Ramadan 1447

Penjelasan Hadis-hadis Puasa

Hadis Pertama

عنْ أَبي هُريرة رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: “قَالَ اللَّه عز وجل: كُلُّ عملِ ابْنِ آدَمَ لهُ إِلَاّ الصِّيام، فَإِنَّهُ لِي وأَنَا أَجْزِي بِهِ. والصِّيام جُنَّةٌ فَإِذا كَانَ يوْمُ صوْمِ أَحدِكُمْ فَلَا يرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سابَّهُ أَحدٌ أَوْ قاتَلَهُ، فَلْيقُلْ: إِنِّي صَائمٌ. والَّذِي نَفْس محَمَّدٍ بِيدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائمِ أَطْيبُ عِنْد اللَّهِ مِنْ رِيحِ المِسْكِ. للصَّائمِ فَرْحَتَانِ يفْرحُهُما: إِذا أَفْطرَ فَرِحَ بفِطْرِهِ، وإذَا لَقي ربَّهُ فرِح بِصوْمِهِ” متفقٌ عَلَيْهِ، وهذا لفظ روايةِ الْبُخَارِي. وفي روايةٍ لَهُ:”يتْرُكُ طَعامَهُ، وَشَرابَهُ، وشَهْوتَهُ، مِنْ أَجْلي، الصِّيامُ لي وأَنا أَجْزِي بِهِ، والحسنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا”. وفي رواية لمسلم:”كُلُّ عَملِ ابنِ آدَمَ يُضَاعفُ الحسَنَةُ بِعشْر أَمْثَالِهَا إِلى سَبْعِمِائة ضِعْفٍ. قَالَ اللَّه تَعَالَى: إِلَاّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وأَنا أَجْزي بِهِ: يدعُ شَهْوتَهُ وَطَعامَهُ مِنْ أَجْلي. لِلصَّائم فَرْحتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، فَرْحةٌ عِنْدَ لقَاء رَبِّهِ. ولَخُلُوفُ فيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ ريحِ المِسْكِ”.

Terjemahan :

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

“Allah azza wa jalla berfirman, ‘Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan jangan berbuat gaduh. Jika ada seseorang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’ Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: kegembiraan ketika ia berbuka, dan kegembiraan ketika ia bertemu dengan Rabb-nya, ia bergembira dengan puasanya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dan lafaz di atas adalah lafaz riwayat al-Bukhari.

Dalam riwayat lain dari al-Bukhari disebutkan,

“Ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.”

Di dalam riwayat Muslim juga disebutkan,

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan, satu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta‘ala berfirman, ‘Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.’ Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulutnya lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”

Penjelasan Singkat

Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini termasuk hadis qudsi, karena Nabi ﷺ meriwayatkan firman Allah Ta‘ala. Hadis ini menegaskan kedudukan puasa yang sangat istimewa di antara amal-amal ibadah.

Ungkapan “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa” dijelaskan oleh al-Khaththabi bahwa banyak amal ibadah dapat terlihat oleh manusia, sehingga pelakunya bisa memperoleh bagian duniawi seperti pujian, kedudukan, atau penghormatan. Berbeda dengan puasa yang lebih tersembunyi, sehingga lebih selamat dari riya dan sum‘ah. Oleh karena itu Allah mengkhususkannya dengan firman-Nya, “Puasa itu untuk-Ku.”

Puasa juga mengandung unsur penundukan jiwa dan pemutusan syahwat. Seseorang dilatih menahan diri dari makan, minum, dan dorongan biologis. Ia melakukannya karena Allah. Puasa juga adalah momen untuk membiasakan diri agar sabar menghadapi lapar dan dahaga, serta menumbuhkan kontrol diri.

Dalam lafaz hadis disebut: “Puasa adalah junnah (perisai).” Para ulama menjelaskan bahwa “junnah” mengandung dua unsu makna, yakni melindungi dan menutupi. Dari riwayat-riwayat yang sebutkan oleh Ibn Hajar, makna junnah tertuju pada perlindungan dari neraka, dan juga perisai dari syahwat serta maksiat. Ibn al-‘Arabi menegaskan bahwa puasa menjadi perisai dari neraka karena puasa menahan diri dari syahwat, sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat. Maka, siapa yang menahan syahwatnya di dunia, hal itu menjadi sebab perlindungan baginya di akhirat.

