Keutamaan Sepuluh Hari Dzulhijjah dan Cara Memanfaatkannya

Keutamaan Sepuluh Hari Dzulhijjah dan Cara Memanfaatkannya
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kita dan dari keburukan amal-amal kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barang siapa disesatkan, maka engkau tidak akan mendapatkan baginya pelindung maupun pembimbing selain Allah.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Persaksian seorang hamba, anak seorang hamba, dan anak seorang wanita hamba. Dia adalah Yang Awal tanpa permulaan, dan Yang Akhir tanpa penghabisan. Dia Awal tanpa awal, dan Akhir tanpa akhir.
Dan aku bersaksi bahwa nabi kita, kekasih kita, pemimpin kita, teladan kita, pengajar kita, dan yang mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya adalah Muhammad bin Abdullah, sang pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, pelita yang menerangi, serta penunjuk menuju jalan yang lurus. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat beliau, dengan salam yang banyak.
Amma ba‘du:
Aku wasiatkan kepada kalian wahai hamba-hamba Allah agar bertakwa kepada Allah dan menaati-Nya. Sesungguhnya takwa itulah yang menjadi sebab diterimanya amal, diteguhkannya seseorang di atas kebenaran, dan diraihnya rahmat. Bertakwalah kepada Allah, karena orang yang mengucapkannya banyak, namun yang mengamalkannya sedikit. Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang bertakwa.
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”
(QS. Āli ‘Imrān: 102)
Wahai kaum muslimin, di antara rahmat dan karunia Allah kepada umat ini adalah Allah menjadikan bagi mereka musim-musim dan waktu-waktu ketaatan, di mana pahala dan ganjarannya dilipatgandakan sebagai kompensasi atas pendeknya umur mereka, agar mereka dapat menyamai umat-umat terdahulu yang memiliki umur panjang. Di antara musim-musim itu adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Sesungguhnya umat Islam pada hari-hari mendatang akan memasuki salah satu musim ibadah, medan perlombaan dalam ketaatan, dan hari-hari berlomba dalam kebaikan. Itulah musim sepuluh hari Dzulhijjah, hari-hari terbaik di dunia. Ia adalah musim perdagangan yang menguntungkan bersama Allah dan bersama hamba-hamba Allah.
Sesungguhnya para pedagang apabila datang musim perdagangan, mereka akan mempersiapkan diri dengan para pekerja, memenuhi gudang dengan barang dagangan, dan bekerja siang malam agar keluar dari musim itu dengan keuntungan terbesar. Maka sepuluh hari ini adalah musim perdagangan yang menguntungkan bersama Allah dan bersama hamba-hamba-Nya. Ia adalah perdagangan yang tidak menerima kerugian.
Sebab diutamakannya sepuluh hari Dzulhijjah atas hari-hari lainnya dalam setahun adalah karena berkumpulnya induk-induk ibadah di dalamnya. Ibadah-ibadah seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan berbagai bentuk ibadah lainnya berkumpul pada hari-hari ini, dan hal itu tidak terdapat pada waktu selainnya. Demikian disebutkan oleh Ibnu Hajar رحمه الله.
> Telah dekat sepuluh hari yang penuh berkah
Bagi ahli takwa, kebaikan, dan ihsan
Ia adalah hari-hari terbaik di dunia, maka bersungguh-sungguhlah
Dan berlombalah menuju surga-surga
Sambutlah hari-hari itu dengan ibadah dan raihlah
Karunia Allah Yang Maha Esa lagi Maha Menguasai
Wahai hamba-hamba Allah, telah datang ayat-ayat dan hadis-hadis tentang keutamaan hari-hari ini. Allah Ta‘ālā berfirman tentang keutamaannya, bahkan Allah bersumpah dengannya:
﴿ وَالْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ * وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ ﴾
“Demi fajar, demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan yang ganjil.”
(QS. Al-Fajr: 1–3)
Ibnu Katsir رحمه الله berkata dalam tafsir ayat ini:
العشر هنا هي عشر من ذي الحجة، كما قال ابن عباس وابن الزبير وغيرهما. وجاء عند أحمد من حديث جابر رضي الله عنه أنَّ الرسول صلى الله عليه وسلم قال: الشفع يوم النحر؛ أي: يوم (10)، والوتر يوم عرفة؛ أي: يوم (9).
“Yang dimaksud sepuluh malam di sini adalah sepuluh hari Dzulhijjah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Az-Zubair, dan selain keduanya.”
Dalam riwayat Imam Ahmad dari hadis Jabir رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa “yang genap” adalah hari Nahr (10 Dzulhijjah), dan “yang ganjil” adalah hari Arafah (9 Dzulhijjah).
