Fatawa Umum

Apa Kriteria dan Definisi Ulama dalam Islam di Tengah Beragam Kelompok?

Pertanyaan

Assalamualaikum Ustadz Berian,ijin bertanya apakah definisi atau kriteria ulama? Di kitab apa disebutkan definisi nya? Sekarang banyak kelompok yg saya tahu di Indonesia ada salafy,jaringan Islam liberal,Syiah dll dari kelompok2 masing2 punya pakarnya semua bisa disebut oleh kelompoknya masing2 sebagai ulama,ada lagi ulama besar dan ulama kecil.

Mhn maaf Ustadz apabila ada pertanyaan dari ana yg kurang jelas.

Jazakallahu khoir ustadz

Jawaban

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Definisi Ulama beserta sumber referensinya

Sesungguhnya orang yang benar-benar layak disematkan gelar ulama itu sangat sedikit. Hal ini karena seorang ulama memiliki sifat-sifat khusus yang sering kali tidak terdapat pada orang yang sekadar menisbatkan diri kepada ilmu.

Hadis Nabi ﷺ

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

«سيأتي على أمتي زمان تكثر فيه القراء، وتقل الفقهاء، ويقبض العلم، ويكثر الهرج».

قالوا: وما الهرج يا رسول الله؟

قال: «القتل بينكم، ثم يأتي بعد ذلك زمان، يقرأ القرآن رجال، لا يجاوز تراقيهم، ثم يأتي من بعد ذلك زمان، يجادل المنافق الكافر المشرك بالله المؤمن بمثل ما يقول».

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

“Akan datang kepada umatku suatu zaman di mana para pembaca Al-Qur’an sangat banyak, sementara para fuqaha sedikit. Ilmu dicabut dan pembunuhan semakin merajalela.”

Para sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan pembunuhan itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Saling membunuh di antara kalian. Kemudian setelah itu akan datang suatu zaman di mana orang-orang membaca Al-Qur’an namun tidak melewati tenggorokan mereka. Lalu setelah itu datang suatu zaman di mana orang munafik, kafir, dan musyrik kepada Allah berdebat dengan orang mukmin menggunakan hujah yang sama seperti yang diucapkan oleh orang mukmin.”

Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, karya Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi, tahqiq: Mustafa ‘Abdul Qadir ‘Atha, jilid 4, hlm. 504, cetakan pertama, 1411 H / 1990 M, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut.

Al-Hakim berkata tentang hadis tersebut: “Hadis ini sahih sanadnya, namun tidak dikeluarkan oleh keduanya (Al-Bukhari dan Muslim).”

Perkataan Syaikh حمود التويجري رحمه الله

Syaikh Hamud At-Tuwaijiri rahimahullah Ta‘ala berkata:

«وقد ظهر مصداق هذا الحديث في زماننا، فقل الفقهاء العارفون بما جاء عن الله ورسوله صلى الله عليه وسلم، وكثر القراء في الكبار والصغار، والرجال والنساء، بسبب كثرة المدارس، وانتشارها».

“Makna hadis ini telah nyata di zaman kita. Para fuqaha yang benar-benar memahami apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam semakin sedikit, sementara para pembaca Al-Qur’an semakin banyak, baik dari kalangan dewasa maupun anak-anak, laki-laki maupun perempuan, disebabkan banyaknya sekolah dan meluasnya penyebarannya.”

Ithaf Al-Jama‘ah bima Ja’a fi Al-Fitan wa Al-Malahim wa Asyrath As-Sa‘ah, karya Hamud bin ‘Abdillah At-Tuwaijiri, jilid 1, hlm. 418, cetakan pertama, 1394 H.

Perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

«إنكم في زمان كثير فقهاؤه، قليل خطباؤه، قليل سؤاله، كثير معطوه، العمل فيه قائد للهوى، وسيأتي من بعدكم زمان قليل فقهاؤه، كثير خطباؤه، كثير سؤاله، قليل معطوه، الهوى فيه قائد للعمل. اعلموا أن حسن الهدي في آخر الزمان خير من بعض العمل».

