Jejak Perjuangan Rasulullah ﷺ dan Para Sahabat pada Bulan Rabi‘ul Awwal hingga Jumada al-Ula

Kita telah menyaksikan terjadinya sejumlah besar peristiwa dan kejadian penting selama bulan-bulan ini. Maka kita ingin menyoroti beberapa di antaranya dengan tujuan untuk mengambil pelajaran dan manfaat darinya demi memperkuat pengetahuan serta mengenal lebih dekat sejarah Islam kita yang agung.
Rabi‘ul Awwal
1. Perang Buwaṭ
Perang Buwaṭ adalah peristiwa bersejarah yang terjadi pada bulan Rabi‘ul Awwal tahun kedua Hijriah. Peristiwa ini merupakan bagian dari rangkaian konfrontasi dan bentrokan antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy Mekah dalam konteks konflik yang terus berlangsung antara Muslimin Muhajirin yang hijrah dari Mekah ke Madinah dan kaum Quraisy yang berusaha menghalangi penyebaran Islam yang cepat.
Rasulullah ﷺ keluar bersama 200 sahabatnya untuk menghadang kafilah Quraisy yang dipimpin oleh Umayyah bin Khalaf al-Jumahi yang membawa 100 orang Quraisy dan 2.500 ekor unta. Nabi ﷺ tiba di Buwaṭ, yaitu jajaran pegunungan milik kabilah Juhainah di sebelah timur Radwa, dekat Dzu Khusyub menuju jalan Syam, sekitar empat burd (±80 km) dari Madinah. Namun beliau ﷺ tidak bertemu musuh dan kembali ke Madinah — semoga Allah menambah kemuliaan dan keagungannya. (Sumber: Ath-Thabaqāt al-Kubrā karya Ibn Sa‘d 2/8; Tarikh ath-Thabari 2/260, dan lainnya, dengan penyesuaian).
2. Pernikahan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan dengan Ummu Kultsum binti Rasulullah ﷺ
Pada bulan *Rabi‘ul Awwal,* ‘Utsman bin ‘Affan radliallahu ‘anhu. menikah dengan Ummu Kultsum binti Rasulullah ﷺ. Ia mulai tinggal bersamanya pada bulan Jumada al-Akhirah. (Sumber: Imtā‘ al-Asmā‘ 1/128, dengan penyesuaian).
Diriwayatkan bahwa ketika Sayyidah Ruqayyah radliallahu ‘anha. kembali dari Habasyah, ia bertanya: “Di mana ayahku?” Mereka menjawab: “Di masjid, dekat Hajar Aswad.” Ia bertanya lagi: “Di mana ibuku?” Ummu Kultsum radliallahu ‘anha diam, dan Fāṭimah ra. pun menangis dan meninggalkan ruangan. Saat itu Ruqayyah ra. menyadari bahwa ibunya telah wafat. Ia tidak sempat menyaksikan kematian ibunya, dan Rasulullah ﷺ juga tidak sempat hadir saat wafat dan pemakaman istrinya, sehingga beliau sangat bersedih, begitu pula Ummu Kultsum ra. turut berduka.
Setelah wafatnya Ruqayyah radliallahu ‘anha, ‘Utsman radliallahu ‘anhu. melamar Ummu Kultsum radliallahu ‘anhu., dan Rasulullah ﷺ menikahkannya dengan Ummu Kultsum. Karena itulah ‘Utsman radliallahu ‘anhu. dijuluki “Dzun Nurain” (pemilik dua cahaya) — karena ia menikahi dua putri Rasulullah ﷺ. Ummu Kultsum radliallahu ‘anha kemudian wafat di rumah ‘Utsman radliallahu ‘anhu, dan Rasulullah ﷺ berkata untuk menghiburnya:
(لو كانت عندي ثالثة لزوجتها عثمان)
“Seandainya aku masih memiliki anak perempuan yang ketiga, niscaya aku akan menikahkannya dengan ‘Utsman.” (Dalam riwayat lain terdapat perbedaan redaksi.)
Lihatlah bagaimana akhlak Rasulullah ﷺ terhadap ‘Utsman radliallahu ‘anhu: ketika Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Ali radliallahu ‘anhum masuk ke rumah beliau dalam keadaan paha Nabi terbuka, namun saat ‘Utsman masuk, Nabi menutup pahanya. Ketika ‘Aisyah radliallahu ‘anha bertanya mengapa, Nabi ﷺ menjawab:
ألا أستحي من رجل تستحي منه ملائكة السماء؟!
“Tidakkah aku malu kepada seorang lelaki yang bahkan malaikat pun malu kepadanya?” (Muqtathafāt min as-Sīrah karya ‘Umar ‘Abd al-Kāfī).
Rabi‘ul Akhir
1. Perang Dzu Qarad (Perang Ghabah)
Perang ini, yang juga dikenal sebagai Perang Ghabah, terjadi pada bulan Rabi‘uts Tsani tahun keenam Hijriah, satu pos dari Madinah. Peristiwa ini terjadi setelah Rasulullah ﷺ kembali dari Perang Bani Lahyan dan hanya tinggal beberapa malam di Madinah. Tiba-tiba ‘Uyainah bin Hishn al-Fazari bersama pasukan kuda dari Ghathafan menyerang unta-unta Nabi ﷺ.
