Ebook

Buku: Hadis-hadis Daif (Tidak Sahih) Seputar Bulan Syawal yang Tersebar di Sebagian Forum

Download Pdfnya Klik

 Hadis-hadis Daif (Tidak Sahih) Seputar Bulan Syawal

yang Tersebar di Sebagian Forum

Oleh:

Abbas Fahd Rahim

أَحَادِيثُ شَوَّالِيَّةٌ غَيْرُ صَحِيحَةٍ مُنْتَشِرَةٌ فِي بَعْضِ الْمُنْتَدَيَاتِ

Hadis-hadis Daif (Tidak Sahih) Seputar Bulan Syawal

yang Tersebar di Sebagian Forum

Oleh:

Abbas Fahd Rahim

Dartaf isi

Dartaf isi 3

Hadis-hadis Daif Seputar Bulan Syawal 4

1) Hadis Pertama: 5

2) Hadis Kedua: 5

3) Hadis Ketiga: 6

4) Hadis Keempat: 7

5) Hadis Kelima: 7

6) Hadis Keenam: 8

7) Hadis Ketujuh: 9

8) Hadis Kedelapan: 10

9) Hadis Kesembilan: 10

Hadis-hadis Daif (Tidak Sahih) Seputar Bulan Syawal

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan para rasul, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Saudaraku seiman:

Sebagai bentuk kepedulianku untuk menebarkan manfaat, membela sunah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengingat maraknya penyebaran beberapa hadis daif (lemah) khusus tentang bulan Syawal, aku memandang perlu untuk menuliskan sejumlah hadis tersebut beserta sumber-sumber (kitab) yang menghukuminya tidak sahih. Hal ini bertujuan agar sesuatu yang bukan bagian dari As-Sunnah tidak disandarkan kepadanya. Hadis-hadis tersebut adalah:

1) Hadis Pertama:

((مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، وَشَوَّالاً، وَالأَرْبِعَاءَ، وَالْخَمِيسَ، وَالْجُمُعَةَ؛ دَخَلَ الْجَنَّةَ))

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan, bulan Syawal, hari Rabu, Kamis, dan Jumat, maka ia akan masuk surga.”

Lihat: Kitab Al-Jami’ ash-Shaghir karya As-Suyuthi (hadis no. 8778), Majma’ az-Zawa’id karya Al-Haitsami (hadis no. 5147), Faidhul Qadir karya Al-Munawi (hadis no. 8778), dan Silsilah al-Ahadits ad-Dha’ifah karya Al-Albani (hadis no. 4612).

2) Hadis Kedua:

((مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، وَأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ؛ خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ))

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan lalu mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ibunya melahirkannya.”

Lihat: Majma’ az-Zawa’id karya Al-Haitsami (2/184), Nashbur Rayah karya Az-Zaila’i (hadis no. 18), Faidhul Qadir karya Al-Munawi (hadis no. 8778), dan Silsilah al-Ahadits ad-Dha’ifah karya Al-Albani (hadis no. 5190).

3) Hadis Ketiga:

((أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَ أُمَّ سَلَمَةَ فِي شَوَّالٍ، وَجَمَعَهَا إِلَيْهِ فِي شَوَّالٍ))

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Ummu Salamah pada bulan Syawal, dan berkumpul (bercampur) dengannya pada bulan Syawal.”

Lihat: Tahdzib al-Kamal karya Al-Mizzi (18/297), Al-Isabah karya Ibnu Hajar (5/29), Misbah az-Zujajah karya Al-Kinani (2/119), dan Dha’if Sunan Ibnu Majah karya Al-Albani (hadis no. 432).

4) Hadis Keempat:

((مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، وَسِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، وَالأَرْبِعَاءَ وَالْخَمِيسَ، دَخَلَ الْجَنَّةَ))

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan, enam hari di bulan Syawal, hari Rabu, dan Kamis, maka ia akan masuk surga.”

Lihat: Al-Jami’ ash-Shaghir karya As-Suyuthi (hadis no. 8778), dan Dha’if al-Jami’ karya Al-Albani (hadis no. 5650).

5) Hadis Kelima:

((أَنَّ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ كَانَ يَصُومُ أَشْهُرَ الْحُرُمِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صُمْ شَوَّالاً. فَتَرَكَ أَشْهُرَ الْحُرُمِ ثُمَّ لَمْ يَزَلْ يَصُومُ شَوَّالاً حَتَّى مَاتَ))

“Bahwa Usamah bin Zaid terbiasa berpuasa pada bulan-bulan haram (suci), lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Puasalah di bulan Syawal.’ Maka ia pun meninggalkan (puasa) bulan-bulan haram tersebut dan terus-menerus berpuasa di bulan Syawal hingga ia wafat.”