“Kalian berada pada suatu zaman yang banyak fuqahanya, sedikit penceramahnya, sedikit yang meminta-minta, dan banyak yang memberi. Pada masa ini, amal memimpin hawa nafsu. Akan datang setelah kalian suatu zaman yang sedikit fuqahanya, banyak penceramahnya, banyak yang meminta-minta, dan sedikit yang memberi. Pada masa itu, hawa nafsu memimpin amal. Ketahuilah bahwa lurusnya petunjuk di akhir zaman lebih baik daripada sebagian amal.”

Al-Adab Al-Mufrad, karya Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma‘il Al-Bukhari Al-Ju‘fi, tahqiq: Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi, hlm. 275, cetakan ketiga, 1409 H / 1989 M, Dar Al-Basya’ir Al-Islamiyyah, Beirut.

Fenomena Penyalahgunaan Gelar Ulama

Banyak manusia bersikap longgar dalam menyematkan gelar ulama kepada orang yang tidak berhak menerimanya. Gelar itu diberikan kepada orang-orang yang bekal ilmunya sangat sedikit, sementara sikap dan kewibawaannya tidak mencerminkan sikap dan kewibawaan para ulama sejati.

Mereka mengira bahwa orang yang paling banyak berbicara dan gemar berdebat itulah yang layak disebut sebagai ulama.

Perkataan Ibnu Rajab Al Hanbali Rahimahullah

Ibnu Rajab rahimahullah Ta‘ala berkata:

«وقد فتن كثير من المتأخرين بهذا، فظنوا أن من كثر كلامه وجداله وخصامه في مسائل الدين فهو أعلم ممن ليس كذلك، وهذا جهل محض… فليس العلم بكثرة الرواية، ولا بكثرة المقال، ولكنه نور يقذف في القلب، يفهم به العبد الحق، ويميز به بينه وبين الباطل، ويعبر عن ذلك بعبارات وجيزة محصلة للمقاصد».

“Banyak orang dari kalangan generasi belakangan tertipu oleh hal ini. Mereka mengira bahwa orang yang paling banyak berbicara, berdebat, dan berselisih dalam masalah agama lebih berilmu daripada orang yang tidak demikian. Ini adalah kebodohan murni. Ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat dan bukan pula dengan banyaknya ucapan, tetapi ia adalah cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati. Dengan cahaya itu seorang hamba dapat memahami kebenaran, membedakannya dari kebatilan, dan mengungkapkannya dengan ungkapan yang singkat namun tepat dan menghantarkan kepada tujuan.”

Fadhl ‘Ilm As-Salaf ‘ala ‘Ilm Al-Khalaf (Keutamaan Ilmu Generasi Salaf atas Ilmu Generasi Khalaf), karya Abu Al-Faraj Zainuddin ‘Abdurrahman bin Rajab Al-Hanbali, tahqiq: Abu Al-Qasim ‘Abdul ‘Azhim, hlm. 83–84, cetakan kedua, 1432 H / 2011 M, Dar Al-Qabas, Riyadh, Arab Saudi.

Definisi Ulama

Para ulama telah dikenal melalui beberapa definisi, di antaranya:

1. Ulama adalah orang-orang yang mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu

Para ulama didefinisikan dengan beberapa pengertian, di antaranya:

الذين يعلمون أن الله على كل شيء قدير.

mereka adalah orang-orang yang mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Definisi ini dinukil dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sang penerjemah Al-Qur’an, ketika beliau menafsirkan firman Allah Ta‘ala:

 إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

[فاطر: 28].

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Tafsir Al-Qur’an, karya ‘Abdurrahman Muhammad Idris Ar-Razi, tahqiq: As‘ad Muhammad Ath-Thayyib, jilid 10, hlm. 3180, Al-Maktabah Al-‘Ashriyyah, Shida (Sidon).

2. Ulama adalah orang yang takut kepada Allah dan mengamalkan ilmunya

Dikatakan pula:

العالم هو من يخشى الله تعالى، ويعمل بعلمه.

bahwa ulama adalah orang yang takut kepada Allah Ta‘ala dan mengamalkan ilmunya.