Dalam peristiwa itu, seorang lelaki dari kabilah Ghifar dan istrinya terbunuh dan ditawan. Orang pertama yang menyadari serangan itu adalah Salamah bin al-Akwa‘. Ia naik ke arah bukit Sila‘ dan berteriak tiga kali: “Wā Shabāhāh!” (Seruan bahaya dini hari), lalu mengejar musuh sendirian seperti seekor singa.
Ia memanahi mereka sambil bersyair:
خذها وأنا ابن الأكوع … واليوم يوم الرضع
“Ambillah ini! Aku putra al-Akwa‘, Hari ini adalah hari kehancuran kalian!”
Ia terus mengejar hingga berhasil menyelamatkan sebagian unta dan merampas 30 baju perang serta 30 perisai. Rasulullah ﷺ mengumumkan darurat di Madinah. Pasukan kuda bergegas keluar. Orang pertama yang tiba adalah al-Miqdad bin ‘Amr, kemudian ‘Abbad bin Bisyr, dan sejumlah sahabat. Nabi ﷺ memberikan bendera kepada Miqdad dan menunjuk Sa‘d bin Zaid al-Anshari radliallahu ‘anhu sebagai komandan.
Mereka berhasil membunuh tiga orang musuh, sementara dari pihak Muslim gugur satu orang: Mahriz bin Nadhlah al-Asadi radliallahu ‘anhu. Sebagian unta kembali direbut. Nabi ﷺ kemudian tiba di Dzu Qarad dan bermalam satu hari satu malam, lalu kembali ke Madinah pada hari Senin setelah absen lima hari. (Sumber: Musta‘dhab al-Akhbar bi Aṭyab al-Akhbar, hlm. 277).
2. Masuk Islamnya Bani al-Harits melalui Khalid bin Walid (Rabi‘ul Akhir)
Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ mengutus Khalid bin Walid radliallahu ‘anhu. ke Bani al-Harits bin Ka‘b di Najran pada bulan Rabi‘uts Tsani tahun ke-10 Hijriah. Beliau memerintahkannya untuk mengajak mereka masuk Islam sebelum berperang selama tiga hari. Jika mereka menerima, maka jangan diperangi. Jika tidak, perangi mereka.
Khalid radliallahu ‘anhu. tiba di sana, mengirim para utusan ke berbagai penjuru mengumumkan:
أيها الناس، أسلموا تسلموا.
“Wahai manusia, masuk Islamlah niscaya kalian akan selamat.”
Akhirnya mereka semua masuk Islam. Khalid tinggal di sana untuk mengajarkan Islam, Al-Qur’an, dan Sunnah Nabi ﷺ sesuai perintah Rasulullah. (Sumber: As-Sīrah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam 2/592).
Jumada al-Ula
1. Perang Bani Lahyan
Rasulullah ﷺ menetap di Madinah setelah Perang Bani Quraizhah selama sisa Dzulhijjah, Muharram, Shafar, Rabi‘ul Awwal, Rabi‘uts Tsani, dan Jumada al-Ula. Kemudian pada bulan ini (bulan keenam setelah Fathu Bani Quraizhah, tahun keenam Hijriah), beliau ﷺ keluar menuntut balas atas kematian ‘Āshim bin Tsabit, Khubaib bin ‘Adiy, dan para sahabat mereka yang gugur dalam peristiwa ar-Raji‘.
Beliau ﷺ menempuh jalur utara menuju Syam melalui Gunung Ghurab, lalu ke al-Batra’, kemudian berbelok ke kiri hingga tiba di Ghran — lembah antara Amj dan ‘Usfān — wilayah Bani Lahyan. Namun, mereka telah mengetahui rencana beliau dan naik ke pegunungan. Rasulullah ﷺ keluar bersama 200 penunggang kuda, mengutus dua orang sahabat hingga sampai ke Kura‘ al-Ghamim, lalu kembali ke Madinah. (Sumber: Jawāmi‘ as-Sīrah an-Nabawiyyah, hlm. 159).
2. Syahidnya Zaid bin Haritsah radliallahu ‘anhu. dalam Perang Mu’tah
Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al-Isti‘ab (4/47, 53 no. 843) menyebutkan bahwa Zaid bin Haritsah ra. gugur dalam Perang Mu’tah (Syam) tahun kedelapan Hijriah. Ia adalah panglima pertama dalam perang itu. Rasulullah ﷺ bersabda:
«فإن قتل زيد فجعفر … فقتلوا ثلاثتهم في تلك الغزوة، ولما أتى رسول الله صلى الله عليه وسلّم نعي «جعفر بن أبي طالب»، و «زيد بن حارثة» بكى وقال: أخواي ومؤنساي… » (الاستيعاب والمغازي للواقدي: 3/ 1117، 1127، ومستعذب الإخبار بأطيب الأخبار: صـ 202).
“Jika Zaid gugur, maka Ja‘far (akan memimpin)…” Ketiganya gugur dalam perang tersebut.
Ketika berita kematian Ja‘far bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau menangis dan bersabda:
أخواي ومؤنساي…
“Mereka berdua adalah saudaraku dan teman dekatku…” (Sumber: Al-Isti‘ab dan Al-Maghāzī karya al-Waqidi 3/1117, 1127; Musta‘dhab al-Akhbar, hlm. 202).
Penutup
Kita memohon kepada Allah Ta‘ala agar memberikan manfaat kepada kita melalui peristiwa-peristiwa bersejarah yang agung ini, yang mengajarkan pelajaran besar dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dakwah kepada Allah, dan pengabdian terhadap ilmu. Semoga Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengar nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan para sahabat beliau seluruhnya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.