Bahkan terdapat hadis agung tentang keutamaan sepuluh hari ini, yang menjadi landasan bagi seluruh amal saleh di dalamnya. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
((ما مِنْ أيامٍ العمل الصالح فيهنَّ أحبُّ إلى الله من هذه العشر، قالوا: ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهادُ في سبيل الله؛ إلا رجلٌ خرج بماله ونفسه فلم يرجع من ذلك بشيء)).
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.”
Para sahabat bertanya: “Tidak juga jihad di jalan Allah?”
Beliau menjawab: “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang lelaki yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan membawa sedikit pun darinya.”
Dalam riwayat ad-Darimi dengan sanad hasan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, Nabi ﷺ bersabda:
((ما من عمل أزكى عند الله ولا أعظم أجرًا من خير يعمله في عشر الأضحى، قيل: ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله؛ إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء)).
“Tidak ada amal yang lebih suci di sisi Allah dan lebih besar pahalanya daripada kebaikan yang dilakukan pada sepuluh hari Adha.”
Mereka bertanya: “Tidak juga jihad di jalan Allah?”
Beliau menjawab: “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun dari keduanya.”
“Amal saleh” dalam hadis-hadis ini mencakup seluruh amal saleh, baik yang wajib maupun yang sunnah.
Amal-amal wajib harus dijaga, sedangkan amal-amal sunnah diperbanyak. Sebab amal terbaik di sisi Allah adalah menunaikan kewajiban dan memperbanyak amalan sunnah, sebagaimana akan kita ketahui insya Allah.
Ibnu Rajab رحمه الله berkata:
(وقد دلَّ حديث ابن عباس السابق على مضاعفة جميع الأعمال الصالحة في العشر من غير استثناء شيء منها).
“Hadis Ibnu Abbas sebelumnya menunjukkan bahwa seluruh amal saleh dilipatgandakan pada sepuluh hari ini tanpa pengecualian.”
Beliau juga berkata:
(وكل عمل صالح يقع في هذه العشر فهو أفضل في عشرة أيام سواها من أي شهر كان).
“Setiap amal saleh yang dilakukan pada sepuluh hari ini lebih utama daripada amal yang dilakukan pada sepuluh hari selainnya dari bulan apa pun.”
Maka hari-hari sepuluh ini wahai hamba-hamba Allah adalah hari-hari penuh berkah. Karena itu para sahabat dan salafus saleh memahami pentingnya dan keutamaannya, lalu mereka memanfaatkannya, berlomba-lomba, dan bersaing dalam kebaikan padanya.
Disebutkan bahwa Sa‘id bin Jubair رحمه الله bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari ini dengan kesungguhan yang luar biasa, sampai-sampai hampir tidak ada seorang pun yang mampu menandinginya dalam berlomba menuju ketaatan.
Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya sepuluh hari ini adalah hari-hari yang penuh berkah dan keutamaan, yang cepat berlalu. Ia adalah hari-hari yang terhitung dan diketahui. Orang yang beruntung adalah yang Allah beri taufik untuk memanfaatkannya, sedangkan orang yang merugi adalah yang dihalangi Allah dari amal saleh di dalamnya.
Sesungguhnya shalat pada hari-hari ini tidak seperti shalat pada hari lainnya. Demikian pula puasa, sedekah, zikir, membaca Al-Qur’an, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya. Pahala ibadah pada hari-hari ini berbeda dari hari-hari lainnya dalam setahun, sebagaimana dijelaskan para ulama berdasarkan hadis Nabi ﷺ yang telah disebutkan.
Ibnu Rajab رحمه الله berkata:
(وكل عمل صالح يقع في هذه العشر فهو أفضل في عشرة أيام سواها من أي شهر كان).
“Setiap amal saleh yang dilakukan pada sepuluh hari ini lebih utama daripada amal yang dilakukan pada sepuluh hari selainnya dari bulan apa pun.”
Maka hendaknya kita memanfaatkan hari-hari ini dengan pemanfaatan yang paling baik, paling sempurna, dan paling utama.
Berikut beberapa amal saleh yang dapat dimanfaatkan untuk mengisi hari-hari yang penuh berkah ini:
1. Yang pertama dan paling penting: menjaga amalan-amalan wajib
Di antara amalan wajib yang paling utama adalah menjaga shalat lima waktu pada waktunya, dilakukan secara berjamaah, dan di masjid. Sesungguhnya amalan terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah عز وجل adalah menunaikan kewajiban-kewajiban yang telah Allah tetapkan. Dan di antara kewajiban yang paling agung adalah shalat lima waktu.
• Dalam hadis qudsi yang sahih, Allah سبحانه وتعالى berfirman:
((وما تقرَّب إليَّ عبدي بشيء أحب إليَّ مما افترضته عليه…))
“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya…”
Maka hal pertama yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah عز وجل adalah menunaikan seluruh kewajiban, baik berupa shalat, puasa, zakat, haji, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, amar ma‘ruf nahi mungkar, jihad di jalan Allah, dan selainnya.
