenti 1 hari

Lalu keluar lagi di hari berikutnya

Karena itu disebut

تقطّع الدم في زمن العادة

Terputus-putusnya darah dalam masa kebiasaan (haid).

dan masih dihukumi satu rangkaian haid.

Jawaban kasus yang ditanyakan:

Jika:

Hari ke-13 tidak keluar darah, semenjak sore waktu maghrib masuk hari ke 13 sampai sahur dan berbuka, maka sebagai tindakan preventif niat puasa untuk hari ke 13 itu, sebagai bentuk kehati-hatian barangkali suci.

Namun kemudian jika hari ke-14 keluar lagi

Maka:

Hari ke-13 tersebut tetap dihukumi haid

Tidak wajib puasa pada hari itu

Tidak perlu shalat

Kapan dianggap suci?

Seorang wanita dianggap suci jika:

1. Keluar القَصَّة البيضاء (cairan putih)
atau
2. Kering total (جفوف) dan tidak keluar lagi hingga lewat kebiasaan

Jika sudah benar-benar suci di hari ke-13:

Maka wajib mandi

Lalu wajib shalat dan puasa

Namun jika ternyata:

Besoknya (hari ke-14) keluar darah lagi
→ Maka hari ke-13 tadi dihukumi bagian dari haid

Kesimpulan praktis:

Selama belum yakin suci dan masih dalam ≤ 15 hari → tetap haid

Hari ke-13 dalam kasus ini → tidak puasa

Tidak perlu qadha puasa karena memang masih haid saat itu

Penjelasan tindakan kehati-hatian untuk puasa di hari ke 13 yaitu
bersih (masa tidak keluar darah) yang terjadi di sela-sela haid

Kebersihan (masa tidak keluar darah) yang terjadi di sela-sela haid dianggap sebagai masa suci menurut mazhab Malikiyah dan Hanabilah. Hal ini disebut dengan: mazhab talfiq atau laqṭ.
Mazhab talfīq (التلفيق) atau laqṭ (اللَّقْط) dalam pembahasan haid adalah:
➡️ Menggabungkan (menyusun) status haid dan suci secara bergantian sesuai kondisi darah.
Artinya:
Saat ada darah → dihukumi haid
Saat bersih/kering (نقاء) → dihukumi suci
Meskipun terjadi dalam satu rangkaian hari yang sama (selama masih dalam batas maksimal haid).
Penjelasan istilah:
التلفيق
(talfiq): menggabungkan beberapa keadaan menjadi satu rangkaian hukum
اللَّقْط
(laqṭ): “mengambil bagian-bagian”, yaitu mengambil tiap kondisi sesuai hukumnya

Dalil mereka adalah firman Allah tentang darah haid:

قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ

“…Katakanlah: itu adalah kotoran, maka jauhilah wanita pada waktu haid…”
Maka selama ada gangguan (darah), itu dihukumi haid. Dan ketika ada kebersihan dan kering, maka itu dihukumi suci. Jadi hukum berputar bersama sebabnya.

Sebagian fuqaha tidak menganggap masa bersih di antara dua keluarnya darah sebagai suci, dan tetap memberlakukan hukum haid padanya. Mazhab ini disebut: mazhab sahb (menarik hukum haid), yaitu menarik hukum haid dan memberlakukannya pada masa terputusnya darah. Ini adalah pendapat Hanafiyah dan Syafi’iyah.

Lihat: Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah (35/292), Mathalib Uli An-Nuha (1/260).

Para ulama yang berpendapat dengan talfiq/laqṭ berbeda pendapat tentang berapa lama masa bersih yang dianggap suci. Pendapat dalam mazhab Malikiyah dan Hanabilah: kapan saja terjadi masa bersih, maka itu adalah suci, meskipun hanya sesaat.

Ibnu Abi Zaid Al-Qairawani rahimahullah berkata:

“وإذا رأت المرأة القصة البيضاء تطهرت، وكذلك إذا رأت الجُفوف تطهرت مكانها، رأته بعد يوم أو يومين أو ساعة” انتهى من الثمر الداني شرح رسالة ابن أبي زيد القيرواني، ص33

“Jika seorang wanita melihat cairan putih, maka ia telah suci. Demikian pula jika ia melihat kering, maka ia suci saat itu juga, baik melihatnya setelah satu hari, dua hari, atau satu jam.”
(Selesai dari Ats-Tsamar Ad-Dani, hlm. 33)

Dalam Kasyaf Al-Qina‘ (1/204) disebutkan:

“وأقل الطهر زمن الحيض: خلوص النقاء، بأن لا تتغير معه قطنة احتشت بها” انتهى.