Lihat: Misbah az-Zujajah karya Al-Kinani (2/78), dan Dha’if Sunan Ibnu Majah karya Al-Albani (hadis no. 381).

6) Hadis Keenam:

((أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَعْتَمِرْ إِلَّا ثَلَاثًا، إِحْدَاهُنَّ فِي شَوَّالٍ، وَاثْنَتَيْنِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ))

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan umrah kecuali tiga kali; salah satunya di bulan Syawal, dan dua kali di bulan Zulkaidah.”

Lihat: At-Tamhid karya Ibnu Abdul Barr (22/289), Tahdzib Sunan Abi Dawud karya Ibnul Qayyim (hadis no. 1994), dan Aunul Ma’bud karya Al-Abadi (hadis no. 1995).

7) Hadis Ketujuh:

((يَكُونُ فِي رَمَضَانَ صَوْتٌ، وَفِي شَوَّالٍ مَعْمَعَةٌ، وَفِي ذِي الْقَعْدَةِ تَتَحَارَبُ الْقَبَائِلُ، وَفِي ذِي الْحِجَّةِ يَلْتَهِبُ الْحَاجُّ، وَفِي الْمُحَرَّمِ يُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَلَا! إِنَّ صَفْوَةَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ خَلْقِهِ فُلَانٌ فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا …))

“Akan ada suara (dahsyat) di bulan Ramadan, huru-hara di bulan Syawal, suku-suku saling berperang di bulan Zulkaidah, jemaah haji dirampok/berada dalam kekacauan di bulan Zulhijah, dan pada bulan Muharam ada penyeru yang berseru dari langit: ‘Ketahuilah! Sesungguhnya hamba pilihan Allah Ta’ala dari makhluk-Nya adalah Fulan, maka dengarkanlah ia dan taatilah…'”

Lihat: Mizan al-I’tidal karya Adz-Dzahabi (4/428), Adh-Dhu’afa’ karya Al-‘Uqaili (3/52), Al-Mustadrak karya Al-Hakim (hadis no. 288), Majma’ az-Zawa’id karya Al-Haitsami (hadis no. 12373), Al-Manar al-Munif (1/110), Kasyf al-Khafa’ karya Al-‘Ajluni (2/569), dan Al-La’ali al-Mashnu’ah karya As-Suyuthi.

8) Hadis Kedelapan:

((الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ، قَالَ: شَوَّالٌ وَذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ))

“Haji itu (dilaksanakan) pada bulan-bulan yang telah dimaklumi. Beliau bersabda: Yaitu bulan Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah.”

Lihat: Tafsir Ibnu Katsir (1/237), Majma’ az-Zawa’id karya Al-Haitsami (3/218), Al-Marasil karya Abu Dawud (hadis no. 1584), dan Nashbur Rayah karya Az-Zaila’i (3/122).

9) Hadis Kesembilan:

((يَا حُمَيْرَاءُ، لَا تَقُولِي رَمَضَانَ فَإِنَّهُ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى، وَلَكِنْ قُولِي شَهْرَ رَمَضَانَ، فَإِنَّ رَمَضَانَ أَرْمَضَ فِيهِ ذُنُوبَ عِبَادِهِ فَغَفَرَهَا. قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَوَّالٌ؟ فَقَالَ: شَوَّالٌ شَالَتْ لَهُمْ ذُنُوبُهُمْ فَذَهَبَتْ))

“Wahai Humaira (Aisyah), janganlah engkau menyebut ‘Ramadan’ (saja) karena ia adalah salah satu nama dari nama-nama Allah Ta’ala, akan tetapi sebutlah ‘Bulan Ramadan’. Sebab, pada bulan Ramadan, Allah membakar dosa-dosa hamba-Nya lalu mengampuninya. Aisyah berkata: Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan Syawal?’ Beliau menjawab: ‘(Dinamakan) Syawal karena dosa-dosa mereka telah diangkat (hilang) dan sirna.'”

Lihat: Al-La’ali al-Mashnu’ah karya As-Suyuthi (2/83).

Hadis-hadis dengan redaksi (lafaz) seperti di atas ini tidaklah sahih. Sebagai bentuk nasihat (kepedulian) kepada umat, maka hal ini dijelaskan dan dibeberkan statusnya. Dan di dalam hadis-hadis yang sahih, sudah terdapat kecukupan sehingga kita tidak lagi membutuhkan yang daif.

Wallahu a’lam. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan para rasul, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Tim Ilmiah Markaz Inayah

Markazinayah.com adalah website dakwah yg dikelola oleh Indonesian Community Care Center Riyadh, KSA. Isi dari website ini adalah kontribusi dari beberapa mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan di beberapa universitas di Arab Saudi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button