• Setelah itu dilanjutkan dengan memperbanyak amalan-amalan sunnah, seperti sunnah rawatib qabliyah dan ba‘diyah, shalat dhuha, qiyamul lail, puasa sunnah, dan berbagai amalan sunnah lainnya.
• Maka amalan wajib dijaga pelaksanaannya pada waktunya, sedangkan amalan sunnah dan rawatib diperbanyak, terlebih lagi pada sepuluh hari ini. Karena itulah dalam lanjutan hadis sebelumnya disebutkan:
((وما يزال عبدي يَتقرب إليَّ بالنوافل حتى أُحبَّه))
“Dan hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.”
Maka sebab mendapatkan cinta Allah adalah memperbanyak dan terus-menerus melakukan amalan sunnah. Adapun buah dari cinta tersebut, sebagaimana disebutkan Allah تعالى dalam hadis itu:
((فإذا أحببتُه؛ كنتُ سمعَه الذي يسمع به، وبصرَه الذي يُبصر به، ويدَه التي يبطش بها، ورِجْلَه التي يمشي بها))
“Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.”
Maksudnya, ia berada dalam penjagaan dan perlindungan Allah. Bahkan lebih dari itu:
((ولئنْ سألني لأعطينَّه، ولئن استعاذني لأُعِيذَنَّه))
“Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku akan memberinya. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku akan melindunginya.”
(HR. al-Bukhari)
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan mereka wahai Rabb semesta alam.
Maka jagalah wahai hamba-hamba Allah kewajiban-kewajiban tersebut, dan perbanyaklah amalan sunnah. Niscaya Allah akan menuliskan untuk kalian cinta-Nya, penjagaan-Nya, perlindungan-Nya, dan Allah akan mengabulkan doa-doa kalian.
2. Amal saleh kedua: berpuasa pada sepuluh hari ini
• Di antara amalan penting dan sangat dianjurkan pada sepuluh hari ini adalah puasa. Puasa memiliki pahala yang sangat besar, terlebih lagi pada hari-hari yang mulia ini. Rasulullah ﷺ bersabda:
((مَن صام يومًا في سبيل الله؛ باعد اللهُ بينه وبين النار سبعين خريفًا))
“Barang siapa berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan dirinya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan.”
Itulah keutamaan puasa secara umum, lalu bagaimana lagi keutamaannya jika dilakukan pada hari-hari utama seperti sepuluh hari Dzulhijjah.
Rasulullah ﷺ dahulu berpuasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah sebagaimana diriwayatkan oleh istri-istri beliau yang suci. Demikian pula para sahabat mulia رضي الله عنهم juga berpuasa pada hari-hari tersebut.
Imam an-Nawawi رحمه الله berkata:
(يُستحب صيام هذه الأيام استحبابًا شديدًا).
“Disunnahkan berpuasa pada hari-hari ini dengan anjuran yang sangat kuat.”
• Jika Allah memberi taufik kepadamu, menolongmu, dan engkau mampu berpuasa pada seluruh hari-hari tersebut, maka itu adalah kebaikan, nikmat, keberkahan, dan karunia dari Allah atasmu.
Namun jika engkau tidak mampu berpuasa semuanya, maka berpuasalah pada sebagian harinya; berpuasalah tujuh hari, atau lima hari, atau tiga hari. Jika masih tidak mampu, maka jangan tinggalkan puasa Arafah, yaitu puasa pada hari kesembilan Dzulhijjah. Sebab puasa itu memiliki keutamaan dan keistimewaan khusus dibanding hari-hari lainnya pada sepuluh hari tersebut.
Puasa Arafah menghapus dosa dua tahun: satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang. Sebagaimana dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Qatadah Al-Anshari رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
أحتسب على الله أنْ يكفر السَّنَة التي قبله، والسَّنَة التي بعده)).
“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.”
Maka sepantasnya bagi kita kaum mukminin untuk tidak menyia-nyiakan atau melewatkan puasa pada hari seperti ini, yaitu puasa Arafah.
• Sesungguhnya hari Arafah adalah hari yang agung dan disaksikan. Pada hari itu sangat banyak hamba yang dibebaskan Allah dari neraka. Ia adalah hari ketika Allah membanggakan hamba-hamba-Nya yang beriman di hadapan para malaikat-Nya yang mulia.
Dalam hadis dari Aisyah رضي الله عنها, Rasulullah ﷺ bersabda:
((ما مِن يوم أكثر مِن أنْ يعتقَ الله فيه عبدًا من النار، مِن يوم عرفة، وإنَّ اللهَ ليدنو من عباده… ثمَّ يباهي بهم ملائكتَه…)).
