Tarbawi

Menggali Hikmah dari Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Ibnu Qayyim (Bag.4)

Bekal Perjalanan

Bekal perjalanan adalah ilmu yang diwariskan dari Nabi terakhir, Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – yang merupakan bekal yang tiada bandingannya. Tak ada yang lebih berharga selain ilmu yang beliau tinggalkan untuk umat ini. Ilmu tersebut menjadi penuntun jalan, pencerah hati, dan pembimbing kepada kebenaran yang hakiki.

Adapun jalan yang ditempuh adalah dengan mengerahkan segala usaha dan berjuang semaksimal mungkin. Hal ini mencerminkan tekad yang kuat dan dedikasi yang tinggi untuk mencapai tujuan, tanpa mengenal lelah atau menyerah, dengan penuh ketekunan dan keikhlasan dalam setiap langkah yang diambil. [halaman 68]

Adapun kendaraannya adalah kejujuran dalam bersandar kepada Allah, menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan meyakini ketergantungan total kepada-Nya dalam segala hal. Ini mencakup rasa rendah hati yang mendalam, penuh doa dan harapan, dengan tawakal yang tulus, serta memohon pertolongan-Nya. Seseorang yang dalam kondisi seperti bejana yang pecah, kosong dan tak berarti apa-apa, hanya mengharapkan Tuhan dan pelindung-Nya untuk memperbaikinya, menyatukan kembali yang hancur, memberikan keberkahan-Nya, dan menutupinya dengan kasih sayang serta rahmat-Nya. [halaman 69-70]

Pujian Allah atas kedermawanan Ibrahim

Dalam firman Allah {فجاء بعجل سمين} (maka dia mendatangkan anak lembu yang gemuk), terkandung tiga jenis pujian yang luar biasa:

  1. Pelayanan langsung kepada tamunya: Ibrahim – عليه السلام – melayani tamunya dengan tangannya sendiri, tidak sekadar mengirimkan makanan melalui orang lain. Ini menunjukkan rasa hormat dan perhatian yang tinggi terhadap tamu yang datang.
  2. Kehadiran hewan yang sempurna: Ibrahim – عليه السلام – membawa seekor hewan yang utuh, bukan hanya sebagian dagingnya, sehingga para tamu dapat memilih bagian terbaik dari daging tersebut sesuai keinginan mereka.
  3. Hewan yang gemuk: Ibrahim – عليه السلام – menyembelih dan menyajikan anak sapi yang gemuk, bukan yang kurus. Ini merupakan salah satu bentuk kemuliaan dan kemurahan hati, karena memberikan yang terbaik dari harta yang dimiliki, meski itu adalah sesuatu yang sangat berharga dan langka. [halaman 77]

Adab Wanita dalam Berbicara kepada Lelaki

Dalam firman Allah {وقالت عجوز عقيم} (dan seorang wanita yang sudah tua dan mandul berkata), terdapat contoh adab yang baik dalam berbicara, khususnya bagi wanita ketika berhadapan dengan pria. Wanita tersebut hanya menyebutkan alasan utama yang menunjukkan ketidakmampuannya untuk memiliki anak, tanpa menyebutkan dirinya secara langsung, seperti “Saya adalah wanita tua dan mandul.” Ia hanya menyebutkan “alasan” yang relevan dan penting untuk pernyataannya, dengan cara yang sederhana dan tidak berlebihan.

Hal ini berbeda dengan yang disebutkan dalam Surah Hud, di mana wanita tersebut menjelaskan lebih rinci tentang alasan ketidakmampuannya untuk hamil, bahkan dengan menyatakan rasa heran yang muncul dari keadaan tersebut. [halaman 79]

Makna Penyebutan Nama “Al-‘Alim” dan “Al-Hakim” dalam Kisah Ibrahim

Penyebutan nama-nama Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui) dan Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana) dalam kisah Ibrahim memiliki makna yang dalam, khususnya berkaitan dengan keajaiban kelahiran yang terjadi. Kedua nama ini disebutkan untuk menggambarkan dua aspek penting:

  1. Ilmu Allah (Al-‘Alim): Kejadian kelahiran seorang anak dari pasangan yang secara fisik tidak mungkin memiliki keturunan merupakan sesuatu yang sangat mengejutkan, sehingga membutuhkan pengetahuan Allah yang sempurna. Ilmu Allah tentang segala sesuatu yang tersembunyi, termasuk kejadian luar biasa ini, menunjukkan bahwa Allah mengetahui segala sebab dan akibat di balik kelahiran tersebut, meskipun hal ini bertentangan dengan kebiasaan lazimnya.
  2. Kebijaksanaan Allah (Al-Hakim): Kelahiran tersebut juga mengandung hikmah yang mendalam, yaitu bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan kebijaksanaan Allah yang sempurna, tanpa menyimpang dari ketentuan-Nya. Allah menempatkan kelahiran ini pada waktu dan tempat yang tepat, meskipun tidak sesuai dengan kebiasaan yang ada, namun tetap dalam koridor hikmah-Nya yang tak terbantahkan.