Namun perisai ini dapat terkoyak oleh dosa, terutama dosa lisan. Dalam sebagian riwayat terdapat tambahan makna yang menjelaskan bahwa puasa menjadi perisai selama tidak dirobek, dan disebutkan bahwa ghibah termasuk hal yang merusaknya. Ini menegaskan bahwa puasa tidak cukup hanya menahan lapar, tetapi harus disertai penjagaan lisan dan akhlak.

Oleh sebab itu, Nabi ﷺ menekankan adab sosial saat berpuasa: jangan berkata kotor, jangan bertindak seperti orang bodoh, jangan gaduh, dan jangan membalas cercaan. Bila ada yang mencaci atau memprovokasi, diperintahkan mengucapkan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Dalam penjelasan ulama, kalimat ini berfungsi menahan diri sekaligus meredam lawan. Ada perbedaan pendapat apakah diucapkan dengan lisan atau cukup dalam hati, namun sebagian ulama menilai keduanya baik dan menggabungkannya lebih kuat dari sisi dampak.

Hadis ini juga menyebutkan keutamaan khalūf (bau mulut orang yang berpuasa). Terdapat pembahasan mengenai apakah keharuman itu tampak “di dunia” atau “di akhirat”, dan perbedaan ini berpengaruh pada cabang pembahasan seperti hukum menghilangkan aroma mulut saat berpuasa dengan siwak, namun kesimpulan tarbawinya tetap sama yakni sesuatu yang secara lahir dianggap tidak disukai manusia bisa bernilai tinggi di sisi Allah bila itu lahir dari ketaatan.

Di akhir hadis disebutkan bahwa orang yang berpuasa memperoleh dua kegembiraan: ketika berbuka dan ketika bertemu Rabb-nya. Dalam penjelasan Syaikh Ibn ‘Utsaimin, kegembiraan saat berbuka mencakup dua sisi: gembira karena berhasil menunaikan ibadah, dan gembira karena Allah menghalalkan kembali hal-hal yang sebelumnya ditahan. Adapun kegembiraan saat bertemu Allah adalah kegembiraan karena melihat balasan dan diterimanya amal puasa.

Sisi penting lain yang ditekankan para pensyarah adalah bahwa balasan puasa tidak dibatasi. Allah berfirman: “Aku sendiri yang akan membalasnya.” Ini dipahami sebagai indikasi keluasan pahala yang tidak terikat angka. Puasa juga dipandang sangat terkait dengan sabar, sehingga masuk dalam makna ayat: pahala orang-orang yang sabar diberikan tanpa hisab. Dalam penjelasan hadis ini, Syekh Ibn ‘Utsaimin menjabarkan bahwa puasa mengandung tiga bentuk sabar sekaligus: sabar dalam ketaatan, sabar meninggalkan maksiat, dan sabar menghadapi ketentuan Allah berupa rasa lapar, haus, dan lemah.

Referensi

1. Dalīl al-Fāliḥīn li-Ṭuruq Riyāḍ al-Ṣāliḥīn (7/24-26).

2. Syarḥ Riyāḍ al-Ṣāliḥīn karya Syaikh Ibn ‘Utsaimin (5/266-269).

3. Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bārī Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, (4/124–132).

Hadis Kedua

عن أبي هريرة أَنَّ رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قالَ: “مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَين في سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْواب الجَنَّةِ: يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ، فَمَنْ كَان مِنْ أَهْلِ الصَلاةِ دُعِي منْ بَابِ الصَّلاةِ، ومَنْ كانَ مِنْ أَهْلِ الجِهَادِ دُعِي مِنْ بَابِ الجِهَادِ، ومَنْ كَانَ مِنْ أَهْل الصِّيامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ومنْ كَانَ مِنْ أَهْل الصَّدقَة دُعِي مِنْ بَابِ الصَّدقَةِ”قَالَ أَبُو بكرٍ رضي الله عنه: بأَبي أَنت وأُمِّي يَا رسولَ اللَّه مَا عَلى مَنْ دُعِي مِنْ تِلكَ الأَبْوابِ مِنْ ضَرُورةٍ، فهلْ يُدْعى أَحدٌ مِنْ تلك الأَبْوابِ كلِّها؟ قال:”نَعَم وَأَرْجُو أَنْ تكُونَ مِنهم “متفقٌ عَلَيْهِ.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

“Barang siapa menginfakkan dua pasang di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan.’