“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka daripada hari Arafah. Dan sungguh Allah mendekat kepada hamba-hamba-Nya… lalu Allah membanggakan mereka di hadapan para malaikat-Nya…”
Maka bersungguh-sungguhlah wahai hamba-hamba Allah untuk berpuasa pada hari-hari seperti ini. Semoga Allah memberkahi kalian.
3. Membaca Al-Qur’an
Di antara amal saleh pada sepuluh hari ini adalah membaca Al-Qur’an. Sesungguhnya orang yang membaca Al-Qur’an memiliki pahala yang besar. Pada setiap huruf yang dibacanya terdapat satu kebaikan. Dan “Alif Lām Mīm” bukanlah satu huruf, sebagaimana dikabarkan Rasulullah ﷺ, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. Setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali, terlebih lagi pada hari-hari yang mulia seperti ini.
Maka perbanyaklah membaca Al-Qur’an wahai hamba-hamba Allah pada hari-hari ini. Orang yang memiliki semangat tinggi, tekad yang jujur, dan kemauan yang kuat mampu mengkhatamkan Al-Qur’an pada hari-hari tersebut. Hal itu bukan sesuatu yang jauh ataupun mustahil.
Sesungguhnya para salafus saleh diriwayatkan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari, yaitu sekitar sepuluh juz setiap hari. Tiga juz itu bisa dibagi dalam lima waktu shalat: datang lima belas menit sebelum azan, membaca setelah azan, membaca setelah shalat, dan seterusnya. Maka rata-rata membaca tiga juz sehari hanya membutuhkan sekitar dua atau tiga jam.
Demi Allah wahai hamba-hamba Allah, kita mampu melakukan itu. Kapan? Jika kita memanfaatkan waktu kita dengan baik. Demi Allah, seandainya kita mengambil sebagian waktu penggunaan ponsel, waktu menonton televisi, waktu bermain, waktu berbelanja, dan waktu berkeliaran di jalanan, niscaya kita dapat mengkhatamkan Al-Qur’an pada sepuluh hari ini, bahkan kita bisa terus mengkhatamkannya setiap tiga hari.
• Sesungguhnya banyak kaum muslimin tidak membaca Al-Qur’an kecuali pada bulan Ramadan saja. Siapa di antara kalian yang masih melihat orang-orang membaca Al-Qur’an di pasar, di toko, dan tempat lainnya sebagaimana yang biasa kita lihat pada bulan Ramadan? Hampir tidak ada. Bahkan jika kita melihatnya di luar Ramadan, kita akan menganggapnya sesuatu yang aneh dan jarang terjadi.
Benarlah firman Allah tentang keadaan kita dan mereka:
﴿ وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا ﴾
“Dan Rasul berkata: ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’”
(QS. Al-Furqan: 30)
• Maka manfaatkanlah wahai hamba-hamba Allah waktu-waktu pada sepuluh hari ini dengan shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an, niscaya kalian akan meraih surga Rabb kalian dan keridaan-Nya. Ya Allah, tolonglah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu wahai Rabb semesta alam.
—
4. Yang keempat: berzikir kepada Allah Ta‘ālā secara umum
• Di antara amalan yang dapat dilakukan pada sepuluh hari ini adalah berzikir kepada Allah, baik zikir mutlak maupun zikir yang terikat, zikir umum maupun khusus. Ruang lingkup zikir kepada Allah sangat luas.
Membaca Al-Qur’an termasuk zikir kepada Allah. Tasbih dan tahlil adalah zikir. Tahmid dan takbir adalah zikir. Istighfar dan hauqalah juga zikir. Maka ucapan:
Subḥānallāh
Alḥamdulillāh
Lā ilāha illallāh
Allāhu akbar
Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm
semuanya adalah zikir kepada Allah عز وجل.
• Zikir kepada Allah adalah ibadah lisan yang mudah dan ringan. Ia tidak membutuhkan kesucian khusus, tidak disyaratkan waktu tertentu, dan tidak memiliki tata cara atau bentuk tertentu. Bahkan zikir kepada Allah dapat dilakukan kapan saja dan dalam keadaan apa pun, sebagaimana firman Allah تعالى:
﴿ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ ﴾
“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring di atas lambung mereka.”
(QS. Āli ‘Imrān: 191)
Maka engkau dapat berzikir kepada Allah ketika berdiri, duduk, atau berbaring. Ketika mengendarai kendaraan, ketika bekerja, ketika suci ataupun tidak suci. Engkau dapat mengingat Allah dalam keadaan apa pun.
Allah Ta‘ālā memerintahkan kita untuk banyak mengingat-Nya. Allah berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا * وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Aḥzāb: 41–42)
Allah memerintahkan kita untuk memperbanyak zikir, zikir yang terus-menerus dan tidak terputus.
Allah juga berfirman:
﴿ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾
“Dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.”