Perkataan عبد الله بن مسعود رضي الله عنه

Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

«ليس العلم عن كثرة الحديث، إِنما العلم خشية الله».

“Ilmu itu bukanlah karena banyaknya riwayat hadis, tetapi ilmu yang sejati adalah rasa takut kepada Allah.”

Jami‘ Bayan Al-‘Ilm wa Fadlih (Himpunan Penjelasan tentang Ilmu dan Keutamaannya), karya Abu ‘Umar Yusuf bin ‘Abdillah bin ‘Abdil Barr, tahqiq: Syu‘aib Al-Arna’uth, hlm. 265, cetakan pertama, 1433 H / 2012 M, Mu’assasah Ar-Risalah Nasyirun, Beirut, Lebanon.

Perkataan Al Hasan Al Bashri

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah Ta‘ala berkata:

«العالم من خشي الرحمن بالغيب، ورغب فيما يرغب الله».

“Ulama adalah orang yang takut kepada Ar-Rahman meskipun dalam keadaan tidak dilihat manusia, dan ia mencintai apa yang Allah cintai.”

Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, karya Abu Al-Fida’ Isma‘il bin ‘Umar bin Katsir Ad-Dimasyqi (Ibnu Katsir), jilid 3, hlm. 554, cetakan tahun 1401 H, Dar Al-Fikr, Beirut.

3. Ulama adalah orang yang takut kepada Allah, mengetahui sunnah, hukum, dan kewajiban-Nya

Dikatakan pula bahwa ulama adalah orang yang takut kepada Allah Ta‘ala, mengetahui sunnah-Nya, hukum-hukum-Nya, dan kewajiban-kewajiban-Nya.

Perkataan Abu Hayyan At Tamimi Rahimahullah

Hal ini disebutkan oleh Abu Hayyan At-Taimi rahimahullah Ta‘ala ketika beliau berbicara tentang para ulama, di mana beliau menjelaskan bahwa mereka terbagi menjadi tiga golongan.

Dialog Nabi Musa ‘alaihis salam dengan Allah

ولما سأل موسى عليه الصلاة والسلام ربه تبارك وتعالى:

أي عبادك أخشى لك؟

قال: أعلمهم بي.

Terjemahan:

Ketika Nabi Musa ‘alaihis salam bertanya kepada Rabb-nya Yang Mahaberkah dan Mahatinggi:

“Wahai Rabbku, siapakah di antara hamba-hamba-Mu yang paling takut kepada-Mu?”

Allah menjawab:

“Orang yang paling mengenal-Ku.”

Lihat: Sunan Ad-Darimi, karya Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ad-Darimi, tahqiq: Fawwaz Ahmad Zumarli dan Khalid As-Sab‘ Al-‘Ilmi, jilid 1, hlm. 114, cetakan pertama, 1407 H, Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, Beirut.

Abu Hayyan At-Taimi berkata:

العلماء ثلاثة:عالم بالله وبأمر الله، وعالم بالله وليس بعالم بأمر الله، وعالم بأمر الله وليس بعالم بالله، فأما العالم بالله وبأمره، فذلك الخائف لله العالم بسنته وحدوده وفرائضه، واما العالم بالله وليس العالم بأمر الله، فذلك الخائف لله وليس بعالم بسنته ولا حدوده ولا فرائضه، واما العالم بأمر الله وليس بعالم بالله، فذلك العالم بسنته وحدوده وفرائضه وليس بخائف له.

“Ulama itu ada tiga macam:

(1) orang yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah,

(2) orang yang mengenal Allah namun tidak mengenal perintah Allah, dan

(3) orang yang mengenal perintah Allah namun tidak mengenal Allah.

Adapun orang yang mengenal Allah dan perintah-Nya, dialah yang takut kepada Allah serta mengetahui sunnah-Nya, hukum-hukum-Nya, dan kewajiban-kewajiban-Nya.

Adapun orang yang mengenal Allah tetapi tidak mengenal perintah-Nya, ia takut kepada Allah namun tidak mengetahui sunnah, hukum, dan kewajiban-Nya.