Maka siapa yang termasuk ahli salat, ia akan dipanggil dari pintu salat.

Siapa yang termasuk ahli jihad, ia akan dipanggil dari pintu jihad.

Siapa yang termasuk ahli puasa, ia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan.

Siapa yang termasuk ahli sedekah, ia akan dipanggil dari pintu sedekah.”

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah, tidak ada kerugian bagi orang yang dipanggil dari salah satu pintu tersebut. Apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu itu?”

Beliau ﷺ menjawab, “Ya, ada dan aku berharap engkau termasuk di antara mereka.” (Muttafaq ‘alaih).

Penjelasan Singkat

Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini menjelaskan keutamaan amal-amal utama dalam Islam dan bagaimana Allah memuliakan para pelakunya di akhirat. Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ menerangkan bahwa orang yang menginfakkan “dua pasang” di jalan Allah akan dipanggil dari pintu-pintu surga dengan panggilan kehormatan: “Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan.”

Para ulama menjelaskan bahwa makna “dua pasang” tidak terbatas pada jenis harta tertentu. Ia mencakup setiap bentuk pengorbanan ganda dalam kebaikan: dua harta sejenis, dua amal yang sama, atau mengiringi satu kebaikan dengan kebaikan lain. Bahkan sebagian ulama memahaminya mencakup amal nonmateri, seperti banyaknya ibadah dan pengorbanan diri dalam ketaatan. Ini menunjukkan bahwa yang dinilai bukan semata besar kecilnya harta, tetapi kesungguhan dan kontinuitas dalam amal.

Ungkapan “di jalan Allah” juga bersifat umum, meliputi seluruh jalan kebaikan yang diridhai Allah, seperti sedekah, jihad, ilmu, haji, dan amal-amal kebajikan lainnya. Pembatasan pada jihad saja dinilai kurang kuat, karena konteks hadis menyebutkan berbagai jenis ibadah.

Panggilan “ini adalah kebaikan” bukanlah perbandingan bahwa satu pintu lebih baik secara mutlak daripada yang lain, tetapi merupakan ungkapan pemuliaan dan penguatan jiwa. Setiap orang dipanggil sesuai amal yang paling menonjol dalam hidupnya, dan pintu itu terasa sebagai pintu terbaik baginya. Ini mengandung pesan tarbawi bahwa setiap kebaikan memiliki jalannya sendiri menuju surga.

Dalam hadis ini disebutkan beberapa pintu surga:

• pintu salat bagi orang yang dominan dalam salat sunnah,

• pintu jihad bagi yang unggul dalam jihad,

• pintu ar-Rayyan bagi ahli puasa,

• pintu sedekah bagi orang yang banyak bersedekah.

Makna “ahli” di sini bukan sekadar pelaku kewajiban, karena semua mukmin melakukannya, tetapi orang yang menjadikan amal tersebut sebagai ciri dominan dalam hidupnya. Hal ini mengajarkan pentingnya memiliki amal unggulan yang terus dijaga dan dikembangkan.

Ar-Rayyan, terdapat perbedaan dikalangan para ulama apakah itu adalah nama pintu surga ataukah itu adalah sifat yang ditujukan kepada orang yang memasukinya? Pendapat yang kuat adalah yang menyatakan bahwa itu merupakan nama dari pintu surga tersebu. Dinamai demikian sebagai balasan atas dahaga orang-orang yang berpuasa. Kata Rayyan berasal dari kata Ar-Ray yang artinya kenyang dikarenakan air, lawan kata dari ar-‘Athasy yang bermakna dahaga. Dahaga jauh lebih berat dari pada lapar. Ini menunjukkan kesesuaian antara amal dan balasan, sekaligus isyarat bahwa setiap kesulitan dalam ketaatan akan dibalas dengan kenikmatan yang sepadan.

Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bertanya apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintu, pertanyaan ini menunjukkan pemahaman bahwa dipanggil dari satu pintu saja sudah cukup untuk masuk surga. Namun dipanggil dari seluruh pintu adalah kehormatan khusus bagi orang-orang yang menghimpun banyak amal utama dalam hidupnya. Ini juga menunjukkan tingginya semangat beliau terhadap kebaikan dan kegigihan yang besar untuk mendapatkan kemuliaan akhirat.