(QS. Al-Anfāl: 45)
Allah Ta‘ālā juga memuji serta menjanjikan pahala bagi hamba-hamba-Nya yang banyak berzikir, baik laki-laki maupun perempuan. Allah berfirman:
﴿ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا ﴾
“Laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Aḥzāb: 35)
—
Wahai hamba-hamba Allah:
• Pada sepuluh hari ini disunnahkan memperbanyak zikir kepada Allah secara umum. Disunnahkan pula memperbanyak tahlil, tahmid, dan takbir.
Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata dalam tafsir firman Allah تعالى:
﴿ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ ﴾
“Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”
(QS. Al-Ḥajj: 28)
Beliau berkata: “Yang dimaksud adalah sepuluh hari Dzulhijjah.”
Dan tentang firman Allah تعالى:
﴿ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ﴾
“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang berbilang.”
(QS. Al-Baqarah: 203)
Beliau berkata: “Yaitu hari-hari tasyriq.”
Maka “hari-hari yang diketahui” adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah, sedangkan “hari-hari yang berbilang” adalah hari-hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Dari Ibnu Umar رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal pada hari-hari itu lebih dicintai-Nya daripada sepuluh hari ini. Maka perbanyaklah di dalamnya tahlil, tahmid, dan takbir.”
(HR. Ahmad)
• Dahulu para salafus saleh membasahi lisan mereka dengan zikir kepada Allah sejak awal sepuluh hari tersebut. Mereka menampakkan zikir itu di rumah-rumah mereka, di masjid-masjid mereka, di pasar-pasar mereka, dan mereka mengeraskan suara dengan zikir di tempat-tempat kerja mereka.
• Maka berzikirlah kepada Allah wahai hamba Allah, baik ketika di rumahmu, di kendaraanmu, di pasarmu, di tempat kerjamu, maupun di majelismu. Berzikirlah kepada Allah di setiap tempat yang baik dan suci.
“Perbanyaklah di dalamnya tahlil, tahmid, dan takbir.”
Takbir pada sepuluh hari ini ada dua jenis: takbir mutlak dan takbir muqayyad (terikat).
• Adapun takbir mutlak dimulai sejak awal sepuluh hari Dzulhijjah. Disebut mutlak karena tidak terikat waktu ataupun tempat tertentu. Engkau bertakbir kepada Allah setiap waktu: pagi dan petang, malam dan siang, secara pelan maupun terang-terangan, di pasar dan di jalan, di rumah dan di toko, di majelis dan di kendaraan, pada seluruh waktu sepuluh hari tersebut dan di setiap tempat yang suci.
Imam al-Bukhari رحمه الله berkata:
كان ابن عمر، وأبو هريرة رضي الله عنه يخرجان إلى السوق في أيام العشر يُكبران اللهَ، ويكبر الناسُ بتكبيرهما. وكان ابن عمر رضي الله عنه يكبر اللهَ في أيام العشر في فِسْطَاطِه، وفي مجلسه، وعلى فراشه، وفي ممشاه، وكان عمر بن الخطاب رضي الله عنه يكبِّر أيضًا في قُبَّته في مِنى، فيسمعونه أهل المسجد فيكبرون، ويُكبر أهل الأسواق حتى تَرْتَجَّ مِنى تكبيرًا.
“Dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah رضي الله عنهما keluar menuju pasar pada hari-hari sepuluh Dzulhijjah sambil bertakbir kepada Allah, lalu orang-orang pun ikut bertakbir dengan takbir keduanya.”
Ibnu Umar رضي الله عنه juga biasa bertakbir pada hari-hari sepuluh itu di tendanya, di majelisnya, di atas tempat tidurnya, dan ketika berjalan.
Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه juga bertakbir di kubahnya di Mina, lalu para jamaah masjid mendengarnya dan ikut bertakbir. Demikian pula orang-orang di pasar bertakbir hingga Mina bergemuruh dengan suara takbir.
Karena itu disunnahkan mengeraskan suara takbir di pasar, jalan-jalan, majelis, dan setiap tempat yang suci, karena para sahabat mulia melakukan hal tersebut, seperti Umar, Ibnu Umar, dan Abu Hurairah رضي الله عنهم أجمعين.
• Adapun takbir muqayyad adalah takbir yang terikat dengan waktu tertentu, yaitu takbir setelah shalat-shalat wajib lima waktu.
Takbir ini dimulai setelah shalat Subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah, yaitu hari Arafah, dan berakhir setelah shalat Ashar pada akhir hari-hari tasyriq, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah.
Lafaz takbir yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ adalah:
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd.”
“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar dan segala puji bagi Allah.”
• Hari-hari ini adalah sepuluh hari yang penuh berkah. Disunnahkan di dalamnya memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil.