Dengan demikian, penyebutan kedua nama ini menggarisbawahi kebesaran ilmu dan hikmah Allah dalam mengatur segala sesuatu, meskipun bagi manusia hal tersebut tampak tidak sesuai dengan logika atau kebiasaan yang berlaku. [halaman 81-82]

Makna Pengkhianatan Istri Nabi Luth

Pengkhianatannya adalah bahwa dia menunjukkan kepada kaumnya tentang tamu-tamu Nabi Luth, dan keberpihakan hatinya kepada merek. Bukan pengkhianatan yang bermakna perselingkuhan, karena dia secara zahir berasal dari keluarga Muslim, namun tidak termasuk dari orang-orang yang beriman yang selamat.” (halaman 83)

Sebuah Renungan Perjalanan

Siapa yang ingin melakukan perjalanan ini, maka hendaknya dia menjadikan orang-orang mati sebagai temannya. Yakni orang-orang yang telah mati namun masih ‘hidup’ di dunia ini, karena dengan menemani mereka, dia akan mencapai tujuannya. Hendaknya dia waspada agar tidak menemani orang-orang yang hidup namun hati mereka mati, karena mereka akan memutuskan jalan baginya. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang penempuh jalan selain dari pertemanan itu, dan hal yang paling tepat dilakukan adalah meninggalkan pertemanan yang memutus perjalanannya. Seperti yang dikatakan oleh sebagian salaf, “Betapa berbeda antara sekelompok orang yang mati, tetapi hati mereka hidup karena mengingat mereka, dan sekelompok orang yang hidup, namun hati mereka mati karena bergaul dengan mereka.’ Tidak ada yang lebih membahayakan bagi seorang hamba selain teman-teman dan sesama manusia, karena pandangan mereka terbatas dan cita-cita mereka hanya terbatas hanya untuk meniru dan membanggakan diri di hadapan mereka, serta mengikuti jalan yang mereka tempuh, sampai-sampai jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, dia pun ingin masuk bersama mereka. Maka, kapanpun cita-citanya meninggi. Dari yang awalnya hanya bergaul dengan mereka, lalu bergaul dengan orang-orang yang bayangan mereka telah lama hilang, namun keindahan mereka terlihat dan jejak baik mereka di dunia ini begitu tampa, maka ia akan memperoleh cita-cita dan amal yang baru, dan ia akan menjadi orang ‘asing’ di tengah-tengah orang banyak, meskipun ia terkenal dan memiliki kedudukan di antara mereka. Namun ia adalah orang asing saat melihat keadaan orang-orang, sementara mereka mengerti keadaanya. Ia memberi mereka uzur selama ia mampu, menasihati mereka dengan segenap usaha dan kekuatannya, berjalan di tengah mereka dengan dua pandangan:

  1. Satu pandangan untuk melihat perintah dan larangan; dengan pandangan ini ia menyampaikan perintah, larangan, mendekatkan diri kepada mereka, dan menjauhkan diri darinya, menunaikan hak mereka dan menuntut hak dari mereka.
  2. Pandangan lainnya melihat takdir dan keputusan Allah, dengan pandangan ini ia berwelas asih, mendoakan, memohon ampunan bagi mereka, dan mencarikan uzur bagi mereka dalam hal-hal yang tidak merusak perintah dan tidak membatalkan syariat. Ia memberi mereka kelembutan dan kasih sayang serta maaf atas mereka. Menjalankan firman Allah, ‘Berilah maaf dan suruhlah berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ (Al-A’raf: 199). Ia merenungkan apa kandungan  ayat ini yang mengajarkan hubungan baik dengan makhluk, menunaikan hak Allah terhadap mereka, dan terhindar dari keburukan mereka. Jika semua orang mengikuti ayat ini, mereka akan cukup. Memaafkan akhlak mereka, memberi toleransi atas beragam tabiat mereka, dan lapang hati memberi harta dan berakhlak mulia. Inilah yang ia berikan kepada mereka.

Adapun apa yang mereka terima darinya, yaitu ajakan untuk berbuat baik, yang diketahui oleh akal dan dikenali kebaikannya, yang diperintahkan oleh Allah. Sedangkan untuk menghindari bahaya orang yang bodoh di antara mereka, yaitu dengan berpaling dari mereka, tidak membalas dendam untuk dirinya sendiri.. Apa yang lebih sempurna bagi seorang hamba selain ini?
Dan pergaulan serta pengaturan dunia seperti apa yang lebih baik daripada pergaulan dan pengaturan ini? [halaman 86-88]

Pesan Kebaikan dan Perbaikan Diri

“Dan banyak dari perpanjangan ini bisa disimpulkan dalam tiga kalimat yang digunakan oleh sebagian salaf untuk saling menulis kepada satu sama lain. Jika seorang hamba mengukirnya di dalam lembaran hatinya dan membacanya sebanyak helaan nafasnya, maka itu hanya menggugurkan sedikit dari kewajiban. Kalimat-kalimat tersebut adalah:

  • Barang siapa yang memperbaiki hatinya, Allah akan memperbaiki kondisi lahirnya.
  • Barang siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.

Barang siapa yang bekerja untuk akhiratnya, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.

Fahmi Alfian, Lc., M.A.

Kandidat Doktor Sunnah, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button