Sedangkan orang yang mengenal perintah Allah namun tidak mengenal Allah, ia mengetahui sunnah, hukum, dan kewajiban-Nya, tetapi tidak takut kepada Allah.”

Lihat: Jami‘ Bayan Al-‘Ilm wa Fadlih, Ibnu ‘Abdil Barr, hlm. 295.

Definisi Ulama Menurut Ibnul Qayyin Rahimahullah

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah Ta‘ala mendefinisikan para ulama sebagai:

«فقهاء الإسلام، ومن دارت الفتيا على أقوالهم بين الأنام، الذين خُصّوا باستنباط الأحكام، وعُنُوا بضبط قواعد الحلال والحرام، فهم في الأرض بمنزلة النجوم في السماء، بهم يهتدي الحيران في الظلماء، وحاجة الناس إليهم أعظم من حاجتهم إلى الطعام والشراب».

“Para fuqaha Islam, orang-orang yang fatwa-fatwanya menjadi rujukan di tengah manusia, yang dianugerahi kemampuan untuk menggali hukum-hukum syariat, serta bersungguh-sungguh dalam menjaga kaidah halal dan haram. Kedudukan mereka di bumi seperti bintang-bintang di langit, dengan merekalah orang yang kebingungan mendapat petunjuk di tengah kegelapan. Kebutuhan manusia kepada mereka lebih besar daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman.”

I‘lam Al-Muwaqqi‘in ‘an Rabb Al-‘Alamin, karya Abu ‘Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa‘d Az-Zar‘i Ad-Dimasyqi (Ibnu Al-Qayyim), tahqiq: Thaha ‘Abdurra’uf Sa‘d, jilid 1, hlm. 9, cetakan 1973 M, Dar Al-Jil, Beirut.

Perkataan Ibnu Jamaah Rahimahullah

Ibnu Jama‘ah rahimahullah Ta‘ala mendefinisikan para ulama sebagai:

«أنهم العالمون الأبرار المتقون الذين قصدوا بعلمهم وجه الله الكريم والزلفى لديه في جنات النعيم، لا من طلبه بسوء نية أو خبث طوية أو لأغراض دنيوية من جاه أو مال أو مكاثرة في الأتباع والطلاب».

“Orang-orang berilmu yang saleh dan bertakwa, yang menuntut ilmu dengan tujuan mengharap wajah Allah Yang Mahamulia dan kedekatan kepada-Nya di dalam surga kenikmatan. Bukan orang yang menuntut ilmu dengan niat buruk, hati yang kotor, atau demi tujuan duniawi seperti kedudukan, harta, atau sekadar memperbanyak pengikut dan murid.”

Hadis Nabi ﷺ tentang Niat Menuntut Ilmu

Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

«من طلب العلم ليماري به السفهاء، أو يكاثر به العلماء، أو يصرف به وجوه الناس إليه، أدخله الله النار».

“Barang siapa menuntut ilmu untuk mendebat orang-orang bodoh, menyaingi para ulama, atau untuk memalingkan perhatian manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.”

Al-Jami‘ Ash-Shahih Sunan At-Tirmidzi, karya Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidzi As-Sulami, tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir dan lainnya, jilid 5, hlm. 32, Kitab Ilmu, Bab: “Orang yang menuntut ilmu untuk tujuan dunia”, nomor hadis (2654), Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi, Beirut.

Abu ‘Isa (At-Tirmidzi) berkata: “Hadis ini gharib; kami tidak mengetahuinya kecuali melalui jalur ini. Ishaq bin Yahya bin Thalhah tidak tergolong kuat menurut mereka dan telah dibicarakan (dikritik) dari sisi hafalannya.”

Al-Albani menilai hadis ini hasan; lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi, nomor hadis (2654).

Lihat: Tadzkirat As-Sami‘ wa Al-Mutakallim fi Adab Al-‘Alim wa Al-Muta‘allim (Peringatan bagi Pendengar dan Pembicara tentang Adab Ulama dan Penuntut Ilmu), karya Badruddin Muhammad bin Jama‘ah Al-Kanani, tahqiq: ‘Abdussalam ‘Umar ‘Ali, hlm. 73, cetakan pertama, 1425 H / 2005 M, Maktabah Ibnu ‘Abbas, Mesir.

Perkataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah Ta‘ala berkata:

«هم علماء الشريعة الذين هم ورثة النبي صلى الله عليه وسلم، فإن العلماء ورثة الأنبياء؛ لأن الأنبياء لم يورثوا درهماً ولا ديناراً، فإن النبي صلى الله عليه وسلم توفي عن بنته فاطمة، وعمه العباس، ولم يرثوا شيئًا؛ لأن الأنبياء لا يورَّثون، إنما ورَّثوا العلم. فالعلم شريعة الله، فمن أخذ بالعلم، أخذ بحظ وافر من ميراث العلماء».

“Mereka adalah ulama syariat yang merupakan pewaris Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, karena para nabi tidak mewariskan dirham dan dinar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dan meninggalkan putrinya Fathimah serta pamannya Al-‘Abbas, namun mereka tidak mewarisi apa pun, karena para nabi tidak diwarisi harta. Yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Ilmu itu adalah syariat Allah, maka siapa yang mengambil ilmu, ia telah mengambil bagian yang besar dari warisan para nabi.”

Syarh Riyadh Ash-Shalihin, karya Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, jilid 3, hlm. 230, cetakan tahun 1425 H, Madar Al-Wathan li An-Nasyr, Riyadh.

Perkataan Syaikh Al Luwaihiq Rahimahullah*

Syaikh Al-Luwaihiq hafizhahullah Ta‘ala berkata:

«هم العارفون بشرع الله، المتفقهون في دينه، العاملون بعلمهم على هدى وبصيرة، الذين وهبهم الله الحكمة ﴿ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ﴾».

“Mereka adalah orang-orang yang mengenal syariat Allah, mendalami agama-Nya, dan mengamalkan ilmunya di atas petunjuk dan bashirah. Mereka adalah orang-orang yang dianugerahi Allah hikmah. Dan siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.” Surah Al-Baqarah, ayat 269.

Lihat: Qawa‘id fi At-Ta‘amul ma‘a Al-‘Ulama’ (Kaidah-kaidah dalam Berinteraksi dengan Para Ulama), karya ‘Abdurrahman bin Mu‘alla Al-Luwaihiq, pengantar oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, hlm. 19, cetakan kedua, 1427 H / 2006 M.

Kesimpulan Umum

Dari berbagai definisi yang telah disebutkan, menjadi jelas bahwa para ulama adalah ulama syariat, orang-orang yang takut kepada Rabb mereka Yang Mahatinggi, yang menuntut ilmu dengan niat mengharap wajah Allah Ta‘ala, serta mengamalkan ilmunya di atas petunjuk dan bashirah.

Penegasan Makna Ulama

Yang dimaksud dengan ulama bukanlah sebagaimana yang dipahami sebagian orang, yaitu para ahli industri, penemu, atau orang-orang yang meneliti rahasia alam semesta, yang disebut dengan berbagai istilah seperti ilmuwan teknik, ahli astronomi, dan semisalnya. Mereka memang ilmuwan, tetapi dalam bidang profesi mereka masing-masing.

 Penutup

Adapun apabila istilah ulama disebutkan secara mutlak, maka yang dimaksud adalah ulama syariat, yaitu para pewaris para nabi ‘alaihimush shalatu was salam, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

«إنَّ العلماء ورثة الأنبياء».

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.”

Shahih Ibnu Hibban dengan susunan Ibnu Balban, karya Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad At-Tamimi Al-Busti, tahqiq: Syu‘aib Al-Arna’uth, Kitab Ilmu, Bab: “Larangan menuliskan sunnah-sunnah seseorang karena dikhawatirkan bersandar padanya tanpa menghafalnya”, jilid 1, hlm. 290, cetakan kedua, 1414 H / 1993 M, Mu’assasah Ar-Risalah, Beirut.

Peneliti menyatakan: “Sanadnya sahih sesuai syarat Muslim.”

Klik PDF berikut

PDF 1

PDF 2

PDF 3

PDF 4

PDF 5

PDF 6

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button