Jawaban Nabi ﷺ: “Ya, dan aku berharap engkau termasuk di antara mereka” adalah penegasan keutamaan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Para ulama menyebutkan bahwa harapan dari Nabi ﷺ adalah harapan yang pasti terwujud. Hadis ini sekaligus menunjukkan bolehnya memuji seseorang secara langsung dihadapannya dan khalayak ramai dengan syarat orang tersebut aman dari perasaan ujub dan sombong.

Hadis Ketiga

عَنْ أَبي سَعيدٍ الخُدْريِّ رضي الله عنه قال: قالَ رسولُ اللَّهِ: “مَا مِنْ عبْدٍ يصُومُ يَوماً في سبِيلِ اللَّه إِلَاّ باعَدَ اللَّه بِذلك اليَومِ وجهَهُ عَن النَّارِ سبعينَ خرِيفاً” متفقٌ عليه.

Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

“Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka dengan sebab puasa satu hari tersebut sejauh tujuh puluh tahun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan Singkat

Hadis ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar bagi orang yang berpuasa satu hari di jalan Allah. Pahalanya adalah dijauhkan dari neraka dengan jarak yang sangat jauh, yang digambarkan dengan tujuh puluh tahun perjalanan mengendarai unta. Hal ini menunjukkan agungnya balasan Allah terhadap amalan yang sedikit tetapi dilakukan dengan niat yang benar.

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami makna “di jalan Allah” dalam hadis ini. Sebagian ulama menjelaskan bahwa apabila lafaz “di jalan Allah” disebutkan secara mutlak, maka yang dimaksud adalah jihad. Sedangkan sebagian ulama lainnya menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah ketaatan kepada Allah secara umum, yaitu puasa yang dilakukan dengan niat ikhlas untuk mengharap wajah Allah.

Pendapat yang lebih kuat adalah makna jihad, namun tidak menafikan kemungkinan makna ketaatan secara umum.

Apabila makna “di jalan Allah” diarahkan kepada jihad, maka hadis ini menunjukkan terkumpulnya dua ibadah besar sekaligus, yaitu puasa dan jihad.

Keutamaan ini berlaku bagi orang yang tidak menjadi lemah bila berpuasa. Jika puasa menyebabkan kelemahan dalam jihad, maka berbuka/tidak berpuasa lebih utama. Perbedaan ini kembali kepada kondisi masing-masing orang, karena kekuatan dan kebiasaan setiap orang berbeda.

Kata “tahun” dalam hadis ini berasal dari lafaz “kharīf”, yang secara bahasa adalah salah satu musim dalam setahun yakni musim gugur, namun yang dimaksud di sini adalah satu tahun penuh.

Penyebutan musim gugur secara khusus karena ia dianggap sebagai musim terbaik, sebab pada saat itu buah-buahan dipanen.

Selain itu, penyebutan angka tujuh puluh dalam hadis-hadis Nabi sering digunakan untuk menunjukkan banyak dan besarnya pahala, bukan untuk membatasi jumlah secara pasti.

Dalam riwayat lain disebutkan jarak seratus tahun, lima ratus tahun, atau digambarkan seperti jarak antara langit dan bumi.

Riwayat yang paling kuat adalah tujuh puluh tahun karena diriwayatkan oleh banyak rawi dari hadis Abu Sa‘id al-Khudri.

Sebagian ulama menafsirkan makna ini sebagai keselamatan dari neraka, bukan semata-mata jarak fisik.

Namun tidak ada penghalang untuk memahaminya secara hakiki, karena kata “wajah” dalam bahasa Arab sering digunakan untuk menunjukkan keseluruhan diri seseorang (sinekdoke pars pro toto).

Beberapa riwayat lain menjelaskan bahwa puasa yang dimaksud dalam hadis ini adalah puasa sunah, bukan puasa Ramadan. Hal ini menunjukkan besarnya keutamaan puasa sunnah yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah, khususnya dalam konteks ketaatan dan perjuangan di jalan Allah.

Referensi :

  • Fath al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari, jilid 6 halaman 56–57; jilid 14 halaman 133–134.
  • Umdat al-Qari Syarah Shahih al-Bukhari, jilid 14 halaman 134–135.

Fahmi Alfian, Lc., M.A.

Kandidat Doktor Sunnah, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button