Tanggal 8 Dzulhijjah adalah hari Tarwiyah.
Tanggal 9 adalah hari Arafah.
Tanggal 10 adalah hari Nahr, yaitu hari haji akbar.
Tanggal 11 adalah hari al-Qarr, yaitu hari menetap dan bermalam di Mina.
Tanggal 12 dan 13 adalah sisa hari-hari tasyriq.
Semua itu adalah hari-hari yang penuh berkah, yang disunnahkan memperbanyak zikir kepada Allah sejak awal sepuluh hari hingga akhir hari-hari tasyriq.
Maka:
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd.”
5. Amal saleh kelima pada sepuluh hari ini adalah sedekah wahai hamba-hamba Allah
Ya, sedekah. Tahukah kalian apa itu sedekah? Sesungguhnya keutamaannya sangat besar dan pahalanya sangat agung. Kata ṣadaqah berasal dari kata ṣidq (kejujuran), karena sedekah merupakan bukti dan tanda benarnya iman seorang mukmin, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Sedekah itu adalah bukti.”
Maksudnya, bukti atas benarnya iman pemiliknya.
“Sedekah memadamkan murka Rabb sebagaimana air memadamkan api.”
“Sedekah dan berbuat kebaikan melindungi pelakunya dari kematian yang buruk.”
“Orang yang suka berbuat baik tidak akan jatuh. Jika pun ia jatuh, ia akan mendapatkan sandaran untuk bersandar.”
Maka sedekah adalah perkara yang sangat agung, terlebih lagi pada sepuluh hari Dzulhijjah. Pahala sedekah pada hari-hari ini dilipatgandakan dibanding hari-hari lainnya dalam setahun.
Memenuhi kebutuhan manusia pada sepuluh hari ini, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada yang kekurangan, memberi minum kepada orang haus, menghibur hati para janda yang berduka, dan mengusap kepala anak-anak yatim termasuk amalan pendekatan diri kepada Allah yang paling utama pada hari-hari ini.
• Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis sahih:
“Orang yang berusaha membantu janda dan orang miskin seperti orang yang terus berpuasa dan terus melakukan qiyamul lail.”
Maksudnya seperti orang yang berpuasa di siang hari tanpa berbuka, dan seperti orang yang shalat malam tanpa merasa lelah.
Lalu bagaimana lagi keutamaannya jika dilakukan pada hari-hari yang penuh berkah ini?
—
Wahai hamba-hamba Allah, dengarkanlah kisah menakjubkan tentang keutamaan sedekah kepada orang yang membutuhkan. Bahkan nilainya lebih utama daripada haji sunnah.
Disebutkan dalam sebagian atsar pada beberapa kitab biografi Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله, seorang ahli ibadah dan zuhud. Kisah ini juga disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidāyah wan Nihāyah pada biografi Ibnu al-Mubarak.
Berikut kisahnya:
Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله berkata:
“Pada suatu tahun aku berangkat menunaikan haji ke Baitullah.”
Ibnu al-Mubarak memang dikenal sering berhaji. Bahkan beliau biasa menyiapkan satu rombongan penuh untuk menemani jamaah haji dengan biaya dari hartanya sendiri.
Beliau berkata:
“Pada suatu malam di Mina ketika aku tidur, aku melihat mimpi. Dalam mimpi itu datang dua orang lalu duduk di dekat kepalaku sambil berbicara.
Salah seorang berkata kepada yang lain:
‘Tahukah engkau berapa banyak orang yang diterima hajinya tahun ini?’
Yang lain menjawab:
‘Allah lebih mengetahui, aku tidak tahu.’
Orang pertama berkata:
‘Sesungguhnya banyak di antara mereka yang hajinya tidak diterima, tetapi Allah memaafkan mereka semua dan menerima haji mereka seluruhnya karena seorang bernama Al-Muwaffaq Al-Iskafi Asy-Syami, padahal ia tidak berhaji bersama mereka.’”
Ibnu al-Mubarak berkata:
“Aku pun terbangun, dan tidak ada yang lebih aku pikirkan selain kembali mencari lelaki bernama Al-Muwaffaq Al-Iskafi Asy-Syami ini, untuk mengetahui kisah dan keadaannya serta sebab keutamaan besar yang Allah berikan kepadanya.”
Beliau berkata:
“Maka aku pergi ke Syam dan terus mencari lelaki itu dengan sabar hingga akhirnya aku menemukannya.”
Ibnu al-Mubarak bertanya:
“Apa kisahmu? Apa hubunganmu dengan haji? Apakah engkau berhaji tahun ini?”
Ia menjawab:
“Tidak.”
Ibnu al-Mubarak bertanya:
“Mengapa? Ceritakan kisahmu kepadaku.”
Lelaki itu berkata:
“Mengapa engkau bertanya tentang kisahku?”