“Batas minimal suci di masa haid adalah adanya kebersihan sempurna, yaitu kapas yang dimasukkan tidak berubah (tetap bersih).”

Dan dalam (1/212):

“(وإن طهرت في أثناء عدتها طهرًا خالصا، لا تتغير معه القطنة إذا احتشتها، ولو أقل مدة)، فلا يعتبر بلوغه يوما: (فهي طاهر، تغتسل)؛ لقول ابن عباس: إذا ما رأت الطهر فلتغتسل، (وتصلي)، وتفعل ما تفعله الطاهرات، لأن الله تعالى وصف الحيض بكونه أذى؛ فإذا ذهب الأذى وجب زوال الحيض” انتهى.

“Jika ia suci di tengah masa haidnya dengan kesucian yang sempurna, di mana kapas tidak berubah meskipun dimasukkan, walaupun sebentar, maka tidak disyaratkan mencapai satu hari: ia dihukumi suci, wajib mandi, shalat, dan melakukan apa yang dilakukan wanita suci. Karena Allah menyifatkan haid sebagai gangguan, maka jika gangguan itu hilang, hilang pula hukum haid.”

Sebagian ulama yang juga berpendapat ini menyatakan bahwa masa bersih yang dianggap harus tidak kurang dari satu hari, kecuali ada tanda yang menunjukkan kesucian, seperti terhentinya di akhir kebiasaan haid atau terlihat cairan putih.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Al-Mughni (1/257):

“المرأة متى رأت الطهر فهي طاهر تغتسل، وتلزمها الصلاة والصيام، سواء رأته في العادة، أو بعد انقضائها، ولم يفرق أصحابنا بين قليل الطهر وكثيره؛ لقول ابن عباس: أما ما رأت الطهر ساعة فلتغتسل.

ويتوجه: أن انقطاع الدم متى نقص عن اليوم، فليس بطهر، بناء على الرواية التي حكيناها في النفاس، أنها لا تلتفت إلى ما دون اليوم.

وهو الصحيح إن شاء الله؛ لأن الدم يجري مرة، وينقطع أخرى، وفي إيجاب الغسل على من تطهر ساعة بعد ساعة: حرج ينتفي بقوله: {وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ} [الحج: 78]. ولأننا لو جعلنا انقطاع الدم ساعة طهرا، ولا تلتفت إلى ما بعده من الدم: أفضى إلى أن لا يستقر لها حيض.

فعلى هذا: لا يكون انقطاع الدم أقل من يوم طهرا، إلا أن ترى ما يدل عليه، مثل أن يكون انقطاعه في آخر عادتها، أو ترى القصة البيضاء” انتهى.

وينظر: “الإنصاف” (1/ 373).
“Seorang wanita kapan saja melihat suci, maka ia suci, wajib mandi, serta wajib shalat dan puasa, baik ia melihatnya dalam masa kebiasaannya atau setelahnya. Para ulama kami tidak membedakan antara sedikit atau banyaknya masa suci, berdasarkan ucapan Ibnu Abbas: jika ia melihat suci walau sesaat, maka hendaklah ia mandi.

Namun ada kemungkinan pendapat lain: bahwa terhentinya darah jika kurang dari satu hari, maka itu bukan suci, berdasarkan riwayat yang kami sebutkan dalam nifas, bahwa tidak dianggap jika kurang dari satu hari.

Dan ini yang lebih kuat insya Allah, karena darah kadang mengalir dan kadang terhenti. Jika diwajibkan mandi setiap kali berhenti sesaat lalu keluar lagi, maka itu menyulitkan, padahal Allah berfirman:

{وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ} [الحج: 78

‘Dia tidak menjadikan kesulitan bagi kalian dalam agama.’ (Al-Hajj: 78)

Dan jika kita anggap berhentinya darah sesaat sebagai suci, lalu tidak memperhatikan darah yang keluar setelahnya, maka akan menyebabkan haid tidak memiliki ketetapan.

Maka berdasarkan ini: berhentinya darah kurang dari satu hari tidak dianggap suci, kecuali ada tanda yang menunjukkan kesucian, seperti terjadi di akhir kebiasaan haid atau terlihat cairan putih.”

Lihat juga: Al-Inshaf (1/373).
Wallāhu a‘lam

Tim Fatwa Markaz Inayah

Tim Fatwa Markaz Inayah adalah Asatidzah Kandidat Magister dan Doktor Universitas Arab Saudi Hafizhahumullah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button