Tatsqif

SYARIAT YANG TEREKSPLOITASI BAG. 1

SYARIAT YANG TEREKSPLOITASI (1)

“Sesungguhnya penerapan syariat dan upaya untuk mengimplementasikannya membuatnya rentan dieksploitasi oleh berbagai golongan atau penguasa. Setiap penguasa dapat memperalat syariat untuk menyita harta, menangkap dan mengeksekusi orang, juga membungkam suara dengan dalih penerapan syariat. Agar syariat tidak disalahgunakan oleh penguasa yang zalim untuk menindas, menganiaya, dan menyakiti rakyat, maka syariat harus dihindarkan dari oknum-oknum tak bertanggungjawab yang memperalatnya untuk mencapai kepentingan pribadi mereka.”

Menanggapi Soalan Eksploitasi Syariat

Untuk menjawab keberatan seperti ini, kita perlu bertanya: Apakah eksploitasi itu hanya terjadi pada syariat Islam saja?

Jika lebih cermat mengamati, kita akan menemukan bahwa semua nilai dan konsep bisa dimanfaatkan. Penguasa yang zalim bisa menggunakan syariat, demokrasi, kebebasan, keadilan, kesukuan, kemanusiaan atau konsep lainnya sebagai kedok untuk menutupi dan mempercantik kedzalimannya. Ini berlaku untuk banyak nilai yang populer di kalangan masyarakat. Setiap konsep atau nilai yang disukai orang akan menjadi sasaran bagi mereka yang ingin mengeksploitasnya demi kepentingan pribadi.

Bahkan ketika melihat realitas kita saat ini, kita menemukan bahwa pemanfaatan terbesar dalam sistem pemerintahan Arab dan Islam bukanlah pada syariat, tetapi lebih pada demokrasi, kebebasan, hak asasi manusia, kemajuan, dan kedaulatan umat. Banyak pembantaian dan kezaliman dilakukan dengan dalih konsep-konsep ini. Semua sistem politik yang direvolusi rakyatnya berdiri atas nama demokrasi, kebebasan, dan kedaulatan rakyat.

Namun, meskipun eksploitasi konsep-konsep ini sangat buruk, masyarakat tidak pernah meminta agar kebebasan dihilangkan supaya tidak dieksploitasi, atau menolak demokrasi agar tidak disalahgunakan. Sebaliknya, mereka terus menuntut kebebasan dan demokrasi meski sadar akan kemungkinan penyalahgunaannya. Lalu mereka meminta adanya jaminan dan perlindungan demi mencegah eksploitasi buruk tersebut.

Memang begitulah seharusnya, eksploitasi buruk harus diatasi dengan mencegah dan menghapuskannya, bukan dengan menghancurkan ide dari dasarnya. Misalnya, jika seseorang menggunakan batu untuk melempar Anda, solusi yang tepat adalah mencegahnya melempar batu itu, bukan memusnahkan semua batu yang ada. Jika ada oknum mengorupsi bantuan untuk orang miskin atau orang sakit, solusinya adalah memastikan uang tersebut sampai kepada yang berhak, bukan dengan menghentikan derma bagi mereka. Ini perkara lumrah, tetapi sering terlupakan ketika kita berbicara tentang penerapan syariat. Kadang-kadang, kedzaliman yang dilakukan atas nama syariat dijadikan alasan untuk menolaknya!

Inti dari semua ini adalah bahwa eksploitasi adalah hal yang alami untuk setiap ide yang dihargai oleh masyarakat. Berpikir untuk menghapuskan sesuatu yang baik agar tidak disalahgunakan sama saja membasmi segala sesuatu yang baik dalam hidup ini, akibatnya bias mematikan setiap makna baik dalam diri kita, agar tidak ada oknum yang menyalahgunakannya.

Lalu, Apa Solusinya?

Tidak diragukan lagi bahwa eksploitasi buruk itu cukup mengganggu dan kita semua ingin mencegahnya. Namun, kita harus memikirkan cara yang benar untuk mengatasinya, bukan berbicara seperti orang yang gemetar tanpa tahu apa yang harus dilakukan.

Solusi untuk mencegah eksploitasi syariat atau nilai baik lainnya adalah dengan mewujudkan jaminan, mekanisme, dan planing yang memastikan penerapan syariat sesuai dengan perintah dan tuntunan Allah Ta’ala, serta mampu mencegah pemanfaatan yang salah. Ketika seseorang melihat kezaliman terjadi atas nama syariat, pemikiran yang benar adalah mencari cara untuk mencegah eksploitasi tersebut. Berpikir tentang bagaimana cara menghentikan si zalim dari kezalimannya, bukan dengan menghapuskan syariat sebagai balas dendam kepada orang zalim itu. Karena pada saat itu, konfrontasi kita bukan dengan orang zalim, melainkan dengan syariat!

Kita semua merindukan penerapan syariat, maka seyogyanya kita harus berusaha mewujudkan sarana-sarana untuk mencapai tujuan mulia tersebut, sembari memastikan agar sarana itu tidak menyimpang atau terjadi kezaliman di dalamnya. Jika terjadi sebaliknya, maka langkah perbaikan harus fokus pada mencari jalur yang benar untuk penerapan syariat dan menemukan celah-celah yang menyebabkan kerusakan. Sebaliknya, menarget syariat dengan menolak dan menuntut penghapusannya, sejatinya adalah ekspresi dari kondisi emosional yang marah, yang mengalihkan kebenciannya terhadap realita menjadi kebencian terhadap syariat.

Apa tujuan klaim “Kami Tidak Ingin Syariat Dieksploitasi”?

Mereka yang mengajukan soalan ini melihat oknum penguasa tertentu menzalimi rakyatnya dengan nama syariat, dan mereka pun marah, lantas menolak penerapan syariat agar penguasa tersebut dan yang semisalnya tidak menjadikannya saran untuk kedzaliman.

Sekarang, apakah penguasa itu akan berhenti mengeksploitasi syariat hanya karena penolakan segelintir orang?

Jawabannya tentu saja tidak, karena eksploitasi syariat oleh oknum penguasa sama sekali bukan karena Anda setuju atau tidak dengan penerapan syariat. Jadi, jika Anda menolak penerapannya, hal itu tidak akan menghentikan penguasa tersebut dari eksploitasi dan kezalimannya. Eksploitasi itu terjadi karena tidak ada yang menghalanginya. Sehingga, langkah yang benar untuk mencegahnya adalah dengan berusaha secara praktis menghentikannya dari eksploitasi syariat, agar syariat tidak menjadi alat baginya untuk menyebarkan kedzaliman. Dengan langkah ini, Anda mengambil sikap yang benar dan menempatkan masalah pada tempat yang seharusnya.

Bersambung ….

Abu Mutsanna, Lc., M.A., Ph.D.

Doktor Bidang Fiqih dan Ushul, King Saud University, Riyadh, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button