Ibnu al-Mubarak berkata:
“Ceritakanlah, nanti aku akan memberitahumu alasannya.”
Lelaki itu berkata:
“Aku bekerja sebagai tukang sepatu.”
Maksudnya penjual dan tukang reparasi sepatu.
“Sejak awal tahun aku biasa menyimpan setiap kelebihan uang setelah kebutuhan keluargaku terpenuhi, dengan harapan bisa berhaji di akhir tahun atau tahun berikutnya.
Ketika musim haji tahun itu telah dekat, aku melihat bahwa uang yang terkumpul telah cukup untuk biaya hajiku.
Aku mulai bersiap-siap untuk perjalanan.
Suatu hari ketika aku pulang ke rumah, seorang wanita miskin menemuiku. Ia sedang hamil. Ia memintaku pergi ke rumah tetangga sambil membawa sebuah wadah, lalu berkata:
‘Bawalah wadah ini ke rumah yang tercium aroma daging panggang darinya.’
Aku pun membawa wadah itu dan mengetuk pintu rumah tersebut. Keluarlah seorang wanita. Aku berkata:
‘Tolong isi wadah ini dengan sedikit makanan itu.’
Wanita itu memandangku sejenak lalu berkata:
‘Aku akan memberimu, tetapi biarkan aku menceritakan kisah makanan ini terlebih dahulu. Aku harus memberitahumu sekarang. Jika setelah itu engkau masih ingin mengambilnya, maka ambillah.’
Ia berkata:
‘Suamiku telah meninggal beberapa waktu lalu dan meninggalkan sedikit harta. Beberapa minggu lalu harta itu habis, sedangkan anak-anakku mulai kelaparan. Ketika mereka hampir binasa karena lapar, aku melihat seekor kambing yang dibuang pemiliknya karena telah mati. Aku mengambil sebagian dagingnya dan memasaknya untuk menghilangkan lapar anak-anakku serta menyelamatkan mereka dari kebinasaan. Bau yang engkau cium adalah bau masakan itu. Jika engkau mau, aku akan memberimu sebagian.’”
Al-Muwaffaq berkata:
“Aku pulang sambil menampar wajahku sendiri dan mencela diriku. Aku berkata dalam hati:
‘Wanita ini bersama anak-anaknya menderita kelaparan hingga hampir binasa, sedangkan aku mengumpulkan uang untuk berhaji ke Baitullah? Demi Allah, ini bukan keadilan, bukan pula kasih sayang.’
Lalu aku mengambil seluruh uang yang telah kukumpulkan dan kembali ke rumah wanita itu.
Aku mengetuk pintunya dan berkata:
‘Ambillah ini. Ini adalah harta yang Allah kirimkan untukmu dan anak-anakmu.’
Karena itulah aku tidak berhaji tahun ini.”
Maka Abdullah bin al-Mubarak berkata kepadanya:
“Bergembiralah. Aku membawa kabar gembira untukmu bahwa Allah bukan hanya menuliskan satu pahala haji untukmu, bahkan Allah menerima haji seluruh jamaah haji karena sebab dirimu.”
Kemudian beliau menceritakan mimpi tersebut kepadanya.
• Maka inilah keutamaan sedekah wahai hamba-hamba Allah. Bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan lebih utama di sisi Allah daripada haji sunnah.
Kita sering mendengar ungkapan:
“Bertawaf mengelilingi rumah-rumah orang miskin lebih utama daripada bertawaf di Ka‘bah.”
Yang dimaksud dengan tawaf di sini adalah tawaf dalam haji sunnah, yaitu setelah menunaikan haji wajib.
• Sesungguhnya memberi makan orang lapar, mencukupi kebutuhan fakir miskin, memenuhi kebutuhan orang yang memerlukan, melunasi utang orang yang berutang, dan membebaskannya dari kesulitan, lebih baik di sisi Allah daripada berhaji sunnah ke Baitullah.
• Maka wahai orang-orang kaya dan orang-orang yang Allah lapangkan rezekinya:
“Berjalanlah dengan harta kalian menuju rumah-rumah orang miskin. Berusahalah dengan sedekah kalian di antara lorong-lorong kaum yang membutuhkan. Lemparlah rintangan kekikiran dengan batu kemurahan hati, dan rajamlah ketakutan terhadap kemiskinan dengan kerikil sedekah.”
Karena sesungguhnya:
﴿ الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴾
“Setan menjanjikan kemiskinan kepada kalian dan menyuruh kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 268)
﴿ إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ ﴾
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang bersedekah serta memberikan pinjaman yang baik kepada Allah, akan dilipatgandakan bagi mereka, dan mereka akan memperoleh pahala yang mulia.”
(QS. Al-Ḥadīd: 18)
—
Wahai hamba-hamba Allah, terakhir aku mengingatkan kalian kembali kepada hadis Rasulullah ﷺ tentang keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis sahih:
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari sepuluh ini.”
Para sahabat bertanya:
“Tidak juga jihad di jalan Allah?”
Beliau menjawab:
“Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun dari keduanya.”
(HR. al-Bukhari)
• “Amal saleh” di sini sebagaimana telah kita jelaskan bersifat umum dan mencakup seluruh amal saleh, baik amalan wajib maupun sunnah, amalan sunnah rawatib maupun lainnya, baik amal lisan, perbuatan, maupun amalan hati, baik ketaatan yang tampak maupun tersembunyi, dilakukan secara rahasia ataupun terang-terangan. Semua itu termasuk dalam makna “amal saleh”.
• Maka haji dan umrah, taubat, doa, menyambung silaturahmi, menyebarkan salam, memberi makan, dan shalat malam ketika manusia sedang tidur, semuanya termasuk amal saleh.
• Menjenguk orang sakit, berbuat baik kepada tetangga, memperhatikan para janda dan anak yatim, termasuk amal saleh.
• Amar ma‘ruf nahi mungkar, menjaga shalat dan bersegera menuju shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, i‘tikaf dan berdiam di masjid, semuanya termasuk amal saleh pada sepuluh hari yang penuh berkah ini.
• Berzikir kepada Allah, bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, mengingat Allah setiap waktu dan setiap saat, zikir-zikir umum maupun khusus, semuanya adalah amal saleh.
• Menuntut ilmu, berdakwah kepada Allah, mengajarkan manusia dan membantu mereka, menyingkirkan gangguan dari jalan mereka, memberikan senyuman kepada mereka, dan mengusap kepala anak yatim, semuanya adalah amal saleh dan termasuk sarana mendekatkan diri kepada Allah عز وجل pada sepuluh hari ini.
• Menolong orang yang kesusahan, memuliakan tamu, membela orang yang dizalimi, membantu orang yang tertindas, melapangkan kesulitan orang yang tertimpa musibah, meringankan kesedihan orang yang gelisah, memudahkan orang yang kesulitan, dan melunasi utang orang yang berutang, semuanya termasuk amal saleh.
• Membersihkan hati, kelapangan jiwa, mengembalikan hak kepada pemiliknya, saling memaafkan, berjabat tangan, menahan amarah, memaafkan manusia, dan berbuat baik kepada seluruh makhluk, semuanya termasuk amalan yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah pada hari-hari yang penuh berkah dan keutamaan ini.
﴿ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴾
“Yaitu orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”
(QS. Āli ‘Imrān: 134)
• Merenungkan ciptaan-ciptaan Allah, bershalawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ, serta seluruh amalan yang telah disebutkan sebelumnya, semuanya termasuk amal saleh dan termasuk pendekatan diri yang paling agung kepada Allah تبارك وتعالى.
﴿ وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴾
“Bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa.”
(QS. Āli ‘Imrān: 133)
Wahai hamba-hamba Allah, inilah sepuluh hari yang mulia dan hari-hari penuh berkah yang akan datang. Maka bersungguh-sungguhlah memanfaatkannya, dan jangan sia-siakan kesempatan meraih keuntungannya. Hari-hari itu adalah hari-hari yang telah diketahui, dan malam-malam yang terhitung, yang sangat cepat berlalu dan pergi.
Orang mukmin yang cerdas, muslim yang bijak, dan manusia yang diberi taufik adalah orang yang memanfaatkannya dan tidak membiarkan kesempatan serta musim kebaikan seperti ini berlalu begitu saja tanpa faedah.
Kami memohon kepada Allah untuk kami dan kalian taufik, pertolongan, dan keteguhan di dunia dan akhirat.
Maka bershalawat dan bersalamlah kepada sebaik-baik makhluk Allah, Muhammad bin Abdullah, pemilik wajah yang paling bercahaya dan dahi yang paling bersinar. Beliau bersabda:
“Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada beliau, keluarga beliau, istri-istri beliau, dan para sahabat beliau, serta limpahkanlah salam yang banyak.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا وَوَفِّقْنَا لِاسْتِغْلَالِ هَذِهِ الْعَشْرِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، وَأَعِنَّا فِيهَا عَلَى الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَعَلَى قِرَاءَةِ وَخَتْمِ الْقُرْآنِ، وَاكْتُبْنَا فِيهَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ وَمِنَ الْمَعْتُوقِينَ مِنْ نَارِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Ya Allah, tolonglah kami dan berilah kami taufik untuk memanfaatkan sepuluh hari Dzulhijjah ini. Bantulah kami untuk menegakkan shalat, berpuasa, melaksanakan qiyamul lail, membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang diterima amalnya dan termasuk orang-orang yang dibebaskan dari api neraka-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.
Semoga bermanfaat.



